
Waktu liburan telah usai, Denis banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Aura selama sisa liburannya. Meskipun Denis terkadang punya kesibukan karena pekerjaannya tetapi ia tetap berusaha bisa dekat dengan Aura.
"Rasanya aku akan membuat kantor baru di dekat sini."
Ketika Aura teringat dengan kata-kata Denis itu ia tersenyum, sampai seperti itu Denis terhadapnya. Denis mengatakan hal itu, saat ia baru kembali dari kota E ke rumah Aura. Bahkan saat sampai di kosannya kembali di kota E tetap Denis yang telah mengantarnya ke sana.
"Ini hpmu aku kembalikan Aura, jangan meninggalkannya lagi itu benar-benar milikmu sekarang." Ujar Denis menyerahkan ponsel yang sebelumnya sudah Aura tinggalkan di kamar sewanya.
Aura menerimanya sambil menatapi ponsel itu, "Jangan kau tinggalkan lagi hpnya. Aku akan buang hp lamamu nanti." Aura tersenyum sembari mengangguk setelahnya.
Namun, pemuda itu sekarang sedang tidak berada di sisi Aura lagi, karena terlalu sibuk.
.
.
.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Tuan?" tanya Kay yang sedari tadi memperhatikan wajah Denis yang bekerja sangat dalam keadaan tidak bersemangat sama sekali.
"Aku hanya berpikir untuk bisa tidak bekerja seperti ini lagi, agar memiliki waktu luang yang banyak." Jawab Denis sambil terus bekerja.
"Tuan Muda tidak bisa melakukan hal itu, Tuan Muda adalah otak dari perusahaan ini." Ujar Kay mengingatkan Denis, pria itu hanya bisa menghela nafasnya sekarang berusaha mengerti dengan posisinya. Lagi pula jika dia punya segalanya Denis bisa dengan mudah membahagiakan Aura dan melindunginya dari segala macam bahaya.
Walaupun saat ini Denis sedang memikirkan banyak hal tapi, tangannya dan matanya masih fokus untuk memperhatikan komputer seolah-olah pikirannya saat ini bisa dibagi menjadi dua.
.
.
.
Semester baru telah dimulai, tetapi pada hari awal semester baru ini Aura tidak ditemani oleh Denis.
"Aura!" sapa Desta datang menghampiri sahabatnya itu, mereka tidak ada berhubungan selama waktu liburan semester genap.
Aura menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing untuk Aura. "Hai Des!" sapa Aura balik sambil merangkul satu sama lain dengan sahabatnya itu.
"Katanya kamu sempat hilang Aura, aku pun sampai menghubungimu kamu tidak menjawab juga nomormu tidak aktif." Desta langsung mengintrogasi Aura menatap matanya. Aura tidak mau menatap mata Desta saat itu. "Apa yang sebenarnya terjadi Aura, selama kita liburan?" tanya Desta langsung.
"Itu sebenarnya cuma salah paham kok, aku sedang liburan ke gunung. Di sana benar-benar tidak ada sinyal internet atau telpon sama sekali." Aura menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi kenapa kau tidak membalas pesanku sama sekali setelah itu?" tanya Desta dengan tampang horornya.
"Ah itu, aku ganti nomor hp. Nomor hpku itu aktif, cuma aku tidak mengaktifkannya memang selama liburan." Jelas Aura, bahkan ketika Denis mengiriminya pesan, Denis sudah tahu nomor ponsel barunya karena orang tua Aura yang memberikannya. Bahkan Aura sampai tidak ingin bertanya lagi bagaimana Denis bisa tahu keluarga dan tempat tinggal Aura.
"Aura..." Nada suram suara Desta membuat Aura merasa mengecil dibuatnya.
"Maafkan aku dong, jangan marah." Aura menangkupkan telapak tangannya memohon maaf pada Desta sahabatnya.
"Sudahlah tidak apa-apa Aura, intinya kamu sudah baik-baik saja." Desta merangkul Aura akrab dan kemudian menuju kelas mereka tapi papan pengumuman di depan kelas ada hal yang tampak berbeda, ada pengumuman baru.
Setelah membaca papan pengumuman di dinding Aura terdiam beberapa saat, tidak ada namanya di sana. Ada perputaran acak kembali untuk kelas Aura dan dia dipindahkan.
