Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 59 – Pengawal


__ADS_3

"Aku benar-benar kesal." Ujar Denis jengkel mendudukkan dirinya di samping Aura siang itu saat di perpustakaan. Tidak begitu banyak orang di sana, hanya jajaran buku yang berbaris rapi.


"Kamu sebaiknya menyempatkan diri untuk beristirahat Denis, sudah bekerja, kuliah pula." Ujar Aura sambil membaca bukunya.


"Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan urusanku dan bisa bersantai setelahnya Aura, menyelesaikan urusan kita yang tertunda,"


Aura menghela nafasnya, "Aku tidak masalah jika kamu masih sibuk, aku tidak ingin kamu jatuh sakit lagi karena kelelahan." Aura menatapi Denis saat itu.


"Tapi ... 3 bulan ke depan aku akan pergi Aura." Ujar Denis tertunduk karena dia ada urusan pekerjaan di luar negeri. "Jika kamu mau ikut–"


"Aku percaya padamu, kita masih bisa saling berhubungan kok." Aura meyakinkan Denis, Aura tidak ingin menunda-nunda urusan mereka tapi ia juga tidak bisa jika harus menyusahkan Denis yang begitu sibuk.


"Aku tidak ingin meninggalkanmu,"


"Tenang saja aku tidak akan ke mana-mana kok." Aura meraih tangan Denis duluan untuk pertama kalinya, Aura langsung menatapi tangannya yang digenggam oleh Aura.


Aura langsung refleks melepasnya malu. "Aku akan pergi jika begitu, tapi Aura tetap akan ada yang menjaga." Denis akhirnya yakin untuk pergi sejenak dari Aura.


Aura memasang wajah bingung. "Apa maksudmu?"


"Kamu akan mengerti setelah aku pergi nanti." Jawab Denis mengelus kepala Aura lembut.


"Kapan kamu akan pergi?"


"Akhir minggu ini." Denis berbicara santai, sekarang mereka sedang berjalan secara beriringan. "Jika, ada hal-hal yang membuatmu tersakiti. Kamu akan langsung kujemput dan pergi denganku Aura."


"Kamu pikir aku ini lemah?"


Denis mengangguk, "Kamu adalah wanita yang perlu aku lindungi dengan diriku sendiri. Aku tidak bisa terima jika kamu dilindungi oleh orang lain."


"Aku bisa menjaga diriku kok, kecuali kalo tidak ada yang menargetkanku." Aura hanya takut dengan hal itu saja, jadi ia benar-benar merasa aman jika berada di samping Denis.


"Makanya ikut aku saja." Akhirnya Denis menyerukan keinginannya.


"Tapi aku tidak mau, aku bisa-bisa putus kuliah. Jadi Denis, biarkan aku sampai lulus. Kumohon ...." Aura memohon pada Denis, tentu saja Denis tidak akan tega menolak permintaan orang yang paling ia cintai itu.


"Haaa ... Baiklah kamu bisa tetap berkuliah, tenang saja untuk segala hal. Tidak akan ada yang berani mengganggumu Aura, akan aku pastikan itu." Ujar Denis dengan ekspresi seriusnya.

__ADS_1


......................


Sekarang di sinilah Aura di kelas unggulan sendirian, tapi benar-benar tidak ada yang berani mengganggunya sama sekali. Namun sebelum jam pelajaran dimulai. Seorang wanita tinggi semampai duduk di sisi Aura, sepertinya dia adalah anak baru yang tidak mencolok juga.


"Badannya bagus dan tinggi." Pikir Aura melihat orang di dekatnya, Aura menyadari wanita itu pasti kuat dan pandai bertarung. "Jika aku terlibat dengannya, aku mungkin bisa babak belur. Hawa kejamnya lebih daripada diriku sendiri." Aura merasa tertekan.


"Salam kenal yaa, aku Hilda. Aku anak baru di kelas ini." Ucapnya lembut tapi terdengar tegas. Karena wanita itu mengulurkan tangannya Aura tentu saja meraihnya dengan akrab juga.


"Salam kenal, aku Aura." Aura tersenyum akrab. "Dia orang baik." Pikir Aura, wanita itu tampak tersipu karena sikap Aura yang sangat bersahabat padanya.


"Kenapa? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Aura kebingungan karena melihat ekspresi Hilda yang tampak terharu.


"Aura benar-benar orang yang baik ya."


