Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 47 – Tersesat


__ADS_3

Di perjalanan yang cukup panjang Aura sempat tertidur di dalam bus. Namun, kepalanya ia sandarkan ke jendela bus. Denis yang memperhatikannya berharap kepala gadis itu akan berpindah bersandar di bahunya. Tapi, nihil saat Aura bergerak karena adanya guncangan gadis itu malah bagun dari tidurnya. Membuat Denis merasa kecewa dibuatnya.


.


.


.


"Woah!" Aura takjub melihat kota yang ada di matanya, ketika itu ia melihat keluar jendela bus.


Melihat Aura yang takjub pada kota itu membuat Denis tidak tahan untuk bertanya, "Apa kamu belum pernah kemari sebelumnya?"


"Uum," Aura langsung mengangguk mengiyakan.


"Jika kamu suka kota ini, kita bisa sering-sering ke sini nanti." Ujar Denis.


"Apa kamu sering kemari?" tanya Aura penasaran.


"Aku punya tempat tinggal di sini. Di sini juga kota kelahiranku." Ujar Denis membuat Aura tercengang kaget.


"Tidak perlu kaget begitu. Jadi jika mau kamu dan aku bisa bisa sering-sering kemari." Ujar Denis tersenyum ke arah Aura.


"Sekarang belum bisa, aku ingin menyelesaikan sekolah dengan baik dulu. Baru pikirkan masa depan, aku senang jika bisa kemari lagi. Tapi, sepertinya aku tidak akan cocok tinggal di tempat seperti ini." Jelas Aura ia terus menatap gedung-gedung pencakar langit yang ada di sana.


Tidak lama kemudian mereka sampai pada tempat yang mereka tuju sebuah perusahaan teknologi. Tempat yang paling cocok untuk jurusan kuliah mereka.


Saat masuk ke dalam wilayah perusahaan itu Aura sesekali memperhatikan wajah Denis yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang terlihat penasaran.


"Ada apa Aura?" tanya Denis sadar akan Aura yang meliriknya sesekali.


"Apa kamu tahu juga tempat ini?" tanya Aura penasaran.


"Sebut saja ini salah satu cabang dari Adra Company." Jawab Denis pelan, suaranya hanya Aura yang dengar.


Aura terperangah takjub, cabangnya saja sudah sebesar itu kantornya dengan menempati gedung yang tinggi, Aura tidak bisa membayangkan pusatnya seperti apa.


"Apa kamu bangga padaku?"

__ADS_1


"Kamu orang yang luar biasa Denis." Aura tidak bisa tidak memuji Denis. "Dan aku merasa seperti semut kecil." Aura tidak bisa membandingkan dirinya dengan Denis sama sekali.


"Kamu harus percaya diri karena kamu adalah calon istriku." Denis berkata dengan tulus.


"Aku hanya tidak percaya orang seperti dirimu mau denganku yang hanya orang biasa." Aura merasa rendah diri saat ini.


"Aku juga manusia biasa Aura. Hanya saja punya sedikit kelebihan." Denis tidak ingin Aura minder terhadap dirinya.


"Apa tidak ada yang tahu jika kamu di tempat ini sebenarnya adalah bos besar?" tanya Aura berbisik pada Denis. Kemudian Denis menggeleng.


"Identitasku ra-ha-sia, Aura..." Denis berbisik menaruh satu jarinya di bibirnya.


Walaupun Denis menyadari ada satu orang lagi yang tahu siapa dirinya di Fakultasnya, tapi Denis yakin orang itu tidak akan menyebarkan tentang siapa Denis sebenarnya karena itu juga tidak akan baik untuk keluarganya, dia adalah Viola. Entah ke mana perginya gadis itu setelah penolakan Denis.


...----------------...


Sekarang sudah jam bebas untuk mahasiswa dan mahasiswi itu. Mereka akan memulai penelitian keesokan harinya.


Denis dan Aura terpisah, karena Denis ditegur oleh seseorang yang mengenalnya. Dan Aura tertarik pada suatu hal seperti anak kecil.


"Eh...aku di mana?" tanya Aura kebingungan ketika tidak sadar ia sudah berjalan entah ke mana, dan tidak ada orang yang ia kenal di situ. Kemudian ia merogoh sakunya dan tidak menemukan ponselnya, benda itu ada di tangan Denis karena Aura menitipkan dompetnya pada Denis.


