
Aura hari ini akan mengerjakan laporan yang tugaskan untuknya dan salah satu temannya. Kali ini ia berpasangan dengan seorang pria yang kebetulan kemarin juga tidak masuk di mata kuliah yang sama dengan Aura.
Sama-sama merasa tertinggal pelajaran mereka berdua pun memutuskan untuk mencari referensi di perpustakaan. Terlebih informasi yang mereka dapat hanya dari penjelasan singkat teman sekelas mereka.
Dosen mereka ini termasuk yang kejam di antara dosen-dosen yang lain. Dosen ini tega memberikan pelajaran pada muridnya yang tidak hadir dalam kelasnya dan keringanannya hanya memberikan mereka tugas secara berkelompok seperti sekarang, meskipun itu berhalangan sakit atau kepentingan yang lain dengan surat yang resmi sekalipun. Tujuannya adalah agar mereka tidak meninggalkan mata kuliah yang ia ajarkan lagi.
Aura bahkan menyesal karena tidak memaksakan diri untuk menghadiri jam kuliah dosen itu, beruntung ia mengerti tugas apa yang harus ia kerjakan sekarang.
Jadilah mereka berdua sekarang terjebak dalam tugas yang kurang penjelasan. Aura terlihat berdiskusi dengan pria itu. Nama pria itu adalah Fandi yang kemarin sempat bertanya referensi buku pada Aura. Mereka keluar dari kelas bersama.
Kebetulan yang tidak disengaja pula, Denis juga keluar kelas dengan membawa sebuah buku yang tampaknya sedang ia pelajari. Di sampingnya pula ada seorang wanita yang sedang berbincang dengannya tampaknya ia juga sedang mempelajari mata kuliahnya yang ketinggalan kemarin dan gadis itu sedang menjelaskan semuanya pada Denis.
Ia memperhatikan Aura yang tengah berbincang-bincang dengan Fandi. Fandi yang memegang sebuah buku tebal referensi mereka sebelum mencari yang lainnya di perpustakaan, Aura terlihat biasa-biasa saja dengan Fandi yang menjadi anggota kelompoknya, ia bicara layaknya seorang teman. Namun Fandi hanya sedikit mencondongkan badannya untuk bisa selaras dengan tinggi badan Aura agar gadis itu bisa melihat buku yang ia pegang dilihat Aura dengan nyaman.
Hal itu membuat Denis merasa tidak senang, karena menurutnya mereka berdua terlalu dekat. Denis menjadi tidak sadar kalau sekarang ada wanita yang juga sedang menempel di sampingnya. Aura sempat melihat hal itu, tapi dia tidak perduli. Sudah biasa bagi Aura pemandangan seperti itu ia lihat semenjak mengenal Denis.
Tiba-tiba segerombolan mahasiswa yang berlawanan arah memepet Aura dan Fandi karena lorong yang tidak cukup lebar untuk menampung semua orang yang berlalu, akibat kejadian itu Fandi akhirnya bergeser dan menempelkan badannya kepada Aura.
Denis yang sedari tadi berjalan di belakang Aura yang kebetulan satu tujuan ingin ke perpustakaan juga, melihat hal itu dari belakang Aura merasa sangat kesal. Terlebih melihat Aura yang biasa-biasa saja setelah kejadian itu, ia tetap memperhatikan buku yang dipegang oleh Fandi.
Kenyataannya tidak ada yang menyadarinya, sebenarnya Aura sempat tersentak kaget karena tiba-tiba Fandi menempel padanya, tapi karena menyadari apa yang sebenarnya terjadi Aura hanya memakluminya saja.
Akhirnya Denis yang tidak tahan dengan kedekatan dua orang itu memilih untuk menghampiri mereka berdua. Sedangkan gadis yang bersamanya, ia tidak perduli dengan gadis itu.
__ADS_1
"Aura, apa kau lupa dengan perjanjian kita." Ucap Denis tiba-tiba muncul.
"Hah? Apa sih, aku lagi mau ngerjain tugas kelompokku tau gak. Aku ketinggalan matkul ini kemarin dan dia ini teman kelompokku." Kata Aura langsung, sudah tau maksud dari Denis tentang perjanjiannya dan membuat Fandi sedikit bingung dengan perbincangan mereka. Denis hanya menatap Fandi tajam.
"Ha-halo," Fandi menyapa Denis canggung.
"Sudahlah Fan, lanjutkan lagi. Jangan perdulikan dia." Aura menyuruh Fandi jalan duluan.
"Kau pahamkan sekarang, aku mau belajar jangan gara-gara ke egoisanmu itu membuatku terancam gagal dalam sksku." Aura meninggalkan Denis juga, Aura tidak mengerti dengan Denis yang seperti itu di bilang cemburu padanya juga bukan, Aura tidak bisa memahaminya. Denis bukan siapa-siapanya tidak ada haknya sebenarnya untuk cemburu.
