
"Halo, ini siapa? " tanya Aura pada orang yang tidak dikenal. Meskipun begitu ia tetap mau mengangkat telponnya walaupun merasa sedikit terganggu.
Terdengar suara Aura berbeda dari biasanya. Tapi orang yang mendengar hal itu tidak ambil pusing dan langsung memperkenalkan diri. Karena ini untuk pertama kalinya juga ia menelpon gadis itu.
"Aku Denis, " katanya memperkenalkan diri tanpa basa-basi.
"Hah?!" Aura terkejut dibuatnya, Aura menatap ponselnya kaget ingin sekali ia duduk saat itu, tapi tubuhnya terlalu lemah sekarang.
"Dari mana kamu dapat nomor hpku?" tanya Aura langsung, ia penasaran bagaimana bisa pria itu tahu nomor ponselnya sedangkan dirinya hanya pernah membagikan pada teman-teman terdekatnya serta ada di grub kampus.
"Apa sih yang gak bisa kucari kalo aku mau," jawab Denis sekenanya. Aura hanya memasang wajah jengkelnya penjelasan Denis tidak menjawab pertanyaan apapun yang ditanyakan Aura, tapi Aura malas berdebat karena merasa tidak enak badan saat ini. Ia tidak punya cukup tenaga.
"Kenapa menelponku?" tanya Aura merasa bingung.
"Seharusnya aku yang tanya kenapa kamu gak datang ke acara ulang tahunku. " Ucap Denis langsung tidak ingin basa-basi lagi.
"Memangnya kenapa, lagi pula meskipun aku tidak datang acara ulang tahunmu masih akan tetap dilaksanakan kan? " timpal Aura sekenanya, ia tidak bilang yang sebenarnya bahwa ia sedang sakit.
"Apa kamu masih marah denganku sampai-sampai tidak mau menghadiri acara ini. Apa perlu aku jemput? " tanya Denis.
"Kamu gak perlu melakukan hal itu, aku gak bisa datang ke acara ulang tahunmu." Aura mulai panik sendiri, mana mungkin Aura membiarkan Denis meninggalkan pestanya hanya karena dirinya.
"Umm, dan bagaimana jika seandainya aku bilang aku masih marah padamu karena masalah kemarin." Ucap Aura sambil tertawa, sempat-sempatnya bercanda penasaran apa yang ingin dilakukan Denis jika seandainya ia masih marah.
"Kalo seperti itu masalahnya aku bakalan datang menjemput kamu dan membawamu ke pesta ini. " Ucap Denis langsung ia pikir Aura serius, jujur saja ia masih merasa bersalah karena ucapannya itu dan takut Aura benar-benar marah.
"Masih bisa kamu berbicara seperti itu pada orang yang jelas-jelas kamu permainkan. " Ucap Aura malah melanjutkan ucapannya sekaligus mengeluarkan kekesalannya memang.
"Aku berani bertaruh ucapan mu sekarang ini hanya membual semata, " Kata Aura lagi, ia keluarkan semua apa yang mau ia bicarakan saat ini.
"Kali ini aku gak main-main Aura. Aku menyesal sudah berkata seperti itu pada teman-temanku kemarin. Aku benar-benar ingin dekat sama kamu. Dan minta maaf karena sudah berkata seperti itu." Ucap Denis menyesal, meskipun di dalam lubuk hati terdalamnya ia ingin lebih dari sekedar berteman dengan Aura hanya saja ia saat ini masih terus menyangkal perasaannya itu.
__ADS_1
"Aku harap ucapanmu kali ini itu tidak main-main, jujur saja dari sini terdengar sangat serius dan entah mengapa aku jadi merinding karena ucapanmu itu, kamu yang serius ternyata menyeramkan." Ucap Aura tertawa hambar.
"Aku gak sedang bercanda Aura, " kata Denis serius dari seberang sana.
"Begitu ya, tapi maaf ya aku benar-benar gak bisa menghadiri acara ulang tahunmu. " Ucap Aura sekali lagi menyesal juga tidak bisa datang karena sakit.
"Kenapa?" tanya Denis.
"Aku sedang pulang ke rumah, dan aku sekarang ada di rumahku. Mamaku tiba-tiba memintaku pulang mendadak." Ucap Aura berbohong ia tidak ingin mengatakan jika ia sedang sakit dan sedang terbaring lemah di ranjang kamarnya.
Aura bepikir jika Denis tahu dia sedang sakit pria itu akan benar-benar pergi dari pesta ulang tahunnya, meskipun Aura merasa pikiran Aura itu sedikit berlebihan, karena telah memastikan Denis pasti datang jika tahu ia sedang sakit. Tetapi Aura tetap berjaga-jaga agar hal itu tidak terjadi.
