Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 52 – Denis Sakit


__ADS_3

Aura menghentikan acara menyapu halaman rumahnya setelah melihat seseorang yang datang itu.


"Kay? Mengapa ia ke sini?" Aura menatapi Kay yang datang ke arahnya.


"Nona, bisakah Anda ikut dengan saya?" tanya Kay sopan berjalan ke arah saya.


"Hah?" Aura tampak bingung dan ia melongo, ia bingung karena tina-tiba diajak seperti itu. Mana mau ia jika tidak ada alasan jelas.


"Tuan Denis sedang sakit." Ujar Kay akhirnya memberi penjelasan, Aura memasang ekspresi kaget sekarang.


"Aku harus minta izin Ayah dan Ibu jika ingin pergi." Ujar Aura meletakkan sapunya. Aura sudah kapok dimarahi kemarin karena menghilang tidak ada kabar.


"Baiklah, Nona." Kay mengerti.


.


.


.


"Ayah, Ibu. Aku mau pergi menjenguk Denis. Katanya dia sakit." Ujar Aura minta izin saat menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk bersantai bersama. Kehidupan sederhana keluarga Aura yang membuat kedua suami istri itu bersama terus sepanjang waktu. Mereka berdua terlihat begitu bahagia. Sedangkan Aril, ia saat ini sibuk pada acara sekolahnya dan menginap di sana sehingga tidak ada di rumah. Ia juga belum tahu jika kakaknya sudah pulang.


"Siapa lelaki yang bersama denganmu itu sekarang?" tanya ayah Aura. Orang tua Aura tidak percaya karena tidak mengenal Kay.


Kay kemudian memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan Tuan, Nyonya, saya Kay. Sekretaris dari Tuan Denis Adra." Kay menunjukkan kartu nama yang membuat kedua orang tua Aura terperangah setelah melihat namanya dan nama perusahaannya. Denis punya sekretaris, Denis berarti bukanlah orang sembarangan.


Aura langsung menjauh, menyadari orang tua Aura baru tahu jika Denis memiliki jabatan yang tinggi. "Kenapa dia harus bongkar identitas Denis sih, kan orang tuaku pasti kaget." Pikir Aura merasa terpuruk, Aura hanya bisa tersenyum canggung tidak jelas harus bersikap seperti apa di depan orang tuanya.


"Aura kau sudah tahu siapa Denis ini?" tanya ibunya dan Aura mengangguk.


"Kau akan menikah dengan orang luar biasa seperti ini?" ibunya menutup mulut tidak percaya. Kay berusaha memaklumi hal itu, tidak ada yang salah jika orang tua Aura sampai terkejut seperti itu, bahkan ayah Aura tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Kalau jodoh." Karena tahu itu sedikit mustahil untuk terjadi di dunia nyatanya, Aura tidak ingin mempercayainya dengan pasti.


"Saya ingin membawa Nona Aura, Tuan dan Nyonya. Tuan Denis membutuhkan dia."

__ADS_1


"Lah? Apa hubungannya denganku." Pikir Aura.


"Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir pada Nona Aura, dia akan dijaga dengan baik selama bersama dengan kami." Ujar Kay kemudian. Mereka juga tidak ingin jika Aura dilepaskan dengan mudah hanya karena mereka orang kaya, orang tua Aura tidak gila dengan harta sampai lupa dengan anak mereka sendiri.


"Jika Tuan dan Nyonya tidak percaya. Kalian berdua bisa ikut bersama dengan kami." Kay menawarkan hal yang seharusnya, karena melihat orang tua Aura yang memasang ekspresi ragu.


"Ayah, Ibu terima kasih karena menjagaku dengan baik. Bahkan saat kalian tahu Denis siapa kalian tidak melepaskanku dengan mudah. Kalian terus menjagaku." Aura terharu karena orang tuanya. Aura juga memaklumi ketika dia dimarahi kemarin karena itu adalah tanda kasih sayang kedua orang tuanya yang begitu berarti.


"Apakah kau tetap ingin pergi Aura? Keputusan ada di tanganmu. Ayah yakin kau bisa jaga diri." Ayah Aura menyuruh anaknya untuk mengambil keputusan. Lagi pula pria yang Aura akan datangi itu adalah calon suaminya sendiri.


