Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 36 – Ponsel Baru


__ADS_3

"Apa yang sudah terjadi padamu Aura?" heboh Desta melihat dahi Aura yang diperban.


"Apa Denis melukaimu." Desta tampak marah.


"Nggak Des, justru Denis yang tolongin aku pas jatuh dari sepeda kemarin sore." Jelas Aura tidak mau sahabatnya salah paham.


"Makanya hati-hati Aura." Desta sudah seperti ibu Aura yang sedang mengomelinya sekarang.


"Iya deh, aku udah gak naik sepeda lagi kok. Denis marah." Ujar Aura menjelaskan. Tadi ia ikut dengan Denis menggunakan mobilnya, hal yang ingin Aura hindari malah menjadi bumerangnya sendiri pada akhirnya.


"Kenapa aku tidak bisa melakukan apa yang aku mau sih, ya emang enak sih ikut sama orang tapikan itu ngerepotin dia." Aura akhirnya mengeluarkan keluh kesahnya.


"Aku senang kok direpotin kamu Aura." Denis yang tiba-tiba muncul langsung berbicara di samping Aura dengan santai. Aura hanya menghela nafasnya sudah terbiasa dengan kehadiran Denis yang suka tiba-tiba muncul.


"Sebentar lagi mau masuk jam pelajaran loh Denis." Ujar Aura menatap Denis.


"Aku mau cek lukamu dulu, apakah sudah baik-baik saja." Ujar Denis memperhatikan perban milik Aura.


"Baru setengah jam yang lalu kamu memeriksanya." Aura merasa Denis terlalu berlebihan. Mulai kemarin semenjak, Aura terluka dia bersikap seperti itu.


"Aku baik-baik saja Denis, lukaku sudah kurawat dengan baik, hidungku juga sudah tidak sakit. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Aura berusaha menjelaskan pada Denis.


"Kalau ada yang sakit kau bilang ya, aku kembali ke kelasku dulu." Denis percaya pada Aura dan mulai beranjak pergi setelah merasa apa yang dilihatnya sudah tidak apa-apa meskipun ia belum tenang.


"Denis perhatian banget deh." Desta terkekeh di samping Aura menggodanya.


"Mungkin sifatnya begitu kepada semua orang."


"Sebaiknya kamu cari tahu rumor tentang Denis, Aura. Aku rasa Denis tidak akan seperti itu pada semua orang." Ujar Desta, ia adalah wanita yang jarang ketinggalan tentang berita kampus, biasanya dia selalu mengetahuinya.


Aura hanya diam saja setelahnya, sampai akhirnya jam pelajaran dimulai.


.


.


.


Walaupun Denis yang sudah mengatakan bahwa dia sudah memiliki calon istri ada saja wanita yang menyatakan perasaannya pada Denis, Aura yang berada di sampingnya pun sudah cukup terbiasa dan tidak begitu perduli pada hal itu.


Namun, karena hal itu Aura yang pura-pura asik memainkan ponselnya pergi menjauh dari Denis, ia menuju ke perpustakaan duluan tanpa memperdulikan pria itu. Aura merasa minder tiap kali ada wanita cantik yang sedang mendekati Denis seperti itu.


"Merepotkan sekali, apa perlu aku buat pengumuman dengan toak biar orang-orang tahu kalau aku sudah punya calon istri." Gerutu Denis yang sudah muncul di samping Aura.

__ADS_1


"Aura juga kenapa meninggalkanku. Kamu cemburu? Tenang aja, di mataku gak ada perempuan yang cantik selain dirimu." Denis terus mengoceh, kemudian supaya Denis diam Aura memberikan ponselnya pada Denis. Aura tidak tahu harus berkata seperti apa untuk menanggapi Denis sebenarnya, Aura bingung harus senang atau tidak karena Aura sendiri masih menyimpan keragu-raguan terhadap Denis yang pada dasarnya suka berbicara enteng seperti itu.


"Eh apa ini? Kamu percaya kalau aku pegang barang berhargamu?"


"Karena aku tidak mengenakan pakaian bersaku sekarang. Lagian itu hp kuyakin sudah kamu periksa semua isinya."


"Tukaran yok." Denis langsung menyerahkan ponsel miliknya di tangan Aura.


"Maksud aku itu, aku minta kamu pegangkan hpku bentar, bukan tukaran hp." Aura menyerahkannya kembali ponsel milik Denis. Aura ingin bebas memilih buku.


"Boleh aku buka?" Denis berbinar-binar senang.


"Kenapa berekspresi seperti itu?"


"Aku senang Aura mempercayakan hpnya padaku." Denis tentu saja langsung memainkan ponsel Aura.


"Aku tidak mengerti dengan pria ini, dia sudah sangat tidak sopan sebelumnya tanpa izin malah meretas hpku. Buat apa minta izin lagi," pikir Aura. "yang parahnya aku tidak bisa marah padanya." Aura termenung sesaat.


