Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bagian 6 – Marah Besar


__ADS_3

Aura saat ini fokus dengan ponselnya berjalan menuju perpustakaan, sesuai janjinya kemarin. Seperti biasa ia tidak memperhatikan sekitarnya.


"Oi kamu!" teriak seorang wanita tiba-tiba di samping Aura, tapi Aura tidak perduli dan terus berjalan saja ke tempat tujuannya. Aura ia malas berurusan dengan para wanita di kampusnya.


Kemudian wanita itu menarik kuat bahu Aura, sehingga ia tertarik menghadapnya.


"Apaan sih?" kata Aura mulai jengkel menyingkirkan tangan yang memegang bahunya.


Aura mengenali siapa cewek itu, dia adalah kekasih Denis yang kemarin pulang bersamanya.


"Ada urusan apa?" tanya Aura baik-baik.


"Kau jangan pernah dekati Denis lagi," kata perempuan itu.


"Aku gak pernah dekati pacarmu," kata Aura sekenanya.


"Trus apa tiap hari kalian dekat-dekatan begitu," kata wanita itu ternyata mengetahui bahwa Denis dan Aura cukup sering bertemu.


"Apa-apaan sih, berapa banyak mata-mata perempuan ini disini, sudah gitu salah informasi pula." Batin Aura ia tidak bertemu dengan Denis setiap hari.


Kemudian Aura berpikir lagi, tentang bagaimana orang menganggap dirinya. Denis sudah pasti tidak pernah mendekati Aura, Auralah yang mendekati Denis. Pandangan penghuni kampus itu, mereka tidak tahu kenyataannya. Mau seperti apapun Aura menjelaskan, Auralah yang mengejar-ngejar Denis.


"Bikin kesal saja." Batin Aura, ia mau menjauhi Denis tapi pria itu terus saja membuat Aura tidak bisa menolaknya.


"Kami gak ada hubungan apa-apa, ia hanya jadi pengajarku, itu pun juga dia yang mau." Jelas Aura sejujurnya meskipun ia tahu percuma menjelaskan semuanya.


"Alah alesan kamu aja," kata perempuan itu tampaknya tambah kesal dengan Aura.


"Lah itu memang kenyataannya." Ucap Aura lagi ia pun berlalu pergi dan mulai memainkan ponselnya lagi. Karena tahu perdebatan itu percuma saja.


Namu, wanita itu malah merebut ponselnya dan melemparkannya keras ke lantai sehingga layar ponsel milik Aura pun pecah.


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Aura kesal, ponsel satu-satunya miliknya dipecahkan begitu saja. Masalahnya semua catatan pentingnya tentang kuliah ada di situ.


"Kenapa? Marah? Aku cuma gak mau kamu dekat-dekat lagi sama Denis." Emosi perempuan itu.

__ADS_1


Aura tidak mengatakan apa-apa saat ini benar-benar menahan amarahnya, ponsel yang ia gunakan untuk mengerjakan tugas-tugasnya dirusak begitu saja terlebih hanya karena seorang pria yang bahkan bukan siapa-siapanya.


Aura mengambil ponselnya dan memeriksa ponsel itu beruntungnya masih menyala dan hanya layarnya saja yang pecah.


"Ah, syukurlah." Batin Aura bersyukur karena ponselnya baik-baik saja.


"Hei dengerin kalo orang lagi ngomong." Kata perempuan itu.


"Apa lagi yang mau aku dengerin? Kamu sudah rusak hpku, belum puaskah?!" ucap Aura nada suaranya sedikit meninggi.


"Hp murahan kayak gitu aja rusak ribut, dasar miskin." Ucap gadis itu membuat Aura bergetar menahan marah. Ya dia memang tidak kaya tapi dia tidak tahan jika harus berhadapan dengan orang berada yang sombong seperti perempuan yang ada di depannya ini sekarang.


Aura tidak mau menggubrisnya ini kampus, dan beruntungnya di tempat Aura ribut itu adalah lorong yang jarang orang lalui.


Aura ingin pergi dan mengakhiri keributan itu tetapi, "Mau kemana kamu hah, kamu kira dengan kamu diam masalah sudah selesai!" ia menjambak rambut Aura.


