
Semenjak kejadian itu Aura memutuskan untuk tidak menemui Denis lagi. Karena kejadian tersebut Aura menganggap Denis bukanlah pria yang baik, dan Aura harus menjauhinya mulai sekarang. Dengan cara apapun.
Aura saat ini hanya berdiam diri di kursi kelasnya, tanpa melakukan apapun. Ia tidak membawa barang apapun kecuali buku tulis, hari ini dia benar-benar kehilangan seleranya untuk belajar. Terlebih ponsel kesayangannya sedang rusak dan tengah diperbaiki akibat kejadian kemarin.
"Ah, bosannya." Dalam hati Aura bergumam kesal, sedangkan dirinya saat ini tengah terlihat menguap malas. Ingin sekali ia membaca sebuah buku saja untuk menghilangkan kebosanannya.
Walaupun sebenarnya ia tidak berencana sama sekali untuk keluar kelas hari ini, demi menghindari Denis. Tapi ia benar-benar bosan tidak melakukan apa-apa.
Namun mengingatnya lagi, ia benar-benar kesal dengan kelakuan Denis yang begitu tega memutuskan kekasihnya begitu saja di hadapan Aura dan Aura tidak suka hal itu. Karena ia sangat mengerti perasaan mantan Denis, jika ia juga dalam posisi itu sebagai seorang perempuan.
Aura memilih berdiam di kelas, karena Aura tahu jika ia berdiam di kelas Denis tidak akan pernah mendatangi Aura sampai ke kelasnya. Denis adalah pria yang memiliki tingkat gengsi dan narsis yang tinggi tidak mungkin ia akan menjatuhkan harga dirinya itu hanya untuk menjemput Aura yang berada di kelasnya terlebih kemarin ia sudah melakukannya. Aura benar-benar merasa diuntungkan dengan hal itu. Gengsian Denis merupakan kebebasan untuk Aura.
Terdengar beberapa orang teman sekelas Aura sedang berbincang-bincang di kaca jendela lantai dua kelasnya. Membicarakan seseorang yang sekarang ini tengah bermain basket di lapangan.
"Wah, Denis jago banget ya main basketnya."
"Sudah ganteng, jago olahraga. Benar-benar seperti pangeran." Senang mereka.
"Hahaha, pangeran gak salah tuh. Dia memang tampan. Tapi, parah sih orang kek gitu dianggap pangeran gak ada wibawanya sama sekali sebagai seorang pangeran." Batin Aura yang mendengar tidak sependapat dengan para gadis yang mengatakan Denis seperti pangeran.
"Eh tunggu dulu dia lagi main basket. Wah, kesempatan nih ke perpus nyari buku buat dibaca. Asli suntuk banget aku." Batin Aura mulai berdiri dari duduknya.
"Mau kemana Ra?" tanya Desta yang sedari tadi duduk di sampingnya namun ia sangat sibuk dengan laptopnya.
"Aku mau ke perpus bentar Des, biasalah cari buku. Mau ikut?" tanya Aura.
"Tumben kamu ngajakin aku Ra, biasanya kalo mau pergi langsung pergi aja." Ucap Desta tertawa melihat sahabatnya yang tidak biasa.
"Aku merasa akhir-akhir ini cewek-cewek yang sering gangguin aku gak muncul-muncul lagi jadinya karena merasa aman aku mau ajak-ajak kamu lah." Ucap Aura menjelaskan, beberapa waktu lalu Aura sempat diganggu oleh beberapa orang dan membuat bajunya basah, tapi Aura bisa mengatasinya dengan mengganti bajunya Aura memang sengaja membawa baju cadangan rupanya.
"Aku mau ikut Ra, tapi ..."
__ADS_1
Aura menyadari sesuatu menengok laptop Desta, ia tengah mengerjakan tugas laporannya yang belum selesai.
"Kamu enak Ra udah selesai," Kata Desta memasang wajah lesunya.
"Kerjakan aja dulu laporannya Des, semangat! Nanti aku balik lagi." Aura menepuk-tepuk bahu Aura.
"Aku pergi dulu ya, dah!" ucap Aura kemudian meninggalkan Desta sedangkan gadis itu melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Aura merasa sangat bersemangat sekarang, Denis hari ini tidak akan mengganggunya karena sedang main basket.
