
Keesokan harinya, hal-hal berjalan seperti biasanya. Denis tentu saja orang yang mengantar Aura ke kampusnya jika ia ada di tempat.
Tidak terpisahkan. Itulah yang terjadi sekarang di antara Denis dan Aura. Terlebih sekarang Aura tinggal di dekat tempat Denis tinggal karena kejadian kemarin. Malamnya Denis langsung memindahkan Aura agar selalu terlihat olehnya.
Aura ingin menolak, tapi penolakannya itu hanya sia-sia saja karena Denis tidak terbantahkan. Denis akan membuat Aura memiliki banyak pengawal jika ia tidak mau pindah dari tempat itu. Atau Denis akan membeli wilayah itu dan membuat Aura terusir dari sana.
Daripada Denis membuat masalah, akhirnya Aura menuruti kemauannya.
.
.
.
Saat ini Denis membawa Aura di sisinya menuju kelasnya. Kelas yang bahkan Aura tidak bisa memasuki ruangan itu dengan sungguh-sungguh. Denis membawa Aura masuk dan duduk di tengah ruang kelas.
"Tidak usah sungkan tempat ini sekarang adalah kelasmu juga." Gumam Denis duduk dengan santainya di samping Aura.
"Tetap saja, aku tidak bisa tenang." Timpal Aura, ia masih takut bertemu dengan ketiga pria yang mengganggunya kemarin.
"Kamu tenang saja, tiga orang itu sedang menjalankan hukuman karena perbuatannya." Ujar Denis.
"Kamu tidak membunuh mereka 'kan Denis?" tanya Aura takut.
"Tidak Aura mereka menjalankan hukuman sesuai dengan hukuman negara ini." Denis menjelaskan kepada Aura yang salah paham.
"Syukurlah, kuharap hukum bisa berlaku mereka,"
"Kamu tidak ingat bahwa lawannya adalah aku, bahkan orang tua mereka tidak akan berkutik. Karena anak-anak mereka yang seperti itu mereka harus kena imbasnya juga." Ujar Denis ia benar-benar kesal.
Terlebih ketika melihat tangan kiri Aura yang masih di perban karena kejadian kemarin.
__ADS_1
"Tanganmu sudah tidak apa-apa?" tanya Denis khawatir memperhatikan tangan Aura.
"Tidak apa-apa, untung saja lengan yang ini tidak digunakan untuk menulis jadi aku baik-baik saja." Ujar Aura sembari tersenyum memperlihatkan tangannya yang diperban.
Kejadian kemarin rupanya tersebar di seluruh Fakultas. Semua orang mulai memandang Aura segan, karena Denis tidak main-main dengan orang yang berani-berani menyakiti Aura.
Ketika jam pelajaran berakhir Aura keluar dari kelasnya bersama dengan Denis tentu saja. "Aura!" teriak seorang wanita dari kelas sebelah yang tentu saja itu adalah Desta yang mengkhawatirkan keadaannya.
"Kudengar kamu terluka?" Desta menghampiri Aura dan memperhatikan tangannya yang diperban.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Aura cepat.
"Apanya yang tidak apa-apa, tanganmu terluka seperti ini." Desta menunjuk tangan Aura.
"Sebenarnya ini tidak apa-apa, karena ke rumah sakit jadilah diperlakukan berlebihan begini." Bisik Aura pada Desta, tentu saja itu adalah ulahnya Denis yang terlalu berlebihan terhadap luka-luka yang Aura alami.
"Apanya yang tidak apa-apa, jika sudah terluka seperti ini. Orang yang mengganggumu itu sudah berlebihan." Tegas Desta kesal, Aura langsung menutup matanya kaget. Ia berbicara berbisik tapi malah dijawab Desta dengan keras.
"Wah, dia menyeramkan." Akhirnya Desta juga takut dan berbicara sambil berbisik. Aura menanggapi Desta dengan tersenyum yang dipaksakan karena memaklumi Desta yang tidak tahu apa-apa tentang Denis sama sekali.
"Kamu tidak tahu saja Desta, Denis itu adalah orang pemaksaan yang tidak terbantahkan. Tapi, aku menyukainya." Isi kepala Aura menilai tentang Denis.
