
Ternyata Hilda juga tinggal di samping tempat tinggal Aura. Hilda adalah gadis penjaga yang Denis tugaskan untuknya, Aura tahu itu tapi Aura memilih menjadikan Hilda teman daripada gadis penjaganya.
.
.
.
Selama kepergian Denis, Aura sangat dekat dengan Hilda dan Desta. Desta sempat takjub karena tempat tinggal Aura yang telah jauh berbeda dari sebelumnya. Tempat tinggal di sini bahkan dijaga dengan sangat ketat karena termasuk wilayah elit. Terkadang Aura juga menyuruh Desta bermalam di tempat tinggalnya atau jika mau ia bisa tinggal bersama dengan Aura di sana.
Namun, tentu saja Desta menolaknya. Desta sangat menyayangi Aura seperti saudaranya sendiri, dan ia sangat senang ketika Aura akhirnya bertemu dengan seorang seperti Denis bukan mantannya terdahulu.
Desta juga sudah mengetahui jika Aura telah dilamar oleh Denis dan tidak lama lagi mempersiapkan pernikahan mereka setelah Denis kembali. Desta tidak pernah tahu Denis itu siapa, dan dia tidak ingin mengetahuinya juga selama Denis bertanggung jawab pada Aura, Desta selalu menyetujuinya.
......................
Tidak terasa sudah 3 bulan berlalu, karena kesibukan Denis juga Aura sangat jarang berhubungan dengannya, tetapi Aura sudah mempercayai perasaan Denis sesungguhnya padanya. Aura tidak begitu khawatir lagi tentang perasaan Denis yang dulu dianggapnya hanya main-main.
"Ciee ... Yang sebentar lagi kekasihnya kembali." Aura tersipu malu karena ejekan Desta, Hilda yang berada dekat dengan mereka sedang asik makan cemilannya sendiri. Hari itu mereka bersantai di taman karena akhir pekan.
"Kenapa aku merasa berdebar-debar sekali? Rasanya kepalaku memanas." Aura menyentuh wajahnya, ia merasa gelisah tidak sabaran. Namun, tetap saja Aura takut jika tiba-tiba Denis sudah berubah dan tidak seperti sebelumnya. Aura takut membayangkannya.
Kriiiing!
Suara bunyi telpon masuk di ponsel Aura.
"Ha-halo." Aura menjawab canggung, sudah lama tidak mendengar suara itu.
"Kenapa kamu tidak ada di rumah?" tanya Denis.
"Ini 'kan akhir pekan tentu saja aku keluar bersama teman-teman." Jawab Aura.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu sedang bersenang-senang dengan lelaki lain." Denis berucap sembarangan. Mereka sudah lama tidak saling berbicara tapi yang pertama kali Denis ucapkan adalah hal yang akan membuat seseorang merasa kesal mendengarnya.
"Hah?! Apa maksudmu? Kamu akan tahu semuanya jika sudah bertanya pada Hilda." Kesal Aura, 3 bulan mereka tidak saling berhubungan. Suara Denis di seberang sana terdengar lebih tegas dan lebih dewasa daripada sebelumnya.
"Baiklah di mana kamu berada saat ini?" tanya Denis
"Cari sendiri." Aura yang kesal tidak ingin menjawab pertanyaan Denis, kemudian ia mematikan ponselnya dan langsung meletakkannya asal.
"Siapa yang meneleponmu Aura?" tanya Desta penasaran, wajah Aura yang semulanya cerita menjadi terlihat sangat kesal seperti itu.
"Tidak ada." Mendengar jawaban Aura yang seperti itu, Desta tahu yang menelponnya beberapa waktu lalu adalah Denis.
"Mereka baru saja saling menelpon, tapi malah jadi seperti sekarang." Pikir Desta tapi ia tidak ingin ikut campur sama sekali.
Tidak lama kemudian seseorang berpakaian rapi dengan seseorang di sisinya datang berjalan ke arah mereka bertiga, Hilda langsung berdiri saat melihat kedua orang itu. Itu adalah bosnya Denis dan Kay.
Aura tidak perduli dia duduk diam saja, sedangkan Desta sedang terperangah melihat kedua orang yang sangat berbinar berjalan ke arahnya itu.