"Ada apa Aura?" tanya Denis.


"Ah aku bingung pilih buku yang mana." Aura beralasan spontan.


"Ini saja." Denis mengambilkan sebuah buku dengan santai, setelah Aura mengatakan pelajaran apa yang ingin ia pelajari hari ini.


Setelah menemukan buku itu Aura tidak perduli dengan ponselnya yang masih berada di tangan Denis.


Sampai akhirnya Denis mulai berkomentar. "Hp ini lelet banget."


"Sini kemarikan." Aura langsung mengambil ponselnya dari tangan Denis, berjaga-jaga tentu saja, ia tidak ingin ponselnya berakhir dirusak.


"Gini-gini ini hp sudah nemanin aku beberapa tahun terakhir." Ujar Aura langsung menaruh ponselnya di sampingnya.


Denis terlihat berpikir beberapa saat, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sepertinya menemukan sebuah ide cemerlang.


"Apa yang kamu rencanakan?" Aura curiga.


"Tentu saja ide yang bagus, dan itu seharusnya kau suka." Denis tampak senang.


.


.


.

__ADS_1


"Eee?!" Keesokan harinya Aura malah dibuat Denis kehilangan kata-katanya.


"Kau senangkan?" tanya Denis dia membelikan Aura ponsel model terbaru.


"Asli, aku tidak tahu harus senang atau sedih ketika menerima ini. Walaupun seharusnya aku senang diberikan hal seperti ini, tapi aku malah tidak begitu menyukainya benda ini, bisa membayarkan kuliahku, sampai biaya hidupnya." Batin Aura merasa Denis benar-benar berlebihan.


"Aku tidak bisa menerimanya." Aura menolaknya dengan halus. Mendorong kotak ponsel itu menjauh darinya.


"Aku memberikannya padamu, jika kamu tidak menerimanya aku akan membuangnya." Ucap Denis santai membuka kaca mobilnya.


"Astaga, itukan dibelinya dengan uang yang banyak." Ucap Aura jiwa miskinnya bergetar melihat kelakuan Denis itu.


"Maka terimalah, atau aku akan membuangnya karena aku tidak membutuhkannya."


Akhirnya Aura menerimanya, ia tidak bisa membiarkan uang sebanyak itu terbuang sia-sia.


Kemudian Denis mengaturkan ponsel Aura itu dan dengan cepat telah menyalin semua data yang ada ke dalam ponsel barunya.


"Sebaiknya kau pensiunkan saja ponsel bututmu itu, karena ada yang lebih baik sekarang." Denis merasa senang, keinginannya membelikan Aura ponsel terakhir kali telah tercapai. Tapi melihat ponsel lama yang Aura masih simpan itu membuatnya cemburu, karena ponsel itu mantan Aura yang sudah memperbaikinya.


"Aku ingin membuang benda itu ke tempat sampah." Batin Denis.


"Aku akan menyimpan ponsel lamaku juga. Biar bagaimanapun ini banyak kenang-kenangannya."


"Kenang-kenangan apa? Kenang-kenangan dengan mantanmu?" Denis berucap dengan cemberut.


"Hei kenapa malah bahas mantan sih?" Aura merasa tidak nyaman, karena sebelumnya Aura tidak begitu ingat lagi dengan mantannya karena kedekatannya dengan Denis.


"Hpmu yang rusak itukan, mantanmu yang perbaiki." Ucap Denis menjelaskan.


"Bagaimana kamu tahu?" Aura langsung spontan bertanya.


"Aku melihatnya." Ucap Denis malu, tapi ia tidak bisa diam saja karena mengetahui hal itu.


"Aku merasa sedang diikuti stalker." Aura mendelik ke arah Denis.


"Uum, akukan penasaran." Denis memasang ekspresi merasa bersalahnya. Aura menganggap hal itu menggemaskan untuknya tapi Aura masih bersikap dengan tenang tentu saja.


"Sudahlah aku tidak marah padamu kok. Tapi hp ini bukan karena mantanku, tapi apa yang sudah dilewati dengannya. Benda ini berharga. Karena benda ini aku bertemu denganmu, meskipun awalnya menyebalkan. Kamu katai aku goblok." Ucap Aura menyimpan ponsel lamanya ke dalam tas.


"Maafkan aku..." Denis benar-benar tidak enak ketika mengingat masa-masa itu. Bisa-bisanya ia mengatai Aura seperti itu.


"Sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi. Aku sudah memaafkanmu tentang hal itu." Aura tersenyum ramah kepada Denis.

__ADS_1


"Boleh aku peluk?" Denis ingin memeluk Aura tapi tangan Aura menahan wajah Denis sehingga gerakannya terhenti.


__ADS_2