
"Menyebalkan," gerutu Aura, ia ingin sekali mengeluarkan isi hatinya sekarang.
"Apa kamu bilang?" tanya Denis pura-pura tidak dengar.
"Ya, ya aku ikuti kemauanmu." Ucap Aura mengalah ia mendorong belakang tubuh Denis agar pria itu mulai berjalan Aura memilih untuk mengalah saja. Denis tersenyum penuh kemenangan atas ketidak-berkutikan Aura. Ia suka Aura yang seperti itu.
"Jadi kita mau ke mana?" tanya Aura pada Denis yang tidak tahu tujuan pria itu, ia hanya mengikuti Denis dari belakang saja sambil tertunduk malu karena orang-orang malah membicarakan mereka berdua.
"Menurutmu aku mau ke mana?" tanya Denis yang tiba-tiba saja berhenti di depan pintu ganti pakaian pria.
Aura saat ini benar-benar merasa sangat malu dibuatnya bisa-bisanya Denis membawanya ke tempat itu.
"Jangan pernah berpikir aku akan membawamu sampai ke dalam ya. Soalnya tubuhku sangat bagus loh." Ucap Denis menggoda Aura yang saat ini wajahnya benar-benar terlihat sangat menahan malu dan amarah.
"Gak akan pernah!" teriak Aura kesal, tidak pernah terpikirkan oleh Aura jika dirinya mengintip pria sedang berganti pakaian.
"Cepat ganti pakaianmu atau aku akan kembali ke kelas sekarang!" Ucap Aura dongkol.
"Iya, iya Nona. Kamu terlihat sangat menggemaskan jika terlihat malu seperti itu." Ucap Denis sambil tertawa, ia mengusap kepala Aura lagi dan berjalan memasuki ruang ganti pakaian itu.
"Dan satu lagi jangan kangen ya, aku cuma sebentar aja kok ganti pakaiannya." Ucap Denis kemudian memasuki ruang ganti itu.
Aura ia tidak mengatakan apa-apa lagi perasaan menjadi campur aduk sekarang.
Untungnya ada kursi di dekat ruangan itu dan Aura pun duduk di situ sambil membaca buku yang ia pinjam barusan.
.
.
.
Tiba-tiba ada dua orang gadis yang lewat di depan Aura.
"Eh bukannya dia itu cewek yang ikutin Denis tadi ya?" tanya cewek satu ke temannya.
"Iya, paling juga dia cewek keganjenan yang lagi ngejar-ngejar Denis tapi malah dicampakkan. Lagiankan dia gak mungkin seleranya Denis."
"Iya, ya mana mau Denis sama dia." Ucap gadis itu kemudian tertawa. Aura yang mendengarnya hanya diam saja ia menjadi sangat tidak enak hati sekarang.
"Fitnah kejam abad ini." Batin Aura kesal.
Mau protes apapun Aura dengan ucapan gadis-gadis itu tetap juga Denis bagi mereka selalu benar, meskipun dia tidak benar-benar, benar.
Tidak lama kemudian Denis keluar dari ruangan itu, Aura hanya diam saja, Denis juga.
Aura benar-benar merasa bersalah ia saat ini memikirkan kekasihnya, tidak mungkin ia mengejar pria lain ketika ia sudah memiliki Riyan. Bagi Aura dia dan Denis tidak lebih dari teman, meskipun Denis memang agak keterlaluan cara mengajak Aura dengan memaksa. karena jika tidak seperti itu Aura tentu saja tidak akan mau.
Aura hanya mengikuti langkah Denis dari belakang. Dan tanpa disadari di tengah lamunan Aura yang terlihat benar-benar tidak enak hati itu, Denis mensejajarkan langkahnya dengan Aura.
__ADS_1
"Kamu gak usah memikirkan apa kata orang-orang itu. Mereka tidak tahu apa-apa mereka hanya berkata sesuka hati mereka jadi jangan bersedih cuma karena itu." Ucap Denis, Aura menatap Denis dalam menyadari Denis ternyata juga mendengar perkataan kedua wanita itu tadi. Aura hanya mengangguk mengiyakan.
"Jadi berhenti pasang wajah cemberut gitu dong, soalnya jadi tambah jelek." Ucap Denis menghina Aura sambil tertawa.
"Ih siapa juga yang cemberut," Aura mengeles.
"Masih juga niat bohong, sudah kubilang kamu itu gak pandai bohong." Ucap Denis.
"Iya, iya." Perasaan tidak enak Aura mulai hilang.
"Nah gitu dong," Kata Denis menatap ke depan lagi.
Aura pun tersenyum setelah itu, ia tidak percaya ada orang yang ternyata menyadari ekspresi-ekspresinya yang terkadang tidak bisa dibaca orang lain, tapi Denis bahkan tahu dia sedang berbohong apa tidak.
