Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 54 – Pulih


__ADS_3

"Kau sebaiknya beristirahat sebentar lagi Denis, agar benar-benar pulih secepatnya dan jangan lupa untuk minum obat." Bian melepas infus dari tangan Denis. "Padahal 2 hari lalu demammu benar-benar tidak ada tanda-tanda turun sama sekali." Gumam Bian, sebenarnya Denis sudah mengalami Demam sejak seminggu yang lalu dan ia tetap memaksakan diri untuk bekerja, 2 hari ini adalah saat di mana sakitnya parah membuat ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Apa itu yang dinamakan penyakit rindu? Mustahil, tetap saja sakitnya bisa dijelaskan oleh ilmu kedokteran, Denis terkena tipes beberapa hari ini." Pikir Bian kemudian meninggalkan ruangan itu. Di sana sudah ada Kay kembali yang sedang melakukan pekerjaan Denis.


"Kau sudah harus istirahat sendiri Denis, agar benar-benar pulih. Tapi, aku juga ingin beristirahat. Aku ingin baring." Ujar Aura berucap canggung.


"Kamu bisa berbaring di sampingku." Denis berbicara sembarangan.


"Aku tidak mau, aku akan keluar kalau begitu." Aura tampak kesal karena perkataan Denis.


"Jangan meraju, aku hanya bercanda. Kay antar Aura ke kamarnya." Perintah Denis, dan Aura kembali tersenyum lagi setelah mendengarkan perkataan Denis.


"Beristirahatlah dengan benar Denis." Aura keluar kamar membuntuti Kay setelahnya.


.


.


.


"Akhirnya aku bisa baring." Aura senang merasakan ranjang yang sangat empuk berbeda dari rumahnya.


"Aku tidak bisa membayangkan tiba-tiba jadi kaya mendadak seperti ini. Semoga tidak menumbuhkan kesombongan pada diriku." Aura merasa dirinya mulai tenggelam dalam kemewahan yang sering Denis berikan padanya terlebih pria itu sudah benar-benar menjadi calon suaminya tinggal menunggu waktu saja untuk mereka menikah.


"Haaa...memikirkan aku akan menikah rasanya membuatku jadi berdebar-debar." Gumam Aura memejamkan matanya ia berusaha beristirahat.


.


.


.


Tidak tahu waktu itu sudah pukul berapa Aura terbangun dari tidurnya.


"Sudah berapa lama aku tertidur." Gumam Aura duduk mengucek matanya. Melihat ponselnya waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Aura langsung bangun dan keluar dari kamar itu.


Malam itu terlihat Denis yang sedang duduk di sofa ruang tamunya, sepertinya dia sudah baik-baik saja. Tidak banyak yang bekerja di rumah besar itu, dan kebanyakan yang bekerja di sana adalah laki-laki, lebih tepatnya keseluruhan pengurus rumah itu adalah laki-laki tetapi Aura belum mengetahuinya.


"Ah...kau sudah bangun." Denis langsung berjalan menghampiri Aura.

__ADS_1


"Kamu sudah baik-baik saja?" tanya Aura khawatir dengan keadaan Denis.


"Aku sudah tidak apa-apa karena kehadiranmu di sini." Ucap Denis tersenyum senang. "Ayo kita makan malam bersama." Ujar Denis mengajak Aura pergi ke ruang makan bersamanya.


"Aku...sebenarnya ingin mandi."


"Uum?" bingung Denis. Aura merasa malu seharian ini ia masih belum mandi sama sekali. "Oh, apa kamu tidak tahu jika di kamarmu ada kamar mandi di sana?" tanya Denis.


"Aku tidak memperhatikannya." Aura berucap langsung. Sangking luasnya Aura tidak memperhatikan ada pintu lain selain pintu keluar.


"Sebaiknya kamu harus terbiasa mulai sekarang tinggal di rumah yang besar." Ujar Denis terkekeh.


"Sepertinya akan sulit." Ucap Aura jujur. Di rumah ini jika ia tidak menemukan Denis tadi, mungkin ia akan berakhir tersesat di suatu tempat yang tidak ia ketahui.


"Kalau begitu aku mau mandi dulu sebentar, kau tunggu aku di ruang tamu ya, aku tidak tahu tempat ini soalnya." Ujar Aura kembali masuk ke kamarnya.


"Padahal aku ingin ikut." Cemberut Denis.


"Kau jangan aneh-aneh deh..." Ujar Aura kemudian benar-benar meninggalkan Denis setelahnya.


