
Pagi itu Aura bersiap-siap di kamarnya.
"Kamu terlihat begitu santai sekali Aura." Gumam Desta duduk di samping Aura. Ia tampak frustasi.
"Bawa santai Des." Aura berusaha menenangkan Desta.
"Kamu enak, teman kelompokmu Denis si jenius." Desta terlihat lesu, teman sekelompoknya yang berada di kamar itu juga terlihat lesu.
Setelah terbangun tengah malam tadi mereka bertiga menjadi akrab.
"Jangan berlebihan Denis juga manusia. Aku juga butuh belajar agar paham dan supaya tidak begitu bergantung pada Denis." Aura berkata jujur. Walaupun Denis tidak begitu mempermasalahkan tugasnya ini. Aura juga butuh materi untuk dia belajar. Hanya hal itu yang membuat Aura merasa pusing ketika bersama orang yang lebih pintar darinya Aura merasa dirinya menjadi lebih santai dan kurang fokus dalam belajarnya.
"Tidak usah begitu serius belajarnya." Denis berbisik pada Aura yang tampak begitu fokus mendengarkan penjelasan pembimbingnya.
"Diamlah, kalau aku sampai tidak mengerti kamu harus ajarin aku sampai paham." Ujar Aura terus menatap ke depan.
"Oke!" Denis tentu saja langsung menyetujuinya.
.
.
.
"Ah lelahnya..." Gumam Aura. Sore itu pelajaran mereka telah berakhir dan sekarang ia sedang mengikuti Denis sesuai tujuannya malam tadi ke pantai.
Deburan ombak terdengar merdu di telinga Aura bersamaan dengan angin yang menghembus ke kulit dan menyegarkannya.
"Aku sudah lama tidak ke pantai." Ujar Aura menatap hamparan laut biru yang luas, bahkan lautannya indah seperti kota yang indah.
"Apakah tidak ada pantai di tempat tinggalmu?" tanya Denis.
"Ada dong, dekat rumah." Ujar Aura langsung menjawab. "Aku, kan jarang pulang. Jadi jarang ke pantai. Jika pulang pun belum tentu ke pantai juga." Jelas Aura mereka berdua saat ini berjalan di pinggir pantai.
"Aku jadi ingin ke tempat tinggal Aura." Denis tampak bersemangat.
"Boleh saja sih, tapi kalau kau ke sana jangan kaget dengan kediamanku yang tidak begitu luas dan biasa saja, jangan banyak protes." Ujar Aura mengantisipasi Denis yang banyak protes.
"Aku bukan orang yang begitu kok." Ujar Denis.
"Tapi kamu makan, kan pilih-pilih." Ujar Aura protes.
__ADS_1
"Ya, itu benar sih." Denis tidak menatap Aura.
Sore itu pantai mulai ramai banyak orang yang ingin melihat tenggelamnya matahari di pantai itu. Tiba-tiba segerombolan wanita yang tertarik dengan tampang Denis langsung mengerumuninya dengan tidak tahu malu, ingin berkenalan.
Aura yang merasa risih pergi menjauh, karena kehadirannya tidak dianggap.
"Ha~ Susah kalo dekatnya sama cowok popular." Ujar Aura pergi ke pinggir pantai sendiri dan menatap hamparan lautan biru yang perlahan berubah warna menjadi warna jingga karena sebentar lagi matahari akan terbenam. Aura takjub melihat matahari yang seakan-akan tenggelam ke dalam lautan itu.
Di tempat tinggalnya pantai akan memperlihatkan terbitnya matahari, berbanding tebalik dengan pantai di tempat ini.
Karena ramai orang, jadi tidak sengaja ada seorang pria yang berdiri tepat di samping Aura dan mereka saling bertatapan sesaat. Mereka berdua setelah itu tetap berdiri di tempat mereka masing-masing, sampai akhirnya Denis mendatangi Aura dengan ekspresi tidak bersahabat.
Melihat Denis yang memasang ekspresi seperti itu lelaki yang berdiri di samping Aura tadi langsung pergi menjauh.
"Baru sebentar kutinggal kamu sudah dekat lelaki lain." Denis melipat tangannya di dada.
"Hah?" Aura malah bingung.
"Kamu tadi bertatapan dengannya loh." Denis mulai sewot.
