
Mulai hari ini Aura bertekad untuk tidak lagi dekat-dekat dengan Denis, ia harus bisa menghindarinya. Meskipun ketika memikirkannya hati Aura terasa berdenyut tidak nyaman ketika harus melakukan hal itu. Tetapi Aura tetap membulatkan tekadnya. Aura benar-benar memasang wajah waspada agar hari ini ia tidak bertemu dengan Denis sama sekali.
Aura juga masih tidak mengenakan kemeja yang dibelikan oleh Denis kemarin, ia menutupi kemeja yang ia gunakan dengan almamater kampus.
Ketika melihat sosok Denis dari jauh Aura langsung putar arah meskipun jalan yang ia lalui malah lebih panjang dan jauh.
"Sampai segininya aku menghindarinya, jika tidak seperti ini aku tidak tahu lagi apa yang Denis lakukan ke depannya." Batin Aura frustasi.
"Aku takut dengan Denis yang seperti itu." Gumam Aura tampak sangat lesu. Ketika lewat di depan kelas Denis Aura langsung lewat dengan sangat cepat.
"Heh..." Denis yang tampaknya melirik keluar kelasnya melihat Aura yang lewat. Denis sadar bahwa Aura saat ini sedang menghindarinya lagi.
"Dia tidak tahu apa yang dia lakukan itu percuma ya. Meskipun tidak sekarang aku juga pasti punya cara lain agar dekat denganmu Aura." Batin Denis, ia tersenyum simpul.
Saat sampai di depan kelas Aura merasa merinding, karena merasa ada tatapan tajam di belakangnya. Aura berbalik dengan cepat tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Aura menarik nafasnya lega, buru-buru masuk kelas, dan langsung duduk di tempat yang lokasinya jauh dari pintu kelasnya.
.
.
.
"Aku merasa seperti habis uji nyali." Aura berdebar-debar dibuatnya, ia tidak tahu jika menghindari Denis akan berakhir menjadi seperti uji adrenalin.
Ditambah, Aura sempat melihat Denis menatapinya tajam dari jauh saat ia mencoba keluar dari kelas.
"Huwaa! Aku takut dengan tatapannya." Aura frustasi sendiri.
"Ada apa Aura?" tanya Desta heran, tadi ia melihat Aura ingin keluar kelas tapi kemudian sekarang sudah dengan cepat berbalik dan kembali duduk.
"Ada yang mengganggumu?" tanya Desta lagi.
"Lebih daripada pengganggu." Aura menelungkupkan wajahnya di meja. Aura hanya menatap bingung Aura.
"Denis juga kenapa begitu, dia marah, aku bahkan tidak berani mendekatinya. Dia lebih menakutkan dari pada orang-orang yang menggangguku." Aura benar-benar terlihat lesu sekarang.
"Jadi apa ada yang mau kau titip padaku?" tanya Desta menawarkan untuk membantu Aura.
"Uum, tidak ada sih Des. Lagian kalo belanja makanan aku juga harus makan di luar." Ucap Aura tidak bersemangat.
"Bener sih." Desta berucap.
__ADS_1
Kruuk!
Suara perut Desta berbunyi nyaring ia merasa malu.
"Sebaiknya kamu segera makan gih."
"Ehehehe, aku ke kantin dulu yaa." Desta kemudian pergi dan Aura melambaikan tangan padanya. Desta pergi bersama teman sekelasnya yang lain sedangkan Aura hanya bisa berdiam di mejanya.
"Padahal aku bawa bekal, aku lapar. Sebaiknya aku cari tempat lain deh. Tempat di mana tidak ada Denis." Batin Aura, sebelum jam istirahatnya habis.
Aura tidak ingin melalui kelas Denis, dan memilih lorong sebelahnya yang menuju ke atap. Tempat yang juga jarang orang ke sana.
Cklek!
Krieeet!
Pintu terbuka cukup membuat suara gaduh.
"Aku tidak menyangka jika aku akan ke sini, padahal aku takut ketinggian." Pikir Aura dia duduk di sudut yang halaman bawahnya tidak terlihat.
Aura mengeluarkan kotak bekalnya, hari ini mie instan dan telur ceplok lagi. Aura terlalu malas memasak karena merasa lelah kemarin.
