
Laporan yang Aura dan Fandi kerjakan tidak terasa sedikit lagi selesai. Tinggal Mencetak dan membuatkan sampul untuk laporan mereka. Mereka bisa mengumpulkannya.
"Aku bersyukur teman kelompokku itu kamu Aura, kamu benar-benar pandai dalam mencari materi untuk menyelesaikan laporan ini." Fandi terlihat senang sambil memperlihatkan flashdisk berisi tugas laporan mereka.
"Kau juga hebat kok, kamu bisa menyusunnya dengan baik dan cepat sehingga laporan ini bisa diselesaikan dalam dua hari. Meskipun sedikit rumit." Aura tersenyum senang menanggapi Fandi. Aura tidak menyangka, jika laporan yang ia buat tidak akan sesulit yang ia bayangkan sehingga ia bisa merasa sedikit santai ke depannya.
Sambil berbincang-bincang akrab mereka berdua pergi ke toko alat tulis yang disediakan kampus, agar memudahkan para mahasiswa dalam pembelajaran mereka.
Keakraban mereka tidak lepas dari pandangan Denis, meskipun Denis saat itu tengah bersama dengan gerombolan teman-temannya. Ia masih saja memperhatikan Aura yang tengah tersenyum dengan Fandi.
"Gadis itu, kenapa gampang sekali akrab dengan pria, menyebalkan." Batin Denis jengkel.
"Hei Denis, apa yang kamu pikirkan?" tanya salah satu temannya.
"Hah?! Ah tidak ada kurasa," Denis tidak jujur, dengan kata-katanya.
"Kurasa aku harus pergi dulu kalo gitu, ada urusan." Denis langsung meninggalkan gerombolannya.
"Kenapa tu anak?" temannya yang lain hanya mengangkat bahu, tidak ingin tahu urusan Denis. Sebab Denis adalah seorang pria yang tidak ingin orang tahu apa yang dia lakukan meskipun itu temannya sendiri. Denis bisa saja marah karena ulah orang-orang yang memantau apa yang ia lakukan. Dan hal itu pernah terjadi pada salah satu temannya. Apalagi kalau Denis sudah berkata 'Aku ada urusan'.
Untuk para gadis yang memantaunya, Denis juga melakukan hal yang sama meskipun tidak berbuat kasar, tapi Denis bisa membuat para gadis-gadis itu kapok karena telah mencari tahu kehidupan pribadinya.
Walaupun di sekolah ini tetap banyak mata yang memantau gerak-geriknya. Hanya segelintir orang saja yang berani terang-terangan mau ikut campur. Para gadis hanya berani dekat-dekat dengan Denis, ketika pria itu tengah bersama teman-temannya.
Namun, ketika Denis memilih untuk sendiri, tidak akan ada lagi orang yang berani ikut campur atau mendekati dirinya jika tidak penting karena jika sudah seperti itu, bagi Denis itu adalah waktu pribadinya. Seperti ketika ia tiba-tiba berjalan cepat di koridor atau berdiam di perpustakaan, menyendiri di sekitaran pohon sekolah tidak ada yang berani mengikutinya. Kemudian di tempat lainnya ketika ia memilih sendiri seperti di atap kampus. Tapi kali ini Denis memiliki urusan lain. Ia ingin ikut campur dengan keakraban Aura dan Fandi.
"Ah, hai Aura!" sapa Denis seolah-olah tidak sengaja bertemu dengan Aura tapi tidak menyapa Fandi.
"Ya?!" terkejut Aura.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aura.
"Memang apa yang seharusnya aku lakukan di sini, hmm?" tanya Denis berdiri di samping Aura.
"Mana kutau," kata Aura singkat.
"Aku mau beli pulpen," alasan Denis, karena gengsi kalo mengatakan yang sebenarnya.
"Oh," Aura berhenti menatap Denis. Dan melihat laporannya yang telah ia buat. Setelah membayar biaya ia pun pergi lagi bersama Fandi.
"Aku duluan ya," kata Aura pada Denis kali ini memberikan senyum akrabnya. Denis terlihat malu dengan senyuman yang diberikan Aura padanya. Gadis itu di mata Denis sudah baik-baik saja dari sakit hatinya kemarin. Dan kali ini ada ketulusan di senyumannya. Dan Denis merasa luluh melihat senyuman itu.
__ADS_1
Denis membalas senyuman Aura tanpa sadar. Aura terlihat tertawa setelah itu. Denis merasakan debaran di dadanya karena baginya saat itu Aura terlihat sangat manis.
Akhirnya tugas Aura sudah dikumpulkan dan dosen mereka berdua puas dengan hasil laporan mereka meskipun mereka tertinggal mata kuliah mereka kemarin.
"Karena sudah menyelesaikan tugas kita dengan baik, bagaimana kalo kita merayakannya?" tanya Fandi semangat.
"Umm itu, apa kau tidak masalah dengan itu semua. Maksudku, kau tahukan bagaimana orang-orang di kampus ini mencap diriku, setelah terlibat dengan Denis." Ucap Aura ragu-ragu menerima ajakan Fandi.
"Kau tidak perlu khawatir, kau tidak perlu memikirkan ucapan orang-orang itu. Teman-teman di kelas semuanya tahu kamu bukan seperti yang dirumorkan." Kata Fandi menarik tangan Aura membawanya. Aura menatap punggung Fandi. Berpikir apa yang sebenarnya pria itu inginkan darinya. Aura melepaskan tangan Fandi pelan.
"Oke baiklah, lagi pula ini hanya sebuah perayaan. Mau ke mana?" Aura merasa canggung.
"Kita sama-sama makan di kantin. Aku lapar." Fandi terlihat biasa saja.
