
"Aku tidak menyangka, mau menikah saja cobaannya sebanyak ini ... Tapi hebatnya, aku yang seperti ini tidak menyerah. Terlebih dulu aku tidak menyukai orang-orang kaya seperti Denis, yang bahkan aku tidak terpikirkan akan bisa bersama dengan orang sepertinya." Batin Aura, saat ini ia sudah berada di rumah kelahirannya sedang duduk melamun memikirkan masa depannya bersama dengan Denis.
Sekarang dia mengambil izin kuliah lebih dari seminggu karena urusannya itu, terlebih karena kejadian beberapa hari lalu. Meskipun sekarang seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Keluarga Aura tidak ada yang tahu bahwa ia sempat hampir mati karena kecelakaan mobil.
Terlebih lagi sekarang Denis menjaganya berlebihan, Aura tahu di setiap sudut penglihatannya sekarang ada orang-orang yang ditugaskan oleh Denis menjaganya diam-diam. Denis tidak ingin kejadian beberapa hari lalu terulang kembali.
"Aku ini hanya mahasiswi biasa tidak seperti Denis yang kasusnya mahasiswa spesial." Aura terus melamun pagi itu, mereka berdua akan sangat sibuk, seharian ini karena urusan mereka.
Denis yang memilih tempat tinggal terpisah datang menjemput Aura yang sedang melamun itu.
"Kenapa kamu melamun pagi-pagi?" tanya Denis tiba-tiba karena Aura yang tidak menyadari kehadirannya.
"Ah ... Aku hanya kepikiran beberapa hal." Jawab Aura.
"Apa itu?" tanya Denis ingin tahu.
"Ya, sulitnya ingin menikah. Ada banyak halangannya. Bahkan kau sudah melamarku hampir setengah tahun yang lalu, tapi akhirnya kita tidak menyerah setelah berbagai macam masalah." Jelas Aura.
"Mungkin kita sudah ditakdirkan, dari awal aku memang tidak akan menyerah padamu Aura. Aku senang karena akhirnya, apa yang aku nantikan sebentar lagi akan tercapai." Denis berucap senang dan Aura menanggapinya dengan tersenyum.
"Kamu benar, jika bukan takdir. Dari awal kita tidak akan pernah dipertemukan."
"Aku senang karena dipertemukan denganmu." Ujar Denis.
"Aku juga."
Mereka berdua saling melempar senyuman. Sampai akhirnya ibu Aura menegur mereka berdua. "Kalian tidak berangkat? Nanti kesiangan, loh." Aura dan Denis terlihat malu-malu.
"Kami berangkat dulu."
Setelah pamit, Denis dan Aura pun pergi.
......................
3 hari kemudian, tidak ada waktu istirahat karena ada begitu banyak hal yang harus mereka urus.
"Waaa ... Ternyata apa yang sudah aku lakukan ini tidak semudah yang aku bayangkan." Gerutu Aura ia kelelahan dan kurang tidur. "Aku tidak akan melakukan hal seperti ini dua kali." Ujar Aura terus menggerutu.
"Kamu pikir kita akan menikah dua kali." Ujar Denis.
"Tentu saja tidak." Ucap Aura.
__ADS_1
"Kamu mau menikah dengan orang lain?" Denis tampak sedih ketika berbicara seperti itu
"Tentu saja tidak, karena itu aku tidak akan melakukan urusan seperti ini 2 kali. Karena akan hanya bersamamu, dan ini benar-benar menguras tenaga. Tapi, aku senang melakukanya." Aura akhirnya berhenti menggerutu.
Denis senang mendengar ucapan Aura malam itu mereka pun makan malam dan beristirahat setelahnya karena benar-benar kelelahan.
.
.
.
Tinggal 2 hari sebelum hari pernikahan mereka, urusan mereka bisa cukup cepat tentu saja juga karena ulah Denis yang mempermainkan kekuasaannya. Yang biasanya ada urusan berbulan-bulan bisa terlaksana dalam 1 minggu. Walaupun sebagian besarnya mereka berdua mengurus sendiri, tapi Denis bisa melakukan dengan caranya untuk mempercepat urusan mereka.
"Selamat Aura!" Desta datang ke rumah Aura saat itu, karena acara pernikahan sahabatnya yang sebentar lagi di adakan Desta pulang dan minta izin untuk tidak kuliah selama beberapa hari juga.
