Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 23 – Belajar Bersama


__ADS_3

"Oh iya, ngomong-ngomong. Nama kamu siapa?" akhirnya Denis bertanya.


"Ah, namaku Aura." Jawab Aura singkat, Aura bingung bukannya Denis sudah mengetahui namanya, tapi ia malah bertanya lagi.


"Nama panjangmu, wahai Aura muridku." Kata Denis jengkel.


"Haruskah pake nama panjang?" tanya Aura.


"Iya harus, karena kau harus bangga karena namamu akan diingat olehku" Denis mengangguk.


Seingat Denis semua wanita yang ia kenal, mereka semua ingin Denis mengingatnya. Dan Aura, ia tidak perduli dengan hal itu, menjadi yang diketahui orang hanya akan merepotkannya.


"Namaku Aura Elvany," kata Aura memperkenalkan diri dengan nama lengkapnya ia tidak perduli dengan ucapan Denis tadi.


"Oke, namaku Denis Adra." Katanya memperkenalkan diri tanpa Aura bertanya sekalipun.


"Sumpah gak nanya." Batin Aura menatap heran pria itu.


"Adra ya, kayak pernah dengar." Lanjut Aura membatin seperti pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Tapi Aura tidak ingin memperdulikan hal itu, karena ia sudah pusing memikirkan tentang pria narsis yang ada di depannya itu.


"Oh ya, ke mana aja kamu selama dua hari ini?" tanya Denis penasaran.


"Hahaha, dia nyari aku juga ternyata." Batin Aura dalam hati.


"Kamu pikir aku gak pernah sibuk apa, aku banyak tugas kemarin." jelas Aura sekenanya. Dan hanya diangguki oleh Denis, ia kemudian pergi meninggalkan Aura tanpa berkata apa-apa.


"Dasar cowok aneh, gak jelas, nanya gitu doang langsung pergi ngapain juga coba dia harus tau semua urusanku." Pikir Aura lagi.


.


.


.


Saat ia datang lagi, Denis sudah membawa dan menaruh setumpuk buku di hadapan Aura.


"Hei, gak mungkin aku pelajarin ini semua dalam satu hari." Kata Aura protes, buku sebanyak itu cuma tambah menghambur meja Aura yang memang sudah berantakan sedari awal.


"Ingat buku-buku ini, catat kalo perlu dan pinjam kalo perlu. Ini buku yang aku sarankan buat kamu. Yang mungkin saja paling gampang buat masuk di otakmu yang kecil itu." Ucap Denis menunjuk dahi Aura sedikit menghina.


"Teruskan saja hinaanmu itu kawan." Batin Aura sedikit kesal.


Aura dengan giat menulis semua judul buku-buku itu, karena ia tidak mungkin meminjam buku sebanyak itu. Lokernya pun tidak bisa dipakai saat ini.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak menuliskan saja judul-judul bukunya dan biar aku yang ambil sendiri," kata Aura.


"Diamlah, cukup bersyukur saja karena aku sudah mau cape-cape carikan buku ini buat kamu." Ucap Denis sekenanya ia masih sibuk membaca buku lain.


"Ya kalo juga buku ini yang paling gampang aku mengerti seperti dibilang." Batin Aura membalas perkataan Denis secara tidak langsung.


Saat memeriksanya, benar saja buku seperti ini lah yang paling gampang dimengerti oleh Aura. Ia tidak percaya Denis sangat niat untuk mengajarinya, bahkan baru sekali dia mengajari Aura, ia sudah tahu tipe buku apa yang mudah untuk dipahami Aura yang bahkan dia sendiri belum tahu jika buku seperti inilah yang ia cari, Aura mengakui Denis adalah pria yang benar-benar jenius. Untuk pertama kalinya ia benar-benar bersyukur Denis mau menjadi dosen dadakannya.


Denis mulai mengajarkan materi-materinya dan Aura mendengarkan Denis dengan seksama.


Melihat Aura yang fokus seperti itu membuat ke narsisan Denis meningkat, sebab saat Denis menjelaskan Aura menatapi wajah Denis. Padahal memang seperti itulah Aura ketika mendengarkan penjelasan seseorang.


"Kenapa kau menatapi begitu?" tanya Denis, ingin mendengar kata-kata baik dari Aura.


"Hah?!" Aura terbengong bingung, tidak mengerti.


"Apa kau terpesona padaku?" tanya Denis dengan kenarsisannya.


"Apaan sih, ya enggaklah." Aura menekan kata-katanya di akhir berusaha santai.


"Lanjutkan saja wahai cowok narsis kegeeran belajarnya, atau aku akan pergi." Ucap Aura benar-benar jengkel.


