
"Jadi, apa maumu?" tanya Denis. Aura tertunduk sejenak, kemudian ia mendongak sambil tersenyum sekarang.
"Kau bercanda? Tidak ada yang perlu dilakukan pada mereka, tidak perlu melakukan apa-apa." Ucap Aura sebenarnya terlihat panik, ia percaya dengan ucapan Denis yang tidak main-main dan tampak sangat serius itu. Tidak ada bercanda dalam tatapan matanya.
Denis memang terlihat biasa-biasa saja karena berbeda dari ke anak-anak kelas unggulan lainnya yang pergi ke kampus ini dengan menggunakan mobil mewah mereka, sedangkan Denis ia hanya menggunakan sepeda motor biasa.
Walaupun Denis terlihat sederhana, tetapi setiap kali Aura ditatap tajam seperti sekarang, hal itu cukup membuat Aura mengerti Denis itu bukanlah orang sembarangan, mungkin karena insting Aura yang cukup peka juga, Aura hanya tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa menjauh dari pria itu. "Aku harus memikirkan cara lain untuk bisa menjauh dari pria ini." Aura berpikir keras.
Aura tidak ingin tahu siapa Denis sebenarnya, karena Aura merasa jika ia tahu siapa Denis sebenarnya ia akan benar-benar terjebak dengan pria itu.
"Bukankah kau memintaku untuk menjauhimu, berarti orang yang mengganggumu memang pantas dihukum karena jelas-jelas itu membuatmu tidak nyaman." Ucap Denis lagi, sepertinya ia marah karena ucapan Aura barusan yang meminta dirinya menjauhinya.
"Sekarang kau tidak perlu menjauhiku jika tidak mau, oke. Aku hanya sedang banyak pikiran sekarang jadi tadi cuma asal ngomong." Ucap Aura menjelaskan berusaha menenangkan Denis. Aura tahu, Denis bukanlah pria yang mau begitu saja disalahkan. Karena memang pada dasarnya itu semua bukan salah Denis tapi salah para penggemarnya yang terlalu gila padanya.
"Kumohon tenanglah lupakan ucapanku, aku tidak ingin orang-orang jadi korban hanya karena aku mengadu sembarangan." Batin Aura panik sendiri, ia harus menjauhi pria itu segera.
Sebenarnya biarpun Aura diganggu gadis itu masih bisa saja menghadapi pengganggu itu, lagi pula sangat jarang pengganggunya mengganggu dirinya hanya sekali-kali saja jika Aura lengah. Hanya saja ia menjadi tidak enak hati terus-terusan dekat dengan Denis, sedangkan orang yang benar-benar menyukai Denis setengah mati untuk dekat dengannya, itu sangat tidak adil menurut Aura.
"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu atau diriku. Yang salah itu mereka," kata Denis terlihat kesal.
"Tidak ada yang salah! Sudahlah lupakan saja pembicaraan tadi," pekik Aura ia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, lagi pula yang mengganggu Aura tidak separah yang dibayangkan.
Denis sekarang mulai kembali seperti biasanya, berbicara seenak hatinya dan Aura malah bernafas lega karena Denis kembali ke dirinya yang biasa Aura lihat.
Aura tadinya ingin pergi dari tempat itu untuk menjauhi Denis sudah mengurungkan niatnya. Aura tidak mau jika semua orang akan kena imbasnya, Aura tidak mau hal itu terjadi dan tidak ingin melihat hal itu juga, tapi bayangan seperti itu menakutkan untuk Aura karena ia orang yang tidak tegaan. Meskipun hal itu tidak pernah Aura lihat di depan matanya, Aura tidak bisa tidak percaya dengan semua ucapan Denis.
Aura kemudian duduk lagi di bawah pohon itu dan membuka kembali bekal makanannya kembali dan sekarang ingin menyuapnya tapi terhenti karena Denis merebut bekal makan siang itu. Kemudian pria itu berjalan ke tempat sampah terdekat dan membuang bekal milik Aura.
"Hei kenapa kamu membuang bekalku!" kesal Aura sambil berpikir, apa Denis mau membunuhnya karena tidak membiarkannya makan biar sesuap.