Aura berencana untuk pergi ke perpustakaan sebentar dan kembali lagi ke kelas secepatnya agar tidak ada yang mengganggunya termasuk Denis.
Karena hal itu akhirnya Aura memilih untuk sedikit bersantai selama di perpustakaan. Ia ingin memilih bukunya dengan tenang seperti biasanya.
Ternyata saat Aura tadi buru-buru berjalan melalui lapangan tempat bermainnya Denis dan kawan-kawan. Denis melihat Aura yang sedang berjalan terburu-buru itu.
Keluar juga dia dari sarangnya, mau menghindar rupanya. Gak akan bisa. Batin Denis kemudian dia berhenti memainkan bolanya.
"Hei kau gantikan aku, aku ada urusan." Kata Denis menyuruh temannya yang lain dan membuat penggemar Denis terlihat kecewa dan mulai bubar dari acara menonton basket itu karena Denis sudah tidak main lagi.
Saat itu Aura sempat menoleh ke belakang karena mendengar suara yang cukup riuh dan mendapati orang yang tengah berkumpul di pinggir lapangan bubar dari lapangan itu.
"Kenapa tuh pada bubar, ah mungkin aja sudah pada bosan kali atau mungkin juga ada matkul mereka." Batin Aura tidak memikirkan bahwa yang terjadi sebenarnya itu karena ulah Denis yang mereka gemari tiba-tiba berhenti bermain.
Aura pun memasuki perpustakaan yang berada di sisi lain lapangan basket itu.
__ADS_1
.
.
.
Aura asik memilah-milah buku dan hanya sebentar saja ia sudah menemukan buku yang ingin ia baca.
Ia pun mendatangi penjaga perpustakaan dan meminta izin untuk membawa buku tersebut.
Setelah itu Aura ingin kembali ke kelasnya, berniat membaca di sana, ia pun sampai di depan pintu keluar perpustakaan. Aura tidak memperhatikan sekitarnya dan malah sibuk membaca buku yang ia pinjam sambil berjalan.
"Ekhmm!" suara seorang pria yang membuat Aura langsung menghentikan langkahnya. Aura menyadari suara siapa itu.
"Ternyata dia benar-benar tidak mau melepaskanku ya, aku benci ini." Batin Aura berkomentar.
"Ada apa?" Aura berkata sambil tersenyum palsu ke asal suara, terlihat Denis sedang bersandar di dinding dengan menyilangkan tangannya di dada.
"Terburu-buru sekali," kata Denis santai dengan tatapan mengintimidasi.
"Ah itu, aku ada tugas yang harus aku kerjakan di kelas. Makanya aku pinjam buku." Aura berbicara sambil tersenyum palsu lagi.
"Kau itu tidak pandai berbohong. Percuma saja kalo berbohong." Ucap Denis tahu jika Aura berbohong kemudian berjalan ke arah Aura, Aura menunduk sambil menutup wajahnya dengan buku takut jika Denis akan menjentikkan tangannya ke kepalanya karena ketahuan berbohong namun yang dilakukan Denis malah mengusap kepala Aura lembut.
"Sudahlah ikut saja denganku," ucap Denis sambil berjalan tidak menghadap ke Aura.
Jujur saja Aura tersipu dibuatnya Aura menyentuh bagian kepalanya yang habis diusap oleh Denis, Aura ia senang jika ada orang yang melakukan hal itu terhadapnya terlebih Denis melakukannya dengan sangat lembut barusan.
"Kenapa aku harus ikut denganmu? Aku ada urusan di kelasku," alasan Aura menahan malu akibat kejadian tadi.
"Gak usah pura-pura sok sibuk deh, kamu mau aku buat gak bisa ke perpustakaan ini lagi kecuali dengan izinku." Kata Denis berbalik dan menatap tajam Aura. Aura merasa kalah, Aura takut dengan tatapan Denis yang seperti itu. Tidak ada alasan lain, Aura pikir Denis akan membuat para pengganggunya memenuhi lorong ini agar Aura tidak bisa lewat.
__ADS_1
Aura sangat tidak ingin jika hal itu terjadi, ya kali setiap dia ingin ke perpustakaan harus selalu bersama Denis. Menurut Aura itu sangat tidak lucu, memangnya Aura pengawal Denis.