Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 16 – Pernyataan Denis


__ADS_3

Di kampus pagi itu masih cukup sepi hanya baru ada beberapa orang yang terlihat berlalu lalang, termasuk di antaranya Denis dan teman-temannya entah ada angin apa pagi itu mereka semua berangkat pagi tidak seperti biasanya.


"Eh Den, kamu suka ya sama gadis kampung itu. Eem, siapa namanya ya, oh Aura!" kata temannya di dalam kelasnya saat itu, kebetulan pintu kelas dibiarkan terbuka lebar tidak seperti biasanya selalu tertutup, mungkin masih sepi dan juga karena masih cukup pagi.


"Iya nih Den, akhir-akhir ini kita lihat kamu sering habisin waktu berdua aja bareng dia. Apa gak bosan, bukan Denis banget sih." Ucap salah saru temannya lagi.


"Aku? Suka sama dia? Ya, nggak mungkin lah. Aku cuma mau tau aja seberapa normalnya sih dia, sanggup tahan sama pesonaku," kata Denis narsis seperti biasanya menjawab temannya sambil tertawa nyaring menghadap pintu kelas. Entah benar atau tidak itu isi hatinya saat itu, tapi itulah yang keluar dari mulut Denis langsung.


Kebetulan saat itu bertepatan dengan lewatnya Aura di depan pintu kelas Denis, gadis itu hanya lewat dengan santainya seolah-olah tidak mendengar apa-apa menoleh pun tidak.


Aura sebenarnya mendengar semua ucapan Denis barusan. Tapi gadis itu bersikap seolah tidak mendengar apa-apa. Ia tidak perduli lagi, hatinya masih sakit akibat pengkhianatan mantannya ketimbang mendengar ucapan Denis barusan. Yang seharusnya ia sudah tidak kaget lagi dengan kata-kata begitu.


Aura memang sudah menebak hal itu dan ternyata apa yang dipikirkannya benar, pria itu mendekatinya hanya untuk main-main belaka.


Melihat Aura yang lewat di depan kelasnya, Denis terkejut. Berpikir apa dia mendengar semuanya. Dan tentu saja Denis menyadari Aura mendengar ucapannya.


Bagaimana tidak, Denis berbicara seperti itu sangat lantang sampai keluar kelas dan kebetulan Aura lewat, tidak mungkin Aura tidak dengar. Karena perkataannya barusan, akhirnya membuat Denis sadar bahwa Aura, dia berbeda dengan gadis lainnya. Biasanya Denis hanya mendekati gadis lain itu cukup sekali dan setelah itu Denis tidak perduli lagi karena bosan.


Bagi Denis, Aura berbeda. Awalnya Denis mendekati perempuan itu memang hanya karena tertantang dengan sikap Aura yang biasa saja dengannya sekaligus untuk bersenang-senang. Tapi, pada akhirnya Denis menyadari suatu hal bersama dengan Aura, Denis tidak pernah merasa bosan sama sekali, semakin lama ini ia semakin nyaman dengan Aura.


Pikirnya Aura saat ini pasti sangat marah karena merasa dipermainkan olehnya, karena Aura mana tahu jika ucapan Denis itu lain di mulut lain di hati.


"Eh Den, dia kayaknya dengar semuanya tuh. Jadi gak ada alasan lagi, buat kamu sandiwara di depan dia." Ucap salah satu temannya tertawa menanggapi hal itu.


"Berisik!" teriak Denis tiba-tiba mengebrak meja dan langsung keluar dari kelas dengan wajah datarnya entah ke mana dia pergi. Saat menengok keluar Aura ternyata sudah masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Cih, kenapa juga pas banget." Batin Denis kesal.


"Kenapa tuh anak?" tanya temannya.


"Gak tahu tuh, kesambet kali." Jawab temannya yang satunya.


"Ah susul ajalah dia," kata temannya yang satunya lagi dan mereka akhirnya menyusul kepergian Denis.


Hari itu Aura menghabiskan seluruh waktunya di dalam kelas, mencurahkan semua isi hatinya tentang Riyan pada Desta. Ditawari Desta makan pun Aura tidak berselera, tidak nafsu itulah perasaan Aura saat ini ia tidak bisa makan apa-apa.


Wajah Aura terlihat pucat hari ini, lagi-lagi ia tidak makan seharian. Bukannya tidak mau, ia tidak bisa makan. Ketika teringat wajah Riyan saat ia makan, ia akan merasakan mual yang hebat dan akhirnya malah mengeluarkan seluruh isi perutnya, Aura sebenarnya tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Patah hati macam apa ini." Pikir Aura.


Wajah Aura terlihat lesu ketika baru pulang dari kuliahnya, tampak seperti orang yang kelelahan berpikir. Aura yang baru saja putus dengan pacarnya terlihat berusaha seperti orang yang tidak memiliki masalah apa pun. Tapi ia tetap tidak bisa menutupi wajahnya yang terlihat lesu dan sedikit pucat.


