Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 22 – Dosen Dadakkan


__ADS_3

Keadaan Aura sudah membaik ia mulai lupa dengan perasaan sakit hatinya yang beberapa hari lalu sangat mengganggunya.


"Akhirnya aku ke sini lagi, tumpukan buku yang ku rindukan." Batin Aura senang sambil menghirup aroma perpustakaan yang ia rindukan, ia pun memasuki ruang perpustakaan itu. Setelah sakit dua hari yang lalu baru hari ini bisa menyempatkan dirinya kemari lagi, karena harus mempelajari mata kuliah yang ketinggalan. Masih belum termasuk laporan yang belum ia kerjakan.


Sesudah mengisi data perpustakaan Aura langsung menghampiri rak-rak buku yang sudah tersusun rapi.


Dari jauh terlihat Denis yang sudah memilih buku yang ingin dibacanya. Meskipun Denis banyak penggemarnya tidak ada yang berani mengikuti Denis sampai ke perpustkaan. penjaga perpustakaannya sangat melarang orang-orang membuat keributan di perpustakaan ini jika tidak berkepentingan untuk belajar, karena kebanyakan dari mereka tidak ada yang ingin belajar hanya ingin mengekor Denis saja. Tentu saja penjaga perpustakaan yang sangat tegas itu memarahi mereka semua sehingga tidak ada yang berani datang ke sini selain belajar.


Denis yang rupanya melihat Aura yang baru saja memilih beberapa buku ingin menghampirinya, tapi seorang pria malah sudah lebih dulu datang menghampiri Aura.


"Aura!" sapanya tiba-tiba.


"Ya, ada apa?" tanya Aura langsung menghadap ke arah pria itu, pria itu adalah teman satu kelas Aura dan teman kelompoknya saat ini. Karena sama-sama tidak masuk kuliah di jam mata kuliah dosen yang terkenal ditakuti. Mereka berdua punya batas waktu seminggu untuk menyelesaikan tugas mereka. Pria ini juga beberapa waktu lalu sempat menjadi teman kelompok Aura jadi mereka cukup akrab.


Teman-teman sekelas Aura tidak ada yang merundungnya setelah kejadian yang lalu dengan Denis, bahkan mereka terkesan tidak perduli karena mereka tahu Aura bukanlah orang yang bodoh dan orang yang akan melakukan hal seperti yang dikatakan orang-orang, gadis itu sangat baik jika ada yang bertanya padanya, makanya ia akan langsung memberikan saran.


.


.


.


"Saran buku yang bagus dong untuk matkul statistika yang gampang dipahami, lagi butuh materi nih." Ucap pria yang bernama Fandi, ia sudah sekelas dengan Aura sejak semester pertama.


"Umm," Aura sejenak berpikir sambil melihat deretan buku di rak buku itu.


"Aku dulu baca ini sih, buku ini gampang dipelajarinya menurutku." Ucap Aura mengambilkan sebuah buku yang menjadi sarannya.


Fandi pun mengambil buku yang diberikan Aura, dan mulai membukanya.


"Coba deh perhatikan penjelasannya, gampangkan." Ucap Aura berbicara cukup dekat dengan pria itu karena mengamati buku yang sama.


"Wah iya," Fandi mengangguk.


"Hei!" tiba-tiba Denis menegur mereka berdua dan mereka berdua pun menatap wajah Denis yang terkesan seperti orang yang sedang menantang berkelahi.


"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya langsung pada Aura.

__ADS_1


"Aku hanya memberikan saran buku yang bagus pada dia," kata Aura santai.


"Heh, berani ya sekarang. Baru saja kau menjadi muridku dan sekarang kau malah mengajarkan ilmunya pada orang lain, sepintar apa sih kamu sekarang."


"Ee, aku pergi ya. Makasih ya Aura, atas saran bukunya." Ucap pria itu berlalu pergi tidak ingin ikut campur urusan mereka berdua.


"Sejak kapan aku jadi muridmu?" tanya Aura terlihat kesal.


"Sejak aku mulai mengajariku, kau sudah resmi jadi muridku." Ucap Denis tidak mau kalah.


"Hah? Sejak kapan aku setuju jadi muridmu, lagi pula saat itu kau bilang sukarela sajakan mengajari aku." Ucap Aura lagi masih melawan.


