
Denis mencari Aura yang tiba-tiba menghilang sejak perkelahian tadi.
Melihat dari pintu kelasnya pun Denis tidak menemukan Aura sama sekali, mau bertanya pada teman sekelas Aura pun ia terlalu gengsi. Jadi, dia hanya mondar-mandir saja di depan kelas itu, padahal itu lebih memalukan sebenarnya.
Ada beberapa orang yang menyadari Denis sedang bolak-balik di depan kelas mereka.
Ada yang heboh, ada juga yang hanya bertanya-tanya saja mengapa Denis seperti itu. Dan akhirnya karena benar-benar penasaran di mana Aura berada, Denis akhirnya bertanya pada seorang cewek yang kebetulan itu adalah teman Aura, Desta. Tepat saat gadis itu keluar dari kelas.
"Aku mau bertanya sesuatu?" tanya Denis tiba-tiba pada Desta, Desta hanya mengernyitkan dahinya bingung. Bingung dengan pertanyaan Denis yang terlalu singkat itu.
"Kau temannya Aura kan?" tanya Denis ia tahu gadis itu teman Aura karena beberapa kali ia melihat Aura bersama dirinya.
"Iya kenapa? Ada perlu apa memangnya dengan Aura. Apa ada masalah lagi?" tanya Desta, jika Denis mencari Aura hanya untuk menambah masalahnya ia tidak akan memberitahukan Aura di mana.
Satu kelas di ruangan itu terlihat heboh, saat melihat interaksi Denis dan Desta.
"Aku cuma ada urusan aja sih sama dia, jadi apa kamu tahu dia di mana?" tanya Denis.
Mengingat Aura yang tidak mengatakan apa-apa saat masuk kelas tadi, dan juga cerita Aura yang mengatakan bahwa Denis, orang yang mau mengajarinya. Tanpa banyak tanya Desta pun menunjukkan di mana Aura.
"Dia ada di kursi pojokan itu sedang tidur," kata Desta menunjuk kursi paling pojok tempat Aura tidur, Denis pun langsung memasuki ruang kelas itu. Dengan model meja yang bertingkat-tingkat dan cukup luas Aura mengambil tempat ternyaman untuk beristirahat dipojokan yang tidak terlihat oleh orang lain dari pintu luar.
Mahasiswi yang ada di kelas itu heboh dengan kedatangan Denis yang tiba-tiba di kelas mereka. Dan Denis pun akhirnya menemukan orang yang ia cari.
Denis berdiri menghadap Aura dengan ekspresi kesal, cewek itu saat ini tengah tertidur pulas dengan menutup wajahnya ke arah samping.
"Aku cariin dia ke mana-mana, ternyata dia enak-enakan tidur di sini. Mau mati nih cewek." Batin Denis kesal, ia sudah seperti orang bodoh mencari-cari gadis itu ke mana-mana ternyata Aura hanya diam di pojokan kelasnya tidur. Dan untuk pertama kalinya Denis menyesal tidak bertanya, satu jam dia mencari gadis itu ternyata ia tidak kemana-mana hanya disitu.
.
.
.
1 jam sebelumnya...
Aura ia sehabis berkelahi, marah-marah dan lari dari Denis, energinya benar-benar terkuras habis ia kelelahan. Seumur hidup ia tidak pernah berkelahi hanya karena seorang laki-laki yang bahkan bukan siapa-siapanya. Benar-benar mencoreng harga dirinya. Bahkan untuk pacarnya pun ia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Desta.
"Aku ngantuk Des, mau tidur." Jawab Aura tersenyum seperti biasanya di pikir Desta saat itu tidak terjadi apa-apa dan kemudian Aura langsung berbaring di kursi pojokan ruangan itu lalu tidur, tidak perduli dengan segalanya.
.
.
.
Denis menyenggol-nyenggol kaki Aura dengan tangannya.
"Umm, apa sih. Sekarang jam kosong biarkan aku tidur." Ucap Aura melambai-lambaikan tangannya tidak ingin diganggu.
Denis masih menyenggol-nyenggol kaki Aura dengan tangannya.
"Ekhmm!" Aura langsung terbelalak kaget menyadari suara siapa itu.
"Kenapa dia ada di sini." Pikir Aura namun ia ingin berpura-pura tidur lagi.
"Gak usah pura-pura tidur, aku sudah tahu kamu bangun." Ucap Denis, Aura ketahuan. Sedangkan orang-orang hanya berani menontonnya saja tidak berani mengganggu.
__ADS_1
"Ish, apalagi sih mau mu. Aku kan sudah bilang gak mau lagi dekat-dekat sama kamu." Ucap Aura menyingkirkan buku dari wajahnya sambil mendudukkan diri.
"Aku sudah putusin pacarku loh biar kamu gak dicemburui lagi." Ucap Denis didengar seluruh penghuni kelas itu, bahkan Desta pun terkejut dibuatnya.
"Kamu jangan buat orang salah paham ya, siapa juga yang suruh kamu putusin pacarmu, gak ada." Ucap Aura kesal pada Denis.
"Ya-ya itu memang kemauanku yang putusin dia. Jadi kamu mau apa?" tanya Denis menatap tajam Aura gadis itu menciut dibuatnya. Tatapan Denis membuat Aura takut.
"Sekarang ikut aku," kata Denis.
"Aku gak mau," kata Aura menolak.