"Aku tidak sebaik itu." Aura kebingungan karena tiba-tiba saja ia disebut orang baik.


"Tidak, aku tidak pernah bertemu dengan orang sebaik Aura." Ujar Hilda, kemudian Aura teringat dengan kelas unggulan yang rata-rata dihuni oleh orang elit, yang tidak tahu cara berinteraksi baik dengan orang yang mereka pandang rendah.


"Aku ini sulit berinteraksi dengan orang lain, tapi bukan berarti aku tidak mau berinteraksi dengan mereka." Pikir Aura.


"Tentu saja, aku senang jika punya teman di sini." Aura langsung menerimanya, ia yang tidak punya teman atau lebih tepatnya tidak ada yang berani berteman dengannya. Akhirnya mendapatkan teman juga.


......................


Akhirnya jam pelajaran selesai dan mereka semua bisa beristirahat.


"Aura mau ke mana setelah ini?" tanya Hilda saat berjalan di samping Aura.


"Aku mau ke perpus bareng sahabatku di kelas sebelah. Oh iya, Hilda jangan heran ya aku sebenarnya dulu berasal dari kelas itu juga. Hanya saja karena suatu sebab aku harus dipindahkan." Ujar Aura menjelaskan dan Hilda tampak sangat tertarik.


"Kenapa dia terlihat seperti orang polos yang tidak mengerti apa-apa?" pikir Aura ia penasaran. "Hilda, sebenarnya bagaimana lingkungan hidupmu sebelumnya?" tanya Aura akhirnya.


"Uum, aku dibesarkan di lingkungan yang keras. Meskipun aku perempuan, semenjak kecil aku selalu diajarkan untuk bertarung, dan selalu bertemu orang-orang kasar yang tidak baik. Aku senang karena berteman dengan Aura." Mata Hilda tampak berbinar senang saat itu. Saat itu Aura akhirnya mengerti, Hilda adalah wanita yang dikirimkan oleh Denis untuk menjadi pengawalnya.


"Apa kamu kenal Denis?" tanya Aura akhirnya.


"Dia bosku, sebelumnya aku bekerja di kantor pusat." Hilda tertarik dengan percakapan itu.

__ADS_1


"Berteman seperti biasa saja ya denganku, jangan sungkan." Aura ingin mereka berteman dengan setara.


"Memang boleh?" tanya Hilda tidak yakin, dan Aura mengangguk. "Terima kasih, Aura sangat baik." Hilda senang.


"Wanita sepolos dia diajarkan untuk menjadi kejam. Aku tidak bisa menerimanya." Aura menghela nafasnya.


Tidak lama kemudian Desta keluar dari kelasnya. "Ah! Ini melelahkan, aku merasa ingin libur 1 minggu." Keluh Desta berjalan mendekati Aura.


"Hmm?" Desta bertanya-tanya wanita tinggi yang berdiri di samping Aura dalam hati. "Siapa dia Aura?" Desta langsung bertanya setelah ia mendekat.


"Oh dia Hilda, mahasiswi baru di kelasku." Aura memperkenalkan Hilda dan Hilda menyapa Desta sopan.


"Salam kenal, aku Desta." Mereka berdua saling berjabat tangan, Hilda tersenyum ramah pada Desta.


"Salam kenal."


.


.


.


"Aura."


"Uum?"


"Apa kamu sadar jika teman barumu itu sepertinya orang yang sangat hebat dalam pertarungan?" tanya Desta berbisik. Dia juga menyadari jika Hilda itu adalah wanita tangguh yang kuat.


"Tau kok, tapi 'kan dia hanya butuh teman. Lagi pula dia tidak akan memukul kita juga. Jika kita tidak cari gara-gara dengannya." Bisik Aura menjelaskan, ia tidak menjelaskan juga bahwa Hilda adalah pengawal yang Denis suruh untuk melindungi Aura.


"Kamu benar, dia juga anak yang baik walaupun sedikit terlalu lugu." Desta menyukai Hilda walaupun Hilda tampak menyeramkan di matanya.


"Kita harus jadi teman dia yang baik." Ujar Aura merangkul Desta.


"Kalian berbicara apa?" Hilda datang untuk ikut dalam pembicaraan mereka.


"Memikirkan perayaan untuk menyambut teman baru kita." Aura merangkul kedua temannya itu sekaligus. Hilda tampak kaget karena perlakuan Aura, tapi setelahnya ia malah tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2