
"Sakit," Aura memegang kepalanya, ia memegang kepalanya karena tidak tahu rasa sakitnya itu di mana. Pembicaraan mereka masih berlanjut.
"Padahal ini belum sepenuhnya benar aku akan putus dengannya, sudah tidak senyaman ini." Ucap Aura.
"Apalagi yang kau harapkan dengan laki-laki seperti itu, dia hanya tahunya menyakitimu." Ucap Denis ia mulai membaca bukunya lagi.
"Ya, namanya cinta." Ucap Aura menghela nafas.
"Cinta saja yang kau makan." Ucap Denis dingin. Aura hanya nyengir tidak jelas.
"Makanya jadi sepertiku yang bebas, kamu akan bebas dengan perasaan yang bernama cinta." Ucap Denis menawarkan kelakuannya.
"Maaf, aku tidak tertarik. Sudah kubilang aku bukanlah orang seperti dirimu. Aku tidak akan menebarkan rasa sakit ini pada orang lain yang tidak tahu apa-apa denganku, aku tidak ingin melihat orang juga merasakan sakit seperti yang aku rasakan." Ucap Aura.
"Sebaiknya kau hentikan saja kelakuan burukmu itu, kau hanya akan menyakiti orang lain bermain-main dengan perasaan seseorang itu tidak baik." Ucap Aura menyarankan kebaikan untuk Denis.
"Aku ingin berubah, tapi untuk itu apa kamu mau membantuku?" tanya Denis.
"Oke, aku akan bantu kamu sebisaku, sampai kamu menemukan orang yang benar-benar kamu suka." Jawab Aura, ia mau-mau saja membantu Denis.
"Beneran?" tanya Denis lagi menatap Aura.
"Tentu saja kamukan temanku, aku akan lakukan yang terbaik untukmu." Jelas Aura membuat Denis sedikit tidak terima dengan pengakuan Aura yang menganggap dirinya hanya teman. Aura yang berkata seperti itu pun terasa ada yang mengganjal di hatinya tapi ia tidak begitu menyadarinya.
"Ah aku ada mata kuliah sekarang, berbicara denganmu memang tidak terlalu berarti apa-apa dengan perasaank. Tapi, terima kasih kamu sudah mau mendengarkan ceritaku. Aku duluan," kata Aura meninggalkan Denis yang masih duduk di kursinya.
"Ya, jika kamu ingin bercerita lagi aku akan mendengarkan semua ceritamu." Ucap Denis pada Aura kemudian melanjutkan acara baca bukunya karena jam kuliah kelasnya masih belum dimulai.
.
.
__ADS_1
.
Aura yang tengah berjalan-jalan di tengah kota hari itu sepulang kuliahnya karena harus membeli beberapa perlengkapan kuliah. Dan mendapati Riyan tengah berkencan dengan wanita lain, Aura memergoki Riyan tengah bermesraan dengan wanita itu. Wanita yang seumuran dengannya.
Aura dan Riyan berbeda umur empat tahun lebih tua darinya. Aura menyukai pria itu karena Aura menyukai pria yang dewasa seperti Riyan.
Aura mendatangi Riyan kala itu, bukan berniat mengganggu tapi ia ingin meminta kepastian kepada pria itu, ia ingin meminta putus baik-baik pada Riyan, ia tidak akan melanjutkan hubungannya lagi.
"Riyan," tegur Aura berusaha menguatkan dirinya agar tidak menangis sekarang. Riyan tampak terkejut.
"Bisakah kita bicara sebentar saja," kata Aura pada Riyan.
"Aku pinjam cowokmu bentar ya, ada perlu soalnya." Ucap Aura berusaha tersenyum ramah, ia tidak ingin perempuan itu tahu kalo dirinya dan Riyan belum resmi putus. Kemudian Riyan pun mengikuti Aura.
"Aura kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Riyan ia mau memegang bahu Aura tapi gadis itu menepis tangan pria itu.
"Aku gak mau basa-basi lagi Yan, aku mau kita putus." Mata Aura sudah mulai berkaca-kaca dan ia akhirnya menangis juga. Ia mengusap air matanya yang jatuh ingin berusaha tegar namun ternyata tidak bisa.
"Tidak apa-apa," kata Aura masih menangis, sebenarnya Riyan tidak tega melihat Aura yang seperti itu karena Riyan tahu Aura adalah perempuan yang sangat baik. Ia tidak akan marah karena hal itu.
