
Perjalanan karyawisata telah berakhir, tidak ada gangguan yang berarti karena semua orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing tidak luput juga dengan Aura dan Denis. Mereka akhirnya sibuk menyelesaikan tugas mereka berdua.
Para Mahasiswa dan Mahasiswi pulang kelelahan, lalu setelah itu langsung mempersiapkan Ulangan Akhir Semester mereka. Aura dan Denis jadi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing selama minggu-minggu terakhir. Dan hanya bersama ketika di jam makan siang dan ketika di perpustakaan sambil mengerjakan tugas di sana.
.
.
.
Setelah melewati minggu-minggu yang sibuk, Ujian Akhir Semester telah berakhir dan memasuki waktu liburan.
"Aku harus berterima kasih padanya karena sudah membantuku dapat nilai yang baik." Gumam Aura senang.
Saat itu Aura yang akan mendatangi Denis dengan wajah senangnya, tidak sengaja melihat pipi Denis dicium oleh Viola tepat di depan matanya dan setelahnya Denis terlihat di gandeng oleh Viola, Denis yang melihat Aura yang menatapnya diam langsung mematung. Kemudian Aura berbalik pergi tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku gak boleh menoleh ke belakang." Batin Aura ia langsung pergi pulang setelah itu. Tapi, Denis tidak mendatanginya juga seperti yang ia harapkan.
"Mungkin dia sudah balikan dengan mantannya." Gumam Aura tampak bersedih. "Yos! Aku gak boleh sedih lagi, toh sadar diri Aura." Aura menepuk pipinya sampai pipinya memerah. Aura hanya gadis biasa yang warna kulitnya cukup putih, tapi biasa saja. Jika disandingkan dengan warna kulit Denis, Denis tentu saja lebih putih daripada Aura.
Aura kemudian memutuskan untuk pergi menenangkan diri 1 bulan ke depan. Ia tidak ingin bertemu dengan Denis untuk sementara waktu, bahkan hanya sekedar memikirkan untuk Denis mencarinya.
Aura benar-benar merasa kecewa dan merasa dipermainkan. Setelah itu Aura pun menghilang.
...----------------...
Keesokan harinya, siang itu Denis datang ke tempat tinggal Aura dan mengetuk pintunya tapi tidak ada yang menjawab sama sekali.
"Maaf Nak, Auranya tadi pagi-pagi sekali sudah pergi." Ujar ibu-ibu pemilik tempat itu menghampiri Denis.
"Apa Aura bilang dia pergi ke mana?" tanya Denis sopan.
"Tidak Nak."
Kemudian Denis merogoh sakunya dan menelpon Aura tapi nomornya ternyata tidak aktif. Ia sudah menghubungi Aura dari kemarin tapi karena tiba-tiba ada kesibukkan Denis tidak bisa langsung menemui Aura.
"Ke mana perginya dia?" pikir Denis bingung, seketika Denis teringat kejadian kemarin.
"Bi, apakah Aura ada menitipkan sesuatu pada Bibi?" tanya Denis.
"Ada kunci kamarnya." Ibu itu menjawab santai.
__ADS_1
"Boleh saya pinjam kunci kamarnya, soalnya ada benda yang saya harus ambil." Denis beralasan.
Ibu itu berpikir sebentar, dan kemudian memberikan kunci kamar Aura setelahnya. Ibu itu percaya pada Denis, karena memang sudah sering melihat Aura bersamanya.
"Kebetulan Aura memang sudah berpesan untuk memberikan kunci ini padamu, Nak." Ibu itu kemudian pergi setelah Denis mengucapkan terima kasih.
Denis langsung masuk ke dalam kamar Aura dan memperhatikan sekitarnya. Ia melihat satu ponsel milik Aura yang merupakan pemberian dari dirinya diletakkan dengan rapi di atas meja.
Di bawah ponsel itu ada secarik kertas yang Aura tinggalkan.
'Ambil barangmu kembali!'
Itu adalah pesan yang Aura tinggalkan untuk Denis, Denis sadar gadis itu sedang kesal padanya dan kali ini ia menghilang entah ke mana.
"Kau pikir aku tidak akan bisa menemukanmu Aura." Gumam Denis meremehkan cara pelarian Aura.
.
.
.
Orang tua Aura bingung karena ada pria menggunakan mobil mewah parkir di halaman rumah mereka dan naik dengan santainya ke rumah mereka. Ayah dan ibu Aura terbengong melihat kejadian itu.
"Permisi Bu, ini rumahnya Aura, kan?" Denis berbicara santai setelah menyalami kedua orang tua itu.
"Be-benar. Kamu siapa ya, Nak?" tanya ibu Aura sopan sekaligus bingung.
