
Aura kemudian pergi meninggalkan Viola yang terdiam mematung, Aura merasa tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan.
"Aku... Aku tidak akan menyerah!" Viola berteriak tegas. Aura hanya melambaikan tangannya, bermaksud mengatakan terserah Viola saja.
Hari itu pun berakhir berjalan seperti biasanya. Tanpa ada keributan atau kekacauan karena orang-orang yang tidak menyukai Aura.
.
.
.
Pagi itu Aura berjalan sendirian menuju kampusnya masih menguap, tidak ada kabar dari Denis sejak kemarin. Karena tidak ingin memikirkan Denis, Aura belajar sampai begadang dan berakhir seperti sekarang.
Sebuah mobil mewah yang berbeda singgah di dekat Aura membuat gadis itu refleks menjauh kaget. Ia pikir itu adalah mobil penculik.
Kaca mobil terbuka saat Aura akan pergi berlari karena ketakutan.
"Hei-hei! Kenapa raut wajahmu takut seperti itu?" Denis yang menggunakan setelan jas kantoran lengkap menegur Aura yang hampir berlari ketakutan.
Aura memasang wajah jengkelnya. "Katanya kau pergi selama beberapa hari, kenapa kembali sekarang?" tanya Aura mengomel.
"Masuklah dulu."
"Gak mau."
"Kamu tidak suka kalau aku kembali cepat?" tanya Denis.
"Nggak sih biasa aja."
"Masuklah atau aku yang turun nih." Ujar Denis, memikirkan jika Denis yang turun, Aura mengurungkan niatnya untuk tidak menuruti Denis. Pakaian yang dikenakan Denis itu akan menjadi sorotan orang-orang.
Denis kemudian membukakan pintu dan Aura masuk ke dalam mobil itu.
"Kenapa raut wajahmu dari tadi begitu terus sih?" tanya Denis yang melihat Aura terus-terusan cemberut. Tapi, itu menggemaskan di mata Denis.
"Jadi kamu mau apa kemari? Bukankah katanya kamu akan pergi beberapa hari?" tanya Aura.
"Kebetulan ada tugas di Kantor Pusat kota ini. Jadi sekalian bertemu denganmu." Ujar Denis menatap Aura.
"Oooh..." Aura hanya mengangguk.
"Aura boleh aku peluk." Denis minta izin. Baru sehari ia tidak melihat gadis itu ia merasa sangat merindukannya.
"Gak boleh." Ucap Aura menolak.
"Kamu tidak merindukanku."
"Rindu sih... Tapikan sekarang aku sudah melihatmu." Aura tidak tersenyum ke arah Denis.
"Aah~ sangking sibuknya aku dengan pekerjaanku aku tidak sempat mengirim pesan padamu." Keluh Denis.
"Tidak apa-apa fokuslah bekerja dulu, kamu pasti sangat sibuk." Ujar Aura khawatir melihat Denis yang tampak sedikit kelelahan.
"Entah kenapa aku membayangkan kamu sedang bersenang-senang dengan lelaki lain Aura."
"Aku tidak melakukan hal itu." Aura langsung menimpalinya.
"Aku hanya ingin memastikan kamu aman." Akhirnya Denis memberitahukan tujuannya sebenarnya.
__ADS_1
"Aku aman kok."
"Tidak ada yang mengganggumukan?"
"Tidak ada, hanya saja Viola bilang padaku jika ia tidak akan menyerah padamu." Ujar Aura semenjak kemarin itu mengganggu perasaannya.
Denis terkekeh. "Kamu cemburu?"
"Kalau kamu buat aku cemburu apalagi saingannya adalah dia. Aku menyerah." Ucap Aura langsung angkat tangan saat itu.
"Enggaklah, aku yang tidak akan menyerah padamu." Ujar Denis.
"Oke..." Aura hanya bisa mengangguk setelahnya. "Jadi kapan kamu akan benar-benar kembali?"
"Kuusahakan secepatnya. Makanya aku bekerja ngebut ini."
"Tapi, kamu masih sempat-sempatnya datang kemari." Ujar Aura.
"Akukan kangen padamu." Ucapan Denis itu tidak digubris oleh Aura, meskipun Aura rindu pada Denis juga. Tapi, Aura tidak mau jika mengatakan hal itu.
Aura kemudian melirik seorang yang hanya diam menyetir mobil milik Denis. Pria itu tidak peduli dengan percakapan Denis dan Aura.
"Aku tidak suka jika kamu melirik-lirik dia seperti itu Aura." Denis cemburu.
"Akukan hanya penasaran saja Denis, aku juga punya mata."
"Tatap aku saja."
"Hiiih." Aura kesal sendiri karena tingkah Denis itu.
