Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 51 – Dijodohkan


__ADS_3

Keberadaan Aura tidak diketahui, entah gadis itu menghilang ke mana. Meskipun menyuruh orang lain untuk mencarinya, Denis tidak bisa menemukan Aura karena tidak bisa dilacak. Aura tidak menggunakan alat elektroniknya sama sekali, dan Aura tahu itu adalah kelemahan Denis. Terakhir Aura dilihat dalam kamera pengawas sendirian membawa tasnya masuk ke dalam sebuah bus menuju ke pedesaan yang jauh dari teknologi, setelah itu keberadaannya tidak diketahui lagi.


Denis menyuruh orang untuk mencari Aura ke desa itu tapi tidak ada yang bisa menemukannya juga dalam waktu singkat.


.


.


.


Sekarang di sinilah Denis, di rumah orang tua Aura. Saat ini ia sedang asik bermain play station dengan Aril, entah sejak kapan mereka berdua sudah akrab.


"Ah...aku kalah lagi." Aril tampak kecewa. "Kakak, sekali lagi!" semangat Aril tidak mau kalah.


"Baiklah." Denis tetap meladeninya dan tidak mengampuninya sama sekali dalam permainan itu.


"Aku tidak percaya aku kalah telak." Ujar Aril menyandarkan diri di kursi. "Kakak benar-benar hebat." Aril kagum.


"Terima kasih, aku tidak sehebat itu kok." Denis merendahkan diri.


"Tidak sehebat itu, aku yang terkadang main game tidak berkutik dibuatnya." Pikir Aril tapi ia merasa tertekan saat ini, tidak percaya.


.


.


.


Setelah itu Denis menghabiskan waktunya bersama dengan orang tua Aura membantu mereka berkebun. Hal itu sangat memberatkan untuk Denis tapi ia tetap lakukan demi bisa dekat dengan orang tua Aura.


"Anak itu, bagaimana mungkin dia sampai melarikan diri dan tidak bisa dihubungi sama sekali." Ayah Aura tampak marah, karena Aura sebelumnya tidak pernah seperti itu.


"Denis, apa kamu tidak masalah dengan anak kami yang bersikap seperti itu. Kamu yakin ingin tetap melamarnya?" ujar ayah Aura, ia tidak enak hati karena sikap anaknya itu. Biar bagaimanapun saat ini di mata orang tua Aura Denis adalah pemuda yang baik dan pengertian.


"Ayah, Ibu tidak perlu khawatir. Saya benar-benar serius dengan putri kalian. Selama kalian menyetujuinya saya akan menikahi putri kalian." Ujar Denis sopan, ia tidak menyerah untuk Aura. Lagi pula Aura lari darinya karena kesalahannya. Aura sudah memperingatkan Denis setiap kali, jika mereka membicarakan tentang pengkhianatan.


Walaupun apa yang telah terjadi itu hanya salah paham, tapi Denis tahu seharusnya dari awal ia langsung menjelaskannya dan menolak apa yang Viola lakukan. Akibat hal itu Denis benar-benar marah kepada Viola dan tidak menginginkan wanita itu muncul di depan wajahnya lagi. Meskipun saat itu adalah perpisahan Viola juga untuk Denis.


...----------------...


Sudah seminggu pencarian Aura, Denis tetap tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu.


"Ke mana sebenarnya kamu pergi Aura." Denis tampak frustasi sendiri. Ia sudah pulang dan kembali ke kesehariannya yaitu bekerja di kantor tapi Denis tetap dalam keadaan perasaan tidak baik sama sekali.


Akhirnya hari demi hari berlalu, beberapa kali Denis berkunjung ke rumah Aura dan menginap di sana. Tidak terasa sebulan telah terlalui tepat di hari itu juga, Denis menemukan keberadaan Aura. Gadis itu baru saja turun dari gunung. Bersama dengan segerombolan wanita.

__ADS_1


Denis merasa lega karena mengetahui Aura ternyata tidak lari dengan laki-laki lain, tapi ia pergi karena benar-benar ingin menenangkan dirinya. Ia juga telah menjelaskan semuanya pada orang tua Aura tentang hal itu karena sudah sangat dekatnya mereka, Denis pintar dalam mengambil hati orang tua Aura.


.


.


.


"Akhirnya pulang juga. Pikiranku terasa lebih ringan." Ujar Aura bernafas lega.


Kemudian hari itu ia langsung pulang ke rumah tempat kelahirannya.


.


.


.


"Dasar anak nakal! Ke mana saja kau pergi selama sebulan?!" bentak ayah Aura marah, ia dimarahi. Gadis itu hanya bisa diam saja.


"Sudah-sudah Yah, dengarkan dulu penjelasan anakmu." Ucap ibu Aura berusaha mengerti.


"Aku pergi ke gunung Mah, di sana tidak ada jaringan sama sekali. Maafkan Aura, Aurakan sudah minta izin." Ucap Aura tertunduk merasa bersalah. Karena sebelum Aura pergi ia benar-benar sudah minta izin walaupun tidak menyebutkan tempat tujuannya.


