Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 33 – Jati Diri


__ADS_3

Dua hari tanpa Denis berlalu, kehidupan kuliah Aura tampak lebih tenang sekarang. Saat ke kantin tidak ada banyak pasang mata yang berani menatapinya entah karena hal apa. Setidaknya karena hal itu Aura mulai bisa bernafas sedikit lega dan menjalani hidupnya dengan damai lagi.


Namun, untuk beberapa alasan Aura akan menanyai Denis jika dia telah kembali nanti.


.


.


.


Sudah hari ketiga, Aura merasakan perasaan sunyi. Ia kepikiran Denis yang sering mengganggunya.


Plak!


Aura menepuk pipinya menyadarkannya dari lamunannya.


"Jangan bilang aku kangen dia." Pikir Aura sambil menggeleng-geleng. Ia tidak mau memikirkan Denis.


Tiiin!


Suara klakson mobil di samping Aura mengejutkannya.


"Akukan gak jalan di tengah jalan." Gumam Aura kesal.


"Hei Aura, mau ikut naik gak?" ternyata itu adalah Denis yang sedang menyetir mobil mewah miliknya.


"Gila kali aku ikut, kelas sudah dekat!" Aura berbicara heboh langsung berlari menjauh. Denis yang biasanya hanya naik motor biasa, walaupun tidak murahan. Tiba-tiba menyetir mobil mewah seperti itu. Aura yang syok langsung refleks berlari, tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya ia akan berkenalan dengan orang seperti Denis dan terlebih orang sepertinya berkata ia adalah calon istrinya, Aura merasa tidak pantas.


.


.


.


Aura tampak termenung duduk di mejanya sambil terus menghela nafas.


Kemudian untuk menghilangkan perasaannya itu  Aura memainkan ponselnya. Tapi, Aura merasa ada yang aneh dari ponselnya itu.


Ia mengecek foto yang ada di dalam galerinya. Foto dengan mantannya yang masih belum sempat Aura hapus, terhapus. Pesan-pesan ancaman yang belum sempat Aura buka dan baca pun juga sudah bersih. Aura menyadari ponselnya telah diretas seseorang yang Aura sadari, itu adalah perbuatan Denis.


"Benar-benar ya orang itu." Kesal Aura menaruh ponselnya kasar di meja. Aura merasa beruntung tidak memiliki foto aneh-aneh yang akan membuatnya malu jika menyimpannya. Karena Aura tidak heran jika ada orang akan meretas ponsel miliknya suatu saat, sebab banyak ahlinya di fakultasnya ini.

__ADS_1


"Aku harus minta penjelasan, tapi aku tidak mau bertemu Denis." Pikir Aura lagi ia tidak tahu harus berbuat apa.


Tidak lama Desta datang dan duduk di samping Aura. "Sepertinya Denis mulai menunjukkan siapa dirinya Aura." Desta menggoda Aura. Ia melihat kehebohan terjadi di luar barusan.


"Aku tidak dengar." Gumam Aura menutup telinganya tidak mau tau meskipun sudah tahu.


"Kamu kenapa Aura, seharusnya kamu bahagia punya seseorang seperti Denis." Ucap Desta.


"Aku merasa gak pantes Des, aku berasal dari keluarga sederhana yang gak punya kedudukan apa-apa, pintar juga gak terlalu. Bersanding dengannya. Minder dong." Aura merendahkan dirinya sendiri.


"Meskipun begitu kamu harus bangga dicintai oleh orang seperti Denis." Ujar Desta.


"Temanmu benar, mulai sekarang kau harus terbiasa bersamaku." Suara seorang pria yang sangat Aura kenal, Denis telah berdiri di sampingnya.


"Kenapa kau datang kemari, jam kuliah gak lama lagi dimulai loh." Protes Aura, kehadiran Denis yang sering tiba-tiba sudah tidak membuat Aura terkejut lagi.


"Habisnya kamu lari dariku, akukan sudah bilang kalau aku tidak suka jika kau bersikap begitu." Denis duduk di samping Aura tanpa diperintah.


"Aku tidak lari, aku tidak ada niat ikut denganmu tadi." Aura beralasan.


"Jadi, nanti pulang ikut aku ya?" tawar Denis.


"Padahal aku bawa mobil biar kamu gak kepanasan atau kehujanan lagi kalau naik motor."


"Kau terlalu berlebihan Denis." Ucap Aura datar.


"Kangennya... Padahal baru dua hari aku tidak melihatmu, coba tau akan seperti ini, lebih baik aku membawamu saja bersamaku." Ucap Denis menepuk-nepuk kepala Aura lembut. Aura tampak malu, ia terdiam sambil menggembungkan pipinya. Desta terkekeh kemudian dia pergi membiarkan dua orang itu tidak ingin mengganggunya.


