
Denis mengantar Aura pulang pagi hari itu, mereka sampai di rumah Aura setelah agak siangan.
"Masuk Denis."
Kedatangan Denis disambut baik oleh keluarga Aura terutama ayah dan ibu Aura.
"Kakak!" Aril yang baru saja pulang dari acara sekolahnya langsung menghampiri Aura dan memeluknya.
"Kakak tega kembali tidak menghubungiku dan malah langsung pergi lagi." Aril menggelayuti Aura.
"Sudahlah, aku 'kan sudah pulang sekarang." Aura mengusap-usap kepala adiknya yang manja itu. Denis menatapinya, cemburu. Ia juga ingin Aura memperlakukannya seperti itu.
"Aura...Aura, aku juga mau kau perlakukan seperti Aril adikmu." Bisik Denis saat duduk di samping Aura.
Aura mendelik menatapi Denis. Sehingga Denis memasang wajah cemberutnya. "Tidak mau, karena kita belum menikah." Ujar Aura ia tidak ingin lagi berhubungan seperti berpacaran, karena menurut Aura itu mengesalkan.
"Ayo kita menikah besok." Denis langsung mengajak Aura dengan santainya.
"Kau kira mengurus soal pernikahan itu sebentar." Ujar Aura bersandar di kursi.
"Bisa, aku bisa melakukan semuanya dengan cepat." Denis berucap sungguh-sungguh, sesaat tadi Aura melupakan siapa Denis.
"Ah, tapi aku ingin semua urusan itu kita lakukan mandiri agar ada kenang-kenangannya." Aura berucap senang.
"Jadi agak lama. Tapi, aku setuju, apa lagi jika melakukannya bersama denganmu." Ujar Denis membayangkan. Denis tidak menolaknya karena ia juga ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama dengan Aura.
.
.
.
Siang itu Denis menemani Aura membeli bahan belanjaan untuk makan siang.
Pasar tradisional yang tidak jauh dari rumah tempat Aura tinggal, 10 menit ketika berkendara menaiki motor ke sana. Pasar itu tidak begitu bagus ketika hujan turun ada saja tempat-tempat yang terlihat berlumpur dan becek. Dan ini adalah pengalaman pertama Denis memijakkan kakinya di tempat seperti ini.
"Jika ada tempat yang lebih bagus untuk berbelanja di sekitar sini. Aku akan membawa Aura ke sana meskipun harganya 10 kali lipat lebih mahal." Batin Denis ia merasa kesal tapi berusaha memaksakan dirinya. Di daerah tempat tinggal Aura pasar modern tidak ada sama sekali.
__ADS_1
"Kau yakin ingin pergi ke pasar?" Aura berjalan meninggalkan parkiran, melihat wajah Denis yang tidak yakin sama sekali.
"Ya-yakin." Bahkan berkata pun ia gugup, Aura hanya bisa menghela nafasnya.
"Aku tidak ingin kemari lagi." Pikir Denis, ia menatap punggung Aura yang berjalan di depannya. Jika bukan karena menjaga gadis itu ia tidak akan pernah memijakkan kakinya di tempat-tempat seperti ini.
"Jika kau bersamaku setidaknya kau harus terbiasa dengan kehidupan orang-orang kampung. Jangan aku saja yang kau biasakan dengan kehidupanmu." Pikir Aura terus berjalan mencari bahan-bahan yang ia ingin cari.
Aura berkeliling mencari bahan-bahan masakan untuk makan siang mereka nanti.
"Dari tadi kau memasang ekspresi tidak nyaman terus Denis, jika kau tidak ingin memakan makanan dari tempat ini. Kau bisa makan di restoran terdekat."
"Aku ingin makan masakan Aura." Ucapan Denis sangat yakin jika itu adalah hal yang menyangkut dengan Aura.
Gadis itu tadinya ingin pergi seorang diri, tapi Denis malah bersikeras untuk tetap mengantarnya. Sekalian saja Aura mengerjainya.
"Kau yakin? Aku tidak akan tanggung jawab jika kau jatuh sakit lagi karena tidak terbiasa memakan makanan yang seadanya."
"Aku tidak selemah itu." Denis tidak ingin diremehkan sama sekali. Ia sakit kemarin bukan karena makan-makanan sembarangan, walaupun sepertinya itu penyebab utamanya. Tapi, juga karena kelelahan akibat banyak pikiran yang membuat Denis langsung tumbang.
