
"Mau pergi ke tempat tinggalku, kita lihat kucing yang tinggal di sana?" tanya Denis.
"Aku suka kucing, tapi ada kucing garong yang lebih besar di sana yang tinggal, tidak mau kalau cuma berdua." Ucap Aura menolak.
"Heh, aku bukan kucing garong. Tapi, kalau kamu ke tempat tinggalku aku mungkin akan berpikir tidak mau kau pulang." Denis jujur dengan perasaannya.
"Tukan, aku jadi tidak mau pergi ke rumahmu jika hanya berdua saja." Ujar Aura memasang wajah datar.
"Jadi jika ada teman kamu mau, tapi tidak seru."
"Kalau hanya berdua, pikiranmu itu aneh-aneh. Tidak bisa."
Akhirnya Aura diantar pulang oleh Denis.
Hari ini Aura mengetahui dia Denis yang sebenarnya, meskipun kaya Denis tidak mendapatkan kebahagiaan seperti orang-orang pada umumnya.
Denis Adra, adalah seorang CEO muda pengganti kedua orang tuanya yang telah tiada. Dalam sebuah kecelakaan dahsyat. Ia adalah seorang pria yang jenius daripada anak-anak seumurannya. Di umur yang masih muda ia sudah berhasil menjadi seorang hacker yang handal bahkan sangat ahli dalam bidang pemrograman komputer seperti dalam bidang usahanya.
Melalui keahlian itu keluarganya bisa menguasai juga berbagai sektor bisnis yang ada dibeberapa belahan dunia. Setiap hari Denis selalu diajarkan tentang dunia yang akan diwarisnya itu. Sehingga ia pada akhirnya merasa kurang menikmati masa mudanya. Ditambah dengan kurangnya kasih sayang dari orang tuanya juga, belum lagi ia pernah patah hati pada tunangannya yang ia harapkan berada di sampingnya di saat terpuruk seperti itu, walaupun ketika itu ia masih muda. Ia pernah menjalin hubungan serius dengan seorang gadis muda.
Seorang gadis konglomerat yang cantik, gadis itu memutuskan hubungannya setelah perusahaan keluarga Adra terancam bangkrut karena kematian pemilik perusahaan itu. Denis yang masih muda mengambil alih segalanya secara mendadak, dan ia pun berhasil menstabilkan perusahaannya kembali karena kejeniusannya dan bahkan menguasai berbagai sektor yang lebih lagi daripada mendiang orang tuanya. Ia menjadi seorang pemuda yang sangat kaya raya bahkan di umurnya yang masih sangat muda karena waktu itu seharusnya dia baru menginjak SMA.
Namun yang harus ia bayar adalah ia tidak bisa menikmati masa mudanya dan sebagai ganti dari masa mudanya yang terbuang sia-sia, ia pun memutuskan untuk mengambil kuliah untuk bisa berinteraksi dengan orang lain dan tentu saja untuk bersenang-senang juga.
.
.
.
Aura kemudian menghela nafas, seharusnya dia mengetahui Denis itu memang disegani sedari awal, tapi karena ketidakpeduliannya ia akhirnya berakhir seperti sekarang.
Di perjalanan pulang tadi Denis bercerita tentang dirinya sebelum bertemu Aura, ia adalah pria yang angkuh dan sombong. Tidak ada yang berani macam-macam padanya. Meskipun ia tidak menunjukkan siapa dia sebenarnya dan bahkan tidak ada yang tahu ia adalah CEO perusahaan teknologi terkenal di negara ini. Tapi hanya dengan sedikit kekuasaan orang-orang sudah tidak berani macam-macam terhadapnya.
Sebelumnya Denis biasanya hanya mengambil mata kuliah beberapa kali dalam seminggu karena ia juga cukup sibuk dalam pekerjaannya. Dan terkadang hal itu juga membuatnya banyak menghabiskan waktu di perpustakaan yang alih-alih membaca buku, tapi aslinya sebenarnya untuk bekerja juga. Atau setelah di waktu senggang kuliah dia pergi bersenang-senang dengan wanita.
Setelah perusahaannya benar-benar stabil dan ia bisa mempercayakannya kepada bawahannya, tentu saja itu adalah orang yang sangat di percayanya lebih daripada siapapun seorang tangan kanan Denis, seorang yang berada di sisinya meskipun pernah berada disituasi paling sulit.
Denis akhirnya mulai bisa menikmati masa kuliahnya secara normal pada semester kedua kuliahnya. Dan tepat di awal-awal semester baru itu juga ia tidak sengaja bertabrakan dengan Aura. Dan itu pun mulai merubah segalanya tentang Denis. Terlebih seorang gadis yang tidak tahu ia sama sekali, bahkan hanya sekedar seorang yang disegani di Universitasnya.