"Heh, kamu yang ditempeli cewek-cewek aja aku berusaha buat mengerti, karena kamu memang sering jadi bahan perhatian. Masa aku yang cuma bertatapan sekilas kamu marah." Aura tidak mau kalah juga.
"Kenapa kamu tidak menjauh setelah itu?" tanya Denis memegang bahu Aura.
"Aku tidak suka ketika ada pria lain yang dekat dengan Aura." Ucap Denis tatapannya datar tanpa ekspresi.
"Kamu posesif banget ya." Aura menatap Denis balik tersenyum kecut.
"Ya aku posesif, karena aku mencintaimu." Ujar Denis menundukkan pandangannya.
"Baiklah-baiklah. Aku tidak akan dekat dengan orang lain lagi. Jangan memasang wajah begitu. Denis, aku juga tidak suka ketika kamu jadi kerumunan wanita." Ujar Aura tidak alasan untuk menutupi kecemburuannya yang sama dengan Denis.
Denis kemudian merogoh tas kecil yang ia bawa, ternyata di situ ada topi dan masker yang langsung ia kenakan untuk menutupi wajahnya. Ia langsung menuruti permintaan Aura. Aura tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jika Denis sepenurut itu dalam menjaga perasaan Aura. Aura tidak punya alasan lagi juga jika tidak menuruti kemauannya.
.
.
.
Sore itu setelah berdebat, mereka berdua baikan lagi dan sekarang berjalan-jalan di pinggir pantai. Menikmati suasana matahari terbenam sambil mendengarkan suara deburan ombak yang tenang.
__ADS_1
"Aku jadi ingin berenang." Ujar Denis berjongkok memainkan air di pinggir pantai itu.
"Kamu jangan aneh-aneh ya ini sudah mau malam. Bisa-bisa kamu sakit karena nekat."
"Kan, ada Aura yang menjagaku ketika sakit." Denis berkata dengan polosnya.
"Alangkah baiknya kamu jangan sakit Denis. Aku tidak ingin melihat orang yang berharga bagiku terbaring lemah." Aura tidak mau memikirkan hal itu.
"Kamu jangan berekspresi seperti itu Aura tenang saja aku ini tidak gampang sakit kok." Ujar Denis mendekati Aura.
"Baguslah, jadi aku tidak perlu harus begitu khawatir padamu."
"Bagaimana kita kembali dulu?" ajak Aura dan Denis menganggukinya.
Mereka berdua sama-sama tidak kedinginan karena sekarang sama-sama mengenakan jaket. Meskipun angin laut berhembus dan cukup dingin mereka berdua tidak masalah dengan hal itu.
.
.
.
"Dulu ketika aku masih kecil di pantai seperti ini seru sekali jika main layangan..." Aura bercerita tentang masa lalunya dan Denis mendengarkannya dengan seksama, seolah-olah ia juga merasakan apa yang sudah Aura alami ketika itu. Denis tidak bisa bercerita apa-apa tentang masa lalunya, karena sejak kecil Denis sudah diajarkan untuk melanjutkan bisnisnya.
Hampir tidak ada waktu baginya untuk bermain dengan anak sebayanya bahkan ketika ia masih bisa duduk di bangku sekolah, Denis terkadang hanya bisa bermain di sekolahnya saja.
.
.
.
Malam itu Denis dan Aura makan di sebuah restoran. Aura terdiam ketika melihat harga di menunya.
"Ada apa Aura? Pesan apa yang ingin kamu makan." Ujar Denis membaca buku menu juga."
Seketika Aura yang perhitungan tentang masalah keuangannya merasa makan di warung makan biasa saja lebih mengenyangkan dari pada tempat ini.
"Makan di sini sepertinya berlebihan sekali Denis." Aura berbisik.
"Sudah kubilang kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu, kamu memesan semua menu yang ada di tempat ini aku yang bayar." Ujar Denis santai.
__ADS_1
"Huh, pria ini..." Pikir Aura menatapi Denis kesal ia menutupi wajahnya dengan buku menu. Sedangkan Denis yang memperhatikan Aura seperti itu malah membuatnya tersenyum senang. Mulai sekarang Aura harus terbiasa dengan kehidupan yang sama dengan dirinya. Hal itu yang sebenarnya Denis terus pikirkan.