Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 61 – Tragedi


__ADS_3

Aura terpaksa harus mengambil izin tidak masuk kuliah selama seminggu, karena jika Aura tidak mengambil libur itu Denis akan membuat orang lain yang akan mengurus semua urusan mereka.


Sekarang Aura berada di jalan pulang bersama dengan Denis tidak ada orang lain selain mereka dalam perjalanan pulang itu. Ketika itu sore menjelang malam mereka kembali ke rumah Aura yang berada di luar kota E.


"Kenapa jalanan terasa sunyi?" Aura merasa tidak nyaman dengan keadaan yang mereka alami.


Denis kemudian menengok kaca spion, ada mobil aneh yang tidak dikenal mengikuti mereka.


"Aura maafkan aku tapi kita harus hati-hati." Ujar Denis serius, Aura menelan ludahnya takut menoleh ke belakang


Kemudian dengan santai mengambil telponnya dan menghubungi orang-orangnya, Denis yang menganggap dia aman, ternyata malah lengah. Ada saja orang-orang yang dendam masih ingin mencelakainya tapi kali ini ia bersama dengan Aura.


BRAK!


Bagian belakang mobil Denis ditabrak dengan kencang sehingga membuat kemudi yang Denis jaga sedikit terganggu.


Aura tegang dengan keadaan yang baru saja terjadi, tetapi gadis itu berusaha tenang. Denis sempat melirik ke arah Aura, melihat gadis itu hanya bisa tenang Denis merasa bersalah karena membuat Aura dalam bahaya.


Akibat kemudi mobil yang tidak terkendali Denis sampai pindah ke jalur lain dan di depannya tiba-tiba ada sebuah mobil besar yang membuat Denis harus banting setir ke sisi jalan yang tepat berada di sisi jalan curam. Mobil milik Denis meluncur bebas ke dalam jurang.


Denis langsung melompat keluar dari mobil sebelum mobil menabrak pohon besar dibawah jurang dengan kecepatan kencang. Di sini Denis tidak memperhatikan Aura dan berguling keluar mobil terbakar akibat tabrakan kencang itu.


Denis yang terguling-guling karena melompat keluar langsung berdiri saat melihat mobilnya yang terbakar parah.


"Auraaa!" teriaknya berlari ke arah mobil yang terbakar. Karena malam cahaya hanya dari arah mobil yang terbakar itu.


Duar!


Mobil meledak membuat Denis semakin panik dan berlari ke arah mobil terbakar itu.


Set!

__ADS_1


Seseorang langsung menarik tangan Denis ke arah rerumputan. Denis terkejut tapi itu ternyata adalah Aura yang berusaha bersikap tenang. Aura menaruh satu jarinya di bibirnya menyuruh Denis diam dan tidak membuat suara. Karena saat melompat dari mobil tadi, Aura sempat memperhatikan orang-orang yang ingin mencelakainya turun dari mobil mereka.


Aura menarik Denis untuk bersembunyi di semak-semak belukar dan pria itu hanya mengikutinya. Denis langsung memeluk Aura dan menenggelamkan wajahnya di bahu Aura, dia menangis. Aura mengelus-elus kepala Denis berusaha kuat untuk pria itu.


Suara langkah kaki dan beberapa orang yang berbicara terdengar. Tubuh Denis bergetar hebat, ia ketakutan. Ia teringat dengan kecelakaan nahas yang membuat kedua orang tuanya meninggal dahulu. Karena sebuah pembunuhan berencana. Ternyata Denis belum memusnahkan mereka sepenuhnya.


Orang-orang terdengar berkeliling di sekitar mencari jejak mayat Aura dan Denis tentu saja, terdengar suara mereka ribut karena tidak menemukan apa pun.


"Aku akan menghabisi mereka semua." Suara Denis terdengar sangat kesal dan marah. Tapi, Aura memeluk Denis dengan erat agar pria itu tidak pergi dan berkelahi dengan orang-orang yang bisa saja menggunakan senjata. Untuk mencari aman sebaiknya Denis dan Aura bersembunyi sebelum keluar.


Suara helikopter terdengar datang mendekat.