"Apa kau tidak kangen padaku juga?" tanya Denis.


"Sedikit." Jawab Aura singkat tidak mau menatap wajah Denis.


"Hahaha, bilang saja kangen. Biar sini aku peluk." Denis merentangkan tangannya.


Tentu saja Aura langsung menolaknya dengan menyilangkan tangannya, walaupun dalam hatinya ia ingin melakukannya.


"Aku minta penjelasan." Ucap Aura mulai serius.


"Penjelasan apa?"


"Kau retas hpku ya." Aura langsung berbicara keintinya.

__ADS_1


"Kalau iya kenapa? Itu untuk kebaikanmu."


"Tapi itu tidak sopan namanya." Aura masih protes. Kemudian Denis merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.


"Sebagai bayarannya kau boleh memeriksa ponselku juga." Denis memberikan ponselnya dengan santainya.


"Orang ini benar-benar, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi." Pikir Aura. Denis memiliki pemikiran di luar ekspetasinya.


"Kamu begitu percaya pada diriku, bagaimana jika akhirnya aku mengacak-acak data pentingmu." Ancam Aura, meraih ponsel Denis.


"Aku hanya harus memulihkannyakan? Lagi pula aku yakin Aura bukan orang sekejam itu. Kamu boleh menghapus sesuatu di sana jika itu membuatmu tidak senang." Denis menyanggakan satu tangannya di dagunya.


"Ah, kau benar." Aura mengaktifkan ponsel milik Denis memeriksanya.


"Terima kasih sudah membersihkan galeriku." Ujar Aura, selama ini karena merasa sakit hati, Aura bahkan tidak ingin membuka galerinya untuk membersihkan foto mantannya.


"Sama-sama." Denis tersenyum ramah pada Aura.


"Entah aku harus bersyukur atau menganggap sebuah bencana memiliki orang sepertinya di sisiku. Orang luar biasa ini." Aura tidak tahu harus berekspresi seperti apa untuk menanggapinya.


Ponsel milik Denis ternyata berbeda dari milik orang lain, ponsel yang digunakannya itu memiliki sistem jaringan yang sangat sulit diretas orang lain dan jika melakukannya, hal itu akan menjadi berlaku sebaliknya.


Aura juga melihat tulisan Adra Company, di situ Aura mulai ingat, perusahaan teknologi inilah yang awalnya memotivasi Aura sampai memasuki Fakultas ini, sampai dua kali mengalami kegagalan Aura tidak pernah menyerah.


"Kenapa kau begitu percaya padaku menunjukkan semua ini? Adra Company, kau siapanya?" Aura penasaran tapi ia juga tidak ingin pertanyaannya itu dijawab sekarang.


"Aku baru ingat ketika aku masih kecil perusahaan ini yang memotivasiku sampai akhirnya belajar di tempat ini." Aura teringat dengan nama belakang Denis saat itu ia terdiam.


"Syukurlah, karena itu aku bertemu denganmu." Denis tampak senang, perusahaannya adalah hal yang memancing Aura akhirnya sampai padanya, walaupun sekarang perusahaan itu disembunyikan namanya dari media manapun karena suatu sebab.


Jadi sebenarnya, Aura juga tidak sengaja mengenal perusahaan itu dari sebuah artikel yang sempat ia baca ketika baru mengenal ponsel pintar dan internet dan membuatnya tertarik pada sistem jaringan setelah itu.


"Aku selalu percaya padamu Aura, dan akan selalu mempercayaimu. Tapi, jika identitasku ketahuan. Aku dan kamu harus pergi dari Universitas ini.


"Aku adalah CEO dari Adra Company." Bisik Denis sangat pelan. Walaupun Denis tidak perduli jika ada yang dengar atau pun mengetahuinya. Aura terbelalak kaget.


"Ka-kau santai sekali bicaranya." Panik Aura, gadis itu tidak tahu harus bagaimana lagi. Mau tidak mempercayainya tapi itu Denis, Aura sudah beberapa kali dibuatnya terkejut. Jika Aura bilang tidak percaya, bisa-bisa Denis benar-benar akan membawanya secara pribadi ke perusahaannya.


"Oke, aku... Mengerti... Aku akan tutup mulut, tapi aku ingin menjalani kehidupan kuliahku seperti biasanya ya." Pinta Aura.


"Baik, tapi karena kau sudah tahu aku. Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya Aura, semua tergantung situasinya." Jelas Denis, Aura berusaha tenang. Kakinya terasa lemas sekarang, sangking terkejutnya.

__ADS_1


__ADS_2