Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 34 – Dekat


__ADS_3

Aura mengembalikan ponsel milik Denis tidak banyak yang membuat Aura  penasaran tentangnya, apalagi Aura tahu Denis memberikan ponselnya karena ingin Aura mengetahui siapa dirinya.


"Aku terjerat olehnya." Pikir Aura ingin frustasi, tapi ia tidak akan menunjukkannya jika itu berada di samping Denis.


"Aku harus kembali ke kelas dulu, nanti kita bicara lagi." Denis kemudian berlalu pergi karena jam kuliahnya akan dimulai, Aura hanya bisa mengangguk pasrah, tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Jangan terlalu kaget seperti itu, aku juga hanya orang biasa sekarang." Ujar Denis kemudian berlalu pergi.


"Orang biasa kepalamu! Kau itu seorang CEO! Apanya yang orang biasa benar-benar gila, kenapa cerita hidupku jadi seperti di dalam novel." Pikir Aura tapi ia tidak bisa mengatakan apa-apa, akhirnya Aura mengacak rambutnya frustasi. Tidak lama Desta muncul kembali, setelah dari luar kelas.


"Kenapa ekspresimu malah jadi seperti itu setelah bertemu dengan Denis, apa sebenarnya kamu tidak menyukai Denis?" tanya Desta akhirnya, ia tidak suka jika Aura terlihat tidak nyaman seperti itu.


"Bukan-bukan begitu, bukan berarti aku tidak suka Denis. Tapi-tapi... Ada beberapa hal yang tidak bisa aku jelaskan padamu Desta, maafkan aku." Aura menghela nafasnya, ia masih sangat terkejut sekarang ini. Di mana ia juga tidak bisa bercerita tentang Denis bahkan pada sahabatnya sendiri. Beruntungnya Desta bisa memahami Aura yang seperti itu, dia tidak ingin banyak bertanya juga karena bagaimanapun Aura juga punya hak privasinya sendiri.


Setelah jam pelajarannya berakhir, kali ini Aura bisa bebas kembali bersama dengan Desta, entah apa yang sudah terjadi tidak ada yang berani mengganggu Aura lagi seolah-olah mulut mereka dibungkam.


"Akhirnya orang-orang itu berhenti mengganggumu Aura. Meskipun agak aneh sih, tiba-tiba saja semuanya gak ada yang berani lagi mengganggumu, tapi itu bagus sih." Ujar Desta senang, Aura hanya tertawa menanggapinya karena ia sudah tahu itu ulah siapa, dengan kekuasaannya Denis bisa saja melakukan apa yang ia inginkan, Aura sudah tidak kaget lagi.


"Mungkin mereka-mereka sudah pada sadar kalau menggangguku pun itu tidak akan ada gunanya. Jadi, tidak usah pikirkan itu, ayo ke kantin." Ucap Aura berjalan berdampingan dengan Desta.


"Ekhm!" seorang pria dari kelas berbeda menegur mereka berdua. Desta langsung menoleh dan tersenyum ke arahnya. Itu adalah gebetan Desta, sangking sibuknya Aura dengan masalahnya ia tidak pernah tahu jika sahabatnya sudah dekat dengan seseorang.


"Ayo kita makan bertiga." Ajak Desta, ia merasa sudah lama tidak makan bersama dengan Aura.


Aura menarik Desta kemudian ia berbisik padanya. "Kaukan sedang bersama dengan dia ya. Aku tidak akan mengganggumu dong seperti ketika aku dengan Denis." Bisik Aura pada Desta.


Saat berbalik Denis sudah berdiri di belakangnya.


"Ukh! Baru saja disebut sudah ada orangnya." Pikir Aura.


"Ayo makan aku lapar." Ajak Denis langsung.


"Ayo makan berempat!" ajak Desta girang.

__ADS_1


"Baiklah!" Aura tidak kalah semangatnya. Kedua orang pria itu tidak bisa berkata apa-apa setelah Aura dan Desta memutuskan keinginan mereka. Mereka berdua hanya bisa mengikuti mereka saja.


.


.


.


"Makan yang banyak." Ucap Denis menambahkan lauk miliknya di makanan Aura, mereka berdua duduk berdampingan.


"Sudah, ini sudah banyak banget loh. Jangan coba-coba taruh nasimu di piringku." Ucap Aura menjauhkan piring makanannya. Aura tahu jika Denis akan melakukan itu.