"Aura," kata Denis menyebut nama Aura namun dengan ekspresi yang menyeramkan dengan kata yang sedikit ditekan. Mau tidak mau Aura pun mengikuti Denis. Dan lagi-lagi teman-teman sekelas Aura hanya bisa melihat mereka berdua dengan berbagai macam pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Desta hanya menatap Aura dengan tampang butuh penjelasan.
"Kau harus membayar waktuku yang sudah terbuang sia-sia hanya karena mencarimu, satu jam aku mencarimu dan kamu malah enak-enakan tidur." Ucap Denis protes.
"Lagi pula siapa juga yang suruh kamu cari aku," kata Aura lagi sambil membututi Denis tidak perduli dengan tatapan dan berbagai macam pertanyaan orang-orang yang melihat perdebatan mereka.
"Parah banget nih cowok." Batin Aura tidak menduga kegilaan Denis yang rela mencarinya selama satu jam tanpa kejelasan, saat ini Denis tidak begitu mengerti kenapa Denis melakukan hal seperti itu.
"Pokoknya kamu harus membayar waktuku yang terbuang sia-sia," kata Denis santai.
"Memangnya kau ingin apa dariku?" tanya Aura. "Lagi pula bukan aku yang suruh kamu buang-buang waktu buat aku," kata Aura lagi.
"Ikut aja pokoknya," kata Denis lagi, tidak ada lagi pembicaraan setelah itu.
.
.
.
"Bu! Pesan makanannya!" Denis memanggil pelayan kantin kampus itu, kebetulan saat itu di kantin tidak ada orang, sebab saat itu sudah lewat jam makan siang.
"Apa yang kau pikirkan, kamu kira aku minta apa. Jangan berpikiran mesum ya, aku tidak tertarik denganmu." Ucap Denis menggoda Aura.
"Siapa juga yang berpikiran mesum terlebih dengan dirimu, ogah!" bantah Aura memang dia tidak memikirkan hal yang aneh tentang Denis.
.
.
.
Pesan Denis pun datang dua porsi makanan untuk mereka, Aura bahkan tidak selera untuk makan sekarang.
"Aku yang traktir tenang aja," kata Denis langsung, ia hanya ingin mentraktir Aura makan sebernarnya.
"Tapi-," kata Aura terpotong.
"Jika kau tidak habiskan, aku akan suruh kamu bayar semuanya." Ucap Denis mengancam.
Akhirnya Aura menghabiskan makanan itu tanpa bisa memprotes apa-apa lagi.
"Kenapa juga aku nurut banget sama nih cowok." Pikir Aura ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
.
.
__ADS_1
.
"Ah kenyangnya!" ucap Denis senang.
Aura dia merasa kesal, ia sudah menyumpah serapah pria di sampingnya itu dan berucap untuk tidak dekat-dekat dengannya lagi. Tapi kenyataannya malah menjadi sebaliknya.
"Jadi mau apa lagi ki-," ucap Denis terpotong menyadari Aura sudah tidak ada di sampingnya lagi.
"Terima kasih makanannya, sesuai ucapanku aku tidak akan dekat-dekat denganmu lagi, oke! Jadi tidak usah repot-repot mencari aku dan jangan cari aku lagi!" ucap Aura berlari menjauh.
Denis sedikit kesal dengan sikap Aura yang seperti itu, ia tidak suka gadis itu menjauhinya.
Dan setelah kejadian itu, Denis tidak melihat Aura di mana pun lagi bahkan di kelasnya. Aura ia bersembunyi di suatu tempat yang jarang diketahui penghuni Fakultas itu. Tempat yang cukup bagus bagi Aura sebuah taman kecil.
.
.
.
Sore harinya pun Denis mendapati Aura yang duduk di bangku taman dekat gerbang kampus, melupakan semua kejadian siang tadi.
"Tumben tuh cewek gak main hp lagi, oh iya kan tadi hpnya rusak ya." Batin Denis menyadari ponsel gadis itu rusak karena ulah perempuan yang sudah menjadi mantannya.
Saat ingin menghampiri Aura, langkah Denis terhentikan saat melihat seorang pria yang membuat Aura tidak pernah berhenti tersenyum, ya di pacar Aura, Riyan.
.
.
.
"Aura katanya tadi hpmu pecah layarnya, coba aku lihat?" tanya Riyan pada Aura dan gadis itu segera merogoh sakunya, mengambil ponselnya dan memberikannya pada Riyan.
"Nanti aku bawa ke konter ya," kata Riyan.
"Makasih ya Yan, nanti aku ganti deh uangmu." Ucap Aura tidak enak hati.
"Tak apa Ra, nanti aku aja yang bayar oke. Kamu tinggal terima beres." Ucap Riyan.
"Tapi Yan," kata Aura.
"Sudahlah Ra, gak usah dipikirkan biar aku aja yang selesain semua urusanmu ini." Ucap Riyan. Menepuk-tepuk kepala Aura, sedangkan yang di perlakukan seperti itu, tersipu malu di buatnya.
"Udahlah yuk pulang sudah sore nih," kata Riyan dan Aura mengangguk lalu menaiki motor Riyan.
.
.
.
Denis yang diam-diam menguping percakapan yang dilakukan Aura dan Riyan mengepal tangannya kuat.
"Apa-apaan itu! Bahkan aku bisa membelikan hp yang lebih bagus daripada yang ia gunakan sekarang. Kenapa dia sebahagia itu pada perhatian seorang pria yang bahkan itu tidak berarti apa-apa." Batin Denis kesal sendiri, itu hanya pendapat Denis, tapi bagi Aura itu adalah perhatian yang sangat besar yang pernah didapatkannya dari orang lain.
.
.
__ADS_1
.
.