"Ya dengan aku mengajari kamu, berarti kamu sudah jadi muridku, mulai sekarang jangan pernah kau ajarkan apa yang kuajarkan padamu, pada orang lain. Jangan jadi sok pintar, jika kamu masih menjadi muridku, kecuali kamu sudah mengalahkan kepintaran dan kejeniusanku." kata Denis asal memerintah Aura.


"Ish apaan sih, lagian memang ada kamu mengajarkanku untuk memilihkan buku yang bagus untuk dipelajari." Ucap Aura sinis menatap Denis kemudian ia berbalik mencoba memilah buku pelajaran lagi di rak perpustakaan berusaha tidak perduli dengan keberadaan Denis.


Brak!


Denis mendorong rak itu cukup kuat namun tidak membuat keributan hanya mereka berdua saja yang mendengar keributan itu tapi hal itu cukup membuat Aura kaget. Sebab ketika ia berbalik Denis sudah memandangnya dengan tatapan horor.


"Apa yang pernah kubantah dari kamu?" tanya Aura asal-asalan ia takut rupanya.


"Kalo gitu ayo ikut aku," kata Denis


"Tapi-," Denis memandang Aura dengan tatapan horornya lagi.


"Ya, ya aku ikut." Kata Aura mengalah saja. Terserah, ia hanya mengikuti saja kemauan Denis.


.


.


.


"Mulai sekarang kau duduk saja di sini jika ke perpustakaan ini," kata Denis saat sampai di tempat duduk favoritnya.


"Loh bukannya ini tempat favoritmu, katanya gak ada yang boleh duduk di sini. Serius deh aku masih trauma tau gara-gara waktu itu kamu marahin aku, karena aku duduk di sini." Ucap Aura menjelaskan dengan tampang tidak percaya. Ia benar-benar kapok akibat kejadian itu.

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu duduk di sini karena sekarang kamu muridku," kata Denis memerintah.


"Maksa banget sih," kata Aura mulai jengkel.


"Masih mau bantah," kata Denis nada perkataannya sedikit mengancam untuk Aura.


"Baiklah aku muridmu sekarang." Ucap Aura mengalah dan akhirnya memilih untuk duduk saja.


"Liat aja besok-besok aku gak bakalan lagi ke perpustakaan." Batin Aura jengkel.


"Jangan pernah berpikir untuk mencari alasan gak ke perpustakaan lagi. Liat aja apa yang terjadi jika kamu membolos dari Dosen killermu ini," kata Denis seperti membaca pikiran Aura padahal ia hanya menebak saja.


"Ya ya, terserah kau saja." Aura lagi-lagi mengalah ia tidak ingin terlibat banyak hal lagi dengan Denis sudah cukup ia terjebak menjadi murid dadakan pria itu, jika ia terus menolak. Entah apa lagi yang akan dilakukan pria itu, Aura malas memikirkannya.


Lagi pula ada untungnya juga jika Aura menjadi murid Denis, pria itu memberikan materi yang sangat mudah dipahami oleh Aura.


.


.


.


"Kalau gitu pak-," kata Aura terputus.


"Jangan panggil aku bapak, masih muda ganteng gini kok." Aura memasang wajah ingin tertawa sebenarnya sebagian dari kata-katanya Aura hanya ingin mengejek Denis saja.


"Baiklah, aku punya pertanyaan deh. Apa ada bayarannya kamu menjadi dosenku?" tanya Aura akhirnya.


"Yaps! Bayarannya, kamu gak boleh ajarin ilmu yang aku kasih, sama teman-temanmu. Paham. Kamu itu sudah menjadi sesuatu yang beruntung karena pangeran Universitas ini sudah mau menjadi dosen dadakanmu," kata Denis dengan narsisnya.


Aura hanya memegang wajahnya jengkel. Denis tidak tahu saja rata-rata temannya yang tidak mengerti selalu bertanya pada dirinya.


"Apa gak ada keringanan? Temanku selalu bertanya padaku kalo gak ngerti." Aura minta keringanan.


"Ya kalo gitu jangan pernah ajarin materi yang aku ajarin ini pada mahasiswa laki-laki." Ucap Denis dengan santainya.


"Apa-apaan itu, kenapa pada laki-laki saja. Macam pria yang lagi cemburu saja. Alah palingan juga dia gengsi gara-gara kalah saingan, diakan cowok narsis, playboy yang ingin semua wanita menggilainya. Tapi aku kan gak suka dia." Batin Aura ia menahan tawanya, melihat tingkah ke narsisan orang di depannya.

__ADS_1


__ADS_2