
Aura membawa tas ransel besar, semua keperluannya ada di sana, gadis itu bisa menggendongnya sendiri dan sekarang keluar dari kamarnya.
Pagi itu Denis sudah menyambutnya di depan pintu membuat Aura terkejut dibuatnya.
Aura masih belum terbiasa, padahal selama beberapa hari ini Denis sering berada di depan tempat tinggal Aura lebih pagi dari sebelum Aura keluar kamarnya dan tidak menunggunya dengan lama seperti sebelumnya.
"Biar aku yang bawa."
Denis mengulurkan tangannya ingin mengambil barang berat yang Aura bawa, setelah melihat gadis itu membawa ransel besar.
"Hee, Tuan Muda memangnya kuat?" Aura malah menggoda Denis sambil tersenyum jahil.
"Apa mau aku menggendong dengan orang-orangnya sekalian." Jawab Denis langsung tidak ingin kalah dengan kata-kata Aura.
"Aku hanya bercanda jangan dianggap berlebihan." Aura memberikan tas bawaannya pada Denis.
"Jadi kamu bawa mobil sendiri ke kampus?" tanya Aura.
"Apa kamu mau naik mobil pribadi aja sampai ke tempat karyawisata nanti?" tanya Denis.
Aura menatap Denis heran, padahal ia hanya bertanya tadi. "Nggaklah, kan ada bisa yang sudah disediakan juga."
"Kay yang mengantarku."
Aura kemudian menoleh pada seorang pria yang tengah duduk di kursi sopir pagi itu. Melihat Tuan Mudanya membawa tas yang besar, Kay langsung keluar dari dalam mobil dan ingin mengambil alih pekerjaan itu.
"Tidak perlu Kay ini adalah pekerjaanku sendiri." Ujar Denis menolak bantuan Kay.
"Tapi Tuan Muda." Kay tidak ingin Denis melakukan pekerjaan yang berat.
"Aku merepotkan kalian berdua sepertinya, biar aku yang bawa sendiri barang bawaanku." Aura yang melihat kelakuan kedua orang itu, merasa iba hanya karena tasnya mereka saling meributkannya.
Denis kemudian berjalan membawa tas Aura memasukkannya ke dalam mobil tanpa memperdulikan Kay. Denis tidak ingin Kay ikut campur jika itu hubungannya dengan Aura.
Aura pun kemudian mengikuti Denis begitu juga dengan Kay.
Setelah sampai di depan kampus, Denis langsung menyuruh Kay kembali, sebenarnya ada banyak pekerjaan di kantor pusat kota hari ini. Tapi, Denis lebih memilih untuk pergi karyawisata bersama dengan Aura karena Denis tahu walaupun sibuk pekerjaannya tidaklah begitu berat.
__ADS_1
"Aku percayakan semuanya padamu Kay." Ucapan Denis itu langsung diterima oleh Kay tanpa penolakan sedikit pun.
.
.
.
Satu persatu bus yang menjemput mereka datang, semua mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di lapangan kampus.
Denis terus mengikuti Aura ke mana pun ia pergi bahkan sampai ketika di dalam bus juga ia duduk di samping Aura, dengan alasan teman kelompok. Tapi, memang semuanya duduk dengan kelompok masing-masing.
Aura tidak ada kesempatan untuk dekat dengan orang lain selama Denis ada di dekatnya. Waktunya ia habiskan untuk berbicara dengan Denis. Tapi, ia tidak mempermasalahkan hal itu karena saat ini mereka sedang membicarakan hal yang akan mereka teliti untuk tugas kuliah mereka.
Ternyata di depan tempat Aura duduk, ada Desta di sana mereka tetap dekat walaupun beda kelompok.
"Wah...Aura tidak terpisahkan ya dengan Denis." Desta menggoda Aura yang tidak menyadari ada sahabatnya yang tengah duduk di depannya dan sekarang menatap ke arahnya.
"Desta!" Aura senang karena akhirnya ada orang lain yang dapat diajak berbicara selain Denis.
"Memang benar." Aura memasang wajah sedihnya.
Biarpun tidak ada yang berani mengusik lagi hubungannya dengan Denis, tapi tetap saja ada beberapa orang yang menatapi Aura sehingga membuat Aura merasa tidak nyaman dibuatnya.
Mau mengeluh pada Denis pria itu akan membuat orang-orang yang membuat Aura merasa tidak nyaman menjadi ketakutan pada akhirnya.