"Uhuk! Uhuk! " Aura sudah tidak bisa menahan rasa ingin batuknya.
"Kamu tidak sedang berbohongkan Aura, bukan karena sedang sakitkan?" tebak Denis dari seberang sana mulai menyadari ada yang aneh, ia menyadari suara Aura sedikit berubah.
"Aku gak sedang sakit kok," kata Aura berkata menyakinkan.
"Aku hanya penasaran kenapa suaramu berubah gak seperti biasanya. " Ucap Denis penasaran.
"Sudah dulu ya, aku dipanggil mamaku mau makan malam, tidak perlu menungguku aku benar-benar tidak bisa datang. Maafkan aku." Ucap Aura menutup telponnya.
"Siapa yang menelpon kamu Ra? " tanya Desta membawakan bubur.
"Teman," kata Aura meletakkan ponselnya ia sebenarnya benar-benar merasa bersalah karena berbohong pada Denis. Tapi ia tidak ingin mencari muka di depan Denis.
Malahan Aura masih tetap menganggap pria itu hanya main-main dengan ucapannya seperti sebelumnya. Tapi Aura tidak bisa menebak apa pikiran sebenarnya Denis, karena Aura sudah merasa dikhianati, Aura merasa sangat sulit untuk percaya pada Denis lagi.
Denis bagi Aura benar-benar hebat bersandiwara. Ia tidak bisa membedakan pria itu tulus atau tidak saat dekat dengan dirinya, ia pikir pria itu memang ingin berteman awalnya dan itu benar-benar terlihat tulus dan dari hati, sampai akhirnya ia tidak sengaja mendengar penjelasan pria itu sendiri pada teman-temannya. Jujur saja, Aura tidak ingin memperdulikan hal itu lagi, namun sangat berat juga untuk melupakannya.
Aura kemudian memakan bubur yang dibuatkan oleh Desta berusaha melawan perasaan tidak nafsu makannya dan setelah itu mereka berdua pun tertidur. Desta malam itu memilih untuk menginap di kamar Aura. Sambil menjaga Aura yang sedang sakit.
__ADS_1
.
.
.
Keesokan harinya...
"Kamu yakin Ra, mau berangkat kuliah?" tanya Desta khawatir.
"Demam kamu masih belum turun sepenuhnya loh," kata Desta masih memperingati Aura.
"Aku yakin, lagipula tidak seperti tadi malam sekarang aku sudah bisa bangun dan berjalan. Meskipun masih sedikit pusing tapi ini gak terlalu masalah sih." Ucap Aura sambil tersenyum tapi tidak memungkiri wajahnya masih pucat, ia masih sakit tapi tetap memaksakan diri.
.
.
Akhirnya mereka sampai di gerbang Fakultas mereka. Di aula utama Desta berpisah dengan Aura.
"Aura aku mau ke perpus bentar, ada buku yang harus ku kembalikan sekarang. " Ucap Desta dan Aura mengangguk.
Biasanya ia akan ikut dengan Desta jika seperti ini tapi saat ini badannya terasa tidak enak biar bagaimanapun sebenarnya ia masih sedang sakit. Dan tidak terlalu kuat berjalan.
Saat melalui koridor yang sunyi menuju kelasnya, Aura dicegat oleh tiga orang yang biasa mengganggunya. Kali ini ia tidak bisa melawan karena sedang tidak enak badan.
"Hey cewek centil apa yang sudah kamu lakukan pada Denis tadi malam, semenjak kami mendengar dia meneleponnu malam tadi saat pesta ulang tahunnya berlangsung, hanya untuk membiarkanmu bisa hadir di acaranya tapi kamu gak datang."
"Gara-gara kamu sepanjang acara dia gak bahagia sama sekali padahal itu hari ulang tahunnya." Ucap Salah satu gadis itu mendorong tubuh Aura yang lemah.
"Sampai seperti itu, aku pikir dia akan baik-baik saja tanpa kehadiranku." Batin Aura akhirnya Aura menyadari jika Denis benar-benar menyesal dengan ucapannya waktu itu dan itu sudah terbukti dengan orang-orang yang melihat kesedihannya di pesta ulang tahunnya yang seharusnya ia bahagia.
__ADS_1
"Tapi mereka juga mengerikan sampai tahu Denis menelponku, bagaimana coba mereka bisa tahu." Batin Aura merasa ngeri sendiri dengan ketiga gadis itu, tapi tidak ada yang tidak mungkin dari anak jurusan Informatika seperti mereka jika itu menyangkut membobol ponsel milik seseorang. Tapi tidak mungkin juga mereka bisa membobol ponsel milik Denis secara Denis itu jenius.
Akibat hal itu Aura benar-benar merasa bersalah karenanya. Ia tidak tahu jika hal itu membuat Denis benar-benar merasa bersedih.