"Seperti artis." Pikir Desta terbengong, padahal salah satu di antara mereka sudah Desta kenal.
Kay menghampiri Hilda dan langsung menanyakan apa saja yang telah terjadi 3 bulan terakhir ini. Hilda memberikan sebuah tablet yang ia simpan di dalam tas yang ia bawa. Desta yang tidak mengerti apa-apa tentang mereka hanya duduk diam saja memperhatikan.
"Bagaimana kabarmu?" Denis berjongkok di hadapan Aura yang duduk memeluk lututnya kesal.
"Aku baik kok." Ketus Aura.
"Kenapa kamu malah menjadi gadis yang menggemaskan seperti ini." Denis tidak tahan untuk tidak mengelus kepala Aura. "Aku pulang." Denis tersenyum senang ke arah Aura. Desta menjauh memberikan mereka berdua waktu untuk berbincang-bincang.
"Selamat datang kembali." Aura tampaknya sudah tidak marah lagi pada Denis. Mereka berdua berdiri, Denis menarik tangan Aura untuk membantunya berdiri.
"Sekarang tugasku sudah selesai, aku bisa menyelesaikan tugasku di tempat ini lagi." Ujar Denis menarik nafasnya lega.
__ADS_1
"Apa lagi tugasmu?" Aura bingung.
"Tentu saja mengurus pernikahan kita, aku sangat merindukan dirimu Aura." Denis memeluk Aura langsung.
Aura yang semulanya ingin protes karena ingin Denis beristirahat terlebih dahulu karena baru saja pulang kehilangan kata-katanya. Aura yang juga merindukan kembalinya Denis, membalas pelukan pria itu dengan erat, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Denis. Ini untuk pertama kalinya Aura memeluk Denis dengan benar.
Denis terkejut dengan sikap Aura itu ia sangat senang sekarang hadiah pertamanya saat tidak melihat Aura beberapa bulan adalah pelukan hangat Aura, Aura menyadari detak jantung Denis lebih kencang daripada sebelumnya.
"Aura, bolehkah aku menciummu?" tanya Denis melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aura.
Aura dengan instingnya langsung cepat-cepat menjauh sambil menyilangkan kedua tangannya tidak ingin.
"Setelah ini ayo kita urus pernikahan kita, agar kita bisa bebas bersama secepatnya." Denis membenarkan jasnya yang sedikit berantakan.
"Baiklah." Aura hanya menurut saja.
Tidak lama Desta izin pulang karena tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka, Kay dan Hilda entah pergi ke mana mereka berdua sepertinya punya urusan sendiri.
"Bagaimana di kelas ketika tidak ada aku?" tanya Denis berjalan di sisi Aura menuju tempat tinggal mereka yang bersebelahan. Dari tadi sebenarnya Aura hanya bersantai dihalaman belakang rumah sewa mewah itu karena di sana ada taman.
"Berjalan seperti biasanya walaupun aku tidak memiliki teman banyak hanya ada Hilda, tetapi aku bisa belajar tanpa gangguan sedikit pun dari anak-anak lainnya." Aura menjelaskan, Denis menatapi Aura yang tampak semangat berbicara.
Denis merasa senang sekarang gadis itu bisa sangat terbuka padanya, tidak seperti sebelumnya yang bahkan tersenyum padanya terkesan memaksa.
"Kenapa menatapiku terus?"
"Kamu jadi sangat cantik." Jawab Denis membuat Aura tersipu malu dibuatnya.
"Jadi tambah menggemaskan saat seperti itu." Denis terus terpesona oleh Aura.
Aura juga tidak menyangka, lelaki yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan untuk ke depannya berdiri di sampingnya malah menjadi calon suaminya. Denis yang selalu menghinanya malah memujinya sekarang. Aura tidak tahu harus berkata apa-apa karena memuji pria di sampingnya itu bagi Aura sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata apa pun.
__ADS_1
"Besok kita akan mengurus semuanya, oke." Denis tidak mau menunda-nundanya lagi.
"Iya-iya, aku ngikut saja karena sekarang sudah ada kamu." Ujar Aura.