Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 11 – Bekal Makan Siang


__ADS_3

Sesampainya di sana Aura langsung mendudukkan diri di bawah pohon besar yang rindang, pohon itu banyak memiliki cabang dan daun yang cukup rimbun cukup untuk tidak sampai membuat cahaya matahari mengenai orang yang duduk di bawahnya.


Cukup jauh dari kelas dan banyak ditakuti Mahasiswa dan Mahasiswi. Bahkan mungkin tidak ada yang ingin mendekati pohon ini karena banyak orang yang menganggap pohon besar rindang seperti yang Aura tempati sekarang pasti ada penunggunya ditambah ketakutan orang-orang yang takut dengan ulat yang biasanya banyak menempel di daun, tapi itu tidak berarti bagi Aura, bukannya tidak percaya dengan hal-hal gaib hanya saja bagi Aura pohon tempat di belakangnya itu tidak seseram yang orang-orang kataka, Aura juga memang tidak terlalu takut dengan ulat.


Aura kemudian membuka bekal makan siangnya. Kemudian ia memandangi bekal makan siang itu sejenak terlihat seperti berpikir mau memakannya atau tidak. Aura memang merasa cukup lapar tapi ia tidak nafsu makan sekarang.


"Apa-apaan itu? Kamu hari ini terlihat tidak begitu sehat. Dan sekarang makan siangmu hanya mie instan dan telur ceplok, apa kamu tidak bisa masak yang lebih baik lagi. Atau memang tidak bisa memasak?" tiba-tiba dari atas pohon ada suara laki-laki yang mengomentari bekal makan siang milik Aura, Aura terkejut dibuatnya.


Aura yang terkejut langsung mendongak menengok ke asal suara yang berasal dari atas pohon. Ia sempat berpikir horor dan sempat hampir percaya dengan cerita orang-orang dari Fakultasnya, Aura pikir itu tadinya suara penunggu pohon rindang itu.


Namun, seperti sebuah takdir. "Kamu?" Aura yang menyadari suara itu adalah suara milik Denis, ia cukup terkejut sebenarnya. Tapi kemudian ia hanya menatap datar pria itu entah karena kesal atau apa.


"Kenapa?" tanya Denis melompat turun dari atas ranting pohon itu.


"Aku bukannya tidak bisa masak, aku hanya bangun kesiangan." Jelas Aura pada Denis, ia menyempatkan menjawab pertanyaan Denis yang sempat tertunda karena keterkejutannya.


"Kenapa bisa ada disini?" tanya Aura lagi melanjutkan rasa penasarannya.


"Sebelum kamu pernah ke sini, aku memang sudah sering ke sini." Jelas Denis merapikan pakaiannya.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Aura tidak mengerti.

__ADS_1


"Tentu saja mencari ketenangan, kamu taukan aku begitu terkenal." Ucap Denis dengan percaya dirinya sambil menyibak rambutnya dengan tangan kanannya.


Denis berdiam diri di sini karena ia mencari ketengangan, menghindari dari kebisingan dari perempuan-perempuan yang mengejar-ngejar dirinya selain di perpustakaan, di tempat ini Denis bisa lebih santai dan bisa mengistirahatkan diri.


Biasanya ke mana pun Denis pergi penggemarnya selalu mengikutinya dan tempat ini adalah tempat rahasia Denis yang tidak ada orang tahu. Rumor pohon angker ternyata juga menguntungkan untuk Denis.


"Huft! Tempat persembunyianku terbongkar. Aku sudah ketahuan salah satu penguntitku," kata Denis menganggap Aura salah satu dari penguntitnya. Aura yang ingin menyuap bekalnya berhenti dan tidak jadi memasukkannya ke dalam mulutnya karena mendengar ucapan narsis sekaligus menurut Aura yang menghina dirinya.


"Padahal jika kau diam saja tadi. Aku tidak akan tahu jika ini adalah salah satu markasmu. Aku ke sini cuma mau numpang makan." Ucap Aura menutup bekal makanannya, ia ingin pergi dari tempat itu. Ia kesal dikatai seperti itu tapi tubuhnya terlalu lemas dan tidak bersemangat sekali untuk meladeni ocehan Denis yang bagi Aura sangat-sangat menyebalkan itu.


