
"Aku hanya jalan dengan Fandi karena satu arah." Aura mulai mengoceh.
"Aku juga hanya berkirim chat dengan Viola karena kamu."
"Denis apa kamu berikan sendiri nomormu padanya?" tanya Aura menatap Denis dan Denis mengangguk tidak berbohong.
Aura tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia langsung ingin pergi meninggalkan Denis.
"Kamu mau ke mana?" tanya Denis meraih tangan Aura.
"Mau pulanglah, males banget aku liat kamu hari ini." Aura kesal.
"Harusnya aku yang marah." Ujar Denis.
"Marah apa hah? Kamu bebas dekat dengan banyak wanita dan berkirim pesan dengan mereka, sedangkan aku kamu kekang tidak boleh menatap lelaki mana pun. Gila ya..." Aura tidak habis pikir.
"Kamu tahu Viola sedang mengejar-ngejarmu dan kamu malah percaya kata-kata dia. Denis-Denis kupikir kamu akan berpikir lebih baik, tapi kamu malah sama saja seperti sebelumnya. Kamu pikir aku tidak ada rasa cemburu." Aura yang kesal menunjuk-nunjuk wajah Denis.
"Aku tidak ada berkirim pesan dengan wanita lain selain Viola." Ujar Denis, bukannya memperbaiki keadaan itu malah tambah mengacaukan keadaan yang ada.
"Aku juga tidak ada jalan dengan laki-laki lain kecuali yang kemarin itu juga karena tidak sengaja." Ujar Aura datar menatap Denis. Aura hanya ingin Denis sadar jika dirinya juga sama saja dengan dirinya, walaupun itu hanya sekedar berkirim pesan. Aura juga merasa cemburu.
"Aku tidak suka jika kamu berjalan di samping laki-laki lain." Tegas Denis.
"Aku juga gak suka, kalo kamu chatan sama wanita lain." Aura juga tidak mau kalah. Mereka berdua sekarang saling bertatapan.
"Haaaa~" Akhirnya Denis mengalah memijat dahinya, "aku akan hapus nomornya." Ujar Denis mengeluarkan ponselnya.
"Aku juga akan menjaga jarak dengan Fandi." Ucap Aura membuang wajahnya ke arah lain. Hanya mendengar kata-kata itu Denis merasa senang.
"Besok aku sudah kembali, biar aku antar kamu pulang Aura." Ucap Denis kembali seperti biasanya. Walaupun tadi mereka berdebat tapi setelah saling berkomunikasi mereka sudah baikan lagi. Tiba-tiba seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Kay hanya memperhatikan keributan mereka dari dalam mobil tanpa mendengarkan apa-apa. Kay tahu mereka bertengkar tapi melihat mereka sudah baikan lagi, Kay merasa sudah tidak perlu ikut campur.
.
.
.
Aura dan Denis malah sibuk membahas hal lain setelahnya, saling bertukar ponsel tentu saja. Kay tidak menyangka Tuan Mudanya akan melakukan hal itu pada orang lain. Dulu sangking ketakutannya ia atas rencana pembunuhan terhadap dirinya. Denis bahkan tidak membiarkan ponsel miliknya berada di tangan orang lain. Tapi, di tangan gadis itu, barang Denis benar-benar menjadi seperti barangnya sendiri.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik, besok kita bertemu lagi." Ujar Denis saat Aura sudah turun dari mobil Denis.
"Kamu juga hati-hati ya!" Aura melambaikan tangannya mengantar kepulangan Denis.
"Kenapa aku bersikap begitu tadi." Aura teringat tentang keributannya beberapa waktu lalu dengan Denis, ia mengeluarkan isi hatinya juga.
Denis termenung sejenak mengingat keributannya beberapa waktu tadi. Karena kesal ia tidak begitu memperhatikan kata-kata Aura, setelah menyadari pernyataan Aura yang mengatakan ia merasa cemburu juga padanya. Denis tampak tersipu ketika mengingat kata-kata itu tadi.
"Ada apa Tuan Muda?" melihat Denis yang seperti itu, Kay merasa khawatir padanya.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku." Ucap Denis santai memperbaiki dasinya.
.
.
.
Aura pagi itu baru keluar dari tempat tinggalnya dan terkejut ketika Denis sudah ada duduk di depan sana, menunggunya.
"Tumben kamu yang duluan muncul." Ujar Aura menutup pintu dan menguncinya.
