Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 20 – Klinik


__ADS_3

Di kampus ini disediakan fasilitas klinik yang langsung ditangani oleh seorang dokter ahli dengan beberapa asistennya. Dan Aura sedang berada di sana sekarang, ia tidak pernah ke sini sebelumnya, ini pertama kalinya Aura jatuh sakit selama kuliah. Dan juga letak kliniknya yang cukup jauh dari fakultas Aura. Klinik ini pun terasa seperti rumah sakit karena sangking spesialnya.


Denis membantu Aura duduk di ranjang klinik Universitas, seorang dokter wanita yang sedang bertugas di sana datang dan langsung memeriksa Aura. Kebetulan klinik itu sepi pengunjung hari ini lebih kepada tidak ada orang yang pergi ke sana.


"Siapa lagi gadis yang kau bawa ini Denis, apakah pacar barumu?" Dokter itu bertanya pada Denis sambil menatap Aura yang sedang membaringkan dirinya sendiri di ranjang.


"Aku bukan pacarnya, aku temannya." Aura langsung menyela ucapan dokter itu, ia ternyata mendengar ucapan dokter wanita itu barusan.


"Tumben sekali Denis mau membawa seorang wanita yang bukan pacarnya." Dokter itu tertawa menatap Denis.


"Memang, jika Denis membawa orang ke sini harus jadi pacarnya dulu. Gak juga harus begitu, kan." Batin Aura jengkel sendiri.


Pada kenyataannya seluruh gadis yang Denis bawa ke sini mengaku adalah pacarnya Denis. Aura ia merasa tidak bangga sama sekali menjadi pacar seorang playboy, ia tidak akan terima.


Dokter itu pun memeriksa keadaan Aura. Aura sempat-sempatnya membaca tanda pengenal dokter wanita itu. Dokter itu bernama Mery. Tidak lama kemudian Dokter Mery selesai memeriksa Aura. Setelah bertanya beberapa hal dan Aura menjawabnya Dokter Mery pun menarik kesimpulannya.


"Kamu sedang mengalami stres ringan tapi jika dibiarkan tetap tidak akan baik karena salah-salah, stres yang akan kamu alami ini akan menjadi stres berat dan itu berbahaya, karena hal itu jugalah yang membuat sistem kekebalan tubuhmu terganggu." Mendengar penjelasan itu Aura hanya memejamkan matanya, ia tahu ini semua akibat rasa sakit karena patah hati yang ia alami.


"Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi." Pikir Aura, ia tidak ingin merasakan apa yang dia rasakan sekarang, baginya sangat menyakitkan dan mengganggu.


"Kamu harus banyak-banyak istirahat, jangan terlalu memaksakan dirimu untuk berpikir keras dahulu. Sempatkanlah berolahraga. Dan jika memang perlu berbagilah cerita pada orang yang kamu percayai, untuk meringankan masalahmu dan lakukanlah hal yang menyenangkan." Dokter Mery memberikan penjelasan, Aura hanya mengangguk mengerti. Denis ia hanya mendengarkan secara seksama.


Setelah beberapa saat Dokter Mery memberikan pil vitamin untuk Aura dan beberapa resep obat yang tidak ada di klinik itu. Kemudian dokter Mery berlalu pergi membiarkan Aura beristirahat.


Denis yang mendengar penjelasan dokter tersebut tidak tahan untuk tidak angkat bicara kepada Aura setelahnya.


"Ternyata cewek macam kamu bisa juga stres." Ucap Denis duduk di kursi samping ranjang Aura.


"Aku ini hanya manusia biasa, tidak akan salah jika mengalami stres, stres itu hal yang wajar saja menurutku." Jelas Aura.


"Tapi sampai sakit seperti ini, itu namanya tidak wajar. Ada-ada saja kamu ini, stres kok sampai sakit." Denis masih terus mengoceh.


"Namanya stres, kitakan gak tau apa yang akan terjadi pada tubuh kita." kata Aura malas meladeni Denis.

__ADS_1


"Makanya jaga kesehatanmu," kata Denis matanya terlihat khawatir pada Aura. Aura yang menyadari hal itu membuang wajahnya ke arah lain.


"Ya tenang saja, setelah ini aku akan menjaga kesehatanku." Ucap Aura tidak menatap wajah Denis.


"Ah, aku pergi sebentar ya." Denis berdiri dari duduknya.


"Mau ke mana?" tanya Aura sebenarnya hanya sekedar bertanya.


"Tenang aja aku pergi cuma sebentar kok. Gak akan sampai membuatmu merindukanku." Denis pergi sambil setengah tertawa sedangkan Aura menatap punggung Denis dengan tatapan kesalnya.


"Kamu istirahat aja di situ, aku mau membuatkan izin tidak masukmu hari ini." Denis menjelaskan sambil berlalu pergi.


Aura hanya pasrah saja setelah itu, memaksakan diri menghadiri jam kuliah juga percuma Aura saat ini benar-benar merasa sakit, lebih baik ia mengistirahatkan diri saja agar cepat sembuh. Ia juga menghubungi Desta setelahnya, Desta yang rupanya tidak ingin mengganggu urusan Denis dan Aura beralasan jika ia benar-benar sibuk hari ini dan mengaku kebetulan Aura ada yang menolongnya, Aura sempat berkerut kesal. Desta melihat saat Denis menolongnya tapi Aura pun tidak juga memaksa Desta untuk menemaninya karena sudah cukup bagi Aura, Desta menemaninya semenjak ia sakit.


Aura sudah setengah tertidur saat itu, tiba-tiba ada yang menggeser gorden yang menutup bagian ranjang tempatnya beristirahat.


