
Denis menunggu Aura sampai memasuki ruang kelasnya, memastikan tidak ada yang mengganggunya sama sekali kemudian Denis melambai pada Aura saat Aura melihat ke arahnya. Aura juga membalasnya ramah kemudian masuk ke dalam kelasnya juga.
Aura juga tidak luput dari buah bibir teman-teman sekelasnya, walaupun kebanyakan tidak perduli. Namun, pasti ada saja di antara mereka yang sama seperti mahasiswa dan mahasiswa dari kelas lainnya.
"Sepertinya aku harus pasang kuping tebal mulai hari ini." Pikir Aura mendudukkan dirinya di meja yang masih kosong. Menjauh dari sekumpulan orang yang sedang menggosipkan dirinya.
Desta celingak-celinguk saat sampai di depan pintu kelasnya. "Ah, itu Aura." Gumam Desta yang baru saja datang dan langsung berjalan ke arah Aura.
"Aura kau baik-baik sajakan?" tanya Desta khawatir mendudukkan diri di samping Aura.
"Aku gak kenapa-napa Des." Jawab Aura seperti biasa.
"Kau sudah mendengar rumor tentangmu, satu kampus heboh hari ini mengatakan, Denis dengan terang-terangan mengatakan kau calon istrinya."
"Uhuk!" Aura tersedak air liurnya sendiri mendengar kata-kata Desta.
"Hah? Aku tidak menyangka akan tersebar secepat ini, tapi aku sudah tidak terkejut lagi sih." Aura hanya bisa menghela nafasnya pasrah.
"Jadi emang benar?" tanya Desta kaget.
"Dia bilang begitu di depan teman-temannya. Serius atau tidaknya aku tidak tahu. Setidaknya Denis bertanggung jawab menjagaku dari gangguan anak-anak lain." Jelas Aura.
"Gila Denis, dia serius."
"Entahlah jika dia tidak serius, sudah separah ini ia menyebabkan kekacauan untuk diriku, jujur saja aku sangat malu. Mana lulus kuliahnya masih lama." Gumam Aura lesu, Aura berusaha bersikap biasa saja.
"Lagiankan bukan kamu yang mengatakan bahwa Denis calon suamimu. Saat ini salah Denislah." Ucap Desta santai, karena di matanya Aura tidak ada kesalahan sama sekali.
"Iya Desta, tapi ini para penggemarnya loh. Apa di mata mereka Denis pernah bersalah?"
"Kau benar Aura, Denis itu bagi mereka pastilah makhluk paling sempurna."
"Tepat seperti yang kupikirkan tentang Denis. Kau memang sahabatku Desta." Ucap Aura. "Kehidupan tenang kuliahku sudah benar-benar kacau sekarang." Ujar Aura lagi.
"Selama Denis ada di pihakmu seharusnya kau harus bernafas lega Aura, aku yakin dia pasti melindungimu."
"Semoga sih, dia datang tidak mengacaukan hidupku saja." Aura menelungkupkan wajahnya di meja. Akhirnya jam pelajaran dimulai, Aura tidak ingin memikirkan masalahnya dan belajar dengan fokus sampai jam kuliahnya berakhir dan masuk jam istirahat.
Baru selesai memasukkan alat tulisnya ke dalam tas Denis sudah duduk di sampingnya.
"Oh, astaga! Kau membuatku kaget." Ucap Aura terkejut karena Denis sudah asik memandanginya. Ia hanya tersenyum sambil terus memandangi wajah Aura. Desta langsung meninggalkan mereka berdua setelah itu.
Tidak ada yang berani menatapi kedekatan Denis dan Aura lagi, setelah Denis menatap mereka semua dengan tajam. Jadi, orang-orang di kelas itu bersikap seperti biasa saja.
__ADS_1
"Kau bahkan mengenaliku dengan jelas meskipun dari belakang ya." Ucap Aura sekedar basa-basi.
"Bagaimana aku tidak mengenali calon istriku," Denis terus berbicara sambil menatap Aura.
"Sudahlah hentikan mengatakan itu." Ucap Aura berusaha biasa saja, padahal jantungnya terasa berdebar dengan kencang saat ini.
"Kenapa, aku sekarang bebas mengatakannya dengan lantang. Semua orang sudah terlanjur tahukan." Ucap Denis.
"Kau benar sih. Jadi, apa yang ingin dilakukan sekarang?" tanya Aura.
"Tentu saja makan siang, aku tidak akan membiarkanmu kelaparan saat dekat denganku."