"Gak seharian juga sih, karena kita beda kelas."
"Gimana kalau kita jadi sekelas?" Denis punya ide gila lagi.
"Jangan ngada-ngadaDenis." Aura menyamakan langkahnya dengan Denis. "Sudah lama nunggunya?" tanya Aura, ia tidak enak hati jika ada orang yang dibuatnya menunggu lama.
"Nggak, 5 menit kayaknya." Jawab Denis, kemudian Denis terdiam.
"Aura berarti selama ini kamu yang lama menunggu jika aku menjemputmu." Ujar Denis.
"Tidak apa-apa kok, akukan juga bersantai biasanya."
"Tapi itu lama loh, sekitaran lima belas menit." Ujar Denis.
"Aku tidak mempermasalahkannya kok." Ujar Aura, Denis merasa tidak enak hati juga.
"Udah deh ayo kita berangkat." Aura langsung masuk ke dalam mobil Denis begitu juga pria itu. Aura tidak ingin mempermasalahkan hal itu.
.
__ADS_1
.
.
Akibat Aura yang marah padanya, Denis tidak menghiraukan Viola yang terus-terusan berusaha mendekatinya. Sampai akhirnya Viola cemberut kesal karena tidak dihiraukan dan Denis tetap tidak peduli, seolah-olah wanita itu tidak ada.
.
.
.
"Aura, bagaimana dengan karyawisata kampus nanti?" tanya Denis beberapa hari lagi mereka akan melakukan perjalanan ke luar kota.
"Pasti ikutlah, itu penting tambah nilai. Kamu bagaimana?" tanya Aura.
"Tentu saja aku ikut." Denis menjawab dengan cepat. Berbeda dengan Aura. Denis adalah orang yang sangat sibuk bisa saja dia tidak akan pergi jika jadwal pekerjaannya padat.
Aura yang sedang asik belajar tidak sengaja menoleh ke arah Denis yang senyam-senyum duduk di sampingnya.
"Ada apa kenapa kamu menatapku sambil berekspresi begitu?" tanya Aura penasaran.
"Aku tidak sabar ikut karyawisata." Ujar Denis terlihat senang. Aura sudah bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Denis itu. Pasti ia merencanakan akan satu kelompok dengan dirinya.
Aura melanjutkan acara belajarnya lagi, terserah Denis maunya seperti apa. Lagipula kehadiran Denis di sisi Aura sudah tidak Aura anggap sebagai pengganggu lagi. Malah jika Denis tidak ada Aura merasa ada yang kurang dengan dirinya.
"Ini gimana lagi caranya?" tanya Aura, Denis yang sedang asik membaca bukunya langsung menghentikan baca bukunya dan meletakkannya di meja. Kemudian Denis mengajari Aura dengan seksama. Aura tentu saja senang karena Denis mau mengajarinya sampai seperti itu.
Tiba-tiba Viola datang mengacaukan kedekatan mereka. Denis benar-benar merasa terganggu sekarang. Aura masih bisa memakluminya, tapi Denis tidak.
"Aura boleh gak aku mengusir wanita ini dengan tidak hormat." Sangking kesalnya Denis, ia sudah tidak tahan lagi menahan kesabarannya.
"Jangan bersikap kejam pada wanita Denis." Aura dan Denis saling berbisik-bisik satu sama lain.
"Denis kenapa hapus nomorku, Aura aku minta nomormu dong." Meskipun duduk di meja seberang Denis dan Aura gadis itu tidak membiarkan Aura dan Denis sangat dekat.
Viola ingin merebut ponsel milik Denis tapi pria itu malah memelototinya dengan kejam. Sehingga Viola mengurungkan niatnya dan malah mengambil ponsel Aura dengan tidak tahu malunya. Akhirnya nomor Aura tersimpan di ponselnya.
"Denis kamu kejam sekali, hanya gara-gara hp kamu memandangi Viola dengan tampang membunuh." Aura juga sebenarnya takut dengan tatapan Denis barusan.
"Aku tidak suka jika hpku dipegang orang lain. Kecuali, kamu." Bahkan ucapan berbisik Denis itu masih terkesan sangat dingin. Ada banyak rahasia yang terdapat di ponsel milik Denis itu sehingga ia tidak sembarangan bisa memperlihatkan ponselnya pada orang lain. Karena salah-salah itu akan membahayakan dirinya sendiri.
__ADS_1