"Baiklah-baiklah. Ambil hati sekali sih kamu." Ucap Denis dan memulai lagi penjelasannya. Aura masih tetap memperhatikan penjelasan Denis dengan menatap wajahnya.


Terakhir sebelum pelajaran itu berakhir karena mata kuliah Denis sebentar lagi dimula,i ia memberikan tugas untuk Aura, menguji gadis itu apakah dia benar-benar mendengarkan penjelasan Denis barusan.


"Baiklah kalo gitu, aku ada mata kuliah sekarang. Jadi aku pergi duluan, lanjutkan saja belajarmu. Kita lanjutkan dipertemuan selanjutnya." Ucap Denis melambai dan memasukkan tangannya ke saku celananya dan meninggalkan Aura.


Aura memasang wajah kesalnya lagi, sebentar lagi dia juga ada jam kuliah. Dan Denis meninggalkan tumpukan buku yang barusan dibawanya itu, tentu saja itu membuat tugas baru untuk Aura ia harus mengembalikan tumpukan buku itu ke raknya.


"Dasar cowok gak bertanggung jawab." Kesal Aura, ia mulai buru-buru mengembalikan buku-buku itu ke raknya lagi, tiga puluh menit lagi mata kuliahnya akan dimulai.


Aura sudah merapikan seluruh barang-barangnya.


"Fyuhh! Selesai juga," ucap Aura sambil mengusap dahinya yang berkeringat.


"Duh kok aku kebelet ya." 0


Aura memang merasakan sesuatu yang tidak enak, Aura merasa enggan menginjakkan kakinya ke toilet takut hal-hal tidak diinginkan terjadi. Tapi kali ini ia benar-benar merasa ingin buang air. Dan mau tidak mau ia harus ke toilet. Jam kuliahnya tinggal lima belas menit lagi.


.


.

__ADS_1


.


"Ah leganya," ucap Aura senang sudah merasa lega saat ini ia berada di dalam toilet wanita.


Dari luar ia mendengar suara cekikikan beberapa orang wanita.


"Mampus rasain, gak bisa ikut jam pelajaran kuliah selanjutnya." Mereka tertawa lagi, dan Aura tahu jika sekarang ia di kuncikan dari luar.


"Woy! Buka pintunya," teriak Aura menggedor-gedor pintu toiletnya dari dalam.


Byurr!


Air meluncur dari atas toilet itu membasahi tubuh Aura. Aura hanya mendengus kesal sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup. Beruntung Aura menggunakan tas ransel yang anti air, sungguh keuntungan untuk Aura.


"Untung aja bukan air kotor." Batin Aura sedikit lega.


"Rasain, siapa suruh berani-berani dekat-dekat Denis, hahaha!" tawa gadis-gadis itu pecah dan kemudian menjauh lalu menghilang.


Aura tersenyum penuh kemenangan, ia melirik jam ditangannya tinggal sepuluh menit lagi mata kuliahnya dimulai.


"Masih sempat," pikirnya.


Ia sudah menyiapkan semua ini, ia juga tahu dia pasti akan dijahili jika sampai masuk ke dalam toilet, makanya ia sangat menghindari toilet.


Aura mengeluarkan baju gantinya yang memang sudah ia bawa dari rumahnya. Karena Aura sudah mengantisipasi kejadian seperti ini akan terjadi, Aura mengganti bajunya dengan cepat, kemudian ia memanjat dinding toilet yang terkunci dari luar itu.


"Beruntungnya banget toilet kampus ini atasnya tidak tertutup dan bisa dipanjat.


"Heh jangan remehkan aku wahai gadis-gadis nakal, aku tidak selemah yang kalian bayangkan." Gumam Aura sambil tertawa. Ia melompati toilet itu dan berpindah ke toilet sebelahnya yang tidak terkunci.


Aura melewati gerombolan gadis yang sekarang menatapnya tidak percaya, gadis itu keluar dengan santainya dari toilet yang mereka kunci terlebih dengan baju yang sudah diganti dan bersih. Rambut Aura tidak terlihat begitu berantakan akibat basah, karena ia menguncir tinggi rambut panjangnya sehingga masih terlihat rapi.


Aura pun masuk ke dalam kelasnya tepat waktu.


"Selamat." Batin Aura merasa lega.


Desta ia menatap Aura, ia menyadari jika temannya itu habis dikerjai barusan terlihat ia telah berganti baju.


"Aura keren, dia memang punya cara buat menghadapi para pembulinya. Aku gak perlu khawatir ternyata." Batin Desta yang merasa senang karena sahabatnya itu benar-benar terlihat baik-baik saja meski habis dikerjai.


Tidak lama kemudian dosen mereka pun memasuki ruang belajar itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2