
Denis langsung pasang badan untuk menyembunyikan Aura di belakangnya.
"Bukan urusan kalian aku dekat dengan siapa." Denis menatap tajam dua temannya, mereka adalah teman yang terus mengajak Denis bersenang-senang dengan mereka.
Pria itu menyentuh bahu Denis. "Hei bro, ini bukan kamu banget deh. Gadis ini–." Ucapan pria itu terputus saat tangan yang ingin menyentuh Aura dicengkeram Denis dengan kuat.
"Jangan sentuh-sentuh dia." Denis tampak benar-benar marah. Aura tetap bersembunyi di belakang Denis. Aura merasa di belakang pria itu ia sekarang sangat aman.
"Hei-hei bro santai, kamu biasanya gak begini loh." Denis melepaskan tangannya dengan kasar.
"Mulai hari ini aku bakalan berhenti bersenang-senang dengan kalian." Ujar Denis, menghentikan bermain-main dengan mereka berarti memutuskan tali pertemanan.
"Hanya demi gadis itu?" temannya masih tidak terima.
"Aku tidak perduli dengan kalian berdua, selama ini berteman dengan kalian tidak ada hal baik yang aku dapatkan." Ujar Denis, ia menjadi seperti sebelumnya karena pengaruh tidak baik dari teman-temannya itu.
"Oh satu lagi, jangan coba-coba kalian taruh tangan kalian pada calon istriku." Ucapan Denis itu membuat Aura malu setengah mati, bahkan Aura sampai tidak sadar bahwa tangannya ditarik dengan lembut oleh Denis membawanya meninggalkan tempat itu dan pulang.
Teman-teman Denis terperangah tidak percaya dengan ucapan Denis barusan. Mereka berdua hanya bisa terperangah menatapi punggung Denis yang menjauh.
Ucapan Denis itu didengar oleh seorang mahasiswi yang tidak sengaja menguping pembicaraan mereka. Ia benar-benar tidak menyangka jika Denis mengatakan Aura adalah calon istrinya.
Akhirnya gosip itu akan menyebar satu Universitas.
.
.
.
Aura yang baru datang ke kampusnya pagi itu sedikit bingung. Ketika banyak orang menatapinya sinis, bahkan bukan dari fakultasnya sendiri.
Apalagi anak-anak dari fakultasnya, tatapan tajam dan lemparan sampah tiba-tiba mendarat di wajah Aura.
"Bener-bener gak pantes." Gumam seseorang yang melalui dirinya menabrak bahu Aura dari belakang. Sekarang mereka terang-terangan mengganggu Aura.
"Pasti Denis bercanda yakan?" suara terdengar ketika beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi berkumpul membicarakan Aura sambil menatapinya tidak senang.
"Jangan-jangan gosipnya telah menyebar." Batin Aura ia menunduk merasa bersalah. Suara ponsel Aura berbunyi beberapa kali, ada banyak pesan masuk ke dalam ponselnya. Berbagai pesan ancaman, yang tidak ingin Aura baca sama sekali. Aura hanya memperhatikan notifikasi yang terus bermunculan, ponselnya berhasil dilacak oleh orang-orang dari fakultasnya.
Denis langsung merebut ponsel milik Aura yang ia tatapi sambil termenung.
__ADS_1
"Hei, apaan sih. Kembalikan hpku." Ujar Aura langsung berbalik dan melihat Denis yang sedang membaca pesan milik Aura.
"Cih, orang-orang ini. Keterlaluan." Denis kesal, melihat pesan ancaman itu, Denis benar-benar marah.
"Sudahlah, kembalikan sini." Pinta Aura. "Mereka bisa mendapatkan nomor hpku, apa aku ganti saja ya." Pikir Aura, ponselnya belum dikembalikan oleh Denis sama sekali. Denis masih sibuk mengutak-atik ponsel itu.
"Ini aku kembalikan." Denis tersenyum menanggapi Aura.
"Kau tidak melakukan sesuatu yang anehkan pada hpku." Aura curiga sambil menerima ponselnya kembali.
"Tentu saja tidak," Ucap Denis santai, "tapi orang-orang yang mengganggumu itu, aku harus berikan mereka pelajaran." Gumam Denis ia masih kesal ucapannya tidak didengarkan oleh Aura, Aura lebih penasaran apa yang sudah Denis lakukan pada ponselnya tadi.
