Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 42 – Perbincangan


__ADS_3

Viola sangat ingin berbicara empat mata hanya dengan Aura seorang, tapi tidak ada waktu sama sekali untuknya bisa mengajak Aura berbicara. Denis selalu berada di dekatnya sepanjang waktu, Denis benar-benar menjaga Aura.


"Aura untuk beberapa hari ke depan, aku akan pergi. Aku tidak bisa menemuimu beberapa hari." Denis berucap tidak begitu semangat.


"Jangan berucap seolah-olah kau akan pergi selamanya." Aura berucap santai di samping Denis. Kala itu mereka hanya berdua saja. Viola gagal mengikuti mereka karena dihalangi oleh Desta.


"Ketika aku tidak ada jangan dengarkan apapun hal yang Viola bicarakan padamu." Denis memberi nasihat.


"Jika kamu berkata begitu jadinya seolah-olah kamu menyembunyikan sesuatu dariku Denis." Aura berucap.


"Tidak ada Aura, kamu sendiri sudah tahu bagaimana diriku itu, hanya saja aku takut dia akan menjatuhkan dirimu."


"Entahlah, kalau itu serangan mental yang mengatakan aku tak pantas denganmu aku tidak bisa menyangkalnya juga. Karena itu kenyataan. Kamu itu seharusnya adalah sosok yang terlalu sempurna untuk kugapai. Tapi, selama kamu berpihak padaku itu tidak akan menjatuhkan diriku. Aku juga tidak peduli orang lain mau bilang apa." Ujar Aura.


"Terima kasih, tetap mau berada di sisiku."


"Karena dirimu juga aku menjadi orang cukup tidak tahu diri, toh aku menolak dirimu kamu akan makin menjadi-jadi juga. Jadi selama kamu berada di pihakku aku akan terus berada di pihakmu. Karena jika aku harus disandingkan dengan Viola aku sudah kalah segalanya..." Ujar Aura cukup tahu diri, Denis terkekeh mendengar penjelasan Aura. Denis senang akhirnya Aura menyadari percuma saja jika Aura menolak semua hal tentang dirinya. Karena gadis itu telah terjerat oleh cintanya.


"Jadi jika seperti itu, aku tidak perlu khawatir tentang Viola yang akan mengganggumu."


Denis kemudian tampak berpikir lagi.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aura penasaran tentang apa yang Denis pikirkan.


"Haruskah aku mengirimkan orang-orangku untuk menjagamu, aku tidak yakin kamu bisa menjaga dirimu sendiri."


"Kamu tidak perlu terlalu berlebihan Denis, lagi pula dengan penjaga bukankah itu akan terlalu mencolok." Ujar Aura protes.


"Aku hanya terus berpikir buruk saja." Ujar Denis.


Seketika Aura terbayang adegan novel, yang tokoh wanitanya dalam bahaya karena lepas dari pengawasan tokoh pria.


"Masa cerita hidupku jadi begitu juga." Aura yang berpikir berlebihan menjadi takut sendiri, hal yang terjadi di dalam cerita yang ia baca bisa saja terjadi pada dirinya pula.


"Haaa~" Aura menghela nafas cukup panjang setelah memikirkannya.


"Kamu tidak perlu khawatir sih. Tapi, ketika aku tidak ada, jaga dirimu baik-baik." Ujar Denis memberikan nasihatnya.

__ADS_1


"Iya aku pasti bisa jaga diri kok." Ucap Aura yakin, walaupun dalam hatinya ia tidak begitu yakin.


...****************...


Kehidupan Aura tetap berjalan seperti biasanya. Tidak ada hal-hal seperti yang dibayangkan Aura kemarin. Aura bisa bernafas lega karenanya. Padahal tanpa sepengetahuan Aura di luar jarak pandangnya. Benar-benar ada orang yang Denis kerjakan untuk mengatasi hal-hal yang mungkin akan membahayakan Aura.


Viola akhirnya datang menghampiri Aura setelah melihat gadis itu berjalan tidak jauh di depannya.


"Hai! Aku bisa bicara berdua aja gak sama kamu?" sapa Viola sekaligus mengajak Aura berbicara padanya.


"Bisa sih, tapi pagi ini masih gak bisa deh, aku ada urusan. Jadi, waktu istirahat nanti ya." Ujar Aura mengatur jadwal.


"Oke, baiklah." Ucap Viola setuju kemudian gadis itu berlalu pergi.