Aura berusaha melawan, tapi gadis itu cukup tinggi. Sehingga Aura tidak bisa menjangkau kepalanya balik dan ia pun menemukan ide. Aura menendang tulang kering perempuan itu sehingga ia mengerang kesakitan dan jambakkan pada rambut Aura pun terlepas.


Dalam perkelahian itu Aura tidak sadar jika ponselnya jatuh lagi ke lantai.


Denis datang dan melerai kedua wanita itu.


"Apa sih yang kalian ributkan?" tanya Denis pura-pura tidak tahu.


"Ini gara-gara kamu, dasar-Ah!" ingin Aura berkata kasar pada Denis namun ia tahan.


"Beb, aku gak suka kamu dekat-dekat sama cewek kampung itu." Luna menunjuk Aura.


"Lagian siapa juga yang mau dekat-dekat sama cowok narsis itu." Ucap Aura emosi sambil menunjuk Denis kesal.


"Stop-stop! Sudah cukup kalian berdua rebutin aku, aku ngaku aku memang gagah." Ucap Denis dengan narsisnya.


"Buat Aura kamu gak perlu malu-malu mengakui kalo kamu tiap hari dekat sama aku dan kamu senang." Ucap Denis membuat Aura tambah dongkol.


"Tuh buktinya Denis yang ngomong sendiri kalo kamu dekat-dekat sama dia. Jadi gak usah cari alasan." Ucap Luna menjatuhkan harga diri Aura.

__ADS_1


"Kurang ajar! Itu kamu yang minta, liat aja besok-besok aku gak bakalan mau lagi dekat-dekat sama kamu. Liat aja!" Ucap Aura benar-benar emosi ia mengambil ponselnya yang sudah pecah dari lantai setelah menyadari ponselnya hilang dari tangannya, Denis menyadari nasib ponsel Aura yang sangat mengenaskan itu dengan layar pecah.


"Fokus aja sama pacar cemburuan mu itu, aku gak mau berhubungan sama kamu lagi." Ucap Aura benar-benar emosi sekarang. Sudah orang kesal Denis masih sempat-sempatnya bercanda dan bagi Aura itu serius. Semua orang menganggap Aura yang mendekati Denis dan ia malah membenarkan hal itu, harga diri Aura benar-benar terasa dijatuhkan.


"Oh jadi itu mau mu, baiklah kalo gitu." Ucap Denis dan Aura terlihat merasa senang karena Denis sudah mau melepaskannya.


"Luna, mulai hari ini kita putus." Ucap Denis begitu saja.


"Hah?!" Aura terbengong dibuatnya begitu pula Luna.


"Lihat Aura aku sudah putusin dia, biar gak ada yang cemburu sama kamu lagi saat denganku." Kata Denis seperti orang yang salah mengartikan ucapan Aura, padahal dia sengaja. Karena ia tidak terima Aura menjauh darinya.


"Aku gak suruh kamu putusin dia bodoh, aku suruh kamu fokus sama dia!" tunjuk Aura emosi dengan kata kasarnya.


"Denis kamu tega, demi gadis kampung itu." Ucap Luna mulai menangis.


"Udahlah, aku gak tertarik lagi sama kamu." Ucap Denis dingin begitulah ketika ia mencampakkan wanita-wanitanya, membuat gadis itu pergi berlari menangis entah karena malu atau sakit hati.


"Jadi sekarang gak ada lagi yang cemburu sama ka-," belum sempat Denis selesai bicara pada Aura. "Auuw!" rintihnya kesakitan, tulang kering Denis di tendang Aura benar-benar kuat.


"Dasar cowok narsis kurang ajar! Mulai sekarang aku gak mau lagi dekat sama cowok kurang ajar macam kamu! Mati saja kau!"  mulut Aura benar-benar menyumpah serapah Denis di depan wajahnya. Kemudian ia berlari pergi.


Seumur hidupnya tidak pernah ada gadis yang menyumpah serapah Denis seperti itu, baru Aura yang melakukan hal itu.


"Benar-benar ya cewek itu, liat aja gak akan kubiarkan kamu lari dariku." Batin Denis tertantang.


Dan seharian itu Aura benar-benar tidak muncul di hadapan Denis ia benar-benar bersembunyi di suatu tempat yang bahkan Denis pun tidak tahu ke mana dia pergi.


Kebetulan jam kuliah hari ini kosong karena para Dosen sedang mengadakan rapat yang sangat penting.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2