__ADS_1
"Aura, kau sudah tidak terlihat sehat seperti itu dan makan siangmu malah mie instan dan telur ceplok, kau mau mati!" Kesal Denis.
"Aku tidak akan mati jika kau membiarkanku memakan bekalku tadi," kata Aura memasang wajah sedihnya merasa mubazir atas makanannya yang terbuang sia-sia. Mana dibuang sama kotak bekalnya pula.
"Ayo sekarang kita pergi ke kantin," ajak Denis dan Aura hanya melamun.
"Kenapa? Takutkah? Jika kau tidak mau pergi aku akan menghukum semua orang yang sudah mengganggumu." Ucap Denis kali ini mengancam dirinya.
"Baiklah sekarang ayo kita ke kantin!" Aura langsung bersemangat.
"Tapi..." Kata Aura ragu-ragu.
"Aku lupa bawa dompetku hari ini." Ucap Aura tertunduk malu.
"Tenang saja, aku yang traktir," kata Denis dengan santainya berjalan melewati Aura.
"Kau harus makan, jangan sampai sakit." Ucap Denis berbalik menatap Aura.
"Tenang saja, aku tidak akan sakit semudah itu. Aku kan kuat." Ucap Aura menyamakan langkahnya dengan Denis.
Kruuuk!
Suara perut Aura berbunyi, Aura tersenyum malu karena hal itu.
"Dari kapan kamu tidak makan?" tanya Denis penasaran.
"Haruskah aku jawab jujur?" tanya Aura dan Denis mengangguk.
"Sepertinya dari kemarin sore," kata Aura terlihat berpikir.
__ADS_1
"Ha?! Kau bodoh atau apa sih. Sampai tidak makan." Ucap Denis menjentik jidat Aura.
"Auu! Aku lupa," kata Aura mengelus jidatnya.
"Apa yang bisa membuatmu sampai lupa makan seperti itu?" tanya Denis ia berusaha menebaknya.
"Shttt! Ra-ha-sia. Aku tidak bisa menjelaskannya." Ucap Aura tidak akan cerita jika dia lupa makan karena dirinya sedang galau, meskipun ia sendiri penasaran dengan tanggapan Denis.
"Hmm, biar aku tebak. Hanya dua hal yang bisa membuatmu lupa makan. Satu karena belajar dan kedua kamu benar-benar terlihat bodoh ketika menyangkut tentang masalah cintamu." Ucap Denis menebak-nebak.
"Jika semua ini karena cinta, kau memang perempuan bodoh. Menyakiti dirimu sendiri hanya karena hal itu." Ucap Denis sebenarnya sudah benar menebaknya.
Aura hanya diam saja tidak menyalahkan, ia merasa tertohok dengan ucapan Denis, bagi Aura pria playboy seperti Denis tidak akan paham dengan yang namanya cinta sejati.
"Aku tidak ingin membahasnya," Aura menatap wajah Denis saja setelah mengatakan hal itu, kemudian ia menatap ke arah depan lagi.
"Baiklah, hari ini kamu harus makan yang banyak. Karena aku yang traktir." Ucap Denis.
"Kau kira perutku ini sebesar apa memangnya?" tanya Aura. Setelah itu, terjadi perbincangan di antara mereka berdua. Aura dan Denis terlihat akrab sekarang.
Namun tiba-tiba, ada beberapa perempuan yang lewat berlawanan arah dengannya. Mereka memandangi wajah Aura dengan sinis, sontak Aura menghentikan keakrabannya dengan Denis. Denis yang merasa terganggu langsung menatap tajam ke arah para wanita itu. Dan terlihat mereka semua langsung tertunduk segan.
"Masih yakin tidak ingin membalas mereka?" tanya Denis pada Aura sekali lagi.
"Sudahlah ayo kita segera ke kantin. Jika tidak, kita akan gagal makan karena jam kuliah sudah mau dimulai." Aura mengalihkan pembicaraannya dan Denis yang menyadarinya pun menurutinya.
Sejenak karena kebersamaannya dengan Denis, Aura sempat melupakan kegalauannya tentang Riyan.
.
__ADS_1
.
.