"Padahal aku ingin ke perpus." Gumam Aura.
"Nanti setelah makan siang, oke. Kamu mau tanya apa saja, aku akan jelaskan sampai mengerti."
"Oke, ayo kita makan." Aura langsung berdiri semangat. Ada hal yang sangat ingin Aura tahu tentang pelajaran yang dia tidak begitu mengerti.
"Semangatnya itu sangat imut. Ternyata menyenangkan ketika aku tidak menyangkal perasaanku seperti sebelumnya." Pikir Denis berdiri terus menatapi Aura.
Denis dan Aura berjalan dengan santai sambil berbicara akrab dengan Aura. Tidak perduli ada banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka, Denis terus mengajak Aura berbicara agar tidak memperhatikan sekitarnya.
.
.
.
"Kau pikir perutku ini baskom. Ini saja sudah membuatku kenyang sampai malam nanti." Ucap Aura sambil mengunyah makanannya.
"Oh iya, apa nanti malam aku bawakan makanan juga untukmu." Denis berbicara asal lagi.
"Apalagi rencanamu itu, aku bisa masak sendiri tau."
"Aku ingin memastikan gizimu terpenuhi."
"Giziku biar aku yang atur sendiri, cukup ini saja kau traktir aku makan." Ucap Aura santai sambil terus makan walaupun ia tampak sedikit jengkel sebenarnya. Denis kemudian diam melanjutkan makannya lagi.
"Oh iya, dua hari ke depan aku tidak akan masuk kuliah." Denis yang sudah menyelesaikan makannya melanjutkan pembicaraannya. Aura menatapnya tanpa ekspresi.
"Kenapa menatapku begitu? Aku tidak pergi lama Aura atau kau mau ikut denganku." Denis malah menggoda Aura.
"Nggak." Ketus Aura.
__ADS_1
"Nggak nolak maksudnya?"
"Nggak ikut maksudnya bambang."
"Aku bukan bambang ya."
Aura hanya mengejek Denis setelah itu. Mereka akhirnya berangkat ke perpustakaan setelah itu.
Di lorong Denis dicegat oleh seorang wanita yang ingin menyatakan perasaannya pada Denis, gadis cantik dari Fakultas Seni ia tidak perduli ada Aura yang berada di samping Denis. Aura tidak memperhatikan dua orang itu sambil menatap dinding lorong, pura-pura tidak dengar.
Jika, Denis menerima gadis itu Aura masih ingin pergi menjauh dari Denis.
"Aku menolak, kau sudah dengarkan jika aku punya calon istri. Itu bukan rumor palsu." Ucap Denis datar di depan gadis yang ditolaknya itu.
"Hei Aura, apa yang kau lakukan di situ. Katanya mau ke perpustakaan." Ajak Denis. Aura langsung menyusul Denis. Kemudian Aura yang tidak tega itu sedikit menundukkan kepalanya hormat pada gadis yang tampaknya sedang menangis itu.
"Kau kejam sekali."
"Kenapa? Kalau aku menerimanya pasti kau yang akan menangis."
"Siapa bilang aku akan menangis, kalau kau punya pacar lain aku akan pergi." Ucap Aura protes.
"Baiklah aku yang akan menangis, puas." Ucap Denis tidak senang.
"Kau bisa menangis juga?" Aura tidak percaya.
"Aku ini juga manusia Aura punya hati bisa nafas."
"Maaf-maaf." Aura terkekeh.
"Jujur saja aku sudah tidak mau melakukan hal seperti itu lagi Aura, aku sudah jadi cowok baik-baik sekarang."
Aura tersenyum cerah sekarang sambil menatap Denis. Aura senang karena Denis mau merubah dirinya.
Mereka akhirnya fokus belajar setelah memasuki perpustakaan.
.
.
.
"Aku akan bekerja dua hari ke depan, tapi jangan khawatir meskipun aku tidak ada di sisimu aku jamin tidak akan ada yang berani mengganggumu."
__ADS_1
Ucapan Denis terus Aura ingat, keesokkan harinya benar seperti apa yang Denis katakan tidak ada orang yang berani mengganggu Aura lagi. Ada beberapa mahasiswi yang melihat Aura langsung berlari menjauh, mereka tampak ketakutan.
"Apa yang sudah Denis lakukan sebenarnya?" pikir Aura. Seberapa berkuasa Denis sampai-sampai membuat semua orang takut padanya Aura belum mengetahuinya dengan pasti.