Desta yang dipanggil teman kelompoknya kembali karena harus mendiskusikan penelitian mereka nanti meninggalkan Aura bersama dengan Denis lagi.
"Aku penasaran dengan apa yang sudah kamu lakukan dengan orang-orang yang menggangguku Denis, sampai-sampai tidak ada orang yang heboh dengan kedekatan kita lagi." Aura berucap pelan, entah mengapa ia tiba-tiba merasa penasaran dengan hal itu.
"Kamu tidak perlu tahu Aura." Hanya itu yang Denis ucapkan sembari tersenyum ke arah Aura.
Denis membuat orang-orang tidak berani lagi mengganggu Aura dengan caranya sendiri karena menggunakan kemampuannya dalam meretas tentu saja. Aura yang mendapatkan pesan ancaman membuat Denis melakukan hal yang sama, membuat pesan ancaman kepada mereka semua.
Mereka yang kebanyakan adalah anak orang kaya tentu saja ketakutan akan merusak nama baik keluarganya, terlebih bisa merusak hubungan keluarganya yang tengah berbisnis dengan perusahaan besar.
Tanpa membongkar identitasnya membalas ancaman dengan ancaman sudah cukup untuk membungkam mulut orang-orang yang mungkin tidak lebih baik dengan Aura.
__ADS_1
Sedangkan Aura ia larut dalam pikirannya sendiri sekarang, "Apa Denis menggunakan kekuasaannya untuk mengeluarkan orang-orang yang menggangguku?" pikir Aura. "Ah...tapi mereka masih ada kok di kampus dan belajar dengan baik, hanya saja sikap mereka seperti tidak pernah terjadi apa-apa." Aura terus membatin.
"Aura apa yang kamu pikirkan?" tanya Denis, karena melihat Aura melamun sedangkan seharusnya ia mempelajari bahan penelitiannya nanti.
"Ah...aku hanya terpikirkan oleh sesuatu yang tidak begitu penting." Ujar Aura langsung menatap Denis, sedikit gelagapan. "Kamu tidak perlu bertanya detailnya, aku memikirkan apa." Ucapan Aura membuat Denis menghentikan ucapannya yang sebenarnya ingin bertanya apa yang Aura pikirkan.
"Kota itu katanya dekat dengan laut. Bagaimana nanti kita berenang?" tanya Denis, ia pergi ke tempat itu setengahnya sepertinya untuk liburan buka belajar.
"Tapi aku tidak bisa berenang. Bagaimana jika nanti aku tenggelam?" Aura sudah mengkhayal yang tidak-tidak.
"Aku tidak akan membiarkanmu tenggelam Aura."
"Bagaimana jika hanya menikmati pemandangan pantai saja. Tidak berenang."
"Apapun itu aku suka asal bersama denganmu." Ujar Denis menyetujui saja keinginan Aura.
"Oke, tapi kita harus selesaikan dulu tugas kuliah kita." Ucap Aura karena tujuan utamanya ke tempat itu adalah melakukan tugas kuliah.
"Kamu tenang saja, teman kelompokmu itu adalah aku. Itu bukanlah hal yang sulit." Denis meyakinkan Aura.
"Tetap saja aku juga perlu belajar biar mengerti. Ikut denganmu terus, aku akan jadi bodoh nantinya." Aura protes tidak ingin melakukan apa yang Denis minta.
"Aku akan mengajarimu sampai pintar. Nanti kita buat laporannya bersama, aku akan menjelaskannya padamu jika kau tidak paham." Denis berkata dengan entengnya.
"Apa kamu sudah menemukan topik apa yang akan kita pelajari?"
"Aku sudah memikirkannya dari jauh hari, jadi kamu tidak perlu khawatir."
Aura tidak bisa memahami, entah otak apa yang sudah digunakan oleh Denis. Jika disandingkan dengan dosen mungkin Denis adalah salah satu orang yang lebih pintar dari dosen itu sendiri.
"Hebat..."
Tidak ada kata takjub lain yang bisa Aura ucapkan terhadap kepintaran Denis yang di atas rata-rata itu.
"Akukan memang jenius." Denis membanggakan dirinya lagi. Sudah lama Aura tidak melihat Denis yang bersikap narsis begitu. Membuat Aura tertawa karenanya.
Akhirnya setelah setengah hari perjalanan mereka sampai di kota seberang. Kota yang dipenuhi dengan teknologi canggih. Kota yang akan menjadi pusat pembelajaran mereka selama seminggu ke depan.
__ADS_1