"Dia sekretarisku. Tangan kananku. Orang yang paling kupercaya tentang segalanya."
"Salam kenal Nona." Pria itu hanya berkata hormat sambil tetap menyetir mobil dengan santai. Aura hanya menyengir saja tidak tahu harus bagaimana.
"Alangkah baiknya Tuan Muda segera menikah dengannya." Ucap pria bernama Kay itu dengan entengnya.
"Entah mengapa kurasa mereka berdua punya sifat yang sama." Pikir Aura.
"Tuan Muda sepertinya harus banyak belajar tentang rumah tangga dulu sebelum menikah." Sindir Aura, Aura sekarang merasa tertantang karena kedua orang yang dianggapnya menyebalkan itu.
"Apa besok saya harus menyiapkan pernikahan Tuan Muda." Rupanya sekretaris itu tidak ingin kalah.
"Ide yang bagus." Ucap Denis.
"Aku tidak akan datang. Kamu kenal orang tuaku saja tidak."
Namun, kata-kata mereka terputus saat sampai di gerbang kampus. Aura langsung melarikan diri. Ia tidak mau lagi berdebat dengan kedua orang itu karena tahu akibatnya akan fatal.
"Bagaimana lucukan, dia benar-benar gadis sempurna untukku."
"Tuan Muda benar. Jika bisa sebaiknya secepatnya Tuan Muda mempersuntingnya." Kemudian Kay dan Denis pergi sebelum ada banyak orang yang melihatnya di wilayah kampus itu.
"Astaga aku sombong sekali melawan mereka berdua." Pikir Aura frustasi sendiri.
Bruk!
Karena tidak melihat-lihat jalan lagi-lagi Aura menabrak orang lain yang berjalan di depannya.
"Duh! Maafkan aku." Aura refleks meminta maaf langsung merasa bersalah.
__ADS_1
"Ah, Aura. Tidak apa-apa kok." Orang yang Aura tabrak itu ternyata adalah Fandi.
"Fandi toh, tetap aja aku minta maaf." Ujar Aura berucap seperti biasa.
"Mau ke kelas bareng gak?" tanya Fandi canggung.
"Oke." Akhirnya Fandi dan Aura pergi ke kelas beriringan.
Ckrek!
"Yes aku dapat foto bagus." Viola yang berada tidak jauh di belakang Aura dan Fandi merasa senang karena melihat kedekatan Aura dengan lelaki lain.
.
.
.
Tiing!
Suara ponsel Aura berbunyi tidak lama setelah Aura sampai di kelas.
'Hmm.'
'Kenapa?'
Aura yang tidak mengerti mengapa Denis mengirim kata seperti itu menjadi berpikir sangat keras.
"Aneh banget sih." Gumam Aura bingung.
'Kau tadi pergi ke kelas bersama Fandi itu.' Bunyi pesan yang Denis kirimkan.
'Iya, aku hanya kebetulan satu arah dengannya. Tunggu dulu... Dari mana kamu tahu kalau aku pergi ke kelas bersama dengan Fandi?'
'Viola mengirim gambarnya tadi padaku.' Dengan polosnya Denis mengirim pesan seperti itu.
'Hmm.'
Kemudian Aura langsung mematikan ponselnya. Suasana hatinya langsung berubah menjadi jelek. Saat mengetahui Viola dan Denis saling berhubungan tanpa sepengetahuan Aura sama sekali.
Aura tidak memegang ponselnya lagi selama seharian penuh karena marah. Dan menonaktifkan ponselnya. Tidak mempedulikan Denis akan bersikap seperti apa karena ulahnya.
.
.
.
Sore itu Aura berbincang-bincang dengan Desta tentang mata kuliahnya hari ini. Sampai di depan gerbang kampus mereka berdua berpisah karena tempat tinggal mereka yang pisah arah.
Namun, tiba-tiba saja Denis sudah berdiri di belakang Aura tanpa sepengatahuan wanita itu.
"Huwaaa! Penculik!"
Saat Aura menoleh karena hawa yang tidak nyaman ia terperanjat kaget. Aura dengan refleks menendang tulang kering Denis sehingga pria itu kesakitan dibuatnya.
Aura menyadari jika pria itu adalah Denis, "Maafkan aku, Denis." Aura merasa bersalah karena sudah menyakiti pria di hadapannya itu.
"Kenapa kamu mematikan ponselmu?" Denis langsung mengintrogasi Aura.
__ADS_1
"Heeh, kamu kira kamu saja yang bisa marah. Kamu berhubungan dengan Viola tanpa sepengetahuanku." Tunjuk Aura kesal.
Sepertinya perdebatan di antara mereka akan dimulai karena kesalahpahaman.