Desta dan Aura bersahabat dari semenjak mereka berdua masuk di kampus yang sama, Desta lebih muda dari Aura karena Aura yang terlambat masuk berkuliah selama 2 tahun. Dan mereka berdua berasal dari tempat yang sama meskipun tidak begitu dekat juga. Jadi, saat ini Desta menyempatkan dirinya untuk pulang sekaligus menghadiri acara pernikahan Aura dan menginap di sana.
"Bagaimana dengan kuliah? Aku saja bisa izin sedikit lebih lama karena Denis." Aura khawatir tempat kuliah mereka berdua itu cukup ketat karena menjadi salah satu kampus terbaik, Aura tidak mau membuat Desta dalam masalah hanya karena Desta datang ke acara pernikahannya.
"Kamu tenang saja Aura, sepertinya sangking sibuknya kamu. Tidak sadar 2 hari ke depan adalah hari liburan kampus dan tanggal merah." Jelas Desta, kemudian Aura mengecek kalender dan benar dua hari ini ada tanggal merah dan hari pekan.
.
.
.
Tibalah hari yang dinantikan, Denis terlihat datang dengan teman-temannya yang ia sudah anggap sebagai keluarganya sendiri, orang-orang kepercayaannya yang selalu ada ketika ia berada dititik terendahnya.
Setelan jas mahal yang ia kenakan membuatnya ketampanannya terlihat semakin bersinar. Banyak orang yang menatapi Denis dan kagum bahkan teman-temannya pun tidak kalah berkarismanya daripada Denis. Dan banyak yang menganggap Aura sangat beruntung karena telah dipinang oleh seorang pria seperti Denis.
Aura keluar dari tempatnya dan terlihat mengenakan gaun putih yang membuatnya tampak cantik, terlebih ketika itu di mata Denis tentu saja Aura terlihat sangat cantik puluhan kali lipat.
Acara berjalan meriah tanpa gangguan apa pun. Desta yang melihat Aura akhirnya mendapatkan pria pujaannya terharu dibuatnya, ia selalu mendoakan sahabatnya itu akan terus bahagia ke depannya. Pesta pernikahan berjalan dengan lancar sampai akhirnya berakhir.
"Akhirnya selesai juga." Aura mendudukkan dirinya santai di atas kasur kamarnya, ia ingin tidur itu adalah yang ia pikirkan. Ia sudah melepas gaun pengantin yang ia kenakan dan sudah berpakaian biasa.
Kemudian Aura menutup wajahnya malu karena malam ini ia akan tidur dengan Denis, tepat di sisi Denis tidak seperti sebelumnya. Membayangkan apa yang dilakukan Denis Aura semakin malu saja.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu kamar terbuka dan terlihat Denis yang dengan santainya berjalan ke arah Aura yang duduk dengan tenang di kasurnya. Denis melepaskan jasnya tenang dan meletakkannya di kursi terdekat begitu juga dengan dasinya. Hanya menyisakan kemeja putih yang kancing kerahnya ia biarkan terbuka.
Kemudian ia duduk di samping Aura. Pria itu juga tampak kelelahan, tapi Denis yang parahnya tidak hanya Aura yang malu dengan malam itu tapi Denis juga. Terlihat di wajahnya yang putih tengah memerah sekarang.
"Aku jadi tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini." Denis menutup wajahnya bingung.
"Pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru." Setelah mengatakan hal seperti itu kepala Aura terasa memanas, ia sudah berpikiran hal-hal lain yang bahkan Denis sendiri bingung harus bersikap seperti apa.
"Aura boleh aku peluk?" tanya Denis masih minta izin. Aura langsung merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya gugup dan Denis langsung memeluknya erat dan Denis menindih Aura lalu menciumnya.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu yang diketuk langsung membuat mereka menghentikan hasrat yang sudah tidak tertahan sebagai suami istri.
"Oi pengantin baru, masih ada banyak tamu! Sabar-sabar!" teriak seseorang dari luar yang entah itu siapa.
"Cih!" umpat Denis kesal.
"Ekhm!" Aura berdeham karena malu.
Akhirnya Denis dan Aura keluar dari kamar mereka dan digoda banyak orang karena wajah mereka yang sama-sama memerah.
Acara mereka belum sepenuhnya selesai karena ada beberapa orang yang baru saja datang. Jadi malam itu akhirnya Aura dan Denis tidur larut malam.
Mereka melalui malam yang hangat yang mereka sudah nantikan, karena tadi tertunda ...
.
.
.
.
.
.
__ADS_1