
"Tunggu dulu!" Denis menghentikan Aura yang akan meninggalkannya. "Ada yang ingin kuberikan padamu," lanjut Denis.
"Apa? " tanya Aura singkat, ia tidak bersemangat sama sekali.
Denis mengambil sebuah surat undangan acara ulang tahunnya dari dalam tas untuk besok malam dan Aura menerimanya.
"Denis sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan padamu." Ucap Aura.
Denis sebenarnya mulai kegeeran ia pikir saat ini dengan wajah serius Aura ingin mengungkapkan perasaan sukanya pada Denis, meskipun sebelumnya ia mendengar Denis hanya sandiwara tapi rata-rata perempuan yang mendekatinya itu tidak ada yang perduli dengan hal itu. Itu sebabnya Aura memutuskan pacarnya. Padahal kenyataannya Aura masih tidak begitu tertarik dengannya.
"Bisa gak kamu mulai saat ini menjauhiku, kumohon." Pinta Aura serius pada Denis. Pria itu diam terpaku tidak percaya, ia adalah wanita pertama yang mengatakan hal itu pada Denis dan ini sudah beberapa kali Aura memintanya dan kali ini sambil memohon. Dalam hati Denis merasa kesal dibuatnya.
"Gimana kalo aku gak mau," jawab Denis.
Malahan Denis tertantang untuk membuat gadis itu jatuh hati padanya, entahlah siapakah di antara mereka yang akhirnya jatuh cinta duluan. Denis tidak perduli ada perasaan tidak terima di dadanya karena ulah Aura itu.
"Oh begitu, ya sudah cuma minta aja kok," kata Aura melanjutkan perjalanannya, ia tahu seperti sebelumnya Denis pasti tidak akan mau dan menolaknya.
"Hanya saja aku berpikir jika kamu pria yang baik pasti kamu akan menjauhiku demi diriku. Jika hanya untuk bersandiwara sebagai temanku, kenapa kau tidak menjauhiku saja agar semua kembali seperti semula."
Awalnya Aura tidak apa-apa, meskipun ia mendapat perundungan sekalipun untuk bisa berteman dengan Denis dan membantunya berubah, ia tidak perduli jika ia akan menghadapi masalah. Tapi, ketika mendengar pernyataan Denis tadi pagi dengan temannya membuat Aura tidak berharap apa-apa lagi pada pria itu, percuma saja jika semua itu hanya kebohongan, pikir Aura.
"Sudah kubilang 'kan, jika kau tidak mau dekat denganku karena ada yang mengganggumu kau bisa memintaku untuk menghukum mereka, atau aku saja yang melakukan hal itu tanpa sepengetahuanmu." Ucap Denis dingin, ia benar-benar tidak suka dengan Aura yang mengungkit hal itu.
"Kamu bahkan sama saja dengan orang yang menggangguku, kenapa kau tidak hukum dirimu sendiri. Kamu itu memang pria yang egois kesalahanmu kamu tidak pernah lihat.
"Denis aku tidak akan pernah memintamu menjauhiku meskipun aku dibully sekalipun, jika kamu memang orang yang tulus. Tapi ternyata, kamu sama saja dengan mereka. Aku harap kamu mengerti. Aku ingin tidak ada orang yang terkena imbasnya karena masalah kita ini, dan jika itu benar terjadi aku akan sangat marah padamu." Ucap Aura membuat Denis tidak bisa membantahnya lagi.
"Aura setidaknya kamu datang besok malam ke acara ulang tahunku, " katanya kemudian menjalankan motornya, sebenarnya ia sedikit malu dengan Aura akibat ulahnya, ia tahu gadis itu tidak sama dengan gadis-gadis yang ia pernah temui. Gadis itu hanya menginginkan ketenangan semasa kuliahnya.
"Kuharap kamu datang." Harap Denis.
"Akan aku usahakan datang karena biar bagaimanapun kamu tetap mengundangku secara langsung seperti ini, aku tetaplah menghormatinya." Batin Aura, ia menatap undangan milik Denis.
......................
__ADS_1
Keesokan harinya, seharian Aura memilih tidur di kamar sewaannya karena hari ini libur. Seharian itu juga ia menangis membiarkan rasa sakit yang ia rasakan selama beberapa hari ini keluar semua, rasa sakit yang ia pendam keluar semua karena tidak adanya kegiatan yang ia lakukan. Biasanya Aura jika mengingat kesedihannya ia akan menyibukkan diri agar lupa dengan hal itu.
Menangis sendiri di dalam kamar kosannya adalah kesibukannya hari ini.
.
.
.
Tidak terasa hari sudah sore, perasaannya mulai sedikit membaik. Bermaksud bersiap-siap pergi ke acara ulang tahun Denis. Tapi, ketika ingin berdiri ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh beruntungnya di atas ranjangnya kembali.