"Tapi syukurlah, aku tidak perlu khawatir lagi. Jika ada orang yang menyakitimu Aura. Denis benar-benar orang yang bisa diandalkan." Ujar Desta menepuk-nepuk bahu Aura. "Aku pergi dulu! Nikmati waktu kalian berdua." Desta pergi setelahnya karena ia telah dipanggil juga oleh kekasihnya.
"Dia teman yang baik," ucap Denis.
"Kamu baru tahu?"
Namun Denis hanya diam saja setelah dan mulai berjalan, pria itu sebenarnya tidak peduli sama sekali dengan orang lain. Aura menatapi punggung Denis kesal, tidak bergerak karena Denis tidak menghiraukannya.
"Kenapa diam di situ, ayo kita makan siang." Ajak Denis akhirnya berbalik.
__ADS_1
"Kamu seperti pria tua yang banyak pikiran." Ujar Aura berjalan di samping Denis.
"Aku hanya sedang memikirkan waktu yang tepat untuk mengurus pernikahan kita." Gumam Denis, jadi itu adalah hal yang ia pikirkan sampai ia menjadi pendiam, walaupun awalnya memang pendiam.
"Jika masih sibuk mau bagaimana, dipaksakan nanti kau malah tidak akan datang dalam acara pernikahannya." Aura benar-benar mengantisipasi kemungkinan terburuk karena kesibukan Denis. Jadi jika ingin menikah Denis harus benar-benar memiliki waktu yang tepat agar tidak ada gangguan. Sebab sejatinya Denis adalah pria yang sibuk.
...----------------...
Seminggu telah berlalu setelah kejadian hari itu, tangan Aura sudah membaik dan melepas perbannya setelah beberapa kali Denis membawa Aura ke rumah sakit.
Hari itu, bertepatan sudah malam hari dan Aura melihat berita di televisi tentang direktur perusahaan di kota E yang ketahuan menggelapkan dana perusahaan.
Aura yang sedang meminum air putih malam itu hampir menyemburkannya, karena orang-orang yang masuk berita secara bersamaan itu adalah orang tua dari tiga pria yang mengganggu Aura seminggu yang lalu.
"Denis gila, ternyata apa yang ia bicarakan tentang bukan hanya mereka tapi semua akan kena imbasnya itu benar adanya." Batin Aura gelisah. "Bagaimana jika suatu saat mereka dendam dan berbuat jahat padaku dan keluargaku juga?" Aura menggigit jarinya khawatir.
"Kamu tidak perlu khawatir karena aku akan menjagamu dan semua keluargamu Aura." Aura terperanjat kaget karena kemunculan Denis yang tiba-tiba.
"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" tanya Aura langsung, seandainya itu adalah orang lain. Aura tidak tahu harus berbuat apalagi untuk mengatasinya. "Lain kali aku harus kunci pintu." Batin Aura menatapi Denis yang berjalan ke arahanya.
"Hanya merindukanmu." Ucap Denis, dan mendudukkan dirinya di sofa samping Aura.
"Paling tidak beri salam dulu kek, agar aku gak terkejut." Aura menyandarkan dirinya di sofa.
"Aku takut karena berita yang ada di tv," ucap Aura.
"Tidak perlu takut, mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa." ucap Denis santai. "Lagipula hanya anak-anak mereka yang hancur karena mengganggumu, sisanya itu adalah kedok yang terbongkar dari ketidakjujuran mereka dan dunia kerja. Jadi, itu bukan salahmu Aura." Denis menjelaskan, dan Aura mengerti, orang-orang itu benar-benar Denis hancurkan tanpa Denis turun tangan secara langsung.
"Haruskah aku bernafas lega?" Aura kurang yakin dan Denis menganggukinya.
Namun tetap saja Aura kurang terbiasa dengan Denis yang suka tiba-tiba muncul tempat tinggalnya seperti ini. Karena kamar mereka yang bersebelahan dan Aura sering tidak mengunci pintu rumahnya. Tempat tinggal Aura bagi Denis sederhana namun cukup luas daripada tempat tinggal sebelumnya yang hanya berupa kamar kecil, dan Denis juga tinggal di tempat yang sama persis dengan rumah Aura ini karena tepat bersebelahan. Namun tetap saja itu adalah tempat tinggal yang elit untuk orang seperti Aura.
__ADS_1