Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 35 – Kecelakaan


__ADS_3

Sore harinya, Aura merasa sangat lelah sekarang ia merasa mengantuk dan kurang fokus sore itu karena ada begitu banyak laporan yang harus ia kerjakan. Walaupun dibantu Denis mengerjakannya tapi itu cukup melelahkan untuk Aura. Tidak terasa ini sudah mendekati akhir semester duanya. Jadi Aura merasa benar-benar sibuk sekarang.


Baru di semester ini juga Aura mengenal Denis. Sebelumnya Aura tidak tahu menahu tentang Denis sama sekali sangking tidak perdulinya.


"Oh iya tadi aku bawa sepeda ya." Pikir Aura kemudian menuju parkiran khusus sepeda.


Ternyata di sana ada Denis yang sedang menunggunya.


"Kenapa kau tidak pulang lebih dulu Denis?" tanya Aura mengambil sepedanya.


"Akukan mau pulang bareng kamu." Ucap Denis mengikuti Aura.


"Padahal kayaknya seharian ini kamu juga lelah." Ujar Aura menempelkan tangannya ke dahi Denis, wajahnya merona malu.


"Ah, kamu baik-baik saja rupanya. Aku yang salah lihat wajahmu lebih pucat dari biasanya." Di mata Aura wajah Denis yang sudah putih itu menjadi pucat sehingga membuatnya merasa khawatir, tapi Aura tidak menyadari apa yang dilakukannya itu membuat orang di sampingnya salah tingkah.


"Aura kamu hari ini tampak lebih perhatian."


"Hah? Biasa aja, aku cuma merasa bersalah karena membuatmu mengendarai sepeda biasanya gak pernah." Jelas Aura.


"Kamu meremehkan tenagaku?" Denis tersinggung.


"Hehehehe," Aura terkekeh.


"Aku bisa menggendongmu sampai tempatmu tinggal jika mau."


"Sudahlah jangan aneh-aneh ayo pulang. Aku mau istirahat." Ujar Aura mulai mengayuh sepedanya dan Denis menjaganya di belakang.


.


.


.


"Aura pelan-pelan saja. Jangan ngebut."


"Tidak ada apa-apa, anginnya segar." Aura senang. Denis hanya bisa menghela nafas khawatir, Aura bahkan tidak melihat jalanan.


"Aura perhatikan jalan, astaga." Denis benar-benar khawatir.


Brak!


"Auraaaa!" Denis langsung berteriak panik, Aura terjatuh telungkup di tengah jalan.

__ADS_1


Denis langsung melemparkan sepedanya panik, mendatangi Aura yang tidak bergerak itu.


"Kau baik-baik saja Aura?" Denis yang panik langsung mendudukkan Aura. Dia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Aduh kepalaku sakit." Gumam Aura memegang kepalanya. Di dahinya tampak lecet dan mengeluarkan darah segar dari sana karena jatuhnya yang cukup keras tadi menghantam aspal, tempat itu cukup sunyi jadi jarang orang lewat di sana.


"Makanya hati-hati Aura." Denis tetap berbicara pelan berusaha bersabar. Kemudian Denis menelpon.


"Oi kalian semua, cepat kemari. Atau kupecat kalian semua!" Denis berteriak tiba-tiba, meskipun tidak begitu dekat saat menelpon suara Denis itu cukup untuk membuat Aura terkejut dibuatnya.


Selesai menelpon Denis langsung mendatangi Aura lagi. "Seharusnya kamu gak perlu marah-marah begitu, aku masih kuat kok." Aura berusaha semangat sambil tersenyum.


Tiba-tiba Denis langsung membelalak kaget, hidung Aura mengeluarkan darah. Aura yang merasa ada cairan kental yang keluar melalui hidungnya langsung mengelapnya pelan, ia juga tidak menyangka karena jatuhnya tadi membuatnya mengalami mimisan.


Denis langsung mengangkat Aura dan langsung menggendongnya. Aura terkejut dengan perbuatan Denis itu tapi ia tidak melawan, tidak berlangsung lama orang dengan mobil hitam datang menghampiri mereka.


Aura hanya bisa diam saja, ia tidak menyangka akan melihat Denis sepanik itu, Aura juga panik sebenarnya. Tapi ia berusaha untuk tetap tidak terlihat panik. Mimisan Aura bahkan belum berhenti .


"Aku tidak ingin naik sepeda lagi." Gumam Denis.


"Kenapa kamu yang trauma?" tanya Aura heran. Ia menahan hidungnya yang mimisan dengan tisu.


