Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 39 – Dia Muncul Kembali


__ADS_3

Semalam Aura dan Desta begadang mereka berdua bangun di jam 9 pagi karena mengantuk.


"Aku masih mau tidur." Gumam Aura.


"Katanya kamu mau belanja bulanan? Aku mau pulang deh habis ini." Ujar Desta mendudukkan dirinya masih menguap ngantuk.


"Ah iyaa." Aura langsung bangun mendudukkan diri.


Aura dan Desta bergantian mandi setelah sepenuhnya bangun dan sarapan berdua. Mereka benar-benar menghabiskan malam mereka bercerita satu sama lain. Tapi Aura tidak memberitahukan siapa Denis sebenarnya hanya kedekatan mereka yang Aura ceritakan pada Desta.


.


.


.


"Kita pisah ya Aura. Aku mau pulang dulu. Hati-hati belanjanya." Desta melambai saat menaiki sepeda motornya.


"Kamu juga hati-hati pulangnya." Aura melambai pada Desta balik.


Kemudian Aura melirik sepedanya yang terparkir baik di depan tempat tinggal sewanya itu.


"Aku pake itu aja kali ya, mudahan Denis gak liat." Pikir Aura, kalau Denis tahu Aura menggunakan sepeda lagi. Pria itu pasti akan mengomelinya.


Luka di dahi Aura juga belum sepenuhnya hilang dan masih di tutupi oleh plester.


"Aku ini memang gak ada kapok-kapoknya sih." Gumam Aura meraih sepedanya, itulah alasan yang membuat Aura tidak mengatakan hari ini, jika ia akan berbelanja pada Denis. Karena Aura memang berniat menaiki sepedanya lagi.


.


.


.


Namun belum sempat Aura mengeluarkan sepeda dari tempatnya, ada seorang pria bermotor yang singgah di dekatnya. Aura tersentak kaget karena sangat mengenali suara motor itu.


"Riyan..." Ucap Aura getir, seketika semua ingatannya yang hampir terlupakan muncul kembali dipikiran Aura.


"Ada yang mau kuomongin Aura." Ujar Riyan di hadapan Aura, gadis itu tidak mengusir Riyan juga karena memang Aura bukanlah orang yang setega itu.


"Mau bicara di depan sana? Tidak enak kalau bicara di sini." Ujar Aura tetap ramah pada Riyan. Di depan tempat tinggal Aura itu ada sebuah taman kecil tempat bersantai.


.

__ADS_1


.


.


"Aku jadi ingat di tempat ini kita banyak menghabiskan waktu bersama." Riyan mulai basa-basi. Mereka berdua dulu sering memang duduk di tempat itu.


"Untuk apa mengingat masa lalu." Aura berucap sambil tersenyum getir.


"Aura aku, ingin memulai hubungan kita lagi."


"Gimana ya, setelah semua yang terjadi kamu memilih orang lain di saat itu. Rasanya aku..." Aura tidak tahu harus berkata apa, ia berucap tertunduk ingin menangis sekarang.


Grap!


Seseorang menarik tangan, membuat Aura berdiri tiba-tiba. Itu adalah Denis, dengan tatapan dinginnya menatap mata Riyan.


"Jangan ganggu dia." Aura tidak berani menatap Denis, menakutkan itu yang Aura pikirkan sekarang. Aura hanya diam saja berdiri di samping Denis.


"Kamu siapa?" tanya Riyan agak kesal. Mereka saling bertatapan sekarang.


"Aku calon suaminya." Tegas Denis langsung.


"Dia bohongkan Aura?" tanya Riyan pada Aura tidak percaya.


"Kamu tidak main-mainkan Aura? Apa kamu yakin laki-laki ini bisa membuatmu bahagia?" Riya tidak percaya.


"Kau sudah meninggalkannya saat itu. Jadi, aku juga tidak akan membiarkannya kembali padamu." Suara rendah Denis terdengar sangat dingin sekarang.


"Maafkan aku tidak bisa menerima dirimu lagi." Ucap Aura menolak ajakan Riyan untuk kembali padanya. Pria itu hanya mengangguk mengerti setelahnya dan pergi. Ia sebenarnya merasa kesal dan sedikit merasa bersalah.


Wajah Denis juga sama, terlihat kesal sekarang tidak ada senyuman di wajahnya. Dari semua pria yang mendekati Aura, hanya mantannya yang membuat Denis menjadi seperti itu.


Aura hanya diam saja tidak tahu harus berkata apa. Seandainya Denis tidak datang tadi mungkin saja Aura akan membuka hatinya pada Riyan lagi. Tapi, Aura bersyukur karena ada kehadiran Denis yang tiba-tiba.


