Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 53 – Kediaman Denis


__ADS_3

Melihat wajah Denis yang tampak terkejut seolah-olah ia tidak tahu jika Aura akan datang. Membuat Aura langsung menatapi Kay bermaksud meminta penjelasan.


Denis tidak bisa berkata apa-apa antara dia senang atau harus memarahi Kay karena sudah melakukan hal yang berada di luar perintahnya.


"Jangan bilang kau mengantarku kemari tanpa sepengetahuan Denis?" Aura berbisik jengkel pada Kay.


"Maaf Nona saya hanya bisa mengantar sampai kemari." Ujar Kay menunduk dan langsung keluar dari ruangan itu tanpa menjelaskan apapun. Begitu juga Bian dokter yang merawat Denis, dan orang yang pernah merawat Aura beberapa waktu lalu ketika kecelakaan mengendarai sepeda. Dokter itu berjalan perlahan keluar dari kamar Denis mengikuti Kay.


Kecanggungan terjadi, Aura hanya bisa berdiri mematung tidak mengatakan apa-apa. Ia ingin keluar dari tempat itu tapi kakinya tidak bisa bergerak sama sekali karena malu.


"Kemarilah, kenapa berdiri diam di situ." Denis akhirnya membuka suara. Ia meletakkan mangkuk buburnya di meja samping tempat tidurnya.


Aura hanya mengangguk, ia tidak tahu harus berbuat apa selain menuruti Denis. Di mata Denis sekarang setelah lama tidak bertemu Aura, gadis itu malah terlihat bertambah cantik daripada sebelumnya.


"Gawat! Rasanya dadaku berdebar-debar melihatnya." Pikir Denis ia terdiam memperhatikan Aura yang mendekat ke arahnya.


"Aaa...itu...kupikir kau tidak ingin aku ada di sini." Aura berucap canggung.


"Tidak! Bukan begitu, maksudku...sangking senangnya aku ada Aura di sini aku tidak bisa berkata apa-apa lagi." Ujar Denis tergagap.


"Syukurlah, kalau kau tidak suka tadi, aku akan langsung minta antar pulang pada Kay." Aura berucap tersenyum.


"Aku senang sekali Aura." Wajah Denis memerah, ia pikir saat ini ia sedang bermimpi lagi. Ia tidak jadi marah atas tindakkan Kay membawa Aura kemari.


"Wajahmu memerah Denis, sebaiknya kau lanjutkan makanmu dan beristirahat setelahnya." Aura duduk di kursi samping tempat tidur Denis.


"Suapin..." Denis malah minta dimanja. Aura hanya menatapinya tidak menanggapi apa-apa, sembari berpikir Denis tidak berubah sama sekali. Aura merasa sudah lama sekali tidak melihat Denis, ia pikir pemuda itu akan berubah karenanya. Namun, Aura tidak memungkiri ia menyukai sikap Denis yang seperti itu.


"Makanlah dulu, kulihat kau masih bisa memegang mangkuk buburmu berarti kamu masih kuat." Ujar Aura akhirnya.


"Sekarang tenaganya hilang,"


Aura menghela nafasnya menanggapi Denis. "Kemari 'kan biar aku suapi." Aura mengambil mangkuk yang berada di tangan Denis. Ia mau melakukan hal itu karena merasa bersalah lelaki sehat itu malah jatuh sakit karena memikirkannya.


Karena Aura yang menyuapinya, Denis pun makan dengan lahap dan menghabiskan makanan yang tadinya tidak begitu berselera ketika ia sentuh. Demamnya masih tinggi saat Aura memintanya untuk menunjukkan berapa suhu tubuhnya sekarang menggunakan termometer.

__ADS_1


"Tidurlah Denis, aku akan menjagamu." Ujar Aura, mereka tidak banyak berbicara kala itu. Karena Denis saat itu hanya diam saja. Denis hanya menuruti kata-kata Aura setelahnya dan Aura memperbaiki selimut yang menyelimuti tubuh Denis. Di tangan kanan Denis ada selang infus di tangannya.


"Apa sakitnya separah itu." Batin Aura ia sangat khawatir. Tidak lama kemudian Denis tertidur. Aura yang merasa Denis sudah tertidur ingin meninggalkan ruangan.


"Jangan tinggalkan aku, Aura." Aura terhenti saat akan berdiri karena tangannya ditangkap oleh Denis.


"Denis kau–." Kata-kata Aura terputus saat memperhatikan pria itu tengah tertidur sekarang, ia saat itu tengah mengigau.


"Kumohon jangan tinggalkan aku Aura." Ujarnya memegang telapak tangan Aura dengan erat.