"Mau aku suapin." Tawar Denis tapi Aura tidak perduli dan mulai memakan makanannya. Sedangkan, di seberangnya Desta dan Dimas nama pria yang sepertinya telah berpacaran dengan Desta sedang berbincang akrab, mereka berempat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


"Aura jangan menatapi laki-laki lain." Ujar Denis saat Aura menatap ke arah Desta dan Dimas.


"Apa sih yang ada di pikiranmu itu?" tanya Aura kesal.


"Aku lihat kau menatapinya." Jawab Denis berbisik.


Kemudian Aura mengajak Desta berbicara. Itulah tujuan Aura sebenarnya. Cuma ia tidak nyaman saja mengajak Desta berbicara ketika melihatnya ketika berbicara akrab seperti itu dengan Dimas, Aura tidak ingin mengganggu.


"Bagaimana dengan perjalanan penelitian Fakultas nanti. Ah tidak seru rasanya jika harus berpisah denganmu." Ujar Aura.


"Apa kau akan ikut Aura?" tanya Desta.


"Kan itu perlu ya sekaligus penelitian untuk membuat laporan, kalau gak perlu aku rasa mending aku belajar di rumah pulang." Ujar Aura.


"Wah itukan kelompok akan diacak di setiap kelasnya. Jadi kita boleh membuat kelompok dengan teman sekelas lainnya. Aku ingin berkelompok dengan Aura." Denis berucap.


"Kalau kita terpilih satu tim dalam pemilihan dalam pengacakan kelompok nanti." Ujar Aura santai, karena kelompok acak yang dipilih secara acak seperti itu kemungkinan satu kelompok dengan Denis itu kecil. Denis hanya tersenyum menanggapi Aura, Aura baru ingat itu adalah Denis, ia bisa melakukan apa yang ia mau sesukanya. Tapi dalam hati, Aura juga merasa senang ketika harus satu kelompok dengan Denis.


.

__ADS_1


.


.


Jam kuliah pun berakhir dan tentu saja hari ini Aura terjebak dengan Denis yang menyuruhnya untuk ikut bersamanya pulang dengan menaiki mobil mewahnya.


"Bahkan cuaca pun berpihak pada Denis." Batin Aura menatap keluar kaca jendela yang telah dibasahi oleh air hujan. Ia ingin menolak tapi di hadapan Aura, cuaca tiba-tiba sudah hujan dengan derasnya.


Denis tampak sangat senang, karena Aura seharian ini bersama dengannya. Pagi, siang, dan juga sore Denis selalu melihat wajah Aura. Ia merasa bersemangat.


"Terima kasih, sudah mengantarku pulang." Ucap Aura tersenyum.


"Apa aku boleh mampir?" tanya Denis.


"Kamu mau ngapain ke tempatku?" tanya Aura.


"Kamu mikir apa memangnya Aura. Aku hanya ingin minum teh hangat buatanmu." Ujar Denis menjawab sekenanya, Aura merasa bersalah sudah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Denis barusan.


"Kamu mikirin apa memangnya?" Denis yang sadar mulai menggodanya.


"Tidak ada, tidak baik laki-laki dan perempuan berada di tempat yang sama di saat hujan seperti ini." Ucap Aura keluar dari mobil Denis.


"Hahahaha, pikiranmu Aura." Aura langsung berlari masuk ke tempat tinggalnya, ia sungguh malu saat itu karena sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.


.


.


.


Keesokkan harinya Aura menaiki sepedanya pergi ke kampusnya. Ia tidak ingin terus-terusan ikut dengan Denis seperti itu. Kehidupan normal, itu yang ingin Aura rasakan di masa kuliahnya sekarang.


Denis kecewa sebenarnya tapi ia mengiyakan keinginan Aura juga dan malah berakhir menaiki sepeda juga saat ke kampus.

__ADS_1


"Astaga laki-laki ini," gumam Aura, setidaknya karena hal itu perasaan Aura yang ragu-ragu pada Denis sedikit menghilang dan mulai mau membuka hatinya.


Namun, Denis tetaplah Denis. Ia trauma makan gorengan pinggir jalan yang pernah Aura berikan padanya karena terakhir kali ia memakannya, ia berakhir mengalami sakit perut seharian. Meskipun Denis melarang Aura memakan makanan itu, Aura tidak perduli dan tetap membelinya saat bersepeda bersama Denis menuju kampus mereka.


__ADS_2