"Sepertinya aku juga," mereka berdua tertawa bersama. Sangking sibuknya dengan laporan mereka, mereka lupa untuk makan.
Dari jauh Denis melihat tangan Aura yang sempat digenggam oleh Fandi.
"Heh, apakah pria itu ingin bersaing denganku." Denis kesal sambil melipat lengannya di dada dengan tatapan dinginnya.
"Kau telah salah dalam memilih saingan." Batin Denis dingin. Seandainya suara terdengar itu akan terdengar menyeramkan meskipun ia berkata dengan datar.
Aura dan Fandi yang sudah sampai di kantin dan duduk saling berhadapan memilih menu makanan mereka.
Tiba-tiba Denis datang dan langsung duduk tepat di samping Aura sehingga gadis itu terkejut dan sedikit bergeser dari tempat duduknya. Sambil menatap orang yang duduk di sampingnya.
"Aku pikir siapa?" Aura sudah tidak heran dengan sifat Denis yang seperti itu. Aura tidak perduli dengan kehadiran Denis, karena mengusirnya sama dengan membuat masalah.
Aura tahunya Denis itu tidak suka tersaingi dan tidak benar-benar memiliki perasaannya padanya. Tapi hanya sebuah rasa penasaran. Itulah yang membuat Aura tidak begitu perduli dengan sikap Denis.
"Bibi! Aku pesan makanan spesialnya."
"Ka-kau,-" kata Aura terputus.
"Tenang Aura aku yang traktir," kata Denis kemudian Aura diam saja setelah itu. Percuma melawan kata-katanya Aura sudah lelah.
"Hahaha, kalian berdua lucu sekali. Aku bingung kenapa kalian masih tidak ada hubungan." Aura menatap Fandi bingung, Denis menatapinya datar.
"Kalau begitu aku pergi. Maaf Aura, sepertinya kamu punya teman untuk merayakan selesainya tugas kita. Aku tidak akan mengganggu." Fandi berdiri sambil melihat wajah Denis yang menatapnya dengan dingin. Setelah berada di belakang Denis, Fandi pun berbisik.
"Denis, jika kau tarik ulur seperti itu. Ia akan berakhir di pelukan orang lain. Aku yakin tidak hanya satu atau dua lelaki baik yang mau dengan gadis seperti Aura. Karena jika kau melihat hatinya dia adalah gadis yang sangat baik, meskipun di luar sana ada banyak wanita yang lebih cantik darinya." Fandi berlalu pergi.
__ADS_1
"Cih!" Umpat Denis yang mendengarnya kesal.
Aura tidak ingin tahu apa yang dibicarakan kedua lelaki itu, ia melakukan kesibukannya sendiri.
"Jika benar seperti itu, akan kupastikan akulah pemenangnya. Aku tidak akan kalah." Batin Denis menatap Aura yang sedang memainkan ponselnya. Denis penasaran apa yang tengah dikerjakan Aura dengan ponselnya kali ini. Denis pikir ia belajar lagi.
Setelah melihat apa yang dilakukan Aura, Denis menatapnya heran.
"Aku tidak tahu jika kau suka hal-hal yang seperti itu. Kupikir kau cuma selalu belajar dan belajar."
"Kamu pikir aku ini apa, aku juga butuh hiburan setelah semua yang terjadi. Aku tidak bisa terus fokus belajar. Aku juga perlu healing. Demi kebaikan diriku."
"Aku bisa membawamu berkeliling jalan-jalan jika kau mau." Tawar Denis.
"Lebih baik hal seperti ini yang kulakukan sekarang. Membaca komik bisa membuatku berimajinasi lebih jauh dan membuatku sedikit lebih senang dan bahagia. Karena ini hobiku juga." Aura berkata sambil tersenyum, setelah semuanya ia tidak mungkin secepat itu mau digandeng oleh lelaki lain.
"Kalo kau sesuka itu akan kuberikan kau komik yang banyak,"
"Kau gila, kau mau membuatku jadi bodoh."
"Kan kau bilang kau suka dan bisa senang dan bahagia jika membaca komik. Kenapa tidak, kalau soal nilai atau pelajaran aku bisa membantumu. Kau bisa bergantung padaku."
Aura memukulkan ponsel miliknya pelan di kepala Denis.
"Hobi itu sekedarnya, aku juga hanya melakukannya ketika aku benar-benar senggang seperti ini, aku memang suka dan bahagia ketika bisa melakukan apa yang kusuka. Tapi aku tetap akan fokus belajar juga. Aku tidak ingin bergantung dengan orang lain. Kau paham." Denis memegang kepalanya yang bekas diketuk dengan ponsel Aura barusan.
Denis kemudian mengelus kepala Aura sambil tersenyum. Aura terlihat menahan malu karena hal itu. Ia merasa senang ketika diperlakukan seperti itu.
"Manisnya," gumam Denis tanpa sadar.
"Kau bilang apa?" Aura tidak memperhatikan ucapan Denis.
Dan tepat saat itu makanan mereka datang.
"Ah, itu makanannya datang." Denis heboh sendiri.
"Apakah barusan dia dengar, malunya." Denis merasa malu dengan ucapan repleksnya.
"Barusan Denis ngomong apa." Pikir Aura yang sepertinya beberapa saat yang lalu tidak begitu menyadari ucapan Denis akhirnya menyadarinya.
"Pasti aku salah dengarkan." Aura menatap Denis.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Denis tidak menatap wajah Aura.
"Makanlah makananmu, nanti keburu dingin." Ucap Denis lagi ia terlihat fokus dengan makanannya sendiri. Dan di saat seperti ini biasanya Denis membangga-banggakan dirinya tidak berkata begitu banyak, Aura tidak tahu alasannya.