Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 19 – Penolong


__ADS_3

"Sekarang kau harus menerima pembalasan, karena sudah berani membuat Denis jadi seperti itu. " Gadis-gadis itu ingin menyerang Aura. Aura hanya pasrah tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit ia hampir kehilangan keseimbangan lagi.


PLAK!


Salah satu tangan gadis itu berhasil menampar Aura, Aura tidak bisa melawan dan pasrah saja pipinya memerah akibat tamparan, tetapi Aura tidak meringis kesakitan sama sekali. Mereka bangga dan merasa puas setelah akhirnya bisa menampar Aura, biasanya mereka tidak bisa sama sekali melakukan hal itu karena Aura kuat melawan.


"Aku tidak bisa melawan, kepalaku sakit." Batin Aura sudah tidak kuat lagi, ia benar-benar tidak kuat dengan keadaannya sendiri.


Aura yang sudah memasrahkan dirinya yang akan jatuh ke lantai terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang menangkapnya dalam dekapannya.


"Oh, jadi kalian semua yang disebut Aura orang yang mengganggunya. Kalian tahu, sebenarnya kalianlah orang-orang yang membuatku jadi seperti tadi malam. 


"Karena kalian, Aura gak mau dekat-dekat denganku. Sepertinya kalian memang harus diberi hukuman biar kapok. " Ucap Denis menatap tajam ketiga gadis itu, Denis mendengar semua pembicaraan mereka.


Aura sempat-sempatnya tersipu dengan ucapan Denis, sedangkan Denis ia tidak perduli dengan ucapannya yang entah jika ia sadari itu seharusnya adalah kata-kata yang seharusnya cukup memalukan untuknya. Mereka kemudian berlari pergi meninggalkan Denis dan Aura. Mereka ketakutan dengan tatapan Denis yang seolah-olah ingin menghancurkan mereka, meskipun hanya dengan sekedar tatapan.


"Lepaskan aku," kata Aura menyingkirkan tangan Denis dari bahunya, berjalan tertatih menjauhi Denis. Aura kemudian duduk di kursi dekat lorong itu, ia sudah tidak sanggup berdiri kepalanya pusing.


"Kenapa kamu gak kasih tahu aku kalo kamu sedang sakit?" tanya Denis. Denis menyadari tebakannya benar saat bertanya Aura sakit tadi malam.


"Memangnya apa untungnya memberitahumu." Ucap Aura masih saja sempat melawan kata-kata Denis.


"Setidaknya jika hal itu kamu katakan, aku gak akan sampai cemas seperti ini. Paling tidak aku akan mengantarkanmu ke Rumah Sakit Aura." Ucap Denis, ia memperlihatkan dirinya sekarang jika ia benar-benar mencemaskan Aura tidak perduli lagi dengan gambaran dirinya yang terkesan cuek dan dingin.


"Aku pikir kamu masih marah akibat ucapanku waktu itu." Ucap Denis lagi.


"Bohong aku kalo gak marah, jujur saja sampai saat ini aku masih gak percaya sama kamu. Tapi ya gakpapa sih, lagi pula itu hakmu buat main-main. Lagian kita cuma teman, tapi ternyata kamu hanya mau mempermainkanku." Aura mengeluarkan pemikirannya sekali lagi.

__ADS_1


"Ah tapi ya sudahlah, lagian sebenarnya ucapanmu waktu itu tidak terlalu berpengaruh apa-apa padaku. Jauh hari aku sudah menduganya juga tapi gak kusadari dugaanku benar." Ucap Aura jujur apa yang ingin ia katakan selalu ia keluarkan seperti sebelum-sebelumnya tidak perduli jika itu menohok orang di sampingnya, ia ingin beranjak pergi. Kemudian saat berjalan Aura terhuyung lagi dan Denis lagi-lagi menangkapnya.


"Akh! Kenapa aku harus terlihat sakit di hadapanmu. " Ucap Aura frustasi sendiri,  ia benar-benar tidak suka disentuh seorang pria, meskipun itu Denis tapi pria itu masih asing bagi Aura.


"Segitu tidak sukanya kamu disentuh olehku seperti ini? " tanya Denis dengan tatapan kecewa.


"Bukan hanya kamu, ini berlaku untuk semuanya yang asing bagiku." Ucap Aura menjelaskan dan akhirnya Denis menyadari bahwa ternyata gadis itu tidak suka disentuh pria, kecuali orang yang dianggap penting seperti pacarnya.