"Setidaknya aku bisa tenang, mungkin aku bisa kembali jika tidak panik atau bertemu orang jahat di sini." Pikir Aura menghela nafasnya. Waktu itu hari sudah mulai gelap.


"Apa Denis panik ya mencariku?" Aura membatin tidak enak, karena teman yang lainnya tidak akan memikirkannya setidaknya Denis yang Aura pikirkan sedang khawatir padanya.


"Setidaknya dengan uang ini bisa membuatku bertahan sebentar. Nanti aku cari cara buat kembali deh." Pikir Aura merasa beruntung karena sering menyimpan uang di kantong pakaiannya agar lebih praktis.


.


.


.


"Ke mana Aura?" bingung Denis, celingak-celinguk mencarinya.


Kemudian Denis mengambil telponnya dan ingin menghubungi Aura dan ponsel Aura malah berbunyi di tasnya. Itu malah membuat Denis semakin khawatir.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus ke mana, takutnya semakin jauh aku berjalan semakin jauh juga aku nyasar. Sebaiknya aku jalan-jalan di sekitaran sini dululah, aku tidak boleh keliatan panik agar tidak bertemu dengan orang yang berniat jahat." Aura memikirkan keadaannya dengan baik.


Ternyata tempat itu ramai ketika malam hari, Aura juga tidak bertanya pada orang-orang tentang perusahaan teknologi di kota itu ia bisa kembali jika ia berpatokan dengan tempat itu. Namun Aura lebih memilih untuk berbelanja menikmati jajanan di sana.


"Kota ini pas malam bagus juga." Aura duduk sendirian di tempat santai yang banyak dikunjungi pasangan muda-mudi saat malam hari.


"Aku jadi ingat waktu aku nyasar di sekitaran kampus saat pertama kuliah dulu." Aura menikmati makanannya yang ia habis beli dari pedagang kaki lima. Dulu saat menyasar di situ ia pertama kali bertemu dengan Riyan mantannya.


"Ah...aku malah mengingat dia." Aura melanjutkan makannya dengan lahap. Sampai akhirnya Aura didatangi oleh seorang pria yang membuatnya sedikit takut karena terlihat mencurigakan walaupun penampilannya biasa.


"Kamu Aura?" tanya pria itu, Aura diam saja karena takut kemudian pria itu mengecek ponselnya dan menelpon seseorang.


Aura hendak lari karena ketakutan pada orang asing.


"Tu-tunggu dulu Nona! Jangan takut, ada orang yang mau berbicara padamu." Pria itu menyerahkan telpon genggamnya pada Aura dan Aura menerimanya.


Suara dingin seseorang dari seberang telpon Aura yang menahan kekesalan terdengar, itu adalah Denis. Aura menjauhkan telpon itu dari telinganya takut.


"Iya, iya, iya. Aku tidak apa sungguh." Ujar Aura menjawab panggilan itu.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti tahu jalan pulang walaupun akan butuh waktu." Aura berbicara pelan.


"Bang, ini di mana?" tanya Aura pada pria yang sudah menemukannya. Setelah menjelaskan lokasinya. Denis menutup telponnya dan Aura diminta menunggu di sana.


"Maafkan saya Bang, tadi sempat curiga kalau Abang adalah orang jahat." Aura merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Nona, sudah seharusnya Nona berhati-hati dengan orang lain." Ujar pria itu. Tidak lama Denis datang dengan menggunakan mobil mewahnya, entah dari mana barang itu datangnya, sekaligus dengan supirnya juga.


"Astaga Denis, dia terlalu mencolok." Batin Aura, gadis itu membuang wajahnya ke lain arah.


"Kenapa kamu berani-berani jalan sendirian." Denis mulai mengoceh karena kesal.


"Kamu juga tiba-tiba menghilang dari belakangku." Ujar Aura tidak tahu harus berkata apa.


"Sudahlah, kita kembali saja. Malam ini cukup mendung." Denis mengajak Aura kembali, dan Aura menganggukinya.


"Loh? Seharusnya kita sudah kelewatan dari tempat kita berkumpul." Ujar Aura karena semua barangnya ada di sana juga.

__ADS_1


"Kita pulang ke rumahku dulu."


"A-apa?!" Aura terkejut panik.


__ADS_2