"Kalo kau ingin memukulku pukul saja Ra," kata Riyan menawarkan dirinya untuk dihajar Aura, Riyan tahu jika Aura adalah gadis tomboi. Ia menyuruh Aura seperti itu agar tidak penyesalan di antara mereka.
"Aku tidak akan melakukannya, konyol sekali." Aura masih berbicara sambil mengusap air matanya.
"Maafkan aku Aura, aku memang sudah berpacaran dengannya." Kata Riyan, Aura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Umm, tidak apa-apa. Jika itu membuatmu bahagia, aku akan terima." Ucap Aura berusaha tersenyum.
"Jadi apa mau kamu berteman denganku?" tanya Riyan tidak ingin ada kata musuh di antara mereka.
"Tentu saja, mungkin ini lah yang terbaik." Ucap Aura tersenyum cerah sekarang meskipun dengan mata sembab habis menangis, Riyan memintanya untuk berjabat tangan dengan Aura dan Aura langsung membalasnya.
__ADS_1
"Riyan terima kasih selama ini sudah mau meluangkan waktu dan perhatian padaku, dan maafkan aku jika ada salah dan tidak bisa jadi wanita yang kau inginkan. Aku ikhlas sekarang." Ucap Aura melepaskan tangan Riyan dan berlalu pergi, pria itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Mungkin ia benar-benar merasa begitu bersalah karena sudah melukai perasaan gadis yang sangat tulus mencintainya lebih dari apa pun.
.
.
.
Di perjalanan pulang air mata Aura terus menetes jatuh. Aura terus berusaha tegar agar air mata itu berhenti tapi tidak bisa untuk beberapa saat. Hatinya benar-benar merasa sakit sekarang. Aura terus mengusap air matanya.
Denis melihat Aura saat itu karena tidak sengaja bertemu di jalanan, tapi ketika Denis menegurnya Aura tidak menjawabnya dan malah pergi berlari menjauh, ia tidak mau Denis melihat dirinya sedang menangis seperti itu, Aura sungguh malu jika harus ditemukan sedang menangis.
"Kenapa tuh cewek." Batin Denis penasaran tapi ia tidak bisa mengikuti Aura seperti biasanya karena ia juga sedang terburu-buru melakukan sesuatu.
"Kenapa lagi, bisanya ada Denis di situ. Mudahan dia gak lihat aku lagi nangis gini, bisa-bisa aku diejeknya." Batin Aura tidak ingin berdebat dengan Denis saat ini.
Walaupun begitu Aura merasa sedikit lega karena kehadiran Denis, karena adanya pria itu ia sedikit bisa melupakan rasa sakit hatinya.
Aura beberapa saat sempat berpikir, mungkin saja ia bisa membuka hati untuk Denis tapi kemudian ia membuang niatnya, ia tidak bisa percaya semudah itu dengan pria mana pun sekarang. Terlebih Denis, pria itu adalah seorang pria playboy yang memiliki banyak wanita, Aura satu wanita saja yang menjadi selingkuhan Riyan ia sudah tidak bisa memaafkannya untuk kembali, apa lagi dengan pria yang bebas seperi Denis ia akan menderita karena patah hati.
Pengalamannya berpacaran dengan Riyan adalah sebuah pengalaman berharga untuknya agar memilih laki-laki yang tepat untuk berada di sampingnya. Jika Aura tidak hati-hati lagi dalam memilih semuanya akan berakhir sama lagi, Aura akan merasakan patah hati untuk yang kedua kalinya dan Aura tidak ingin itu terjadi.
Sampai di kosannya Aura menenangkan dirinya, ia masih memiliki banyak teman. Ia tidak sendirian.
Ia masih bisa tegar untuk sekarang, entah apa yang terjadi selanjutnya Aura akan berusaha menghadapinya.
"Aku harus kuat, aku harus bangkit, aku gak boleh sedih kek gini."Aura menyemangati dirinya sendiri.
"Semangatlah wahai diriku!" Aura memukul-mukul dadanya menegarkan diri.
__ADS_1
Pada akhirnya sakit hati tidak semudah yang Aura pikirkan untuk bisa sembuh dan melaluinya. Bagi Aura patah hati itu obatnya hanyalah waktu yang terus berlalu dan sekarang luka yang Aura terima masih sangatlah baru, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima rasa sakitnya sekarang dan berusaha berdamai dengannya.