"Seharusnya kamu usir pria itu dengan kasar dari tadi."


"Aku tidak tega melakukan hal itu."


"Tatap aku Aura, apa kamu masih menyimpan perasaan pada pria itu?" Denis bertanya memegang kedua bahu Aura agar gadis itu menatap dirinya.


"Aku tidak tahu, maafkan aku. Aku sempat merasa ragu terhadap perasaanku tadi, tapi karena kamu datang. Aku bisa menolaknya dengan tegas." Jelas Aura.


"Jika kamu menyukai lelaki lain atau dia kembali, aku akan langsung menikahimu Aura." Gumam Denis, ia tidak akan membiarkan ada lelaki yang memasuki hati Aura lagi.

__ADS_1


Aura tersenyum sambil mengusap kepala Denis yang berekspresi datar sekarang. Raut wajah tidak lama kembali menghangat setelah perlakuan Aura padanya.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah melakukan pernyataan jika aku adalah calon istrimu dan aku tidak berkata main-main dengan kata-kataku itu, sekarang semuanya tergantung kamu Denis. Kuharap kamu menjaga hatiku dengan baik, selama kita dalam masa berkomitmen bersama." Ujar Aura berdiri di depan Denis, berbicara tegas.


"Ah iya aku tadi mau belanja." Aura akhirnya mengalihkan pembicaraan, setelah mendengar pernyataan Aura itu Denis merasa tidak perlu begitu khawatir lagi, meskipun Denis akan tetap selalu mengawasi Aura.


"Biar aku antar." Denis berdiri, berjalan di samping Aura.


"Ah~ Padahal tadi aku mau pergi belanja sendiri." Gumam Aura.


"Apa? Kamu mau belanja sendiri? Mengendarai apa?" Denis membuat pertanyaan beruntun, Aura hanya memberikan senyumannya tidak menjelaskan.


"Jangan bilang kamu mau menaiki sepedamu lagi, lihat luka di dahimu bahkan belum sembuh total loh. Atau sepedamu akan benar-benar kubuang." Ujar Denis kesal, menunjuk dahi Aura mengomelinya.


"Janganlah..." Aura menggembungkan pipinya kesal juga.


"Untuk saat ini aku tidak mau melihatmu naik sepeda Aura, biar aku yang antar." Ujar Denis mengajak Aura memasuki mobilnya.


"Iya-iya bawel." Ujar Aura ikut saja.


.


.


.


Aura tampak sedang berdiri memikirkan makanan apa yang akan menjadi stok di kulkasnya nanti.


"Kamu makan, makanan cepat saji seperti ini?"


"Suuut, kamu diam saja. Aku tidak akan mati makan ini." Ujar Aura terus memilih-milih barang belanjaannya. Denis yang biasa memakan makanan sehat tampak risih melihat Aura yang seperti itu.


"Kalau kamu tidak suka sebaiknya tidak usah ikut aku belanja tadi." Ujar Aura, keranjang belanjaan Aura semua Denis yang pegang. Pria itu memang terlihat tidak suka dengan barang-barang belanjaan Aura yang menurutnya tidak sehat.


Namun, ia menikmati apa yang ia lakukan sekarang, Denis sekarang membayangkan ia sedang berbelanja bersama istrinya.


Padahal jika Denis mau menekan Aura, ia bisa membawa Aura ke tempat yang lebih baik dan membelikan Aura bahan makanan yang lebih berkualitas. Tapi, Denis ingin menikmati kebersamaan seperti itu, jadi ia tidak merasa khawatir tentang hal itu. Karena jika belanja di tempat yang lebih baik lagi, Denis yakin Aura tidak akan menikmati kesenangan seperti sekarang.


"Akhirnya selesai," gumam Aura di depan meja kasir. Banyak mata yang melihat ke arah mereka karena pakaian kasual Denis yang sangat menawan membuat para wanita terpana dibuatnya. Aura baru menyadari itu setelah memperhatikan gadis-gadis yang menatapi Denis.


"Totalnya biayanya xxx."


Saat Aura ingin mengeluarkan uang di dompetnya Denis langsung menyodorkan kartu miliknya, Aura menatapinya dengan tatapan 'Biar aku yang bayar barang belanjaanku sendiri.' Tapi, Denis tidak perduli sekarang, karena ia merasa senang dan bahagia bisa belanja bersama Aura.

__ADS_1


Aura ingin menutupi wajahnya karena malu, banyak yang melihatnya.


__ADS_2