"Sebenarnya, gadis itu cukup ramah juga. Dia artis terkenal tapi tidak sombong dan tetap baik hati. Aku salut padanya. Dia bahkan tidak ragu berbicara padaku, sayangnya entah mengapa dia dulu meninggalkan Denis. Apa akhirnya hanya karena harta ya?" pikir Aura menatap punggung Viola yang menjauh dan kemudian mulai dikerumuni oleh orang-orang karena popularitasnya.


"Mungkin jika aku tidak ada di antara mereka, mereka berdua, Denis dan Viola akan menjadi pasangan kampus yang keren." Aura malah memikirkan hal yang akan menyakiti dirinya sendiri.


Tiing!


'Bagaimana? Apakah Viola sudah mengajakmu untuk berbicara. Ingat Aura, aku padamu.'


'Nanti jam istirahat kami akan berbicara berdua. Kau tidak usah khawatir, kau lanjutkan saja pekerjaanmu dengan tenang.'


Denis dan Aura saling bertukar pesan.


"Oi!" Desta menyapa Aura yang sedang bertukar pesan itu, sampai-sampai membuat Aura tersentak kaget karenanya.


"Wuih hp baru." Desta langsung tertarik dengan ponsel milik Aura yang berbeda.


"Gila loh, ini hp mahalan. Aura kamu beli sendiri?" Desta takjub.


"Aku mirip orang matre gak kalo gini? Ini Denis yang beri soalnya." Ucap Aura malu-malu.


"Kamu yang minta?" tanya Desta.


"Enggaklah." Jawab Aura cepat.

__ADS_1


"Kamu memang sahabatku deh, Aura bukan orang matre. Karena itu pemberiannya bukan kemauanmu. Aku iri loh, Denis benar-benar tidak main-main denganmu." Desta gemas sendiri terhadap kedua pasangan itu.


"Aku baru tahu Denis ternyata kaya ya." Desta berucap berpikir, mau heran tapi waktu itu Denis sudah memperlihatkan mobil mewah miliknya pada semua orang.


"Kamu tidak tahu saja kalau Denis adalah seorang CEO, aku ingin sekali menceritakan semuanya tapi tidak bisa." Pikir Aura, ia merasa tertekan sendirian.


.


.


.


Jam istirahat pun telah tiba, sesuai janji Aura dan Viola saling berbicara satu sama lain di tempat yang tidak begitu banyak orang, mungkin karena pengaruh Denis terhadap Aura. Tidak ada orang yang berani mendatangi Aura meskipun saat itu ia bersama Viola yang merupakan idola mereka.


"Mau membicarakan apa?" tanya Aura ramah.


"Aku mau menegaskan padamu bahwa Denis adalah tunanganku." Ujar Viola langsung tanpa basa-basi.


"Aku tahu sih Denis sudah menceritakan semuanya padaku, bahkan detailnya. Aku tidak menyangka kalau aku bertemu denganmu." Ucap Aura santai.


"Karena kamu tahu sebaiknya kamu menjauhi Denis."


"Aku tidak bisa." Ujar Aura santai.


"Mengapa? Apa kamu mau memanfaatkannya?"


"Aku tidak pernah memanfaatkan Denis, sebelumnya dulu aku berpikir untuk menjauhi Denis, tapi ternyata aku tidak bisa."


"Kamu mencintai Denis."


"Aku kurang yakin mungkin aku memang menaruh rasa padanya, tapi yang pasti aku tidak bisa menjauhi Denis karena Denis tidak membiarkan aku menjauhinya." Jelas Aura.


"Tapikan kamu tahu aku adalah tunangannya dan aku tidak setuju dengan hubunganmu dan dirinya." Ujar Viola tertunduk kesal.


Aura tersenyum tipis. "Kamu  memprotes hubunganku dengan Denis, sedangkan saat Denis membutuhkanmu kamu malah menghilang dan pergi meninggalkan dia yang butuh seseorang untuk bersandar, aku sudah tahu semuanya." Aura berucap kemudian berhenti sejenak.


"Jika kamu memang mencintainya dengan tulus kamu tidak akan pergi meninggalkannya di saat dia terpuruk. Tapi semua tinggal keputusan Denis memilih siapa. Aku sendiri akan pergi jika Denis yang memintaku pergi. Karena aku tidak mengharapkan apapun padanya, kecuali cintanya." Ujar Aura tegas.

__ADS_1


__ADS_2