Aura pun membuka matanya sedikit mengintip, ternyata yang datang adalah Denis.


"Kamu gak masuk kuliah?" tanya Aura memaksa langsung mendudukkan diri.


"Seharusnya kamu gak perlu sampai segitunya," Aura membaringkan dirinya kembali karena merasa pusing, sambil menarik selimutnya menutupi seluruh badan dan tidur membelakangi Denis.


Pria itu hanya tersenyum menanggapi Aura kemudian ia menyibukkan diri membaca buku sambil bersantai di kursi itu tanpa mengganggu tidur Aura sama sekali.


Aura terlihat menarik selimutnya membuka selimut yang menutupi seluruh badannya. Sepertinya itu refleksnya karena tertidur pulas. Setelah itu ia terlihat tidur terlentang, tertidur nyenyak.


Denis menghentikan baca bukunya, dan menopang tangannya ke dagunya memperhatikan wajah tertidur Aura yang begitu pulas.


Tidak lama kemudian datang dokter Mery ingin memeriksa keadaan Aura. Ia terkejut dengan kehadiran Denis.


Karena tidak biasanya ia rela menemani seorang wanita sampai rela tidak masuk jam kuliah.


"Ah, tumben sekali kamu mau menemani seorang wanita sampai tidak masuk jam kuliah." Dokter Mery berucap.

__ADS_1


"Ah, aku hanya ingin membolos kuliah saja." Santai Denis. Kemudian ia terkejut karena melihat Aura yang sudah bangun menatapnya.


"Jika hanya itu alasan konyolmu mau membolos jangan bawa-bawa aku dalam urusan bolosmu. Bikin jengkel saja." Aura sangat kesal jika ia diseret-seret dalam masalah orang lain seperti itu.


"Sebaiknya kamu pergi saja masuk kuliah sana, aku bisa istirahat di sini sendiri." Aura mengusir Denis menurut Aura itu lebih baik karena tidurnya akan lebih nyenyak ketimbang ada orang duduk di dekatnya terlebih itu laki-laki.


"Jika kutinggal, kamu pasti akan pergi dari klinik ini." Denis membela diri bersikukuh tidak ingin pergi.


"Aku tidak akan pergi dari sini, kamu sudah membuatkan izin untukku tidak mungkin aku akan masuk kuliah. Karena jika aku melakukan hal itu, aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri. Jadi tenang saja tidak perlu cemas aku kabur dari tempat ini, niatku sekarang memang ingin beristirahat saja." Jelas Aura panjang lebar pada Denis.


"Bagaimana jika sekarang aku bilang, aku di sini karena memang ingin menemanimu, hmm." Ucap Denis menatap Aura serius.


"Memang aku akan percaya pada kata-kata buaya?" Aura malah mengejek, ia ingin tertawa.


"Memangnya aku terlihat berdusta? Teganya kamu mengatakan aku buaya, kalo aku buaya sudah kuterkam kamu Aura" Denis berucap tidak terima.


"Bagiku tidak ada yang bisa sama sekali bisa dipercaya dari ucapanmu, lain di mulut lain juga di hati benar-benar mengesalkan." Ucap Aura jengkel, lebih tepatnya ia masih jengkel dengan laki-laki, terlebih Denis yang Aura tahu betul sifatnya itu terhadap wanita seperti apa.


"Hahaha, sudah anak-anak muda, biarkan ibu dokter ini memeriksa si sakit dahulu." Dokter Mery menyela perdebatan mereka berdua.


Ia memeriksa Aura dan melihat jika demam Aura sudah mulai turun, gadis itu sudah mulai baik-baik saja tinggal sedikit beristirahat lagi sampai ia pulih.


Setelah memeriksa dan menjelaskan keadaan Aura ia pun pamit untuk undur diri.


Tidak terasa sudah masuk jam makan siang, Aura terlihat sudah tertidur lagi.


Denis pun pergi keluar untuk membeli makan siang untuk mereka makan nanti ketika Aura bangun. Sekaligus mencarikan obatnya juga.


Tepat ketika Denis kembali dari acara belanjanya, Aura sudah bangun dari tidurnya, ia sedang memainkan ponselnya mungkin ia sedang mengirim pesan pada Desta. Desta mengatakan tidak bisa mendatangi Aura karena ada kesibukkan dan Aura memakluminya.


Padahal sebelumnya di perjalanan pergi belanja Desta dan Denis sudah saling bertemu, Desta menanyai keadaan Aura pada Denis. Desta tampak khawatir karena bisa-bisanya Denis masih pergi dan meninggalkan sahabatnya sendirian di klinik.


Kemudian Denis mengatakan pada Desta tidak perlu khawatir dengan keadaan Aura, sekarang ia yang menjaganya. Jadi, Desta cukup menyakinkan Aura bahwa dia tidak bisa datang menjemput Ayra, Denis juga mengatakan pada Desta, sedang mencarikan resep obat yang disuruh oleh dokter makanya ia keluar sebentar.

__ADS_1


Desta menyetujui permintaan Denis dengan syarat Denis benar-benar harus menjaga Aura tidak boleh membuatnya tambah stres karena dekat-dekat dengan Denis. Jika sampai itu terjadi, Desta sendiri yang akan menentang Denis tidak perduli apapun itu demi sahabatnya.


Denis menyetujui syarat dari Desta dan kesepakatan pun terjadi, Desta akan membiarkan Denis menemani Aura. Setelah percakapan berakhir mereka pun berpisah. Desta mendapatkan pesan dari Aura, bertepatan dengan Denis yang sudah berada di depan kamar rawat Aura.


__ADS_2