
Aura yang dikepung oleh tiga lelaki saat ini berusaha tenang. Aura tahu, semakin ia takut makan orang-orang yang mengganggunya akan semakin kegirangan. Terlebih mereka berencana melakukan hal yang tidak senonoh terhadap Aura.
"Ayah, aku menyesal tidak pernah belajar ilmu bela diri darimu. Aku tidak tahu jika suatu saat aku akan berhadapan dengan para pria." Batin Aura tertunduk. Salah satu tangan dari lelaki itu menyentuh bahu Aura.
Plak!
Tepisan kuat dan refleks langsung Aura keluarkan. "Wah, kuat juga ni cewek." Ujar pria yang baru saja menaruh tangannya di bahu Aura, tangan pria itu tampak memerah.
"Sepertinya kita harus benar-benar memberikan dia pelajaran, dia tidak akan tahu jika tidak merasakannya." Mereka bertiga bergumam.
"Padahal di sini ada cctv, tapi mereka tidak takut. Aku yakin mereka ini hanya orang-orang yang suka memanfaatkan harta orang tua mereka." Aura membatin kesal, jika ia berhasil dilecehkan pun ia tidak akan bisa melawan karena kekuasaan mereka. "Menyebalkan..." Aura langsung ancang-ancang berlari ketika ada celah kosong di antara mereka bertiga.
Tap!
Tap!
Tap!
Aura berlari dengan kencang. Meskipun begitu tempat ramai masih terasa sangat jauh untuk Aura.
"Aku sudah lama tidak pernah berlari, dan ini sangat melelahkan." Pikir Aura tapi ia berusaha untuk terus berlari.
Grap!
Tangan Aura berhasil ditangkap salah satu dari lelaki itu, mungkin karena mereka terlalu dimanja dua di antara mereka sudah terengah-engah berlari.
"Mau lari ke mana kau?" tatapan horor ditujukan pada Aura, Aura menelan air liurnya takut.
"Ternyata, biar bagaimanapun aku tetap tidak akan bisa melawan laki-laki. Tapi..." Aura langsung menarik tangannya dengan kuat saat itu tidak peduli, jika tangannya mengalami terkilir karena melawan kuat. "Aku harus melawan!" pikir Aura.
__ADS_1
Duak!
Kemudian menendang alat vital pria itu, sehingga pria itu kesakitan dibuatnya. Aura tidak peduli dengan sakit yang ia alami di lengannya dan terus berlari dengan kencang.
"To-tolong!" Aura memekik berteriak minta tolong. Namun di sana masih benar-benar sunyi karena tidak adanya rumah orang, masih di sekitaran area kampus belum lagi waktu itu sudah sore hari. Seseorang muncul dari sudut pagar yang membatasi area kampus.
Buak!
Aura menabraknya dengan kuat sehingga rasanya ia akan terpantul karena tabrakan itu, tetapi orang yang ditabraknya langsung menangkapnya dalam dekapannya.
Tiga pria yang mengejar Aura langsung terhenti ketika melihat siapa yang ada di hadapan mereka, Denis dengan tatapan tajamnya. Aura mendongak melihat ke arah atas siapa orang yang sudah mendekapnya erat ia bergetar ketakutan karena hal itu.
Melihat orang itu adalah Denis, mata Aura langsung berkaca-kaca ingin menangis. Aura merasa ia sudah aman sekarang.
Denis tidak mengerti apa yang sudah terjadi dengan Aura. "Tolong... huwaa!" akhirnya Aura menangis dengan kencang seperti anak kecil, ia benar-benar ketakutan. Tidak terbayang dalam hidupnya ia akan dilecehkan oleh orang lain, bahkan tubuhnya amat bergetar saat itu.
"Tidak Denis, kami tidak melakukan apa-apa padanya." Ujar salah satu pria itu, kemudian Denis menatap Aura yang menunduk bergetar ketakutan sambil memegangi lengannya yang tampak memerah dan mulai membengkak. Tanpa penjelasan apa pun dari Aura, Denis langsung menatap marah ketiga orang itu. Pria itu sudah bisa menebak apa yang ingin ketiga orang itu lakukan pada Aura.
Duak!
Bak!
Buk!