"Aku akan pergi Ayah, Ibu." Aura menjawab yakin, lagi pula seperti sebelumnya Aura juga sudah hidup sendiri di kota besar dan ia bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Baiklah, Ayah dan Ibu mengizinkannya." Ayah Aura berucap dan ibunya menganggukinya.


.


.


.


"Denis kenapa?" tanya Aura akhirnya buka suara setelah keheningan cukup lama di dalam mobil. Gadis itu penasaran.


"Dua hari ini Tuan Denis mengalami Demam dan dalam demamnya ia mencarimu." Kay berbicara seperti biasa pada Aura sekarang tanpa bahasa formal sama sekali.


"Ha...entah apa yang dia pikirkan." Aura tidak mengerti. "Pantas saja Denis tidak ada menghubunginya lagi selama 2 hari ini." Pikir Aura mengerti penyebabnya. "Tapi, kenapa ia malah mencariku?" tanya Aura tidak mengerti.


"Selama kamu menghilang Tuan Denis, terus-terusan mencari keberadaanmu walaupun disibukkan dengan pekerjaannya."


Mendengar penjelasan itu Aura tertunduk merasa bersalah pada Denis. Tapi, ia juga tidak bisa memungkiri tentang cemburu butanya. Terlebih Denis tidak menjelaskan apa-apa pada Aura sama sekali setelahnya. Seolah-olah itu adalah hal yang paling biasa terjadi, tapi Aura sangat membencinya.


"Tetap saja aku jadi merasa bersalah karena hal itu." Aura berpikir menatap keluar jendela, meskipun marah dalam hatinya Aura tidak bisa tidak menyalahkan dirinya sendiri karena menyusahkan orang lain.


.


.

__ADS_1


.


Setelah itu tidak ada pembahasan lagi antara Kay dan Aura, Aura yang memang dasarnya pendiam dan Kay yang teringat dengan ucapan Denis yang melarang dirinya terlalu dekat dengan Aura karena Denis cemburu.


Setelah beberapa jam perjalanan Aura sampai di kediaman utama Denis yang sangat luas. Tempat itu berada di kota E juga.


Aura memperhatikan sekitarnya dengan takjub karena halaman Denis yang sangat luas itu seperti memasuki dunia lain.


"Aku tidak akan sampai kejalan raya jika berjalan kaki dari sini." Aura bergumam langsung menatapi pemandangan menakjubkan di sepanjang jalannya. Benar-benar seperti memasuki dunia lain.


Tidak lama kemudian Kay dan Aura akhirnya sampai di mansion besar milik Denis, Aura takjub tapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja saat sampai di sana. Sebab, Aura sudah berulang kali dikejutkan oleh sesuatu yang luar biasa dari Denis.


Aura yang tidak tahu rumah seperti apa milik Denis itu dan jika berjalan sendirian bisa-bisa ia tersesat, ia hanya bisa membuntuti Kay menuju kamar Denis yang berada di lantai paling atas.


"Sepertinya Denis menyukai tempat yang tinggi-tinggi." Batin Aura, berbanding terbalik dengan dirinya.


.


.


.


"Bagaimana perasaanmu sekarang Denis?" tanya dokter muda yang sedang merawatnya.


"Aku sudah mulai baik-baik saja Bian. Walaupun sepertinya masih demam." Denis memaksa dirinya untuk makan.


2 hari ini ia tidak menghubungi Aura karena tidak ingin membuat gadis itu kepikiran tentangnya, tapi karena hal itu Denis malah terus-terusan memikirkan Aura. Ia ingin sekali menghubungi Aura sampai setiap malam ia mengigau menyebut nama Aura. Karena selama Aura menghilang Denis terus saja memikirkan gadis itu.


Namun, ketika gadis itu kembali. Denis ingin membiarkan Aura menikmati kebebasannya sampai akhirnya mereka menikah nanti, karena jika saat itu tiba Aura akan terus berada di samping Denis seterusnya ke mana pun ia pergi.


Cklek!


Pintu kamar terbuka, dan Denis tahu siapa yang datang itu pasti adalah Kay.


Klang!

__ADS_1


Sendok terjatuh saat Denis melihat siapa yang berjalan di belakang Kay saat itu ia terkejut, itu adalah Aura. Gadis yang sangat Denis rindukan kehadirannya.


__ADS_2