"Cepat kita harus pergi dari sini!" teriakan orang-orang itu langsung lari tapi, mereka semua telah terkepung oleh orang-orang yang Denis panggil sebelumnya.


"Apa lagi ini?" bingung Aura takut.


"Tuan Muda!" teriak seseorang dari helikopter menggunakan pengeras suara dan lampu helikopter menyoroti rerumputan sekitar.


"Singkirkan mereka semua, dan cari siapa dalang dibalik ini semua." Perintah Denis, kemudian pergi.


Akhirnya Denis dan Aura dibawa pergi menggunakan helikopter kembali ke kota E.


Aura malah takjub dengan apa yang ia alami, karena seumur hidupnya baru sekali ia naik helikopter.


"Aah! Bagaimana dengan orang tuaku?" Aura panik ketika memikirkan keadaan orang tuanya.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah mengirimkan orang untuk menjaga Ayah dan Ibu juga Aril." Ujar Denis, tubuhnya mulai memerah karena tidak biasa berdiam di semak-semak seperti itu. Aura pun bernafas lega, Aura tidak begitu panik dan takut.


"Syukurlah kamu selamat." Denis benar-benar senang, ia tidak tahu jika terjadi apa-apa terhadap Aura karena dirinya. "Apa kamu tidak takut Aura, maafkan aku membuatmu selalu berada dalam bahaya." Denis berucap sedih.


"Aku tidak apa-apa, karena Denis selalu ada di sisiku saat aku dalam bahaya dan membutuhkanmu." Aura sudah tidak takut lagi seperti sebelum-sebelumnya karena percaya Denis bisa menjaga Aura dengan baik.

__ADS_1


"Kamu tidak gatal-gatal Aura?" tanya Denis terlihat kulitnya memerah karena gatal-gatal.


"Tidak kok." Jawab Aura menatap Denis yang wajahnya sudah bewarna kemerahan.


"Hahaha, kulit orang kaya." Aura malah mengejek Denis.


"Padahal kamu pasti gatal-gatal juga." Ujar Denis mengoleskan salep di kulitnya yang terserang gatal-gatal.


"Tidak kok, kulitku tidak selemah kulitmu." Ucap Aura bang, saat dia kabur dari Denis. Aura juga memasuki hutan-hutan di pengunungan dan dia baik-baik saja.


Denis cemberut karena di hadapan Aura Denis terlihat jadi terlihat memiliki banyak kekurangan yang di mata orang lain Denis selalu terlihat sempurna.


"Benar-benar kacau, menggangu urusanku saja." Denis terlihat benar kesal sekarang. "Aku tidak akan membiarkan dirimu terluka lagi Aura." Ujar Denis melepas bajunya dengan santai dan memperlihatkan badannya yang bagus. Aura malu melihatnya.


"Kamu tidak ganti baju?" tanya Denis yang sudah menyelesaikan urusannya mengganti pakaian. Kay yang duduk di hadapan Denis hanya diam saja. Aura menatap Denis aneh.


"Jangan aneh-aneh deh, aku baik-baik saja. Walaupun ada lecet dikit." Aura memperlihatkan tangannya yang sudah di obati.


"Tidak ada luka yang lain, kan?" Denis tidak yakin dan memperhatikan Aura dari ujung kepala sampai ujung kakinya.


"Aku serius, juga tidak merasakan sakit di tempat mana pun." Jelas Aura. "Beruntungnya tadi aku terguling di semak-semak, tapi tetap saja tanganku tergores." Pikir Aura menatapi lukanya yang sudah diperban dengan baik.


"Kita tunggu situasi ini tenang dulu, baru kita lanjutkan urusan kita." Ujar Denis.


"Yaa, liburku jadi tambah lama." Gerutu Aura.


"Kalau kamu mau orang-orangku yang uruskan kita bisa mempercepatnya."


"Tapi, kan aku maunya kita urus sendiri."


"Jadi, tidak masalahkan sedikit lebih lama."

__ADS_1


"Oke, baiklah." Aura akhirnya setuju. Di dalam pikirannya tidak ada sama sekali rasa trauma karena sering kali dalam bahaya.


__ADS_2