"Sama siapa kamu ke sana?!" tanya ayahnya masih tidak terima anaknya bersikap seperti itu.


Amarah ayah Aura mereda kemudian tidak lama ayahnya berucap, "Kau sudah dilamar oleh seseorang Aura dan ayah menerimanya." Aura tampak terkejut dibuatnya.


"A-apa? Aku tidak mau. Aku masih kuliah." Ujar Aura menolak, bahkan Denis saja ia tolak lamarannya karena beralasan masih kuliah.


"Ayah sudah menjodohkanmu dengan seseorang, karena Ayah sudah tidak bisa lagi menjagamu yang terus-terusan bersikap seenaknya."


"Tapi Ayah, aku tidak mau." Aura berucap hampir menangis.


"Kapan lagi ada lelaki mapan yang mau dengan wanita yang seenaknya sepertimu." Ujar Ayah Aura. Membuat Aura langsung terdiam beberapa saat.


"Siapa dia?" Aura bertanya pelan menahan tangisnya.


"Namanya Denis Adra, dia bilang jika dia memang adalah calon suamimu." Ujar ayah Aura membuat putrinya membelalak terkejut. Ia pikir siapa yang melakukan hal itu, ternyata itu ulah Denis.


"Sudahlah Ayah, aku mau pergi ke kamar." Aura yang merasa kelelahan tidak ingin mendengar omelan orang tuanya lagi. Lebih-lebih ketika ia sudah mengetahui siapa yang melamarnya.


"Apa yang sudah pria itu lakukan sampai ayah dan ibuku memihak padanya." Pikir Aura melemparkan tas ranselnya sembarangan dan langsung berbaring di kasurnya.


Di sana ia mencium ada bau lain yang tidak begitu asing untuknya.

__ADS_1


"Ini, kan..." Bantal yang Aura pakai sekarang masih tercium bau parfum milik Denis. Sepertinya beberapa hari lalu Denis masih datang kemari.


"Benar-benar pria itu." Aura duduk sambil menahan kekesalannya.


Tiing!


'Bagaimana kabarmu? Sudah puas main kabur-kaburannya?'


Bunyi pesan yang dikirimkan oleh Denis.


"Bahkan pria ini tahu jika aku sudah kembali." Aura tertawa getir membaca pesan yang Denis kirimkan.


'Puas sekarang, gara-gara kau, aku kena marah ayah dan ibuku.' Aura membalasnya dengan kesal juga.


'Salahmu sendiri kenapa main pergi-pergi tanpa alasan.'


'Kau pasti paham alasanku, kan? Jangan pura-pura bego deh.'


'Kamu salah paham Aura.'


'Salah paham dari mananya, jelas-jelas kamu... Ish, aku malas membahasnya.'


'Aku tidak tahu jika dia akan melakukan hal itu padaku.'


'Kenapa kau tidak menjelaskannya dengan cepat, hah?!'


'Maafkan aku, aku ingin menjelaskannya tapi aku mendadak ada pekerjaan.'


'Kau jahat...'


Pesan itu adalah pesan terakhir yang Aura ketik untuk Denis malam itu. Gadis itu menangis di dalam kamarnya. Ia benar-benar cemburu. Aura tidak perduli dengan penjelasan Denis yang muncul bertubi-tubi setelahnya. Aura tidak ingin membaca pesan itu sama sekali.


...----------------...


"Rasanya aku tidak ingin pulang dan terus bersembunyi saja jika aku tidak harus kuliah." Gumam Aura menyapu halaman rumahnya.


Beberapa hari ini semenjak malam itu, meskipun Aura membacanya. Aura hanya menanggapi pesan itu dengan singkat. Aura tahu ia tidak bisa marah terus pada Denis karena orang tuanya juga menyuruhnya untuk tidak bertengkar terus menerus dengan Denis. Denis rupanya mengadu pada ayah dan ibu Aura. Denis tidak peduli apa yang dilakukannya itu seperti anak kecil atau tidak. Tapi, Aura juga tidak bisa marah padanya. Apalagi tahu pemuda itu kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Denis telah menjelaskan semuanya dan Aura mau sedikit mengerti, tapi ia butuh waktu juga untuk baikan seperti sedia kala. Denis berniat akan bertemu dengan Aura setelah masuk kuliah nanti, Denis berniat ingin menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Aura dulu.


Namun 2 hari ini Denis tidak mengirimi Aura pesan sama sekali, tapi Aura berusaha tidak peduli sama sekali dan tetap menjalani kehidupannya seperti biasa.


Sampai akhirnya mobil yang cukup Aura kenal singgah di halaman rumah Aura.


"Denis?" bingung Aura, Aura pikir Denis akan benar-benar menemui Aura saat semester baru nanti dimulai.

__ADS_1


Namun, Aura tampak bingung dan kaget setelah melihat seseorang yang keluar dari mobil bukanlah Denis melainkan Kay.


__ADS_2