"Ah...maaf Bu sepertinya Aura belum memberitahunya ya, nama saya Denis Adra." Denis berbicara sedikit canggung tapi tidak ada malu sedikit pun dalam pembicaraannya.
"Pacarnya?" tanya ayah Aura tiba-tiba.
"Lebih tepatnya calon suaminya." Ujar Denis dengan santainya. Membuat kedua orang tua itu terperangah kaget. Aril yang baru saja keluar rumah dengan memegang ponselnya langsung menjatuhkan benda itu karena kaget kakak tercintanya sudah punya calon suami diam-diam.
Setelah melihat siapa yang telah berkata seperti itu, Aril langsung memasang wajah tidak bersahabatnya. Ia tidak percaya dengan Denis sama sekali.
"Kamu tidak mempermainkan kakakku, kan?" Aril langsung bertanya sewot.
"Oh adik Aura, Aril. Senang bertemu denganmu." Denis tersenyum ramah.
"Kalian sudah saling kenal rupanya." Ibu Aura tidak menyangka.
__ADS_1
"Jawab pertanyaanku?" Aril kesal melihat ekspresi Denis yang seperti itu.
"Jika aku hanya main-main dengan Aura, aku tidak akan sampai datang kemari." Denis masih tersenyum ramah, membuat Aril terdiam karena yang dikatakan oleh Denis benar.
"Oh iya, Auranya ada di rumah?" tanya Denis akhirnya menanyakan tujuan sebenarnya.
"Aura katanya sedang pergi berlibur, tapi dia tidak menyebutkan ke mana dia pergi." Ibu Aura menjelaskan. Aura sempat minta izin sebelum pergi. Denis terdiam, memikirkan bagaimana caranya ia menemukan gadis yang ternyata tidak pulang ke rumahnya sama sekali.
"Apa Aura tidak memberitahumu ke mana dia pergi?" tanya Ayah Aura dan Denis menggeleng.
"Kau apakan kakakku hah?! Dia sampai marah seperti itu berarti kau sudah keterlaluan padanya." Aril yang kesal memegang kerah baju Denis kencang, karena ia sangat mengenal Aura. Aura ketika marah biasanya diam saja.
"Stop! Stop! Dengarkan dulu penjelasan Nak Denis." Ibu Aura melerai keributan itu.
"Sejujurnya sebenarnya Aura sedikit salah paham pada saya, jadinya dia marah." Ucap Denis tertunduk merasa bersalah.
"Haaa~sebaiknya kau hubungi kakakmu itu." Ujar ibu Aura berusaha mengerti.
Namun, orang yang dihubungi nomornya tidak aktif.
"Anak itu, ke mana perginya." Ayah Aura tampak kesal.
"Pak, jangan marahi Aura ya. Soal Aura biar saya yang cari nanti." Ujar Denis menenangkan ayah Aura.
"Jadi apa tujuanmu kemari?" tanya Ayah Aura pada akhirnya.
"Saya berniat melamar Aura Pak, Bu. Soalnya dijelaskan bagaimanapun Aura tidak pernah mau percaya dengan kata-kata saya. Jadi, jalan ini yang lebih baik agar Aura percaya." Jelas Denis. Ayah, ibu, dan Aril terkejut mendengar pernyataan Denis itu mereka juga tidak percaya.
"Maafkan saya Pak, Bu, dan Aril tidak bisa membawa keluarga besar karena saya sudah tidak punya orang tua. Tapi, jika soal tanggung jawab saya sudah siap lahir batin untuk menanggung Aura hidup bersama dengan saya." Denis berucap dengan sungguh-sungguh.
Orang tua Aura yang mendengar penjelasan itu merasa iba. orang tua Aura, merupakan orang tua yang terkesan sangat sopan ketika ada orang yang berkunjung ke rumah mereka seperti ini. Terlebih ketika mengetahui pemuda itu adalah anak sebatang kara.
"Tapi, orang yang kamu cari tidak ada di rumah, Nak." Ujar ibu Aura.
"Intinya saya sudah menyampaikan niat saya kemari dan Aura tentu saja juga pasti tahu akan hal itu." Denis berucap sangat yakin, ia tidak peduli lagi Aura menyetujui tindakannya atau tidak.
Akhirnya karena hari sudah sore, Denis disuruh menginap di rumah Aura dan orang tua Aura menyuruh Denis menempati kamar Aura selama ia bermalam di sana. Kamar yang cukup rapi karena sudah lama tidak di tempati orangnya.
Rumah sederhana yang bagi Denis itu adalah tempat nyaman karena tidur di tempat orang yang saat ini ia rindukan karena menghilang.
Denis berusaha menyuruh orang-orangnya untuk menemukan Aura. Dan di sini ia akan menenangkan diri karena perasaan tidak nyaman akibat hilangnya Aura itu sambil berusaha menjadi lebih dekat lagi dengan keluarga Aura.
__ADS_1