Denis merasa senang sekarang, akhirnya gadis itu bisa tersenyum karena dirinya, walaupun ia tidak tahu gadis itu tersenyum karena apa.
"Senyum terus, senang ya dekat sama aku." Narsisnya Denis mulai kambuh.
"Gak boleh? Kalo gak boleh aku pergi sekarang," kata Aura terlihat bersemangat sekarang, ia benar-benar ingin pergi dari sisi Denis.
"Ya bolehlah, gak ada yang larang kamu tersenyum." Kata Denis.
"Aku cuma penasaran aja kenapa kamu tersenyum, padahal sebelum-sebelumnya senyummu itu maksa banget kalo sama aku." Ucap Denis.
"Aku hanya merasa tidak percaya aja sih ada orang yang benar-benar bisa baca ekspresiku," ucap Aura sambil tersenyum lagi, ia berbicara jujur saja.
"Biasanya orang lain tidak tahu aku sedang berekspresi apa, perasaanku sedang apa. Keren menurutku." Ucap Aura jujur.
"Akukan memang keren," Denis narsis.
"Errr, aku menyesal sudah memujimu." Ucap Aura jujur.
"Memang pacarmu gak bisa melihat ekspresimu?" tanya Denis.
"Kalo sama dia, ekspresiku itu selalu jujur apa adanya gak dibuat-buat." Ucap Aura antusias ketika membicarakan kekasihnya.
"Enak ya jadi pacarmu, tak perlu repot-repot mikir. Aku mau juga," ucap Denis, tapi Aura malah menganggapnya Denis menginginkan pacar yang mengerti dia.
"Suatu saat nanti pasti kamu dapat kok pacar yang sesuai dengan keinginanmu,"Aura berucap antusias.
"Ya, tentu saja pasti." Denis tersenyum ke arah Aura. Bukannya tersipu Aura malah merinding melihat senyuman Denis tapi dia tidak tahu apa sebabnya.
"Jadi sekarang kita mau ke mana?" tanya Aura.
"Ke mana lagi kalo gak ke perpustakaan. Kamu mau aku ajak jalan?" tanya Denis asal.
"Ya enggaklah, kan sapa tau kamu mau ke kelas." Kata Aura.
"Sok tau juga kamu tuh," sewot Denis pada Aura.
__ADS_1
"Serah aku dong," Aura tidak mau kalah.
"Lagian kelas terus yang kamu pikirkan, apa sih enaknya di kelas?" Denis merasa terganggu dengan keinginan Aura.
"Ya, enak aja sih menurutku." Kata Aura.
"Biasanya juga kamu ke perpus kok," timpal Denis.
"Iya sih, tapi aku lebih sering di kelas kok. Karena sibuk ngerjain tugas sih, hehehe." Aura tertawa canggung.
"Tapi lebih suka di perpus, kan?" tanya Denis masih ngeyel.
"Iya sih," jawab Aura.
"Nah makanya ke perpus aja, kapan-kapan kita jalan-jalan di sekitaran kampusnya oke." Ucap Denis mengajak Aura.
"Iyaa kapan-kapan." Kata Aura ia hanya menjawab bercanda saja tidak terlalu berharap jika itu benar. Aura memikirkan kata kapan yang tidak tahu kapannya itu kapan.
"Kamu mau?" tanya Denis.
"Kapan-kapan 'kan, kapan yang tidak tahu kapannya itu kapan." Aura tertawa lagi.
"Bagaimana jika kata kapan itu aku ganti besok hari xx tanggal xx tahun xx jam xx." Ucap Denis melawan bercandaannya Aura dengan serius.
"Ya gaklah, kamu mau buat heboh satu kampus?" tanya Aura malah tampak frustasi sendiri akhirnya.
"Aku gak perduli sih," ucap Denis sekenanya.
"Tapi aku perduli," balas Aura.
"Ya udah kamu hanya perlu jadi aku yang gak perduli." Kata Denis.
"Aku ya aku, kamu ya kamu. Aku gak mau jadi kamu." Ucap Aura.
"Okelah, jadi mau kah besok?" tanya Denis lagi.
"Nggak." Dijawab langsung oleh Aura.
"Okelah, jadi kapan-kapan aja karena selama masih ada hari esok kapan itu masih ada." Ucap Denis tersenyum ke arah Aura.
"Iya, tentu saja." Kata Aura tersenyum balik.
Tidak terasa percakapan mereka sudah mengantarkan mereka di depan pintu perpustakaan. Dan mereka pun memasuki ruangan itu untuk belajar seperti biasanya.
.
.
.
__ADS_1