"Aku dipindahkan ke mana?" batin Aura ia merasa bingung.
"Aku tetap di kelas ini." Desta berucap di samping Aura yang tengah tersenyum kebingungan.
"Aku sepertinya harus pindah." Gumam Aura kemudian mencari namanya. Di kelas berikutnya. Di bagian Fakultas ini ada 5 kelas yang berbeda, Aura tidak berharap jika ia berasa di kelas tertinggi jadi ia memeriksa kelas di bawahnya.
.
.
.
"Untung saja Aura memang pantas mendapatkan hadiah itu, dia bukan gadis yang bisa diremehkan. Karena dia cukup pintar." Denis diam-diam memuji Aura.
.
.
.
Akhirnya Aura memasang ekspresi jengkelnya juga, ia tahu sekarang dia akan di tempatkan di kelas mana. Kemudian Aura berjalan ke arah kelas unggulan dan benar saja namanya ada di antara salah satu murid di kelas itu.
"Benar-benar..." Pikir Aura ia merasa jengkel, dan ia mengambil ponselnya dari sakunya.
Tiing!
Tepat saat Aura menyalakan ponselnya, sebuah pesan masuk dan berbunyi.
'Bagaimana, kita memang jodohkan sekarang?'
__ADS_1
Pesan Denis yang membuat Aura tersenyum tidak senang.
Kemudian Aura yang kesal memilih untuk menelpon Denis, ia menjauh dari depan kelas itu.
"Wah...tumben sekali Aura menelponku duluan." Denis mengangkat telpon dari Aura langsung meskipun dia sangat sibuk.
"Apa maksudmu ini Denis, sepandainya aku, aku juga belum pantas masuk di kelasmu." Ujar Aura dengan suara dinginnya.
"Tidak kok, nilaimu itu berhasil mencapai 5 besar di kelasmu dan 5 besar itu semuanya pindah ke kelas unggulan dan salah satunya itu kamu. Jika kamu tidak percaya padaku, cek saja nama-namanya." Denis benar dan Aura tidak bisa berkutik lagi setelahnya.
"Jadi bukan salahku, kan? Aku tidak tahu apa-apa soalnya Aura kan pintar, semenjak belajar denganku." Ujar Denis ia membanggakan dirinya sendiri juga pada akhirnya.
"Baiklah aku matikan." Aura menarik nafasnya pasrah.
Di kelas inilah ada begitu banyak orang yang tidak menyukai Aura karena kedekatannya dengan Denis. Akibat gugup Aura tidak berani masuk ke dalam kelas itu sebelum jam pelajarannya dimulai. Mau ke kelasnya sebelumnya Aura merasa tidak nyaman juga meskipun ada Desta di sana.
.
.
.
Akhirnya Aura masuk di kelas unggulan untuk pertama kalinya. Sungguh banyak hawa yang berbeda, itu adalah yang Aura rasakan. Orang-orang elite dan berbeda dengan dirinya sangat terasa kontras. Aura bahkan hanya berani duduk di dekat pintu keluar karena merasa tidak begitu nyaman berada di kelas itu, tidak terbiasa. Beruntungnya orang-orang di kelas itu tidak banyak yang masuk karena ada banyak kesibukkan anak orang kaya, jadi mereka bebas untuk berkuliah kapan saja seperti halnya Denis.
Saat jam kuliah berakhir Aura langsung buru-buru keluar, ia merasa tidak aman karena tidak ada Denis di sana.
.
.
.
Sampai akhirnya jam pelajaran berakhir sore itu.
"Wah rupanya ini cewek yang membuat Denis berhenti bergaul dengan kita." Salah satu pria tiba-tiba muncul di jalanan yang sunyi dan begitu juga dua orang pria lainnya yang semuanya sebelumnya adalah orang-orang yang bergaul dengan Denis.
Aura merasa ketakutan karena terkepung. "Bagusnya apa yang harus kita lakukan pada gadis ini?" tanya mereka sambil tertawa.
"Dia cukup manis, sepertinya akan bagus jika kita bersenang-senang dengannya."
Aura saat itu hanya bisa terdiam memikirkan cara lari, saat ini dia terkepung dan tidak ada orang yang bisa dimintai tolong di sekitarannya karena jarang ada orang lewat.
__ADS_1