Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 45 – Masa Lalu


__ADS_3

"Aku takut dengan tatapanmu itu loh."


"Aku bukan menatapmu."


"Suaramu bahkan juga masih seram."


"Jangan takut padaku."


Denis dan Aura berbicara berbisik, agar Viola tidak mendengar perbincangan mereka.


Siapa yang tidak takut dengan tatapan seperti itu, Viola bahkan tidak berani membuka suara selama beberapa saat. Sebelum akhirnya dengan tidak tahu malu mengambil ponsel milik Aura lagi.


.


.


.


Akhirnya mereka bertiga belajar masing-masing. Viola juga tidak kalah seriusnya saat fokus belajar.


"Kenapa melihatku begitu?" tanya Viola yang menyadari Aura menatapinya. Saat ini Denis sedang fokus dengan pekerjaannya sendiri tidak begitu memperhatikan perbincangan Aura dan Viola.


"Tidak apa-apa, aku baru tahu kamu bisa serius juga belajar." Jawab Aura tertarik pada Viola.


"Kamu pikir aku ini hanya tahu main-main." Ucap Viola melanjutkan baca bukunya.


Aura mengerti, jika Viola tidak ada perjuangan keras. Viola tidak akan menjadi bintang besar, meskipun dia adalah anak orang kaya di negeri ini. Ia masih bisa berjuang untuk masa depannya sendiri.


"Dia keren." Pikir Aura sambil melanjutkan belajarnya.


Tampak Viola sesekali mencuri pandang ke arah Denis yang sibuk sendiri duduk di samping Aura. Selain Aura, Viola adalah salah satu orang yang tahu Denis sebenarnya siapa, karena ia sudah mengenal Denis semenjak kecil dengan baik.


"Aku tidak menyangka Denis telah berubah banyak dari pada dulu." Viola membuka suara setelah mereka mulai santai.


"Masa lalu adalah masa lalu, setiap orang bisa berubah karena pengaruh lingkungan yang ada di sekitarnya. Dan aku adalah orang yang terpaksa harus mengikuti pengaruh lingkungan itu." Denis berucap santai.


"Dan asal kau tahu, aku bukan Denis yang pernah kau kenal dulu." Lanjut Denis dingin tatapannya penuh intimidasi. Aura pura-pura tidak mendengar pembicaraan intens mereka.


"Tapi bagiku Denis adalah Denis."


"Aku memang Denis, tapi bukan lagi Denis yang kamu kenal."


Kemudian Viola teringat masa kecil mereka, Denis adalah anak yang manja dan setiap saat selalu berada di samping Viola gadis itu menjaganya. Orang tua Viola dan Denis sangat akrab sehingga mereka berdua dijodohkan saat masih kecil dulu, mereka berdua memiliki ketertarikan satu sama lain dan berjanji suatu saat akan menikah.

__ADS_1


Namun, kecelakaan nahas itu terjadi. Kecelakaan yang direncanakan, orang tua Denis meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat.


"Dulu kita pernah berjanji untuk menikah saat masih kecil." Viola berucap mengenang masa lalu.


Denis tetap tidak tertarik dengan hal itu. "Itu hanyalah janji anak kecil, bahkan janji orang dewasa pun bisa diingkari." Ujar Denis membuat Viola tertohok.


Aura hanya mendengarkan pembicaraan mereka ingin pergi dari tempat itu, tapi pasti Denis tidak akan membiarkannya. Jadi, Aura membiarkan saja mereka berdua berbicara empat mata dan Aura menjadi saksi atas pembicaraan mereka.


"Jadi kamu tidak perlu ingat tentang itu, semenjak kamu pergi semuanya telah berubah." Ujar Denis.


"Tapi waktu itu aku terpaksa pergi karena keinginan orang tuaku Denis, aku juga menangis karena berpisah denganmu. Mereka tidak ingin aku dalam bahaya."


"Aku tidak menyalahkan mereka, lagipula aku sudah bisa mengatasi semuanya. Viola...kamu juga hanya bagian masa laluku. Aku sudah melupakanmu dan telah berdamai dengannya. Jadi, sebaiknya kamu mulai kehidupanmu sendiri yang tidak bersama denganku."


"Maafkan aku Denis seharusnya waktu itu aku tidak pergi meninggalkanmu." Viola berucap tertunduk menyesal, Aura yang memperhatikan Viola merasa iba. Viola merasa bersalah di umurnya yang masih muda ia tidak bisa menolak keputusan orang tuanya dengan tegas karena ia juga tidak mengerti apa-apa.


