
"Apakah kamu akan pergi jika aku mengejar-ngejar cinta dirimu seperti gadis-gadis lainnya?" tanya Aura masih tidak yakin dengan perasaan Denis.
"Umm, bisa saja. Itu jika kau memberikan tubuhmu padaku." Aura langsung mengeluarkan jari tengahnya di hadapan wajah Denis. "Dengan begitu kau tidak akan pernah pergi dari sisiku lagi." Denis tidak menghiraukan kelakuan Aura itu.
"Melakukannya sekarang dan bertanggung jawab nanti atau bertanggung jawab terlebih dahulu. Tidak ada pilihan lainnya selain menerimaku Aura." Ucap Denis, wajah Denis semakin mendekat ke wajah Aura.
"Dasar pria gila." Ucap Aura menatap tajam wajah Denis, jika ia berani lebih dekat lagi Aura akan menamparnya.
"Yang membuat diriku gila adalah kamu Aura." Ujar Denis menjauh sambil berbicara datar tanpa ekspresi. "Jadi kita akan menikah secepatnya." Ucap Denis santai, harus tidak ada penolakan dari nada bicaranya.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menolaknya, apa aku sudah jatuh cinta pada pria gila ini juga." Pikir Aura, ia menutup wajahnya frustasi. Kelakukan yang seharusnya kebanyakan orang tidak menyukainya, Aura malah tertarik padanya. Aura menyukai Denis juga tapi ia tidak yakin juga.
"Apakah aku masih normal, atau apakah aku juga sudah gila." Batin Aura terus berbicara, ia bahkan tidak bisa menolak pria itu secara tegas jika ia memang tidak mau dengannya.
"Lagian kau melamar orang lain dengan cara seperti itu, benar-benar..." Aura mulai protes lagi.
"Ah maafkan aku, haruskah aku menyediakan tempat yang romantis?"
Aura mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Aku belum mengenal dirimu sepenuhnya, paling tidak biarkan aku dan kamu lulus terlebih dahulu." Ujar Aura pasrah saja.
"Uum kau benar, aku juga ingin kau mengetahui siapa diriku ini terlebih dahulu."
"Hahaha, mendengar itu rasanya aku ingin lari." Gumam Aura membuang wajahnya ke arah lain. Denis menatapi Aura dengan tampang bertanya-tanya.
"Tapi aku minta syarat juga, jika kau memang benar-benar serius padaku, berhentilah bermain-main dengan perasaan wanita. Berhentilah bermain wanita." Aura berucap dengan tegas.
"Baiklah." Denis mengangguk setuju.
"Tapi, aku ingin kita dekatnya seperti teman saja. Aku tidak mau menempel-nempel padamu." Ujar Aura lagi.
"Setidaknya kau tidak menjauhiku lagi Aura, aku akan menyetujui apapun itu sampai kita menikah nanti."
"Bagaimana kalo menikah besok?" Denis mulai menciptakan ide gila lagi.
"Kau... Aku ingin kenal kamu terlebih dahulu." Aura memelankan suaranya malu, ia merasa sangat perihatin dengan lamaran Denis itu. Tidak ada manis-manisnya.
"Pasti, aku akan memperkenalkan diriku padamu, Nona." Denis meraih tangan Aura dan menciumnya. Aura tidak tahu harus berekspresi seperti apa untuk menanggapi kelakuan Denis itu.
"Ah... itu... anu... kita harus kembali ke kelas sekarang, mata kuliahku akan dimulai, kita lanjut lagi nanti." Aura menjauhkan tangannya sambil berbicara gagap.
__ADS_1
"Ah, tidak seru. Bagaimana kalau kita bolos saja." Denis kecewa.
Ctak!
"Kau jangan membuatku belajar untuk membolos ya, nanti kita lanjut lagi. Aku tidak akan menghindarimu lagi, selama kau tidak bermain wanita." Ujar Aura.
"Jika aku melakukan hal itu apa yang kau lakukan?" tanya Denis ia penasaran. Aura tersenyum. " Entahlah, aku pasti punya ide gila juga jika kau melukai perasaanku." Ucap Aura santai.
"Kau tidak akan bisa menjauh dariku Aura." Denis membuka pintu yang ia kunci.
"Siapa tahu." Ujar Aura, mengikuti Denis di belakangnya. Kemudian Denis menyuruh Aura berjalan di depannya. Setelahnya ia berpisah dengan Denis.
