
Aura celingak-celinguk melihat kiri dan kanannya ingin menghindari Denis hari ini. Ia tidak ingin ikut dengan Denis seperti yang kemarin mereka perbincangkan.
Merasa aman Aura buru-buru langsung ingin meninggalkan Fakultasnya. Tetapi ternyata Denis telah menunggunya di depan gerbang Fakultas, Aura langsung memasang wajah cemberut tidak senang.
"Kenapa kau berekspresi seperti itu?"
"Mau aku jawab jujur?"
"Sepertinya jawabannya tidak akan bagus, jadi aku tidak mau mendengar jawabannya." Denis langsung berjalan di samping Aura.
"Jadi mau ke mana?" tanya Aura.
"Ikut saja, kau mungkin senang." Ujar Denis memiliki rencananya sendiri. Denis membawa Aura ke sebuah mal besar di kota itu.
Tujuan Denis melakukan hal itu, agar Aura tertarik pada dirinya karena cowok berduit menurut Denis akan mudah wanita mencintai, setelah dengan pesonanya Aura juga tidak tertarik sama sekali padanya.
Kesalahan Denis ia lupa bahwa Aura pernah mengatakan tidak begitu menyukai orang-orang kaya. Cinta bagi Aura adalah apa yang ia rasakan ketika bersama pria yang dicintainya. Perasaannya pada Denis, Aura tidak yakin itu cinta sebab rasa itu sangat samar, terlebih ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan mantannya.
"Ngomong-ngomong kemarinkan kamu ulang tahun. Jadi sebagai hadiah dariku, kamu bisa beli apa aja yang kamu mau di mal ini."
Aura melongo, ini bukan sekedar mal biasa tapi tempat ini adalah mal nomor satu di kota E, dan barang-barang yang ada di sana bermerek semua.
"Kan ulang tahunku sudah lewat." Aura mencari cara menolak, ia menjadi ragu sekarang dan berpikir harus menjauhi Denis lagi.
"Ah sudahlah jangan dipikirkan," Denis meraih tangan Aura dan menggenggamnya lalu menariknya untuk membawanya berkeliling mal besar itu.
"Ini juga apaan lagi kita pegangan tangan segala." Kata Aura ingin melepaskan tangannya tapi tidak bisa karena digenggam Denis cukup kuat tapi tidak menyakitinya.
Kemudian Denis mengambil tangan Aura yang ia genggam dengan tangan sebelahnya dan membuat mereka sekarang bertautan jari.
Aura tidak melawan sekarang, ada perasaan senang di hatinya saat Denis menggenggam tangannya seperti itu.
Aura sekarang hanya tertunduk sangat malu, karena melihat orang-orang tengah menatapi mereka.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Denis.
"Aku malu tau!" pekik Aura.
"Buat apa malu? Seharusnya kamu bangga dengan berjalan-jalan bersamaku seperti ini, sedangkan kamu adalah gadis blusukan yang gak selevel denganku." Kata Denis bangga pada dirinya sendiri dan tentu saja dengan menghina Aura di akhirnya.
"Berhentilah bersikap seperti itu, terlihat seperti pria narsis yang menjijikkan. Membuatku tambah malu saja jalan denganmu." Ucap Aura membalas hinaan Denis.
"Aku mau pulang sajalah," kata Aura melepas genggaman tangan Denis, ia kesal sekarang.
"Hei-hei tunggu dulu, jangan ngambek. Setidaknya pilihlah hadiah yang aku berikan buatmu dari tempat ini." Ucap Denis menghalangi jalan Aura.
"Gak ada yang mau kupilih di mal ini. Aku gak mau ambil hadiah darimu, nanti kau malah menuntut bayaran lagi sama aku. Terlebih tempat ini barang bermerek semua." Kata Aura takut jika pria itu menuntutnya ia tidak akan bisa membayarnya.
"Ini spesial hari ulang tahunmu. Kau mau apa, baju? Ehmm," hampir saja Denis mengeluarkan hinaannya terhadap Aura tapi ia menghentikan mulut tanpa remnya itu sebelum gadis itu benar-benar tersinggung.
"Sepatu, tas, perhiasan? Aku yang akan bayarkan," kata Denis dengan bangganya.
"Sudah kubilang aku yang bayar," kata Denis kali ini ia meyakinkan Aura lebih tepatnya memaksa.
"Kenapa gak sekalian aja kamu belikan aku mal ini, biar aku bisa jadi bosnya!" ucap Aura dongkol, ia menjadi kesal karena dipaksa dan akhirnya berbicara semau yang diinginkannya saja.
