Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 48 – Kediaman Denis


__ADS_3

"Nanti antar aku kembali ke penginapan kampus." Aura merengek setelah turun dari mobil Denis. Denis diam saja. "Kalo kamu gak mau ngantar aku kembali, aku balik sendiri." Aura mulai kesal.


"Iya, nanti aku antar. Jangan menghilang lagi." Denis berucap tanpa menatap wajah Aura ia terus berjalan maju tapi langkahnya tetap ia samakan dengan Aura.


"Oke," Aura merasa senang.


Gedung bertingkat puluhan lantai terbentang di hadapan Aura. Ia saat ini berada di lantai paling bawah.


"Ayo Aura. Kita tidak bisa terus melamun di depan gedung ini." Ujar Denis membuat sadar Aura yang tengah melamun takjub.


"Kamu tinggal di apartemen?" tanya Aura dan Denis mengangguk. "Kira-kira di lantai berapa ya?" pikir Aura penasaran tapi ia tidak ingin bertanya pada Denis.


Saat memasuki lift Aura tidak memperhatikan Denis menekan tombol ke lantai berapa. Karena takjub juga dengan lift yang ia naiki tidak seperti lift pada umumnya banyak tombol rumit yang harus ditekan mungkin untuk keamanan.


Beberapa lama naik ke lantai atas akhirnya pintu lift terbuka. Aura hanya membuntuti Denis, mereka hanya berdua saat sampai di lantai itu. Sunyi senyap tapi penerangannya begitu terang.


"Ini di lantai berapa?" tanya Aura akhirnya buka suara.


"Lantai paling atas." Jawaban Denis itu membuat Aura menghentikan langkahnya.


"Apa tidak ada orang lain yang tinggal di lantai ini?" tanya Aura.


"Tidak ada Aura, aku juga tidak akan melakukan hal-hal aneh padamu." Ucap Denis tapi ia tersenyum jahil, menggoda Aura.


"Awas aja kamu macam-macam." Aura yang kesal menjaga jarak dari Denis.


"Sudahlah, ayo ke tempat tinggalku. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Ujar Denis. Aura yang tidak tahu harus apa terpaksa mengikuti Denis.


Saat Denis membuka apartemennya Aura terperangah kaget. Melihat tempat itu yang begitu luas sepertinya lantai itu dikhususkan untuk membuat kediaman mewah yang luas.


Aura takjub dengan apa yang dilihatnya. "Kemarilah, mungkin kamu akan senang jika melihat ini." Ajak Denis, mereka berdua menuju ke sebuah jendela kaca besar yang melihat pemandangan kota langsung di malam hari.


"Keren!" Aura tidak bisa tidak takjub sekarang. "Tapi..." Aura merasa kakinya lemas dan lututnya bergetar. Ia mengalami fobia ketinggian akut atau akrofobia. Akibat melihat pemandangan jalanan di bawah kakinya. Kepalanya mulai terasa pening. Aura yang tidak bisa bergerak karena ketakutan menyentuh kaca transparan itu sampai ia duduk terkulai.

__ADS_1


"Ada apa Aura?!" Denis panik melihat Aura yang tiba-tiba bersikap seperti itu.


"Bantu aku berdiri, aku takut ketinggian sebenarnya." Aura tidak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali Aura sudah mencoba untuk mengobati ketakutannya itu. Namun berakhir sia-sia, ia hanya berhasil tidak takut ketika berada di tempat tinggi, namun harus tidak melihat ke arah bawah secara langsung.


Denis mendudukkan Aura di sofa kediamannya itu. "Kau sudah baik-baik saja?" tanya Denis membawakan minuman.


"Aku tidak apa-apa kok, selama tidak melihat ke bawah aku tidak apa-apa." Aura sudah bersikap seperti biasanya. "Pemandangannya bagus, tapi aku takut." Ujar Aura tertawa canggung.


"Jangan paksakan dirimu untuk berani, karena aku tidak ingin melihat Aura yang seperti itu." Wajah Denis lebih memperihatinkan ketimbang wajah Aura ketika fobianya kambuh tadi.


"Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku Denis, aku baik-baik saja kok." Ujar Aura. "Oh iya di mana dapurmu? Boleh aku memasak makan malam?" tanya Aura tidak ingin membahas hal tadi. Aura berencana akan kembali setelah makan malam, jadi ia akan memasak selama menghabiskan waktu di sini.