"Apa yang terjadi padaku? " gumamnya pada diri sendiri.
Aura memegang dahinya dan ternyata badannya panas. Karena rasa stresnya akhirnya Aura terkena demam dengan mata sembab dan suara yang sudah berubah menjadi suara orang terkena flu. Sepertinya ia terlalu banyak menangis hari ini.
Akhirnya Aura hanya berbaring dengan tatapan kosong ke plafon kamarnya. Ia tidak bisa bergerak karena demamnya sangat tinggi ia terbaring sakit seorang diri di tempat itu. Aura juga tidak menelpon keluarganya karena tidak ingin merepotkan orang tuanya.
"Seberat inikah rasanya patah hati, sudah tidak bernafsu makan dan sekarang aku malah terkena demam." Pikir Aura meletakkan lengannya di dahi. Kemudian tertidur setelah itu.
Sekitar jam tujuh malam ponsel Aura berbunyi. Dengan sisa tenaganya ia berusaha mengambil ponselnya dan menjawab panggilannya.
"Aura kamu sudah siap-siap berangkat ke acara ulang tahun Denis, aku bakalan ke kosanmu, jemput kamu. " Ya Denis mengundang seluruh anak-anak di Fakultasnya dalam acara ulang tahunnya kali ini. Membuat Aura tambah berpikir, mana ada orang sederhana yang mengadakan acara besar seperti itu. Aura penasaran sebenarnya bagaimana tempat Denis tinggal karena selama ini Aura benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Denis.
"Kayaknya aku gak bisa pergi deh Des," kata Aura menjawab setelah beberapa saat.
"Aura kamu kenapa? Kamu sakit ya? Suara kamu berubah," tanya Desta khawatir.
"Iya Des," kata Aura.
Tut!
Desta memutuskan sambungan telponnya tiba-tiba.
"Halo?" Aura bingung.
__ADS_1
Ternyata sambungan ponsel terputus, Aura baru menyadarinya. Tidak lama kemudian seorang datang.
Tok!
Tok!
Tok!
"Aura aku Desta, buka pintunya. " Ucap Desta dari luar.
Aura berusaha bangun. Dengan berpegangan di dinding akhirnya ia berhasil membuka pintu.
Saat pintu terbuka Aura hampir saja terjatuh di lantai karena kepalanya terasa sangat pusing dan tubuhnya lemas, akibat tidak makan apa pun hari ini. Beruntung Desta langsung menangkapnya.
Desta terkejut karena temannya itu terkena demam dan badannya sangat panas. Desta membawa Aura ke ranjangnya lagi dan membaringkan nya.
Saat memeriksa suhu tubuh Aura dengan termometer, ternyata ia terkena demam tiga puluh sembilan derajat Celsius.
"Ra, demam kamu tinggi. Kamu gak mau berobat?" Ucap Desta benar-benar khawatir.
"Jalan saja gak sanggup Des, " Kata Aura dan Desta mengerti ia juga hanya menggunakan motor, dengan keadaan seperti itu membonceng Aura bisa bahaya karena gadis itu bisa saja jatuh saat ia memboncengnya.
"Kamu gak pergi ke acara ulang tahun Deniskah?" tanya Aura.
"Nggak Ra, lebih baik aku jagain kamu yang seperti ini. Biar bagaimanapun kamu itu temanku, Denis mana tau kalo ada apa-apa sama aku, pasti kamu juga yang repot kalo seandainya aku yang demam kayak gini." Jelas Desta, selama ini mereka berdua memang saling menjaga satu sama lain meskipun tempat mereka tinggal berada cukup jauh.
"Makasih ya Des udah mau temani aku, maaf padahal kamu sudah pake baju keren kayak gitu, tapi malah gak jadi gara-gara harus jagain aku." Ucap Aura.
"Udahlah Ra, kamu itu lebih berharga dari pada acara itu." Ucap Desta menjelaskan.
Sekitar jam delapan malam, tepat acara ulang tahun itu akan dimulai.
Desta saat ini sedang sibuk menyiapkan bubur untuk Aura, Desta sempat memarahi Aura, bisa-bisanya seharian dia tidak makan apa-apa dan tidak menghubunginya sebelumnya jika ia butuh seseorang untuk menemaninya, karena hal itu Aura hanya meminta maaf dan akhirnya Desta hanya bisa memakluminya karena tidak tega memarahi sahabatnya yang sedang sakit.
Saat Aura tengah tertidur ponsel di sampingnya berbunyi.
__ADS_1
Aura terbangun dan bertanya dalam hatinya siapa yang menelponnya selain Desta malam-malam seperti ini.
"Halo, ini siapa? " Aura mengangkat telponnya sembari bertanya. Karena nomor itu tidak di kenal.