Jika itu rumah yang kecil dan menggunakan kamar mandi yang sama dengan Denis, Aura mungkin memilih untuk kembali ke kosannya dulu.


"Terima kasih sudah mau menungguku."


"Apa yang tidak untukmu Aura." Ucapan Denis itu membuat Aura tidak tahu harus bersikap seperti apa.


Sampai lah mereka di ruang makan yang mejanya juga luas bisa menampung 10 orang untuk makan di sana.


"Di tempat luas ini, apa hanya ada kita berdua?" tanya Aura, makanan sudah tersedia lengkap di sana. Dan Denis mengangguk, ia tampaknya melupakan semua orang yang ada di rumah itu.


"Siapa yang menyediakan makanan ini, jika hanya ada kita berdia?" Aura penasaran.


"Pelayan rumah ini tentu saja." Ujar Denis mengambil piringnya.


"Jadi ke mana semua orang?" tanya Aura akhirnya karena dari tadi ia tidak melihat orang lain, bahkan Kay saja sudah menghilang.


"Aku tidak ingin wanitaku ditatap oleh banyak lelaki." Ujar Denis sambil menyiapkan makanannya di piring.


"Apa tidak ada wanita yang bekerja di sini?" tanya Aura dan Denis langsung menggeleng.

__ADS_1


"Aku tidak suka ketika pelayan wanita terpesona dan tidak tahu malu mengejarku seperti orang kesetanan." Ujar Denis mulai makan, makanannya.


"Tapi, saat kuliah kau adalah lelaki yang seperti itu, bahkan aku beberapa kali memergokimu berganti wanita." Ujar Aura mulai makan juga.


"Itu semua karena aku berteman dengan orang-orang yang salah Aura." Ujar Denis tidak mau mengenang masa lalunya yang menurutnya kelam. "Tapi, aku sangat senang karena sudah bertemu denganmu. Untuk sifatku aku memang seperti orang yang pertama kali kau temui dulu, aku tidak begitu suka terlalu akrab dengan orang lain.


"Dan kamu juga sombong." Aura melanjutkan kata-kata Denis yang seharusnya tertinggal.


"Aku tidak bisa menyangkalnya sih." Karena memiliki segalanya Denis memang merasa ia bisa seenak jidatnya menyombongkan diri. Tapi,  ketika merasakan kehangatan keluarga kecil Aura yang sederhana. Denis mengerti, harta tetap tidak bisa mengembalikan keluarganya yang telah lama meninggalkan dunia. Kekurangan yang bahkan tidak bisa Denis beli lagi dengan uangnya.


"Aku sadar harta bukanlah apa-apa ketika melihat keluarga kecilmu yang sederhana." Denis mengungkapkan perasaannya pada Aura.


"Jika kau mau, kamu bisa menganggap kedua orang tuaku adalah orang tuamu." Ujar Aura menyarankan.


"Lagi pula ke depannya, mereka memang akan menjadi orang tuaku juga, kan." Denis berucap santai, ia benar-benar memastikan bahwa Aura dan ia akan benar-benar akan menikah.


"Kau benar." Hanya itu yang bisa ucapkan untuk menanggapi perkataan Denis.


.


.


.


"Besok aku mau pulang." Ujar Aura setelah menyelesaikan makanannya.


"Cepat sekali." Ucap Denis juga sudah selesai makan.


"Aku mau menghabiskan waktu liburan yang tersisa di rumahku Denis, aku juga merindukan keluargaku asal kau tahu." Gerutu Aura. Ia tidak bisa lagi menghabiskan waktunya untuk berada di luar.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu dan mengantarmu pulang." Ujar Denis berdiri. "Malam ini aku ingin menunjukkan semua bagian tempat ini padamu." Ucap Denis lagi.


"Aku mau." Aura yang penasaran dengan rumah itu menerimanya.


Setengah jam berkeliling Aura baru menyelesaikan melihat-lihat mansion besar itu.


"Gila!" pikir Aura, ada orang yang tinggal di rumah sebesar ini sendirian.


Namun beberapa kali saat di perjalanan berkelilingnya Aura melihat para pengurus rumah itu yang tentu saja ada yang mereka kerjakan di sana meskipun malam hari.

__ADS_1


"Aku terjebak cinta oleh orang semenakjubkan dia, benar-benar tidak bisa dipikir secara logika." Aura menatap wajah Denis yang berjalan di sampingnya, pria itu tinggi dan Aura hanya sebahunya ketika berjalan di sampingnya.


__ADS_2