"Oh jadi kau mau mal ini. Kenapa tidak bilang dari tadi. Baiklah." Entah mengapa tiba-tiba ucapan Denis menjadi serius, Aura bingung dengan ekspresi Denis yang tiba-tiba serius itu.
"Halo bisa kau panggilkan pengurus tempat ini?"
"Oke." Panggilan diputuskan.
Ia menelpon seseorang. Dan tidak lama seorang staff dari mal itu datang. Aura yang bingung mulai menyadari suatu hal, Denis tidak main-main.
"Tidak, ternyata dia serius. Astaga gawat." Batin Aura ia mulai panik.
"Denis stop sudah. Hentikan, aku hanya bercanda." Ucap Aura menarik-narik lengan baju Denis.
__ADS_1
"Kau kan tadi bilang mau mal ini, kau kira aku bercanda." Ucap Denis tersenyum ke arah Aura, tapi senyuman Denis itu seolah-olah membuat Aura menjadi sangat kecil sekarang.
"Sudah aku yang bercanda, bukan kamu." Aura merengek panik karena ulah Denis.
"Pak! Maafkan saya, saya tidak bermaksud membeli mal ini." Ucap Aura membungkuk ia benar-benar merasa bersalah.
Denis mendelik ke arah staff mal itu, karena sudah membuat Aura membungkuk padanya.
"Sudah-sudah Nona tidak apa-apa," kata pemuda itu menghentikan Aura yang membungkuk merasa bersalah, pemuda itu takut dengan tatapan tajam Denis dan staff itu pun akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Jadi aku sarankan pilihlah salah satu hadiah dari sini, atau aku akan benar-benar membeli mal ini sesuai dengan permintaanmu yang pertama." Ucap Denis melipat tangannya di dada dengan gaya berkuasanya.
"Baiklah," ucap Aura akhirnya menurut dengan wajah lesunya.
"Good, gadis baik." Ucap Denis kemudian menepuk-nepuk kepala Aura.
"Ayo kita cari hadiahmu," kata Denis lagi dan pada akhirnya. Aura memilih sebuah kemeja wanita bermerek dari mal itu.
"Nanti kamu pakai baju ini ketika ke kampus, biar gak keliatan blusukan lagi." Ucap Denis mulai menghina Aura lagi. Jujur saja Aura sangat ingin melemparkan baju itu ke wajah pria itu dan berlalu pergi, tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi.
Namun dibayangannya, Aura takut Denis akan benar-benar membeli mal itu dan mungkin saja akan membakarnya jika ia marah, sekarang Aura merasa bersalah karena telah banyak membaca komik tentang CEO. Imajinasinya yang liar malah membuat takut dirinya sendiri.
Aura tidak mau hal itu terjadi. Jadi ia hanya diam saja dengan hinaan Denis, seketika aura pria narsis dari tubuh Denis menghilang hanya karena Aura menolak hadiahnya, dengan ekspresi yang serius bagi Aura Denis sangatlah menakutkan, karena Aura melihat Denis seperti memiliki kekuasaan yang tidak pernah terpikirkan oleh Aura sebelumnya.
Aura menjadi penasaran siapa Denis itu sebenarnya, tetapi Aura lebih ingin menjauh dari pria itu dan memikirkan cara menjauhinya sekali lagi. Aura tidak mau terlibat lebih jauh lagi dengan Denis.
Sedangkan Denis, sekarang ia berpikir akan terus menunjukkan kekuasaannya pada Aura, sampai pada akhirnya Aura akan tahu siapa Denis itu sebenarnya. Dan mengikat gadis itu agar tidak lepas dari sisinya.
Akhirnya Denis mengakui jika ia mencintai gadis itu, walaupun tidak mengungkapkannya, ia akan menjerat cinta gadis itu dengan caranya sendiri.
"Bahkan jika aku harus menunjukkan kekuasaanku untuk mendapatkanmu, maka akan kulakukan hal itu. Agar kau patuh serta tunduk dan akhirnya jatuh cinta kepadaku." Batin Denis menatap punggung Aura, sedangkan yang ditatap punggungnya merasa ditembus oleh tatapan tajam Denis itu.
Denis dia adalah pria misterius yang tidak pernah mengungkapkan siapa dia sebenarnya, apakah karena cintanya pada Aura ia akan benar-benar menunjukkan kekuasaannya pada Aura...
__ADS_1