"Tidak ada orang yang akan kubiarkan menyakiti gadis ini." Batin Denis menatap punggung Aura
"Maafkan aku ya, gara-gara aku kau juga jadi bahan gosip." Ujar Aura sedikit sedih.
"Kau tidak salah Aura, mereka yang salah. Jangan dipikirkan. Aku akan selalu ada dipihakmu sampai orang-orang itu menerima hubungan kita." Ujar Denis yakin, Aura hanya bisa menghela nafasnya.
Denis mengambil ponselnya dari sakunya kemudian dia mengetik beberapa angka yang entah ia kirimkan pada siapa.
"Orang-orang itu harus mendapatkan pelajarannya sendiri dan aku akan pastikan tidak ada orang yang akan berani mengganggu dirimu lagi. Kau tidak perlu tahu Aura, karena jika kau tahu kau pasti akan marah padaku." Pikir Denis memasukkan ponselnya pada sakunya lagi dan kali ini mengimbangi langkahnya dengan Aura.
"Tumben kau mau berjalan di belakangku?" tanya Aura.
"Kenapa tertawa?"
"Apa kau sedang belajar menggombal orang?" Aura masih terkekeh.
"Asal kau senang, seribu gombalan akan aku berikan padamu."
"Astaga Denis-Denis, apa otakmu seencer itu bisa membuat seribu gombalan."
"Heee, kau meremehkanku?"
"Tidak, aku yakin Denis itu yang paling hebat." Ucap Aura tapi ia masih menanggapinya tertawa.
"Aku tidak tahu kamu sekarang mengejek atau sedang memujiku."
"Mengejek mungkin."
"Tapi aku merasa terpuji karena dihina oleh dirimu yang kucinta."
__ADS_1
"Jyaah!" batin Aura ingin berteriak girang ketika melihat ekspresi lembut Denis yang berada di sampingnya. Aura bahkan sampai membuang wajahnya ke lain arah demi terlihat tetap seperti biasanya.
"Kau tidak menyangka aku bisa tertarik padanya, dan melupakan mantanku secepat ini." Pikir Aura, ia teringat lagi dengan Riyan, tapi tidak semenyakitkan beberapa waktu lalu.
"Ah, boleh aku merangkulmu Aura?" Denis minta izin.
Aura langsung menghindar beberapa langkah menjauh.
"Ah~ Oke-oke aku tidak akan melakukannya, aku akan terus bersabar." Ujar Denis, Aura tersenyum senang karena Denis mau mengerti tentang dirinya.
"Terima kasih, karena sudah mau mendengarkanku." Denis tersipu dibuatnya.
"Ada apa?" tanya Aura bingung.
"Ayo kita segera ke kelas. Aku akan jadi tamengmu jika ada orang yang mengganggumu, atau aku sewa bodyguard saja ya?"
"Hei Denis kau itu terlalu berlebihan."
"Tapi, kau itu orang penting untukku. Jika sudah banyak orang tau seperti ini. Kau memang butuh bodyguard."
"Aku hanya mau menjalankan masa kuliahku dengan normal, sebenarnya kau itu siapa?" tanya Aura akhirnya. "Hei aku jadi takut, karena hubungan kita ini sepertinya akan membahayakan nyawaku."
"Aku akan menjagamu Aura, dengan nyawaku sendiri."
"Astaga, kamu itu belajar gombal dari mana sih." Aura tidak percaya.
"Aku serius Aura." Tatapan Denis membuat Aura terdiam.
"Jika kau mengetahui rahasiaku, kau tidak akan bisa kulepaskan lagi." Ujar Denis, Aura mengeluarkan keringat di pelipisnya ragu.
"Aku merasa sedang berkenalan dengan orang paling penting di dunia." Aura berucap asal.
"Sepertinya ucapanmu itu benar."
"Hah?!" Aura terkejut.
"Aku tidak akan menjelaskannya di sini, ada banyak orang yang menguping." Denis sedari tadi memang terus berbicara pelan.
"Aku juga belum ingin tahu kok siapa kamu, aku belum siap." Aura memasang wajah suram sekarang.
"Hahaha, aku akan menceritakannya perlahan yaa. Biar kamu gak kaget." Denis sudah membulatkan tekadnya.
__ADS_1
"Di tolak pun kamu tidak akan mau mendengarkanku." Ucap Aura membuang wajahnya ke arah lain, mungkin sudah takdirnya untuk bersama dengan pria di sampingnya itu. Karena ada Denis di sampingnya saat ini tidak ada orang yang berani mengganggu Aura lagi.