
"Kamu mau ajak aku ke mana?" tanya Aura yang sedari tadi berkendara dengan mobil yang dikendarai oleh Denis, Denis membawa Aura sepulang dari kuliahnya, Aura ikut saja. Tidak tahu jika ia akan dibawa cukup jauh dari wilayah tempat tinggal dan kampusnya.
"Aku tidak akan macam-macam kok, aku mau membawamu ke tempat yang mungkin kamu suka." Ujar Denis terus mengemudi.
Penangkaran kucing terlantar, ke tempat itulah Denis membawa Aura. Gadis itu terdiam beberapa saat menatap tulisan di depan gerbang masuk itu.
"Kenapa, apa kau tidak suka dengan kucing Aura?" Denis bertanya. Aura kemudian menatap Denis bersemangat.
"Ayo masuk!" ucap Aura tidak sabar.
.
.
.
"Woah! Bulu-bulu yang lembut ada banyak." Aura berjalan di samping Denis dengan memeluk seekor kucing berwarna putih yang cantik di gendongannya. Kedatangan mereka berdua langsung disambut oleh ratusan kucing yang sedang berkeliaran bebas di halaman maupun di dalam rumah penampungan itu, semua kucing di sana dirawat dengan baik.
"Aku tidak tahan, semuanya imut." Aura mengelus satu persatu kepala kucing yang datang kepadanya dengan perasaan bahagia.
"Tu-tuan!" kaget seorang pria yang menjaga tempat itu, Denis yang asik memperhatikan tingkah Aura itu langsung menoleh ke orang yang menegurnya.
"Kenapa tiba-tiba berkunjung ke sini?" tanya pria itu mengambilkan Denis tempat duduk.
"Aku membawa calon istriku kemari, aku pikir dia tidak akan suka tempat ini. Ternyata aku salah." Jawab Denis.
"Hei seharusnya aku yang bilang seperti itu, kamu itukan pria pembersih, makanan aja pilih-pilih. Aku tidak menyangka kamu suka kucing juga." Aura merasa ada kesalahpahaman dengan Denis, ia tidak menyangka Denis adalah pria yang sayang binatang.
"Tuan Denis adalah orang yang menjadi donatur di tempat ini dan juga pemilik tempat ini. Sehingga binatang-binatang di sini bisa terawat dengan baik." Ucap pria yang menjaga tempat itu.
"Denis baik sekali." Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Aura, Denis tersipu malu. Aura jarang sekali memuji Denis dengan tulus seperti sekarang.
"Saya tidak menyangka Tuan sudah punya calon istri sekarang."
"Aku tidak akan selamanya menjomblo."
"Ma-maafkan saya Tuan!" pria itu merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf, aku tidak marah padamu." Kemudian menyuruh pria itu pergi.
__ADS_1
"Apa kamu masih mau berkeliling di sini?" tanya Denis pada Aura yang tentu saja Aura langsung mengangguk bersemangat.
.
.
.
"Kamu suka kucing?" tanya Denis.
"Suka bangetlah." Aura langsung berucap tegas.
"Sama, aku pelihara satu di rumah. Aku jadi ingin memperlihatkannya padamu." Denis berucap tersenyum.
"Kenapa tersenyum?" Aura penasaran.
"Aku senang karena kamu juga suka apa yang aku suka." Ujar Denis.
"Bagaimana jika seandainya aku tidak suka kucing?" tanya Aura berandai.
"Saat melihatmu tadi terdiam di depan gerbang itu membuatku berdebar bingung, jika kamu memang tidak menyukai kucing aku akan belajar menjauhi mereka juga." Ucap Denis. "Tapi kamu menyukainya aku jadi bahagia." Denis tersenyum cerah.
"Apakah kamu punya pengalaman berharga dengan hewan ini?" tanya Aura melihat Denis yang sepertinya ingin menceritakan sesuatu.
"Ya, di saat aku telah kehilangan segalanya. Salah satu dari mereka datang menghampiriku. Aku merasa punya hutang budi dengan makhluk berbulu ini." Denis mengelus kepala kucing yang duduk di dekatnya.
"Kehilangan... Segalanya?" Aura tidak mengerti, saat itu di tempat itu hanya ada mereka berdua. Karena pengurus tempat itu juga tidak begitu banyak dan mereka punya wilayahnya masing-masing untuk merawat kucing-kucing itu.
"Dulu ketika aku kehilangan kedua orang tuaku dalam sebuah kecelakaan besar, aku menjadi sebatang kara. Awalnya tidak ada yang perduli padaku, bahkan aku yang sedari kecil ini pernah ditunangkan, tunanganku mengucilkanku dan meninggalkanku di saat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar." Denis bercerita sambil menyandarkan dirinya di kursi taman, Aura mendengarkan kisahnya dengan seksama.
"Kucing datang di saat aku sangat sedang bersedih, ketika itu usiaku baru 12 tahun, dan saat itu pula aku dipaksa untuk meninggalkan masa kecilku dan mulai bekerja dengan keras.
"Melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh mendiang orang tuaku sebelum mereka meninggal. Adra Company, aku menerima tanggung jawab perusahaan itu di saat usiaku masih sangat muda, dengan dibimbing oleh tangan kanan keluargaku. Orang yang paling setia terhadap keluargaku." Denis menceritakan itu dengan sangat datar tanpa perasaan apapun, seolah-olah perasaannya saat itu telah dihilangkan, tidak ada waktu untuknya yang masih kecil bahkan untuk sekedar bersedih meratapi kematian orang tuanya.
"Pasti sangat berat, maafkan aku yang tidak tahu apa-apa tentangmu." Ujar Aura. "Tapi kau sungguh hebat, aku tidak tahu sepintar apa dirimu, di usia 12 tahun kamu sudah bisa menjalankan bisnis di dunia teknologi." Aura takjub.
"Bukan berniat sombong, tapi seperti yang harus kamu tahu aku memiliki IQ yang berada di atas rata-rata manusia normal bahkan di atas IQ orang jenius. Sejak umur 5 tahun aku sudah bisa mengoperasikan komputer dan sudah bisa meretas data pemerintah. Sekarang jika aku mau aku bisa meretas beberapa satelit milik negara ini." Jelas Denis, Aura menelan ludahnya antara takjub dan kaget.
"Aku tidak percaya, aku terjebak dengan orang yang berbahaya. Jika banyak orang yang tahu kemampuanmu, pasti kamu akan diincar oleh orang jahat."
__ADS_1
"Tidak banyak yang tahu aku memiliki kepintaran seperti itu, hanya saja yang berbahaya adalah saingan bisnis yang ingin menyingkirkan diriku seperti halnya kedua orang tuaku."
"Jadi, ada yang membunuh kedua orang tuamu?" tanya Aura lagi dan Denis mengangguk. Aura tidak tahu jika dunia Denis memiliki cerita kelam seperti itu, hanya karena uang.
"Apa tidak apa-apa bercerita tentang hal ini di sini? Bagaimana jikalau ada mata-mata." Aura takut jika ada yang mendengarnya.
"Tidak apa-apa lagi pula ada banyak anak buahku yang berjaga di luar sana." Ternyata Denis sudah berjaga-jaga dari awal di tempat ini, Denis memang sengaja ingin menceritakan semuanya pada Aura.
"Aku penasaran berapa umurmu sekarang." Ucap Aura karena tidak ada anak-anak yang tahu pasti umur Denis itu berapa Denis hanya menyebutkan tanggal dan bulan lahirnya saja.
"Uum, 25 tahun." Denis tidak merahasiakannya pada Aura.
"Masih muda, tapi kamu sudah menjadi orang penting, hebat." Aura takjub, karena sudah tahu siapa Denis, Aura sekalian saja bertanya semuanya yang ingin ia tahu tentang Denis.
"Tapi karena hal itu semenjak usia 12 tahun aku kehilangan masa mudaku Aura, aku tidak pernah bersekolah lagi karena harus mewarisi semuanya. Aku kehilangan itu semua. Ada banyak orang yang kukenal, tapi tidak ada yang menganggapku sebagai teman ataupun kerabatnya. Karena aku sudah mulai bisa bernafas lega dengan perusahaan yang telah stabil, aku melakukan apa yang tidak bisa kulakukan dahulu aku seperti terbebas dari kekangan tugasku." Denis berucap getir. Aura terharu mendengarnya.
"Kenapa jika kau tidak sanggup kamu tidak berhenti dari awal?" tanya Aura tidak mengerti.
"Itulah caraku bertahan hidup, mewarisi apa yang harus kuwarisi lalu mendapat kekuasaan dan ditakuti untuk bertahan hidup. Atau memberikan kekuasaan pada orang lain dan aku dilenyapkan.
"Tidak ada hal yang bisa kulakukan selain mewarisi apa yang menjadi hakku untuk tetap bisa bertahan hidup."
"Kejam..."
"Maafkan aku yang egois ini membuatmu terlibat dengan segalanya."
"Tidak apa-apa, jika kita memang ditakdirkan untuk bersama aku tidak akan lari darimu lagi." Ucap Aura, ia tidak ingin membiarkan Denis sendirian lagi.
"Entah mengapa jika itu kamu, aku ingin bersikap egois Aura." Ucap Denis.
.
.
.
"Tidak perduli seperti apa, agar kamu selalu dekat denganku meskipun aku harus menggunakan kekuasaanku agar kamu terikat denganku. Aku akan lakukan." Batin Denis menatap Aura yang terdiam saat itu.
"Tak perlu dengan kekuasaan, jika kamu sudah mendapatkan hatiku, cukup kamu selalu berada disisiku dengan kesetiaan aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak akan mengecewakanmu selama kamu menjaga hatiku dengan baik." Pikir Aura ingin mencintai Denis yang apa adanya.
__ADS_1
Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing, yang mereka tidak sadari pikiran mereka saat ini saling bersahutan.