"Tapi terimakasih karena sudah menangkapku, jika tidak mungkin dua kali aku akan merasakan yang namanya kerasnya lantai. " Ucap Aura.


"Denis," kata Aura sedikit pelan.


"Apa?" Denis berkata langsung setengah kaget karena ini pertama kalinya Denis mendengar Aura menyebut namanya setelah sekian lama mereka saling kenal mengenal. Aura kemudian tertunduk malu.


"Selamat ulang tahun." Kata Aura ia malu mengatakan hal itu. Jujur saja ia tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun selain pada teman-temannya karena hanya sebentar berpacaran dengan pacar pertamanya ia tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada mantannya. Dan Denis malah tersipu dibuat Aura karena kata-katanya barusan, Denis refleks menutup mulutnya yang sempat terbuka tidak percaya.


Aura salah tingkah atas ucapannya sendiri ingin rasanya ia mengatakan bahwa ucapan itu adalah hal yang paling memalukan yang pernah ia ucapkan di depan seorang pria.


"Te-terimakasih atas ucapan selamatnya." Ucap Denis malah gugup menjawabnya. Ketidak-hadiran Aura tadi malam terasa terbayar oleh ucapannya hari ini.


"Aura sebaiknya kamu gak perlu mengambil mata kuliah hari ini,"


"Mengapa memangnya kamu mau ngajari aku membolos. Maaf, aku tidak tertarik." Ucap Aura.


"Bukan begitu, lihat jalanmu saja sudah tidak benar. Sebaiknya kamu istirahat. " Ucap Denis khawatir gadis itu akan jatuh lagi karena jalannya yang sempoyongan dan benar kali ini Aura kehilangan keseimbangannya lagi.


Denis langsung menggandeng Aura dan berkata, "Aura aku akan membawamu ke klinik kampus kamu harus istirahat." Ucap Denis tegas.

__ADS_1


"Nanti aku uruskan izinmu yang gak masuk mata kuliah hari ini, oke." Ucap Denis akhirnya Aura mau menurut.


"Kamu sakit gini memangnya gak berobat?" tanya Denis sambil berjalan memapah Aura.


"Enggak," jawab Aura singkat, ia merasa tidak enak hati dengan apa yang dilakukan Denis dan ia sebenarnya berharap Desta datang menggantikan Denis yang memapahnya.


"Seharusnya berobat," kata Denis.


"Bisa-bisa sakitku tambah parah jika memaksakan diri ke puskesmas, berjalan saja seperti ini." Jelas Aura pada Denis dan membuat Denis diam, benar apa yang dikatakan Aura. Ia tidak punya mobil siapa pula yang akan mengantarnya berobat. Karena puskesmas lumayan jauh.


"Benar juga, kalo gitu mau gak kuantar kamu berobat?" tanya Denis lagi menawarkan bantuan.


"Hadeuh ini lagi, tenang aja paling istirahat sebentar di klinik sembuh kok, lagian kamu memang punya mobil?" Ucap Aura berusaha semangat dan asal berbicara padahal jika ia mau dengan mengendarai motor juga bisa karena keadaannya sekarang tidak seburuk tadi malam. Namun ia masih tetap dipapah oleh Denis, Denis terdiam tidak menjawabnya sama sekali untuk beberapa saat.


"Jika itu untukmu, mungkin aku bisa punya." Denis tersenyum ramah pada Aura, membuat wanita itu merinding karenanya.


Aura tidak ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang Denis, karena suatu saat ia berniat untuk pergi menjauh dari kehidupan pria itu.


Teman-teman Denis pun terkejut dengan apa yang dilakukan Denis. Sedangkan Aura ia hanya diam memandangi wajah Denis. Karena baginya sangat percuma meminta Denis melepaskannya, Aura tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini tubuhnya benar-benar terasa lemas dan melepaskan tangan Denis sama saja memilih kerasnya lantai ia pasti jatuh.


Ia ingin menunggu Desta datang untuk menggantikan Denis, namun Desta  pasti tidak akan datang karena ia hanya melihat Denis dan Aura dari jauh ia tidak ingin mengganggu, Desta memperhatikan mereka sambil tengah tersenyum kecil melihat kedekatan Denis dan Aura.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2