Denis melambaikan tangannya pada Aura tersenyum akrab, Aura hanya membalasnya dengan senyuman pula. Semua orang di kelas Aura yang melihat hal itu dibuat menjadi heboh.
"Astaga aku malu." Aura langsung duduk di kursinya di samping Aura.
Pelajaran berjalan dengan lancar sampai waktu pun habis, saat Aura masuk Desta dan dia tidak ada berbicara apapun sampai mata kuliah berakhir.
"Apa yang kau bicarakan pada Denis memangnya, sampai pria itu tersenyum begitu cerah." Ujar Desta merapikan barang-barangnya
"Hah? Kau tidak akan percaya jika aku menceritakannya." Ucap Aura mulai bersikap biasa lagi.
"Hahaha, apa Denis melamarmu." Tebakan Desta membuat Aura langsung menelungkupkan wajahnya di meja.
"Masa main-main tersenyumnya sangat cerah seperti itu?" tanya Desta, "Denis itu sangat jarang tersenyum sampai aura senangnya benar-benar terpancar seperti itu," ujar Desta.
"Eh tunggu? Kau benaran dilamar Denis?" Desta menyadari apa yang barusan diucapkannya. Aura mengangguk lalu menutup mulutnya.
"Tukan, gak mungkinkan kamu percaya." Ujar Aura mulai meyakinkan dirinya sendiri lagi.
"Melihat Denis yang perhatian padamu dan mau melakukan hal-hal di luar kebiasaanya aku yakin pasti Denis memang serius." Desta mengangguk-angguk yakin.
"Kalau begitu aku setuju, kapan kalian menikah?" Desta benar-benar merasa tertarik sekarang pada hubungan Denis dan Aura.
"Astaga... Pihak aku kek." Gumam Aura.
"Aura keren, bisa menaklukkan hati pangeran kampus yang tidak pernah serius itu."
"Aku bahkan tidak yakin dengan perasaanku sendiri, cowok macam Denis itu bukan tipeku seharusnya. Biasanya aku hanya mengagumi orang seperti dirinya." Gumam Aura, ia suka memperhatikan lelaki tampan itu sebagai bagian dari cuci mata untuk kesenangan Aura.
__ADS_1
"Itukan bonus Aura, akhirnya kamu dapat cinta seperti yang kamu kagumi." Desta berucap lagi.
Denis mendengar percakapan itu, dan langsung duduk di samping Aura membuat gadis itu menjadi terperanjat kaget.
"Se-sejak kapan kau ada di sini?" tanya Aura gelagapan.
"Uum, sejak kau bilang orang sepertiku sebagai obat cuci mata." Denis terus menatapi Aura. Ia tidak perduli dengan teman-teman Aura yang sudah membicarakan kedekatan mereka berdua.
"Kenapa kau kemari?" tanya Aura merapikan alat tulisnya.
"Kenapa, apa tidak boleh? Akukan calon su–." Aura menutup mulut Denis dengan satu tangannya sehingga perkataan itu terputus saat ada mahasiswi lain yang melalui mereka.
"Aku mengerti, aku mengerti." Ujar Aura memasukan barang-barangnya ke dalam tas.
Desta terkekeh melihat kedua orang itu. " Aura aku pergi dulu ya, selamat menikmati waktu kalian." Denis melambai senang pada Desta, ia merasa teman Aura itu sangat pengertian.
"Ayo pulang bareng." Denis mengajak Aura.
"Rumah kitakan beda arah," ujar Aura.
"Rumah kita sudah searah loh." Ucap Denis santai membuat Aura terperangah kaget.
"Kenapa menatapiku begitu, apa kau mau tinggal serumah denganku."
"Jangan mimpi ya." Denis tersenyum lagi.
"Itu bukannya mimpi sih, tapi ke depannya menjadi kenyataan seharusnya." Denis berbicara dengan tulus menatap Aura.
"Astaga, apa aku akan meleleh. Dia benar-benar tampan jika dilihat dari dekat seperti ini." Batin Aura, ia masih berusaha bersikap seperti biasanya.
"Ayo pulang," ajak Aura, tidak ingin membahas ucapan Denis tadi.
"Oke." Denis senang dan mengikuti Aura di belakangnya.
Denis terus berusaha menahan keinginannya sampai mereka lulus nanti sesuai dengan apa yang Aura mau.
.
.
__ADS_1
.
"Denis kamu gak salah tuh dekat terus dengan gadis itu?" tanya temannya yang sepertinya memang menunggu Denis lewat ingin mengucilkan Aura lebih tepatnya.