Denis menghajar ketiga orang itu sampai babak belur, mereka tidak bisa melawan karena Denis sangat kuat untuk mereka. "Kalian, akan menerima bayaran untuk apa yang kalian telah lakukan lebih dari ini." Gumam Denis menatap ketika orang itu dengan kejam. Mereka pun lari terbirit-birit karena ketakutan.
Saat itu Denis menghampiri Aura yang tertunduk menangis dan ingin menyentuh bahunya. Karena terkejut Aura langsung menepis tangan Denis. Membuat pria itu benar-benar ingin membunuh ketiga orang yang ingin mengganggu Aura tadi, beruntungnya Denis datang tepat waktu.
"Kau sudah baik-baik saja Aura, jangan takut padaku." Ucap Denis membujuk Aura, gadis itu akhirnya tersadar dari ketakutannya. Namun, Aura tidak berkata apa-apa setelahnya. Denis langsung membawa Aura ke rumah sakit, untuk mengecek lengannya yang terkilir.
__ADS_1
"Apa yang sudah mereka lakukan?" tanya Denis di perjalanan, Aura hanya diam melamun menatap keluar jendela saat itu. Aura berusaha untuk menenangkan dirinya sekarang, jadi ia tidak bisa fokus bahkan kepada Denis yang berbicara dengannya. Itu adalah cara Aura untuk memperbaiki keadaan ketika dirinya merasa sangat tertekan.
"Aura, hei!" Denis terus menegur Aura yang melamun.
"Ah!" Aura terkejut kemudian dia terdiam lagi untuk beberapa saat membuat Denis kebingungan. "Jika, kuberitahu mungkin kau tidak akan percaya tapi terima kasih telah menyelamatkanku." Setelahnya Aura terdiam lagi.
"Aku selalu mempercayai perkataanmu Aura." Ujar Denis lagi meyakinkan Aura. Tapi, Aura tetap diam saja setelahnya karena tidak ada jawaban langsung Denis ingin mencari tahunya sendiri, ia mengirimkan pesan pada orang-orangnya tanpa sepengetahuan Aura, Denis tidak menelpon siapa pun saat itu.
Tidak lama sebuah rekaman masuk dengan cepat, tepat Aura sedang dirawat karena tangannya terkilir. Rekaman yang memperlihatkan tiga orang yang sedang mengelilingi Aura, seseorang menyentuh bahunya dan Aura melawannya sampai akhirnya Aura terdiam ketakutan. Ada yang menyentuh dagu Aura saat itu, dan mendekatkan wajahnya. Tapi Aura langsung menamparnya dan berlari kencang setelahnya. Sepanjang jalan itu ada kamera pengawas tapi ketiga orang itu tidak ada takut-takutnya sama sekali.
Denis menatapi rekaman itu sangat marah, ketika Aura melarikan diri seseorang berhasil meraih tangannya di situ juga Aura melawannya, cengkraman kencang itu terlepas dengan tarikan yang kencang juga dari Aura, kemudian Aura memukul mereka lagi untuk membela diri.
"Keterlaluan." Gumam Denis meremas ponselnya.
Tangan Aura sudah diobati dan ia sudah keluar dari ruangannya.
"Kau tidak apa-apa, kan? Haruskah kita pergi ke psikiater?" tanya Denis ia benar-benar khawatir, setelah mengetahui semuanya.
"Dia sudah tahu rupanya." Pikir Aura hanya menatapi Denis saat itu. "Aku tidak apa-apa kok, aku hanya syok untuk beberapa saat." Aura sudah kembali bersikap seperti biasanya, tapi ia masih kepikiran.
"Akan aku pastikan mereka membayar perbuatan mereka." Ujar Denis ia benar-benar marah.
"Kamu sudah menghajar mereka untukku." Aura tersenyum ramah.
"Itu tidak cukup untuk membayar perbuatan mereka," ucap Denis.
"Jangan mengotori tanganmu Denis untuk hal-hal yang tidak seharusnya dibayar dengan itu." Aura tidak bisa membayangkan jika Denis membunuh orang-orang itu karena dirinya.
"Tidak tenang saja aku tidak akan membunuh," Denis mengerti yang Aura maksud. "aku akan membuat mereka sengsara seumur hidup." Ucap Denis dengan ekspresi seramnya, bahkan sampai membuat Aura merinding dibuatnya.
__ADS_1