"Aku tidak menyalahkanmu atas segalanya, tapi hatiku sudah tidak untukmu lagi sejak lama." Ujar Denis menatap Viola datar.


"Dan ini bukan karena ada Aura di dekatku. Sejak awal aku sudah lupa padamu, bahkan sebelum aku mengenal Aura dengan baik." Denis menegaskan sebelum Viola menuduh perasaan Denis yang menghilang karena adanya Aura di sisinya.


Mendengar penjelasan itu Viola kemudian pergi meninggalkan Denis dan Aura berdua.


"Anu...aku tidak tahu sih bagaimana hubungan kalian dulu. Tapi...aku merasa jadi tidak enak." Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Denis kemudian teringat dengan masa lalunya, ia yang dipenuhi amarah atas kematian berencana orang tuanya. Balas dendam dengan kemampuannya, meretas seluruh sistem perusahaan yang dicurigai, dengan mudahnya Denis mengumpulkan setiap bukti-bukti dari orang-orang yang telah merencanakan pembunuhan kedua orang tuanya. Dan kemudian di usianya yang masih muda ia membalaskan dendam kematian orang tuanya dengan keji juga.


Kemudian dia yang saat itu seharusnya masih duduk di bangku SMA berhasil memajukan perusahaannya diberbagai sektor sampai kehadirannya disegani oleh perusahaan-perusahaan lainnya.


Namun, semua hal yang berkaitan dengan tersebarnya tentang perusahaan dan dirinya di internet. Denis bersihkan semua sehingga tidak ada orang yang mengetahui tentangnya kecuali orang-orang yang berhubungan dengan perusahaannya sendiri.


.


.


.


Aura kemudian memandangi Denis. "Sikapmu yang serius itu menurutku keren ketimbang kamu yang bersikap tidak jelas dan narsis." Aura berucap sambil menyangga wajahnya dengan satu tangan.


"Heh, kamu bahkan takut jika aku memasang wajah serius." Ucap Denis memandangi Aura dengan wajah seriusnya.


"Hehehe, kamu benar tapi aku suka kamu yang seperti itu tampak lebih dewasa. Tapi apapun itu Denis adalah Denis." Aura tersenyum ketika berucap itu.


"Kalau aku terlalu serius kuyakin kamu akan menjauh dan lari dariku."

__ADS_1


"Apa aku bisa menghindarimu ya?" Aura malah berpikir.


"Kurasa tidak akan bisa." Timpal Denis.


"Mungkin, aku tidak pernah mencobanya sih." Ujar Aura.


"Jangan coba-coba melakukan itu Aura." Denis memperingati.


"Tidak akan kok, lagipula aku tidak ada alasan untuk lari darimu juga." Ungkap Aura.


"Apa kamu merencanakan hal itu?" tanya Denis.


"Nggaklah." Aura langsung menjawabnya tegas.


"Sekarang kita hanya harus mempersiapkan keberangkatan karyawisata nanti." Denis tidak sabar menantikan hal itu sembari membuka pembicaraan lain.


"Ah kamu benar, aku harus menyiapkan barang-barangku." Ujar Aura memikirkan apa yang akan ia bawa nanti.


"Kamu tidak bawa apa-apa tidak masalah kok, aku bisa menyiapkannya." Denis menawarkan bantuannya.


"Gak mau, aku mau bawa barang sendirilah." Ujar Aura menolak.


.


.


.


Aura tercengang ketika melihat daftar nama kelompok yang ditujukan untuknya. Denis dan Aura berada diurutan kelompok tengah-tengah dan mereka hanya berdua.


Aura memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit. Entah apa yang Denis lakukan untuk melakukan hal itu, dari sekian banyak kelompok yang terdiri dari 3 orang hanya mereka yang berdua.


"Wah kita satu kelompok." Denis yang muncul di samping Aura tiba-tiba berkata seolah-olah ia terkejut.


"Aktingmu kurang mendalami." Ketus Aura pada Denis.


"Aku puas dengan ini." Ujar Denis semangat.


"Tapi paling tidak lengkapkan anggotanya jadi 3 orang Denis." Protes Aura.


"Ah...tapi aku tidak ingin ada orang ketiga di antara kita berdua." Ujar Denis tampak senang.


"Entah apa yang pria ini pikirkan, inikan hanya karyawisata. Apa dia pikir sedang bulan madu." Pikir Aura menatapi Denis, ia hanya bisa menghela nafas berusaha mengerti.

__ADS_1


Semenjak pembicaraan Denis dan Viola beberapa waktu lalu, gadis itu tiba-tiba menghilang tidak merusuh kedekatan Denis dan Aura lagi.


__ADS_2