__ADS_1
Harusnya Aura tahu itu juga, tapi Aura adalah pribadi yang sangat-sangat tidak perduli ketika awal ia berkuliah, entah itu merupakan kesalahan terbesarnya atau bukan. Karena jika Aura tahu semuanya dari awal ia tidak akan pernah mau berurusan dengan Denis dan pastinya ceritanya tidak akan seperti sekarang.
.
.
.
"Tidak ada gunanya untuk memikirkan hal yang sudah terjadi. Karena aku tidak tahu dia, kejadiannya malah seperti sekarang." Aura bergumam, kemudian melanjutkan pekerjaannya di kamar sewanya. Ia sekarang sedang makan malamnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Siapa!" teriak Aura dari dalam.
"Ini Desta Aura." Sahutnya dari luar.
"Bentar! Bentar!" Aura langsung berlari ke arah pintu.
Aura membuka pintu dan tersenyum cerah. Tapi kemudian senyum itu tiba-tiba hilang ketika melihat seseorang yang berada di belakang Desta. Itu Denis.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Aura berbisik pada Desta.
"Gak tau, dia sudah ada di depan emang."
"Astaga." Aura menepuk jidatnya menatap Denis.
"Kenapa ke sini bukannya sudah tadi sore." Ujar Aura akhirnya menyuruhnya masuk.
"Inikan malam minggu." Denis duduk di kursi ruangan itu santai.
Denis tadi sebenarnya hanya kebetulan lewat di dekat sini, karena melihat ada tamu yang singgah di sini sekalian Denis ikut juga.
Desta tidak tahu harus berbuat apa kemudian ia masuk ke kamar tidur Aura dan melakukan kegiatannya sendiri di sana. Malam ini ia berencana menginap di tempat Aura. Sambil mengerjakan tugas kuliahnya.
"Ternyata kamu suka keluyuran ya?" Aura duduk di samping Denis.
__ADS_1
"Rumahkukan sepi." Denis berucap membuang wajahnya ke arah lain. Aura hanya menghela nafasnya mencoba mengerti.
"Intinya kamu tidak bermain wanita lagi." Aura memperingatkan Denis.
"Gaklah, wanitaku itukan kamu." Ucap Denis menatap Aura.
"Kamu gak mau jalan?" tanya Denis.
"Tadikan sudah jalan ya, jadi aku mau istirahat aja malam ini." Denis dan Aura mulai berbicara santai.
"Baiklah, habis dari sini aku langsung pulang deh. Aku jalannya nanti sama kamu aja." Ujar Denis. Aura terkekeh melihat Denis, pria itu di mata Aura terlihat seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta dengan tulus.
"Kenapa tertawa?" tanya Denis.
"Kamu lucu." Ucap Aura masih tersenyum. Denis mendekat ke Aura.
"Heh mau ngapain?" Aura langsung menahannya.
"Ah, rasanya aku melamarmu secepatnya. Aku mau memelukmu Aura." Denis frustasi karena masih harus menahan keinginannya.
Aura hanya diam saja, perasaan tidak yakinnya terhadap Denis itu masih ada. Aura masih takut jika Denis hanya mempermainkannya saja bahkan setelah menikah, lagi pula Aura masih merasa terlalu muda dan pemikirannya belum matang untuk membangun rumah tangga, ia baru berusia 21 tahun beberapa waktu yang lalu.
"Kutunggu sampai siap, aku tidak akan memaksamu kecuali kalau memang terpaksa." Ujar Denis.
"Hah terpaksa yang bagaimana?" Aura bingung.
"Aku akan langsung menikahimu kalau kamu mencoba jatuh cinta pada pria lain."
"Hahahaha," Aura tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Denis.
"Kalau disandingkan dengan pria lainnya tidak akan ada yang bisa menyaingimu kok. Jadi... Seharusnya aku tidak akan mudah jatuh cinta dengan pria lain saat ini, karena kehadiranmu. Aku hanya masih belum siap menikah cepat, aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi." Aura menjelaskan semuanya pada Denis.
.
.
.
"Sudah jam segini aku pulang dulu ya. Kalau lebih dari ini aku bisa-bisa gak akan pulang pagi." Denis pamit undur diri. Saat itu sekitaran jam 10 malam.
__ADS_1
Aura yang melupakan Desta yang berdiam di kamarnya telah menemukan wanita itu tertidur pulas di depan laptopnya.
"Desta maafkan aku, aku hampir melupakanmu." Aura merasa bersalah, melihat sahabatnya yang tampak setengah sadar itu ketika mendengar langkah kaki ke arahnya.