"Karena sepeda kau terluka."


"Intinya aku tidak mau kamu naik sepeda lagi."


"Astaga, aku tidak apa-apa loh." Ujar Aura menepuk jidatnya. "Auu!" Ia lupa ada luka di sana.


"Apanya yang tidak apa-apa. Aku akan antar jemput kamu sekarang."


"Hmm," Aura tampak cemberut sekarang. Tapi, ia tidak bisa menolaknya juga. Ia ingin mendengarkan perkataan Denis sekarang.


"Kamu mendengarkan akukan Aura?" tanya Denis.


"Iya-iya, kamu jangan buang sepedaku tapi ya." Aura memberi syarat, Aura sudah tau apa yang akan dilakukan Denis.


"Oke aku tidak akan buang sepedamu." Denis langsung menerima tawaran Aura. Aura menatap ke arah lain ingin tertawa, tebakannya tidak salah.


Tidak lama kemudian mereka sampai di Rumah Sakit terdekat dan juga terbaik di kota E. Denis langsung memesan ruangan VIP.


Aura hanya bisa menutup wajahnya menahan malu, ia merasa sakitnya tidak begitu parah, hanya kebetulan saja hidungnya ikut terbentur saat jatuh. Denis sudah membuatnya seperti pasien gawat darurat.


Dokter yang memeriksa Aura tampak heran.

__ADS_1


"Maafkan saya Dok, yang membawa saya ke sini terlalu berlebihan." Ujar Aura malu.


Dokter itu tampak masih muda, dan ternyata dia adalah kenalannya Denis.


"Berhenti melihatnya seperti itu kalau kau tidak ingin jabatanmu hilang." Denis yang baru datang, duduk di kursi dan langsung menyilangkan kakinya.


"Kau benar-benar kejam, sungguh." Dokter itu langsung lesu setelah mendengar kata-kata Denis.


"Kalian saling kenal?" tanya Aura.


"Dia dokter pribadiku sekaligus temanku." Jawab Denis. Seketika Aura penasaran umur Denis berapa sekarang, Aura masih belum tahu umur Denis, temannya sudah menjadi Dokter tidak mungkin Denis berumur seumur anak kuliahan juga.


"Jadi siapa wanita ini Denis?" tanya Dokter itu.


"Dia calon istriku." Jawab Denis lantang. Dokter itu langsung menjauh tidak berani mendekati Aura, ia tidak ingin cari gara-gara dengan Denis.


"Dia kenapa?" pikir Aura, ia bingung.


Dokter yang takut dengan Denis itu memanggil asistennya yang merupakan seorang dokter wanita di Rumah Sakit itu. Akhirnya dari arahannya, Aura menjalani berbagai prosedur kesehatan setelah semua lukanya diperban. Memastikan tidak ada luka dalam yang Aura alami.


Aura hanya menurut saja, walaupun Aura merasa itu sangat berlebihan.


"Jadi, kamu puas sekarang?" tanya Aura di perjalanan pulang.


"Aku belum tenang kalau lukanya belum sembuh." Ucap Denis berjalan di samping Aura, mimisannya sudah berhenti dari tadi semenjak diberi obat karena memang lukanya tidak separah yang dibayangkan. Hanya saja dahi Aura yang mengalami luka dengan jelas.


"Butuh waktulah buat sembuhnya. Mana bisa langsung regenerasi seperti cerita sihir."


"Harus cek rutin sampai lukanya benar-benar sembuh." Ujar Denis masih khawatir.


"Ini luka kecil, selama mimisannya sudah sembuh ya aku sudah gak papa." Aura meyakinkan.


"Jangan lupa minum obatmu biar cepat sembuh." Ujar Denis lagi. Ia masih marah karena kejadian tadi tapi ia tidak tahu harus menyalahkan siapa karena Aura benar-benar mengalami kecelakaan tunggal.


"Iya-iya bawel." Ketus Aura, omongannya tidak Denis hiraukan.


"Atau besok kau izin saja istirahat?" tanya Denis.


"Nggak, gila ya. Kamu pikir enak ketinggalan tugas mulu." Kali ini Aura langsung memprotesnya dengan tegas.


"Tapi kaukan sedang sakit Aura." Ujar Denis.


"Iya tapi sakitku gak parah, sekarang aja aku bisa jalan sendiri, ini bukanlah demam Denis." Aura menyakinkan ia tidak bisa mengalah jika menyangkut masalah pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2