Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 14 – Curhat


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua minggu lebih ini Aura dan Riyan putus komunikasi, mereka tidak ada mengirim kabar entah itu Riyan ataupun Aura. Aura tidak ingin mengganggu Riyan semenjak pesan terakhirnya tidak dibalas, Aura tidak pernah menghubungi Riyan lagi. Aura masih galau karena hal itu, terkadang ketika ia sibuk, ia bisa melupakan sejenak kegalauannya.


Namun, sekarang sudah tidak lagi. Akhir-akhir ini Aura merasa sangat tidak enak hati bahkan ketika ia sedang sibuk sekalipun itu tidak lupa walaupun sejenak tentang perasaannya, ada perasaan tidak nyaman dan cemas di hatinya disepanjang kegiatannya.


Ia merasa sangat cemas tentang hubungannya dengan Riyan. Dan saat ini ia berpikir buruk tentang hubungannya, ia berpikir hubungannya tidak lama lagi akan segera berakhir. Sudah tidak ada lagi perasaan positif tentang hubungannya.


Aura yang baru memasuki perpustakaan melamun, terlihat wajahnya sungguh sangat tidak bersemangat, ia tidak memikirkan apa-apa selain perasaannya sekarang.


"Oii!" Denis menyapanya, tapi gadis itu hanya diam saja dan berlalu melewati Denis, ia tidak menyadari kehadiran pria itu, Aura tidak fokus pada apapun di dekatnya.


Akhirnya Aura menyadari kehadiran Denis setelah pria itu menyentuh bahunya.


"Ada apa denganmu?" tanya Denis, penasaran dengan yang di pikirkan Aura.


Aura berbalik sambil memaksa tersenyum dengan mata sayunya.


"Aku hanya sedang merasa tidak enak hati sekarang." Jawab Aura jujur, kemudian ia berbalik dan ingin meninggalkan Denis.


"Kamu sakit ya," Denis mendatangi Aura dan menyentuh dahinya merasakan panas atau tidaknya wajah gadis itu.


"Ish apaan sih! Aku gak sakit tau, cuma lagi gak enak hati aja." Ucap Aura menyingkirkan tangan Denis dari dahinya.


"Aku khawatir tahu, gak biasanya orang macam kamu itu berekspresi seperti itu." Ucap Denis heran dengan ekspresi Aura yang tidak biasa, gadis itu benar-benar terlihat kacau sekarang.


"Orang kaya kamu khawatir sama orang, haa?!" Aura menatap wajah Denis dengan tampang tidak percaya sama sekali.


"Coba lihat mataku, aku jujur loh gak bohong." Ucap Denis sambil menunjuk wajahnya. Aura tidak perduli, bahkan dari awal ia tidak terlalu percaya sama sekali dengan pria itu.


Aura hanya menggeleng langsung pergi meninggalkan Denis yang terlihat agak kecewa dengan sikap Aura, sepertinya ia saat itu benar-benar khawatir pada Aura.


"Kenapa kamu gak mau percaya padaku." Batin Denis ia merasa kecewa karena gadis itu tidak percaya dengan ucapannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, "Apa yang aku pikirkan sih. Kenapa juga aku memikirkan hal itu, terserah dia sih dari awal aku memang tidak terlalu perduli padanya." Gumam Denis tiba-tiba berbicara sendiri melawan isi hatinya yang sesungguhnya. Tapi ketika mengingat wajah Aura yang sangat tertekan itu membuat Denis benar-benar khawatir sendiri dan dia tidak bisa menyangkal hal itu.


Aura berusaha untuk memfokuskan dirinya pada acara baca bukunya tapi ternyata tidak bisa.


Aura tidak bisa fokus dengan acara baca bukunya, buku yang ia baca hanya ia pandangi dengan tatapan kosong. Dan beberapa kali ia memeriksa ponselnya berharap Riyan saat ini menghubunginya walaupun hanya sekedar mengatakan 'hai' padanya. Tapi hal itu sangat nihil, bahkan nomor ponsel pria itu tidak aktif sama sekali.


Aura saat ini tidak berharap lebih sekarang ia sudah mulai menyiapkan hati jika terjadi apa-apa dengan hubungannya.


Denis yang duduk di seberangnya hanya memandangi wajah gadis yang tampak frustasi itu.


"Aku penasaran, dari tadi apa sih yang kamu pikirkan?" tanya Denis pada akhirnya.