"Kalo begitu kenapa kau malah makan ke tempat ini. Apakah ini semua cuma alasanmu belaka. Kampus ini sudah disediakan tempat makan khusus yang nyaman lebih dari tempat ini. Akui saja kau mau dekat denganku kan Aura, makanya kau menggunakan alasan itu untuk mendekatiku aku akan menerimanya. Tidak sekali dua kali kebetulan ini." Ucap Denis yang akhirnya benar-benar membuat Aura kesal sekarang. Ia yang banyak pikiran ini tidak bisa mengontrol emosinya sama sekali. Akhirnya karena hal itu salah satu yang mengganjal hati Aura akhirnya keluar juga dari ucapannya.


"Kau tahu gara-gara dekat denganmu aku harus makan sembunyi-sembunyi seperti ini. Dan jika tidak seperti ini aku akan diganggu." Aura masih dengan kekesalannya. Akhirnya ia mulai membongkar rasa frustasi yang ia sembunyikan dari dulu.


"Para penggemar-penggemarmu itu terus-terusan menggangguku. Kau memang tidak pernah melihat seberapa berjuangnya aku, terlebih kamu tidak mau membiarkanku menjalani keseharianku seperti biasanya sebelum aku mengenal kamu. Kuharap, aku dan kamu tidak pernah bertemu sekalian. Aku benar-benar menyesal sudah menabrakmu saat itu seharusnya aku lebih berhati-hati, jika tidak semuanya tidak akan jadi seperti ini. Aku selalu benci ketika aku di salahkan orang-orang. Aku kesal dengan semuanya, aku hanya ingin belajar dengan baik di tempat ini." Ucap Aura tersenyum getir matanya berkaca-kaca.


Akhirnya mengeluarkan seluruh isi hatinya yang ia pendam selama ini, ia menatap wajah Denis dengan tampang kesal dan frustasi. Gadis itu benar-benar terlihat tertekan ia ingin pergi dari tempat itu sekarang dan berharap dengan semua yang dikatakannya Denis mau melepaskannya dan membiarkannya belajar seperti biasanya. Selama ini sangat berat bagi Aura untuk menjalin pertemanan dengan Denis. Ia benar-benar hanya ingin mendapatkan kehidupan kuliah yang damai seperti yang diimpikannya.


Itulah ekspresi yang dinantikan Denis selama ini, ia memang ingin melihat ekspresi itu dari Aura. Ekspresi yang selalu berusaha ia sembunyikan karena berusaha untuk tegar. Ekspresi dari seseorang yang benar-benar merasa terganggu. Selama ini Denis diam karena Aura terlihat tegar dan tetap semangat meskipun ia terganggu.


Denis sudah tahu akan hal Aura yang diganggu karena semenjak awal Denis sudah melihat Aura yang dikerjai. Tapi Aura tidak terlalu memperlihatkan perasaan terganggunya dan terkesan biasa-biasa saja karena memang Aura bisa menghadapi orang yang mengganggunya.

__ADS_1


Namun kali ini pikirannya sangat kalut, sehingga perasaan terganggunya benar-benar terlihat semua di mata Denis. Melihat ekspresi Aura yang seperti itu Denis ingin melakukan sesuatu.


"Akhirnya," gumam Denis. Aura terlihat bingung dengan ucapan Denis, awalnya Aura kira Denis juga bersyukur dengan permintaan Aura yang meminta menjauhinya. Tapi tentu saja itu tidak mungkin.


"Jadi, apa yang ingin kau lakukan pada mereka yang mengganggumu?" tanya Denis menyuruh Aura untuk membuat permintaan padanya.


"Apa maksudnya?" tanya Aura masih tidak mengerti.


"Kau ingin membalasnya? Menghukumnya atau apa? Aku akan turuti semua yang kamu inginkan untuk memberi pelajaran kepada mereka yang mengganggumu." Ucap Denis menyilangkan tangannya di dada sambil menyandarkan tubuhnya di batang pohon rindang itu dengan tatapan dingin, penuh kekuasaan.


Tatapan seseorang yang bisa melakukan apapun yang dia inginkan, Aura merasa menjadi sangat kecil setelah ditatap seperti itu. Ditambah dengan angin yang berhembus menerpa rambut Denis menambah kesan horor yang membuat Aura takut dibuatnya.


Aura dia takut dengan tatapan dan ekspresi Denis yang seperti itu, tapi Aura merasa jika Denis seperti itu, itu adalah dia yang sebenarnya. Sifat tersembunyi Denis yang tidak ingin ia perlihatkan pada siapa pun. Kecuali, orang tertentu dan ini sudah kedua kalinya Aura melihatnya dan kali ini sangat jelas.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2