"Tidak lemah, padahal baru saja habis sakit." Batin Aura membeli bahan terakhir untuk dimasak nanti.
"Udah selesai Denis." Aura menatap wajah Denis yang mulai terlihat pucat.
"Kau benar-benar tidak apa-apa?" Aura khawatir pada Denis. "Kita pulang sekarang, jika kau seperti ini sebaiknya aku saja yang memboncengmu pulang." Ujar Aura langsung menarik tangan Denis refleks. Ia tidak ingin melihat Denis sakit karena dirinya lagi.
"Denis mungkin punya tenaga yang kuat, tapi ketahanan metabolisme di bawah 50 persen." Pikir Aura tidak tahu orang seperti apa Denis. Saat di kampus ketika latihan bela diri Denis pernah menumbangkan beberapa orang sekaligus saat melawan dirinya. Membuat heboh para wanita yang berada di kampus itu.
"Apa yang terjadi jika wanita-wanita itu melihat Denis yang lemah seperti ini." Pikir Aura larut dalam lamunannya sendiri. "Biar aku saja yang tahu kelemahan Denis." Aura senang karena tahu hal itu tidak semua orang.
"Biar aku yang bonceng." Denis sudah tampak baik-baik saja ketika keluar dari pasar yang menurutnya sangat pengap.
"Hee...kau yakin?" tanya Aura.
"Aku sudah baik-baik saja kok. Aku tidak akan membiarkan wanita membawa motornya sendiri ketika ada lelaki di sisinya,"
"Ternyata Denis masih punya kelemahan juga, ya." Aura terkekeh.
__ADS_1
"Jangan mengejekku Aura." Gumam Denis.
"Baiklah, baiklah. Denis yang terhebat." Aura memuji Denis sambil tertawa.
"Senang sekali melihatku menderita." Ucap Denis berpura-pura sedih.
"Tidaklah, jika aku senang melihatmu menderita, aku pasti akan tinggalkan kamu di tengah pasar tadi." Ujar Aura. "Jangan sakit lagi." Aura melanjutkan kata-katanya.
"Jika kamu tidak ingin melihatku sakit ke depannya, jangan datang ke tempat seperti itu lagi." Ucap Denis fokus menyetir motor milik keluarga Aura.
"Aku tidak bisa janji sih. Aku tidak selemah dirimu." Ujar Aura mengejek Denis lagi.
"Hee, kau anggap aku lemah?" Denis merasa tertantang. "Kau tidak akan tahu sekuat apa aku di atas ranjang."
Ctak!
Aura langsung menjitak kepala Denis, "Jangan bicara macam-macam ya, seolah-olah sudah sangat berpengalaman." Ujar Aura kesal.
"Lagi pula 'kan aku tidak mungkin melawanmu di atas ring tinju." Ucap Denis santai mengelus kepalanya.
"Aku akan lari ke pasar jika kau yang mengajakku berkelahi." Ucap Aura asal-asalan.
"Aku akan menangkapmu sebelum sampai ke sana." Denis malah menggoda Aura.
"Ya, ya, ya. Aku kalah dengan Denis yang hebat." Ujar Aura meninggikan Denis, pria itu senang karena dipuji akhirnya.
Setelah percakapan akrab mereka di motor mereka sampai juga di depan rumah Aura. Setelah kelewatan beberapa waktu lalu, karena Denis yang terlalu menikmati kebersamaannya dengan Aura.
"Bisa-bisanya kelewatan rumahku." Protes Aura naik ke kaki lima rumahnya.
"Ya 'kan aku tidak fokus..." Denis menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal setelah ia melepas helmnya.
Aura kemudian terlihat memperhatikan Denis dari ujung kepala dan ujung kakinya. "Ada apa?" tanya Denis heran.
"Tidak, aku hanya mengecek apa kamu baik-baik saja. Sepertinya aku tidak perlu khawatir." Ujar Aura meninggalkan Denis masuk ke dalam rumahnya.
"Kakak! Ayo main game." Aril langsung mendatangi Denis saat itu.
__ADS_1
"Sejak kapan mereka berdua akrab? Sepertinya aku kelewatan banyak hal ketika menghilang 1 bulan yang lalu." Pikir Aura terus berjalan ke arah dapur ia senang karena kedua orang itu sudah akrab seperti yang Aura harapkan tanpa harus Aura mengakrabkan mereka.