"Aku tidak tau kau akan suka masakanku atau tidak. Aku ingin makan terlebih dahulu jadi ketika kembali aku bisa langsung istirahat." Aura menjelaskan niatnya pada Denis.


"Baiklah aku tidak sabar menantikan masakan Aura." Denis langsung mengantarkan Aura ke dapur.


Semua barang-barang di sana ternyata lengkap, bahkan bahan-bahan serta sayuran terlihat segar. Semuanya tertata dengan rapi.


"Aku tidak menjamin kalo masakanku akan sesuai di lidahmu ya..." Aura terus memperingatkan Denis. Walaupun ia suka masak tetapi, masakannya belum tentu sesuai dengan lidah orang yang memakannya.


.


.


.


Setelah beberapa lama Aura selesai memasak makanan sederhana. Ayam kecap dengan sedikit tambahan sayur buatan Aura sendiri.


Nasi yang baru saja matang Aura hidangkan di meja makan yang Denis sudah duduk menunggunya di sana.


Denis mulai mengambil makanannya begitu pun juga dengan Aura. Denis tampak menikmati makanan itu.


"Ini enak, wah aku sepertinya tidak akan pernah bosan dengan masakan Aura ke depannya." Ujar Denis terus makan.

__ADS_1


Aura tersipu malu karena Denis memuji masakannya, Aura senang karena hal itu. Walaupun rasanya tidak seperti masakan koki handal setidaknya Denis mau saja memakan masakan Aura, Aura sudah merasa senang.


Setelah kenyang makan, mereka berdua beristirahat sejenak. Kemudian sesuai rencana mereka kembali ke penginapan kampus.


"Aku akan menantikan masakan Aura selanjutnya." Denis tampak bersemangat, ia menyukai masakan gadis itu. Baginya makanan itu enak walaupun sederhana, mungkin karena Denis benar-benar mencintai Aura dengan sepenuh hatinya sekarang.


"Oke!" Aura mengacungkan jempolnya tanda setuju.


"Besok kita jalan ke pantai setelah selesai tugas." Ujar Denis mengajak Aura.


"Selama tidak sibuk, oke-oke saja sih." Aura tidak menolaknya sama sekali karena menghabiskan waktu dengan Denis bagi Aura saat ini menyenangkan. Aura merasa dirinya ingin terus menghabiskan banyak waktu dengan pria itu.


Setelah sampai di penginapan ternyata teman-teman Aura juga banyak yang baru kembali dari jam bebas mereka.


"Ternyata kami tidak sendiri." Batin Aura merasa lega.


"Ah...aku tidak mau berpisah dengan Aura." Ujar Denis tidak rela.


"Kembalilah ke kamarmu. Besok, kan kita bertemu lagi." Denis menuruti Aura, tapi Denis tetap melangkah dengan lesu tidak bersemangat.


"Dah! Istirahat yang cukup biar besok gak cape." Ujar Aura melambai ke arah Denis, senyuman yang diberikan Aura pada Denis membuat pria itu menjadi bersemangat lagi.


.


.


.


"Akhirnya bisa baring di kamar." Batin Aura ia meluruskan dirinya di kasur karena seharian ini dirinya tidak ada membaringkan dirinya sama sekali.


Di setiap kamar penginapan ini diisi oleh 3 orang dalam setiap kamarnya ketika Aura sampai. Karena teman kelompok Aura adalah lelaki jadi Aura boleh tidur di kamar yang diisi oleh wanita lainnya. Kebetulan ada Desta yang kurang satu orang untuk mengisi kamarnya. Karena salah satu teman kelompoknya adalah seorang pria. Jadi, Aura ikut tidur di kamar kelompok Desta.


"Desta ternyata belum kembali, aku orang pertama yang masuk ke kamar ini rupanya." Pikir Aura menatap pintu kamar.

__ADS_1


Kemudian salah satu teman sekamar Aura masuk, dia adalah teman kelompok Desta. Gadis itu hanya diam saja karena tidak begitu kenal dengan Aura. Jadi mereka berdua hanya saling melemparkan senyuman tidak ingin mengganggu satu sama lain.


Kemudian Desta kembali ke kamarnya setelah Aura tertidur pulas malam itu.


__ADS_2