"Hooo, masih saja kau membawa makanan tidak sehat seperti itu sebagai bekal."
Suara seorang yang sangat Aura kenal sampai membuat sendok yang Aura pegang terjatuh dari tangannya terkejut.
"Kenapa kau makan buru-buru seperti itu?" tanya Denis.
"Aku tidak mau makananku mubazir jika kau buang lagi." Aura sudah menyelesaikan makannya, ia berbicara sambil meminum air yang sudah ia sediakan juga sambil menatap Denis kesal.
"Itu makanan yang tidak sehat Aura."
"Kenapa memangnya? Sampai hari ini aku makan itu, aku tetap sehat-sehat saja. Perutmu saja yang terlalu elit, jika kau sakit memakannya." Ujar Aura meremehkan Denis. Denis kehabisan kata-kata karena apa yang Aura ucapkan itu benar adanya.
Aura berdiri setelah memasukkan kotak bekal kosong itu ke dalam tas kecilnya.
"Ke mana?" tanya Denis.
"Mau ke kelas." Ucap Aura berusaha santai. Denis tampak tersenyum.
Denis menghalangi jalan keluar Aura.
"Waktu istirahat masih lama loh Aura." Ujar Denis tidak mau menyingkir.
__ADS_1
"Minggir aku ada urusan di kelas." Aura meminta pada Denis dengan tenang, walaupun sebenarnya hatinya sedang sangat gelisah.
"Kau pikir akan semudah itu kau pergi kembali ke kelasmu, setelah kita bertemu dengan tidak sengaja di tempat ini." Denis tetap menghadang di depan pintu, Aura terdiam.
"Takdir sepertinya berpihak kepadaku, di mana Aura yang sedang menghindariku malah datang dengan sendirinya ke tempat ini." Ujar Denis membuat Aura mendengus kesal dan terdiam mematung beberapa saat tidak tahu harus berbicara apalagi setelah Denis mengetahui tabiatnya dengan jelas.
"Biarkan aku kembali ke kelas." Ucap Aura lagi tidak mau menatap wajah Denis.
Klak!
Aura membelalak kaget, saat mendengar suara pintu di kunci.
"Hei kau gila?" tanya Aura mulai kehilangan kesabaran.
"Sepertinya aku memang sudah gila karenamu."
"Hah?!" Aura masih tidak mengerti.
"Jika kau masih terus menghindariku, kita berdua akan berakhir membolos di sini."
"Hei kenapa kau sampai melakukan hal ini?" tanya Aura minta penjelasan, Aura juga tidak menyangka jika Denis punya kunci ke atap.
"Aku sangat tidak suka ketika kau menghindariku." Ujar Denis.
"Aku masih bisa bersabar, tapi lain kali aku pasti akan mendatangi dirimu sampai ke kelasmu jika kau terus menghindariku. Tapi, kamu malah datang sendiri kemari. Jadi tidak jadi deh." Jelas Denis.
"Apa kau sudah menjadi maniak untuk seseorang, tanpa memiliki perasaan apapun kau memperlakukan aku seperti barang milikmu, kau pikir aku ini apa!" bentak Aura ia juga mulai kesal.
"Aku menyukaimu Aura." Ujar Denis tegas.
"Hahahaha, kau bercanda. Menyatakan perasaan dengan cara seperti ini. Dengan tampang menakutkan seperti itu?" tanya Aura.
"Aku mencintaimu, dan aku tidak sedang bercanda." Ujar Denis lagi, Aura menutup mulutnya tidak percaya.
"Kau pikir aku percaya." Aura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu bagaimana cara harus meyakinkanmu, tapi aku sangat sadar jika aku memang menyukaimu.
"Aku tidak suka kau berada dekat dengan orang lain, bahkan jika itu adalah saudaramu sendiri."
"Aneh..." Gumam Aura.
"Aku tidak suka ketika kau tersenyum pada orang lain tapi kau tidak tersenyum kepadaku."
__ADS_1
"Tampaknya kau hanya terobsesi padaku karena aku tidak sama dengan wanita lainnya." Ujar Aura merasa cinta Denis itu palsu.
"Entah, karena perbedaanmu yang unik itu. Membuat hatiku berdebar dengan pasti." Denis menatap ke arah Aura dan Aura berekspresi terkejut menahan malu.