"Kau tidak perlu tahu apa yang aku pikirkan." Ucap Aura masih tidak ingin bercerita.


"Jika kau banyak pikiran sebaiknya kau cari teman untuk cerita, biar hatimu sedikit lega." Saran Denis, ia berucap sambil membaca bukunya.


"Terima kasih sarannya." Ucap Aura santai.


"Aku tidak enak hati saja, aku putus kontak dengan pacarku." Akhirnya Aura mulai bercerita.


"Sudah berapa lama?" tanya Denis seperti tidak tertarik sama sekali tapi ia tetap mendengar cerita Aura, Denis masih membaca bukunya.


"Sudah seminggu ini dia tidak ada kabar." Ucap Aura menelungkupkan dirinya di meja, tingkahnya sudah benar-benar biasa-biasa saja di hadapan Denis, seolah pria itu adalah teman dekatnya dan ia sedang sesi curhat sekarang.


"Aku yakin, pacarmu itu sekarang tengah berselingkuh dengan wanita lain." Ucap Denis santai.


"Jangan memperjelasnya dong, kasih motivasi dikit kek." Ucap Aura menatap wajah Denis dengan tampang yang berkata, setidaknya hibur aku dengan kata-kata yang membuatku berpikir positif terhadap kekasihnya.


Kemudian Aura menyilangkan tangannya di atas meja dan menaruh dagunya di atas lengannya sambil menggembungkan pipinya, karena bercerita pada Denis hanya menambah kegelisahannya.


"Apa yang mau dikasih motivasi jika sudah sejelas itu, pria yang benar-benar menyukaimu itu mau sesibuk apa pun dia pasti akan kasih kabar. Masa dalam dua minggu ini biar satu menit gak bisa ngasih kabar." Ucap Denis yang mengerti tentang pria karena dia juga seorang pria.

__ADS_1


"Siapa tahu kan dia benar-benar sibuk." Ucap Aura berusaha berpikir positif.


"Kau terlalu mencintainya, makanya kalo jatuh cinta jangan kamu kasih semua hatimu." Ucap Denis menghentikan acara baca bukunya.


"Aku kan gak kayak kamu yang suka main-main. Tapi, meskipun sakit di sini, aku masih punya akal sehat kok." Ucap Aura menepuk dadanya kemudian menghela nafas panjang.


"Tetap saja kau terlihat seperti orang stres sekarang," kata Denis jujur dengan apa yang dia lihat.


"Sebegitu jelasnya yah." Aura menyandarkan tubuhnya ke kursi perpustakaan itu sambil menatap ke atas langit-langit.


"Ya, kau benar-benar terlihat gelisah. Berbeda dari biasanya yang sangat terlihat begitu tenang." Ucap Denis.


"Mungkin ini yang dinamakan patah hati," gumam Aura sendiri.


"Kau tidak tahu patah hati?" tanya Denis.


"Aku belum pernah cerita ya. Benar, pacarku itu cinta pertamaku." Jelas Aura menatap Denis lagi.


"Makanya kau sebaiknya sepertiku, yang tidak pernah patah hati." Ucap Denis sok-sok an.


"Halah, aku yakin pasti saat patah hati pertamamu kau lebih stres dari pada aku. Aku jadi penasaran gimana ekspresimu saat ini, aku benar-benar ingin melihatnya." Aura terlihat bersemangat.


"Aku dengar, jika seorang pria yang benar-benar mencintai pasangannya dan dikhianati ia akan bertingkah lebih daripada seorang perempuan yang tengah patah hati." Ucap Aura menjelaskan pada Denis.


"Dan aku yakin pasti sebagian besar tingkah lakumu sekarang itu bermula karena kau patah hati, ya kan?" Aura menebak-nebak.


"Sok tahu sekali," kata Denis tapi membuang wajahnya ke arah lain. Denis hanya bermain-main dengan wanita itu, benar. Patah hati sepertinya pernah, di saat Denis masih muda saat ia disangka telah kehilangan semuanya.


Orang yang paling dia percaya meninggalkannya, sampai ia berada dititik sekarang, ia tidak begitu percaya dengan orang lain dan hanya bersenang-senang saja menghabiskan setiap waktu masa mudanya yang terlewat beberapa tahun lalu.


"Jadi bagaimana rasanya patah hati pertamamu?" tanya Denis penasaran.

__ADS_1


__ADS_2