Kemudian ia kembali asik memainkan ponselnya sambil mengecek tugas kuliahnya dan ketika sampai di gerbang kampusnya ia memilih untuk berhenti memainkan ponselnya karena ia tahu hal itu berbahaya.


Mulai hari ini, ia tidak akan diantar jemput lagi oleh pacarnya, lebih tepatnya mantannya. Ia telah menghapus segala kenang-kenangan yang ada di ponselnya kenangan dengan mantannya, ia tidak ingin perduli lagi. Saat itu perasaannya masih benar-benar hancur. Tapi ia berusaha kembali seperti sebelumnya, ia yang memang selalu pergi dan pulang kuliah seorang diri.


Saat di perjalanan Riyan dan pacar barunya, lewat dengan sepeda motornya melalui Aura di depan gerbang kampus. Pacar baru Riyan terlihat menatap tajam Aura.


Aura hanya diam saja tidak meladeni gadis itu. Baginya tidak ada sangkut pautnya lagi ia dengan kehidupan Riyan.


"Ah, kebetulan sekali. Aku merasa jadi tambah sedih saja." Batin Aura mengakui kegalauannya, tapi ia berusaha untuk tetap bersikap seperti biasanya.

__ADS_1


Kemudian dari sampingnya muncul Denis yang sedang mengendarai sepeda motornya.


"Mauku antar pulang? " tawar Denis tiba-tiba membuat Aura sedikit terkejut dibuatnya.


"Gak perlu, makasih. Aku bisa pulang sendiri. " Ucap Aura cuek tetap melanjutkan perjalanannya.


"Kamu putus dengan pacarmu ya? " tanya Denis masih mengikuti Aura dengan melambatkan laju sepeda motornya. Sepertinya ia melihat mantan pacar Aura lewat barusan.


"Menurutmu?" Aura akhirnya memberikan sedikit perhatiannya pada Denis.


"Wajahmu terlihat pucat, apa kamu baik-baik aja?" tanya Denis entah itu khawatir atau hanya sekedar formalitas.


"Nggak kok," jawab Aura singkat.


Melihat wajah Denis Aura menjadi kesal padanya akibat kata-kata yang tidak sengaja ia dengar tadi pagi, hal yang sebenarnya beberapa waktu lalu ia lupakan. Ia tahu sekarang pria itu hanya mempermainkan perasaannya, tapi ia sebenarnya tidak ingin begitu mempermasalahkannya lagi pula Aura sudah menebaknya, tapi tetap saja hal itu sepertinya menambah beban yang ada di hati Aura, entah mengapa ada sedikit kekecewaan di hati Aura setelah mendengar ucapan Denis tadi pagi, tapi Aura tidak mau memikirkannya.


Aura tahu bukan hal baru Denis berlaku seperti itu, kenyataannya setahu Aura dia memang cowok playboy dan cowok yang tidak bisa diharapkan. Yang Aura sesali adalah kenapa pria playboy itu yang muncul pertama kali di kala ia sedang patah hati, kenapa bukan yang lain. Membuat Aura terus kepikiran dan benar-benar pusing dibuatnya.


Kenapa pria di sampingnya hanya mempermainkannya, Aura berpikir apa ia tidak malu jelas-jelas ia tahu Aura mendengar seluruh pembicaraannya dengan teman-temannya. Apakah pria itu memiliki dendam dengannya sehingga terus melanjutkan sandiwaranya. Aura tidak tahu.


Aura juga bertanya-tanya kenapa pria yang dicintainya mengkhianatinya, dan memilih wanita lain apakah ia sebegitu tidak pantasnya mendapatkan cinta. Dan juga bertanya mengapa ia harus mendapat perundungan hanya karena dekat dengan seorang pria idola kampus padahal tidak ada maksud dirinya mencari perhatian dengan pria itu malah terkesan Denislah yang terus mendekatinya.


Walaupun Aura sudah protes dengan Denis akan hal perundungannya yang ia rasa mengganggunya, pria itu malah ingin menghukum semua orang yang mengganggunya bukannya malah Denis menjauhinya seperti yang diinginkannya. Siapa Denis sebenarnya, Aura sangat penasaran tapi ia juga tidak ingin tahu. Aura merasa jika ia tahu sebenarnya, ia akan berusaha menjauhi Denis bagaimanapun caranya.


Pertanyaan terbesar yang ingin Aura tahu saat ini adalah kenapa Denis mau melakukan banyak hal untuk dirinya yang bukan siapa-siapa seperti sekarang ini. Bukankah jika itu hanya sandiwara semuanya terlalu berlebihan. Aura tidak bisa memikirkan tentang hal ini, ia tidak tahu apa yang diinginkan Denis sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2