"Hangat." Pikir Aura, "Mungkin karena demam itulah yang membuat tangan Denis lebih panas dari pada sebelumnya." Gumam Aura, pada dasarnya Aura hanya beberapa kali bersentuhan tangan dengan Denis tapi Aura masih mengingat dengan jelas suhu tangan Denis biasanya.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membuatmu khawatir dan jadi seperti ini." Aura kembali duduk di kursinya, tangannya ia biarkan Denis menggenggamnya. Setelah itu ingauan Denis berhenti karena Aura mau menemaninya di sisinya.


"Aku juga merasa lelah karena perjalanan cukup jauh tadi." Gumam Aura lagi ia menguap mengantuk. Tak lama kemudian  Aura ikut tertidur karena kelelahan.


Sepanjang tidurnya Denis tidak melepaskan genggaman tangannya pada Aura, sampai akhirnya ia terbangun.


Denis merasa ada seseorang yang sedang menindih salah satu telapak tangannya dan ternyata itu adalah Aura. Ia menjadikan telapak tangan Denis sebagai bantalnya dan tertidur dengan lelap.


Denis tersenyum menemukan gadis itu di sisinya. Dan merasa malu juga ternyata ketika ia meraih tangan Aura beberapa jam yang lalu itu bukanlah sebuah mimpi dan perkataan maaf Aura yang merasa bersalah, Denis mendengar semuanya.


"Ah...maafkan aku membangunkanmu." Ujar Denis juga terkejut, ia tidak menyangka sentuhan kecil seperti itu membuat Aura sampai bangun terperanjat kaget.


"Astaga, aku ketiduran." Aura menyapu wajahnya dengan salah satu tangannya, karena salah satu tangannya belum Denis lepaskan dari genggamannya.


Tangan Denis sudah tidak sehangat saat ia menyentuh tangannya beberapa waktu lalu. Dan Aura tahu demam pria itu juga sudah turun.


"Anu...bisa lepaskan tanganku." Pinta Aura.


"Aku masih merindukanmu, aku tidak mau kamu pergi Aura." Denis tersenyum.


"Sepertinya kau masih sakit." Aura kemudian menyentuh dahinya dan kemudian dahi Denis menyamakan suhu tubuh mereka tapi panas tubuh Denis sudah sama dengannya. "Kau sudah baik-baik saja." Aura menatap Denis dengan ekspresi datarnya.


"Aku sedih jika Aura menatapiku begitu." Denis memasang ekspresi memelasnya. Aura tidak bisa berkata apa-apa karena tidak tega.

__ADS_1


"Akhirnya tidak lama lagi kita akan menikah." Ujar Denis akhirnya melepas tangan Aura.


"Kau masih membahas itu." Aura bersandar di kursi yang ia duduki meluruskan badannya.


"Habisnya aku tidak ingin Aura pergi seperti kemarin." Ujar Denis tertunduk.


"Ya, kamu yang mulai duluan."


"Iya aku yang salah, karena aku tidak tahu jika itu menyakitimu, jadi aku malah tidak menjelaskannya secara langsung." Aura hanya diam saja.


"Jadi menikahimu adalah jalan satu-satunya untukku membuktikan semuanya."


"Denis, menikah bukanlah hanya untuk membuktikan bahwa kau sanggup memenuhi keinginanku untuk membuktikan cintamu padaku, tapi ada begitu banyak hal yang harus kau pahami." Aura tidak pernah ingin main-main dalam pernikahannya.


"Aku bukan pria yang bodoh Aura, aku ingin menikahimu karena aku ingin menjagamu dengan diriku sendiri. Aku akan membimbingmu sebagai suamimu ke depannya." Denis berucap yakin. "Aku juga sudah melamarmu melalui orang tuamu."


"Aku tahu itu, makanya aku kemari. Jika hubungan kita tidak jelas aku tidak akan pernah mau kemari meskipun kau sakit sekalipun." Ucap Aura santai.


"Jadi tandanya kamu menerimaku sebagai calon suamimu?" tanya Denis terkejut dan Aura mengangguk.


"Iya seperti itulah." Aura berbicara malu dan tidak menatap wajah Denis.


Grep!


Denis memeluk Aura erat saat itu. Aura terkejut dibuatnya.


"Hei-hei, Denis infusanmu ketarik!" Aura malah panik melihat selang infus Denis yang mengencang.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah sebelum lulus dari kuliah mereka. Karena Denis tidak ingin berlama-lama lagi untuk tidak mempersunting Aura sebagai istrinya.


.


.


.

__ADS_1


"Hebat, Denis kamu langsung sehat setelah calon istrimu ada di sisimu." Bian sempat-sempatnya menggoda Denis, karena Bian dan Kay sangat tahu bagaimana keadaan Denis 2 hari lalu.


"Diam kau!" Denis merasa malu dan Aura hanya terkekeh dibuatnya.


__ADS_2