"Apa tidak apa-apa Aura?" tanya Fandi disela-sela mereka mencari buku.
"Apanya?" bingung Aura.
"Apa? Dia cemburu? Mungkin lebih tepatnya dia hanya tidak ingin disaingi, aku sebenarnya sadar terkadang aku mengacuhkan dia. Tapi, aku biasa bersikap seperti itu dengan orang lain. Ya, kau pahamkan cowok macam dia pasti merasa tersaingi." Fandi tahu bahwa Denis adalah orang populer yang semua orang menyukainya itulah maksud Aura.
"Padahalkan sifatmu memang seperti itu dari sananya. Kau memang benar orang yang cuek, masa tidak mengerti."
"Yaps kau tepat sih aku orang yang cuek, kalo hal itu menurutku tidak penting."
"Tapi kalo di pikir-pikir lagi setelah dekat denganmu kau orang yang banyak bicara juga ya, tidak seperti yang terlihatnya."
"Ya begitulah adanya aku, kalo kau ingin akrab maka aku akan akrab juga. Jika tidak ingin aku tidak peduli juga." Aura dan Fandi tiba-tiba sudah menjadi akrab saja, pembicaraan tidak jelas mereka bisa dicerna baik oleh Fandi. Fandi seperti sudah sangat memahami sifat Aura.
__ADS_1
"Dahlah, lanjutin lagi apa yang kita cari. Gak selesai-selesai laporannya kalo terus bicara." Fandi mengangguk mengiyakan.
Rupanya sedari tadi Denis menguping pembicaraan mereka, gadis yang mengikutinya tadi sudah tidak tahu pergi ke mana.
"Apa dia bilang tidak penting, aku? Awas ya kau Aura." Batin Denis kesal karena mendengar perkataan Aura yang mengatakan tidak peduli padanya berarti artinya dia adalah orang yang tidak penting. Denis menguping di balik rak buku sebelahnya.
Mendengar kata cemburu atau tersaingi, Denis tidak tahu mana yang benar. Dalam pikiran Denis, ia memang tidak ingin ada orang yang menyainginya dalam menaklukan wanita, tapi dalam hatinya ia cemburu kalau Aura dekat yang lain. Mana yang benar hati atau pikirannya. Denis dengan bodohnya tetap tidak tahu karena pikirannya tidak ingin membenarkan isi hatinya dan isi hatinya tidak juga membenarkan pikirannya. Tapi, intinya Denis itu sekarang sedang cemburu. Hanya saja dia terus menyangkalnya.
Masih di perpustakaan Denis duduk di tempat favoritnya dan dari jauh ia memperhatikan kedekatan Aura dan Fandi. Mereka berdua duduk bersampingan dan sesekali tampak sangat dekat ketika mereka sedang mengetik di laptop yang sama, ketika berbagi pendapat tentang rumus-rumus yang ingin mereka gunakan.
Melihat itu Denis ingin marah dan datang untuk memisahkan mereka, tapi mengingat Aura sudah mengatakan jika dia sedang mengerjakan tugas kelompok. Denis tidak bisa berbuat apa-apa, mau marah dengan alasan karena merasa tersaingi. Hal itu malah akan membuat Aura tambah tidak merasa bersimpati sedikit pun padanya jika hal itu terjadi.
Mau mengatakan cemburu, Denis tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Sudah lama ia tidak pernah merasakan cemburu. Perasaan cemburu bagi Denis tidak bisa ia bedakan dengan perasaan tersainginya.
Namun, lama-lama memperhatikan mereka yang terlihat makin lama semakin dekat, Denis sudah mulai kehilangan akal sehatnya. Tampaknya ia benar-benar cemburu tapi tidak memahaminya saja.
"Haruskah aku membuat Aura berada di kelas yang sama denganku, agar tidak ada lagi laki-laki yang dekat dengannya, hanya cukup aku saja. Kenapa aku sekesal ini. Apakah Aura juga merasakan hal yang sama ketika aku dekat dengan wanita lain seperti itu." Pikir Denis.
Kemudian ia mengingat-ingat ekspresi Aura saat memergokinya menggandeng banyak wanita. Raut wajah yang mengkerut terkesan merasa jijik dengan lelaki hidung belang terlihat jelas di wajahnya dan parahnya Denis baru menyadari hal itu, jika sifatnya seperti itu terus bagaimana Aura mau tertarik dengannya mencatatnya saja sebagai lelaki idaman tidak. Meskipun Denis begitu sempurna seluruhnya tapi tidak hatinya, sudah sangat jelas ekspresi tidak sukanya Aura melihat kelakuan Denis yang sangat tidak baik itu.
.
.
__ADS_1
.